
Dear pembaca,
Aku mohon maaf ya karena beberapa dua hari kemarin ttidak bisa upload. Selain sulitnya sinyal dijalan, aku juga tepar seteparnya sampai nggak bisa ngetik sama sekali. Ini juga masih lemes untuk mencoba menggali ide meneruskan tulisan.
Makanya sempet ditolak editor juga sih karena bahasanya harus disensor.
Tapi aku tetep usaha terus upload ya. Jangan marah dan semoga tetepa mau baca tulisanku.
Banyak cinta buat kalian
“Ini uang buat pengganti biaya yang sudah kamu keluarkan untuk cucuku,” kata Ibu Jerry sambil melemparkan segepok uang yang aku taksir berjumlah 20 juta rupiah. Uang itu dilempar tepat ke mukaku. Aku mendongakkan kepala dan memandang tajam pada perempuan gila itu.
“Ambil uang itu karena aku tidak butuh uangmu. Bahkan saat ini aku bisa membeli seluruh perusahaanmu dan dirimu untuk kubuang ke Bantar Gebang,” teriak Shasa yang tiba-tiba muncul. Ia membawa satu kantong besar uang yang kemudian disebarnya diatas meja. Jika dibanding dengan uang yang dilempar Ibu Jerry tadi, jumlah uang diatas meja, puluhan kali lebih banyak. Hal ini membuat ketiga orang sombong didepanku melotot. Shasa mengatakan pada mereka bahwa hinaan mereka tenang aku pengangguran dan miskin tidaklah benar. Aura Shasa cukup mengerikan saat ini. Tapi Ibu Jerry tampaknya tidak takut pada Shasa, berbeda dengan Gerald dan ayahnya yang sudah pucat pasi. Perempuan itu segera mengambil uang yang tadi dilemparnya dan memasukan kedalam tas. Tak lama kemudian preman-preman datang untuk mengatakan bahwa mereka tidak dapat menemukan Agusta dan Juli. Aku dan Shasa berpandangan geli. Tentu saja mereka tidak bisa menemukan dua bayiku. Mereka saat ini sudah jauh dari rumah ini, dalam perlindungan Shasa. Tidak dapat menemukan kedua bayi itu, Ibu Jerry mengamuk dan mengancamku. Namun aku tidak peduli. Aku mendekati Shasa dan mengecup pipinya.
Aura garang yang ditunjukan Shasa, berganti dengan kelembutan yang memabukan. Itulah Shasa saat berhadapan denganku. Meski didunia kegelapan, dia bagaikan iblis tanpa ampun, tapi dihadapanku Shasa adalah Malaikat tak bersayap. Persahabatan kami sejak awal memang saling menjaga dalam kelembutan. Cinta kami bukan cinta pada pandangan pertama, tapi cinta yang bertumbuh karena saling menjaga dan membutuhkan. Disaat seperti
inilah kami benar-benar menyadarinya. Bahkan kadang, tanpa saling bicara kami tahu pikiran dan hati kami satu sama lain.
Tanpa aba-aba, Gerald tiba tiba menarik tanganku dengan tangan kirinya. Tangan kanannya yang memegang pisau, ditempelkan di pinggangku. Terasa sedikit menusuk dan dinginnya besi terasa dikulitku, namun tidak membuatku takut. Kutatap wajah Shasa yang menggelap.
“Serahkan dua bayi itu atau kamu akan mati,” kata Gerald. Kalimat yang salah menurutku. Dengan kalimat ini, maka nyawa Gerald tak akan tertolong. Shasa dengan mulutnya memintaku untuk maju kekiri dalam hitungan 3 lalu melepaskan diri. Tentu dengan kode yang hanya dimengerti oleh kami. Akupun mengerti dan melakukan tanpa bertanya. Tepat saat aku bergerak, kudengar suara teriakan Gerald. Sebuah pisau sudah menancap dipergelangan tangan kanan dan kaki kirinya. Secara bersamaan, Shasa dan orang kepercayaannya melempar pisau itu tepat sasaran yang berbeda, membuat Gerald tidak bisa menghindar terjatuh kesisi kiri. Pisau ditangan Gerald yang tadi mengancamku terjatuh. Pegangan tangan Gerald yang mengendor membuatku leluasa untuk, melepaskan diri dari cengkeramannya.
