Nada Nara

Nada Nara
Bab 26 . Rahasia Mahardika


__ADS_3

Akhirnya aku bisa berhasil sampai di tempat tidurku sendiri lengkap dengan kegalauan yang tidak jelas asal usulnya. Aku bukan jatuh cinta pada Nara. Tidak. Cintaku hanya untuk Juli.  Aku berusaha untuk melupakan semuanya dan  tidur. Akan tetapi aku hanya bisa bergerak kesana kemari, tanpa bisa terpejam. Pikiranku terus bekerja dan mengingat apa yang terjadi hari ini. Ingatanku membawaku jauh kemasa lalu. Masa kelam yang sangat ingin kulupakan. Masa yang tidak pernah kuceritakan kepada siapapun sampai saat ini. Bahkan tidak pada Papa, Juli dan Agusta.


Mereka tidak tahu kalau aku masih ingat dengan jelas apa yang terjadi 25 tahun yang silam. Semua orang hanya tahu kalau aku korban kecelakaan yang mengalami amnesia total. Saat ada yang bertanya aku siapa, aku mengatakan tidak ingat. Saat ditanya apa yang menimpaku, aku katakana aku sama sekali tidak tahu. Bahkan saat ditanya siapa orang tuaku, aku bilang, aku tidak tahu. Aku hanya tahu kalau Ayah Bundaku sudah meninggal.


Pada kenyataannya aku masih ingat semua dengan jelas. Aku punya kemampuan mengingat dan merekam sekitar dengan cepat. Aku tahu pasti siapa ayah dan Bundaku, siapa mereka dan apa pekerjaan mereka. Aku masih mengingat jelas masa kecilku yang indah bersama nenek, ayah dan ibu. Kemudian terjadilah pengkhianatan didalam keluarga besar. Ayah, Bunda dan aku yang saat itu baru pulang dari liburan, diculik oleh sopir keluarga besar,  dan disekap disebuah gudang. Aku sendiri tidak tahu mengapa kami disekap dan siapa mereka. Hanya


ayah dan ibu yang tahu apa yang terjadi. Setiap aku bertanya pada Bunda, selalu tak jelas jawabannya.


Flash Back on


Kami memang disekap disebuah gudang, tapi kami diberikan tempat tidur dan makanan yang layak. Hanya


saja aku dan Bunda tidak pernah boleh pergi dari sana. Hanya Ayah yang beberapa kali keluar masuk dengan wajah gusar. Setiap kali kembali , Ayah dan Bunda duduk berdua dan berdiskusi. Ayah selalu memintaku untuk duduk ditempatku sendiri saat mereka diskusi. Beberapa kali Bunda menangis tersedu sambil memandangku sedih. Aku tidak paham awalnya., namun aku penasaran dan menecoba menganalisa situasi. Aku tahu jika yang menculik kami adalah anggota dalam keluarga Dirgantara. Akan tetapi Aayah tidak mau melibatkan aku sama sekali. Beberapa kali ayah menyebutkan adanya rencana pembunuhan keturunan sah Dirgantara. Ayahku anak tunggal dan aku anak tunggal. Jadi aku dan ayah sang pewaris itu.  Jika kami mati bersama ditempat ini, hanya tinggal neneklah satu-satunya anggota dirgantara.  Entah siapa yang menginginkan hal itu. Jahat sekali mereka. Hanya karena uang, mereka rela membunuh.  Setelah tiga hari kami disekap, Ayah menghampiriku.


“Dika, Ayah dan Bunda sayang sekali pada Dika. Jangan pernah ragukan itu nak. Dika satu-satunya harapan Ayah dan Bunda dimasa depan. Aaayah ingin Dika menjadi laki-laki kuat, setia, kerja keras dan tidak bergantung pada siapapun. Kekayaan bukan segalanya. Jika Dika ingin bahagia dan punya uang banyak, maka Dika harus kerja


keras. Jadilah orang baik yang tahu membalas budi. Jangan pernah jadi pengecut,” kata ayah. Bunda yang ada dibelakangku pasti sudah menangis. Meski aku memunggunginya dan tidak terdengar tangisannya, aku tahu Bunda menangis, dan aku sangat tidak menyukainya. Ayah pernah bilang, laki-laki yang baik tidak boleh membuat wanita menangis.


“Dika, apapun yang terjadi nanti, jangan pernah menengok ke belakang. Sebentar lagi kamu harus pergi jauh dari sani tanpa ayah dan Bunda. Ayah yakin Dika bisa. Mulai sekarang namamu bukan Dika Dirgantara tetapi Mahardika. Jangan pernah mengatakan pada siapaun, kalau kamu Dika Dirgantara, penerus tunggal Dirgantara. Jadilag kamu sukses dan berkuasa dengan nama Mahardika, bukan Dirgantara,” kata ayah memegang pundahku.

__ADS_1


“Dika tidak mau. Dika mau sama Ayah dan Bunda,” kataku saat itu hampir menangis. Kupandangi wajah  ayah dengan lekat seolah aku ingin menyampaikan keberatanku lewat mata. Namun Ayah memandangku lebih tajam  namun penuh kasih sayang. Dia mengelus pipiku lembut lalu rambutku. Damai, itu yang kurasakan. Aku sangat mengagumi Ayah. Dia adalah laki-laki paling hebat. Dia jago beladiri, mulai dari silat sampai kraftmaga. Dia pemimpin perusahaan yang sangat berhasil dan disayangi karyawannya. Dia seorang ayah yang baik dan lebih penting sangat menyayangi Bunda. Ayah hampir tidak pernah membuat Bunda marah atau terluka.  Ayah lebih hebat dari Ironman sekalipun. Semua pertanyaanku bisa dia jawab. Semua yang dia inginkan selalu bisa dia miliki. Dia sangat menghormati dan menyayangi nenek.  Wajahnya sangat tampan, seperti aku. Badannya sangat indah. Pokoknya kalau aku besar nanti, aku akan seperti Ayah.


“Dika! Pantang laki-laki menangis karena kesulitan seperti ini.  Setelah ini, Ayah dan Bunda mungkin tidak ada disampingmu lagi, tapi Ayah dan Bunda selalu ada disini,” kata ayah sambil menepuk dadaku. “Ingat Dika, Ayah ingin kamu lupakan Dirgantara. Tanggalkan nama besar Dirgantara dan jadilah orang biasa. Lupakan semua yang pernah kamu miliki sebagai DD, Dika Dirgantara. Satu lagi,  Jangan pernah mencari tahu apa yang tidak perlu kamu cari tahu.”


“Tapi ayah, kenapa Ayah dan Bunda tidak ikut pergi dari sini?” kataku  mengernyitkan dahi. Aku tidak paham maksud ayah. Tetapi aku merasa akan ada hal besar yang akan terjadi, dan Ayah mengetahuinya. Ayah dan Bunda seperti mempersiapkan sebuah perpisahan diantara kami. Bunda memandangku dengan mata yang berkaca-kaca meski bibirnya tetap tersenyum. Bunda adalah wanita tercantik bagiku. Dia sangat hebat, cantik, ramah dan serba bisa. Suara bunda sangat indah. Sia sering bernyanyi untukku sambil main piano. Masakan bunda adalah masakan paling lezat yang pernah aku makan. Steak yang bunda buat untuk kami, adalah steak terbaik di dunia. Tangan bunda lembut. Badan bunda sangat wangi dan khas, sedikit seperti bau bayi.


“Ayah dan Bunda akan tetap berusaha nak, tapi sepertinya tidak mungkin. Hanya kamu yang masih bisa bebas bergerak. Kamu bisa pergi keluar lewat jendela kecil dibelakang sana. Lalu pergilah jauh dari sini. Bawalah ini, ” kata ayah sambil memberikan sebuah kantong yang menyerupai ikat pinggang. “Ingat nak, ini adalah bekal kamu. Jangan tunjukan pada siapapun, meski mereka saudara kita.” Ayah memassang tas pinggang itu setelah menyesuaikan ukurannya dengan pinggangku. Bunda dan ayah melepaskan cicncinnya dan menyatukan dalam satu kalung milik Bunda, dan memakaikannya padaku. Aku tahu itu adalah cincin pernikahan mereka. Ayah melepaskan jam tangannya dan memberikannya padaku. Aku menerimanya serta kupakai ditanganku.  Pikiranku langsung berputar. Aku sadar ini adalah sebuah perpisahan. Tetapi aku mencoba untuk mengusir pemikiran tersebut. Ayah dan bunda terus membujukku untuk segera keluar dan menyelamatkan diri. Aku sendiri tetap memilih untuk tinggal bersama mereka.