“Gerald!” teriakan ibu Jerry dan Pengacara sombong itu bersamaan. Keduanya segera mendatangi Gerlad dan memeluk laki-laki yang menangis kesakitan. Dari wajahnya, aku tahu kalau Ibu Jerry mulai ketakutan. Wajahnya tidak segarang dan sesombong tadi. Apalagi kini, para preman yang tadi mencari Juli dan Agusta sudah lenyap dibawa oleh pasukan Shasa. Sayup-sayup terdegar teriakan orang kesakitan dan memohon ampun, membuat tiga orang didepanku ini sadar kedudukan mereka sudah tidak lagi baik-baik saja. Namun entah apa yang dipikirkan ibu Jerry, saat dia masih mencoba mengancam kami.
“Kalian cari mati berani melawan kami? Jangan salahkan kami kalau hari ini adalah hari terakhir kamu bernafas Janu!” teriaknya mencoba menutupi ketakutan yang tampak jelas dimatanya.
“Berani kamu mengancam kekasihku dan menggangu keluargaku!” teriak Shasa marah. “Aku kirim kalian ke neraka!” Aku tahu Shasa tidak main main. Aku segera memeluknya.
“Ssst tenanglah. Belum waktunya mereka mati hon. Terlalu ringan hukuman mereka jika saat ini mereka mati. Membunuh mereka sampai mati, adalah hukuman teringan yang bisa mereka dapat. Aku tidak mau. Aku mau mereka merasakan lhukuman yang lebih berat. Mereka harus merasakan sakit dan kehilangan,” kataku berbisik. Shasa memandangku untuk meyakinkan apa yang kumau. Aku mengangguk sambil membisikan sebuah rencana hukuman bagi mereka. Shasa tersenyum dan mulai tenang. Aku mengalihkan pandanganku pada tiga orang yang masih sibuk menghentikan pendarahan di luka Gerals. Aku melihat IBu jerry merelakan syalnya untuk mengikat kedua luka Gerald.
__ADS_1
“Menghilangkan nyawa sepertinya terlalu mudah dan terlalu ringan untuk menghukum orang seperti kalian. Oke, pergilah dan bersiaplah menghadapi kehancuran kalian,” kataku sambil tersenyum. Shasa tersenyum lebar mendengar kata-kataku barusan. Dia memandang asistennya sambal mengibaskan tangan, menyuruh para pengawal menyingkirkan tiga bajingan itu dan anak buahnya.
“Wow, my love is true black angel . I love you more and more. Tommorow, you have to start your training. I don’t except no for that! I want you to be my Devil husband, side by side with me,” kata Shasa kepadaku.
“Apa? Ogah! Kamu aja yang jadi iblis. Dan lagi , Aku kan punya Kamu yang bisa menjagaku. Kenapa aku harus capek Latihan dan berubah?” kataku sambil cemberut. Dan sepertinya aku salah Langkah. Perpaduan antara rencanaku yang membuatku menjadi malaikat kegelapan Shasa, dengan muka cemberut yang selalu membuat Shasa junior unjuk rasa adalah undangan bagi laki-laki itu untuk menyekapku dalam gulungan birahi yang tak akan selesai dalam satu jam satu ronde.
***
Dua hari setelah kejadian itu, Aku, Juli dan Agusta kembali kerumah Maria. Sambil memastikan keadaan aman bagi kami untuk kembali ke rumah, para pengawal juga membangun sistem keamanan canggih dirumah itu. Setelah dipastikan aman, kami diijinkan kembali oleh Shasa. Kami selama ini tinggall di rumah besarnya, yang juga menjadi markas rahasia. Kami tidak tinggal disana untuk seterusnya, karena selain kami juga tidak mau, Shasa pun tidak mengijinkan. Rumah yang kita beri nama BIG House itu sangat tidak baik untuk perkembangan anak-anak. Terlalu banyak kekerasan dan bahaya, jika mereka tinggal disana. Shasa memang sangat perduli dengan perkembangan kedua anak kami. Ya, secara resmi Agusta dan Juli menjadi anak Shasa dengan nama Agusta Januaria Alexadrovics dan Juli Januaria Alexandrovna. Namun demi keamanan mereka, diatas kertas nama mereka adalah Agusta Januaria dan Juli Januaria. Tidak boleh ada yang tahu tentang kami dan hubungan kami dengan Shasa. Jika musuh-musuh Shasa tahu kehadiran kami dan pentingnya kami baginya, maka kami bisa menjadi target untuk melemahkan Shasa.