Aku akhirnya menyetujui rencana ayah, dengan pemikiranku sendiri. Aku berpikir, mungkin setelah keluar dari sini aku bisa mencari bantuan untuk menyelamatkan Ayah dan Bunda. Malam itu juga, aku mempersiapkan diri. Bunda tidak henti-hentinya menciumi mukaku sampai Ayah melerai kami. KAami kemudian berpelukan dan aku bilang, Ayah dan Bunda harus menungguku mencari pertolongan. Ayah hanya tersenyum menenangkanku. Iya nak, pergilah. Akan tetapi, apapun yang terjadi, jangan pernah kembali kesini.  Ayah menggendongku untuk bisa naik ke jendela kecil yang memang hanya bisa aku lewati. Ayah dam Bunda tidak mungkin bisa melewatinya. Gudang ini hanya memiliki satu pintu dan beberapa jendela kecil yang berfungsi sebagai fentilasi. Hanya jendela yang aku gunakan itu saja yang bisa dibuka oleh ayah dengan mudah.


Setelah berhasil  keluar dari gudang, aku mengendap keluar. Disana aku lihat seorang wanita. Dalam hati aku bertanya, dia siapa? Aku yakin pernah melihatnya, tetapi dimana?  Aku yang tidak mau terlihat, segera bersembunyi dibalilk meja besar yang diatasnya ada banyak tumpukan kotak. Aku melihat kaki wanita itu. Disana ada tato mawar merah dan ditengahnya ada tulisan huruf G. Wanita itu sedang berbicara dengan seorang laki-laki, menggunakan jam tangan khusus petinggi Dirgantara. Jam tangan yang didesain khusus untuk kalangan VIP di Dirgantara Corporation. Aku tahu itu, karena jam tangan ini adalah hasil kerjasama Ayah dan Bunda dalam mendesain jam tangan. Salah satu desain dari Ayah dan Bunda, yang aku suka. Wanita dan laki-laki itu sedang membicarakan tenatnag Putra Dirgantara, ayahku.


“Jangan sekarang. Nanti setelah mereka sekeluarga meledak dengan sempurna dan anakku menjadi pewaris satu-satunya Dirgatara corporation, kita akan merayakannya berdua. Dan aku menjadi milikmu seutuhya sayang,” kata wanita itu. Setelah itu aku hanya melihat mereka menempel dan mengeluarkan bunyi-bunyian aneh. Aku mencoba


mendekat, kulihat tangan laki-laki yang besar dan kekar dengan gambar elang yang dilingkupi sayap api.  Tanpa sengaja aku menendang sebuah kelereng hingga kelereng itu menggelinding mengenai sebuah kaleng di sebelah kanan jauh dariku.. Aneh, kenapa ada kelereng disini?


"Franco!" teriak mereka bersamaan.


Kelereng yang mengelinding menjadi keuntungan tersedniri bagiku. Berkat kelereng, dua orang didepanku mengira ada orang lain di arah yang berlawanan denganku, dan memeriksanya. Hal ini menjadi kesempatan tersendiri Aku segera berlari menjauh dari gudang, berusaha tanpa menimbulkan suara,

__ADS_1


Setelah agak jauh, aku berhenti untuk mengatur nafasku. Ternyata ini adalah gudang dari Villa Coklat Dirgantara, Aku tahu tempat ini, karena dulu, Ayah sering mengajakku kemari untuk memetik coklat yang diolah oleh pabrik


coklat Dirgantara.  Aku segera berlari menuju gerbang samping yang setahuku selalu dibuka untuk jalan para pegawai. Sedangkan gerbang depan, tadi aku lihat  penuh dengan penjaga bertampang sangar dan berbadan besar. Aku melihat wanita dan laki-laki tadi menaiki kendaraan BMW 7 series 32 yang dipintunya terukir huruf D. Mobil yang digunakan oleh VVIP Dirgantara. Aku menghentikan langkahku karena tidak mau dilihat oleh para penjaga yang berlari mengikuti mobil.


Melihat pergerakan semua orang kearah gerbang utama,menjauhi gudang,  berpikir keras. Antara curiga akan terjadi sesuatu dan memikirkan Ayah dan Bunda. Aku menengok ke belakang, kearah gudang. Para penjaga yang disanapun telah menghilang. Aku pikir ini kesempatan untuk menyelamatkan Ayah dan Bunda Segera aku mencari alat untuk bisa membuka pintu gudang.


Akan tetapi, diluar dugaanku,  sebelum aku melakukan sesuatu, terdengar sebuah ledakan dasyat dari dalam gudang, dimana Ayah dan Bunda berada. Saat itu juga aku terpaku tidak bisa berpikir akan apa yang terjadi. Aku lalu berteriak histeris memanggil Ayah dan Bunda. Tidak akan ada yang bisa selamat dari ledakan itu. Semua yang ada disana hancur berkeping keping dan hangus terbakar, tanpa sisa.  Tak ada seorangpun yang datang ataupun


menolong memadamkan api. Rumah ini, terletak ditengah tengah hutan kakao, sangat jauh  dari rumah penduduk. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. aku terpuruk ditanah dan meringkuk antara takut dan sedih. Aku kini sendirian.


“Dika, bangun.  Laki-laki kuat boleh menangis tetapi harus segera bangkit dan berbuat sesuatu. Pergilah dan selamatkan dirimu. Jangan pernah lagi menyebut nama Dika Dirgantara, ” kudengar suara ayah menggema disekelingku. Ya aku harus kuat. Aku harus pergi dari sini, agar semua orang menganggap aku sudah mati bersama Ayah dan Bunda.


“Pergilah Dika. Jangan pernah kembali kesini ataupun kediaman Dirgantara. Jika sampai mereka tahu Dika Dirgantara masih hidup maka kamu akan dikejar dan dibunuh. Kamu adalah pewaris tunggal Dirgantara, mereka iri padamu. Jangan pernah percaya pada mereka. Hidup di keluarga Disrgantara akan membuatmu selalu terancam. Itu kenapa Ayah dan Bunda ingin kemu pergi dari keluarga Dirgantara nak. Maafkan kami,” kudengan suara lembut Bunda.


“Bunda benar Dika.  Pergilah, pergi jauh dari kediaman Dirgantara. Orang-orang serakah itu tidak akan berhenti mengganggu Dirgantara. Ayah dan BUnda ingin kamu keluar dari Dirgantara dan hidup tenang nak. Tak ada dendam dan perebutan kekuasaan. Jadilah Mahardika dan sukses karena dirimu sendiri. Lupakan Dirgantara. Apapun yang terjadi, lanjutkan hidupmu dan berbahagialah,” kata ayah. Aku memang masih 10 tahun, tapi Ayah dan Bunda mendidikku menjadi laki-laki tegar, kuat dan mandiri, lebih dari anak-anak lain. Kata orang aku memilik EQ dan IQ jauh melebihi anak-anak lain. Ayah melatihku untuk selalu melakukan analisis terhadap setiap kejadian dan lingkungan sekitar. Ayah melatihku untuk mengunakan logika berpikir dalam setiap kejadian,


Bunda? Bunda yang membentukku menjadi laki-laki yang baik. Selalu menjada perempuanku. Selalu berbuat baik. Melatihku menjadi laki-laki tegar dan kuat untuk sebuah tujuan yang harus aku raih. Bunda membentukku menjadi manusia yang selalu belajar dan belajar apapun itu. Bunda mendidikku menjadi manusia yang berpetualang mencari hal yang baru lalu kembali kerumah untuk cinta.


Dan saat aku melihat kearah gudang yang terbakar habis, aku melihat Ayah dan Bunda pergi dengan sanyum mengembang. Aku tahu aku harus pergi sekarang. Aku tahu aku harus kuat berjalan sendiri mulai sekarang. Aku tahu aku harus siap hidup dengan hanya yang ada di badan. Kugenggap bekal hidup yang dititipkan Bunda dan menyimpannya ditas pinggang dibalik kaosku. Aku berjalan menjauhi Vila tanpa tahu arah tujuanku. Yang aku tahu, aku harus menjauh sekarang.

__ADS_1


__ADS_2