Sesampainya di rumah aku segera membereskan semuanya. Aku juga memeriksa sistem keamanan rumah itu, dan mengubah semua konfigurasi yang dilakukan oleh orang yang memasang sistem keamanan. Semua hal yang berhubungan dengan keamanan dan networking rumah ini aku ubah total, tanpa bantuan siapapun. Hanya aku dan Shasa yang tahu. Seluruh penghuni rumah ini masih tetap mengira aku tidak melakukan apa apa pada sistem yang sudah dibuat.
Setelah selesai dengan urusan keamanan dan jaringan, aku langsung berkutat dengan laptopku. Pekerjaanku saat ini memang sedang padat, mengingat menjelang tutup buku bank resmi. Manuver keuangan kami harus tetap berjalan tanpa harus terdeteksi dan terlihat oleh tim audit bank. Tim ku sednag berkonsentrasi penuh dengan ancaman serangan dari beberapa pihak yang berasal dari Eropa dan Hongkong. Itulah mengapa aku harus mengatasi masalah ini snediri. Shasa saat ini juga sedang berada di Hongkong untuk tugas rahasia. Karena kesibukan inilah, maka masalah dengan keluarga Jerry terabaikan, sampai siang itu Jerry menghubungiku. Sebenarnya beberapa kali Jerry menghubungiku untuk bicara. Beberapa kali dia mengatakan ingin meminta maaf dan menjelaskan semuanya. Namun aku tidak mempedulikannya. kemarahanku pada laki-laki yan g aku anggap sudah menghancurkan Maria dan keluargaku ini masih sangat besar.
“Halo, Janu? Cepat kalian pergi. Sembunyikan anakku dari Mama. Jangan sampai kamu tertangkap oleh anak buah Mama dan Gerald,” kata Jerry berbisik. Belum sempat aku menjawab, kudengar teriakan kesakitan Jerry.
“Ah! Sakit Gerald!” teriak Jerry, diikuti makian yang panjang.
“Aku nggak bicara sama siapa siapa,” kata Jerry mengelak. "Smartphoneku saja mati karena kehabisan baterai. Lihat aja sendiri diatas meja."
“Aku lihat tadi kamu sedang menelpon,” kata suara perempuan yang aku tidak tahu siapa.
“Benar kata istrimu Jer? Siapa yang kamu telpon? Jangan bohong kamu. Dasar anak tidak tahu diri!” bentak suara yang kuyakini adalah suara ibu Jerry.
“Ma, aku yang anak Mama. Dari dulu, mama selalu membela dan memilih Gerald. Selalu saja Mama tidak mau mendengarkanku! Aku ini anak Mama dan Papa tapi aku seperti tidak pernah punya orang tua. Mama dan Papa tidak pernah peduli padaku dan perasaanku! Aku mencintai Maria dan anak-anakku. Kenapa kalian ingin menghancurkan mereka, hanya karena nama baik dam uang? Mereka tidak ada salah pada kalian. Justru kalianlah yang menghancurkan mereka!” kata Jerry
“Diam kamu Jerry. Cinta? Makan itu cinta. Kamu pikir, dengan mencintai Maria, kamu dapat apa? Bandingkan dengan Jade yang memberimu bisnis jaringan hotel. Sekarang sudah terlanjur semua orang tahu kalau kamu memperkosa Maria dan mempunyai anak dari Maria, membuat kita semua dalam kesulitan. Itu semua gara-gara anak-anak haram dan Janu bajingan itu. Untung Papamu masih bisa menyelamatkan dan menutup berita itu hingga kerugian kita tidak bertambah banyak. Awalnya Mama tidak keberatan dua anak haram itu menjadi anakmu, tapi
sekarang? Lupakan. Lebih baik mereka semua mati!” kata Ibu Jerry.
“Ma, apa rencana Mama,” kata Jerry. Perasaanku mengatakan, Jerry sengaja terus menyalakan smartphonenya agar aku mendengar. Entah bagaimana caranya sampai orang orang itu tidak tahu apa yang dilakukan Jerry. Aku menduga, saat ini Jerry menggunakan dua smartphone, satu yang digunakan untuk menghubungiku dan dia sembunyikan, satu lagi yang tadi dikatakannya kehabisan bateri dan diletakkan diatas meja. Mungkin keluarganya tiudak tahu smartphone kedua Jerry. Untungnya sejak awal melihat nama Jerry di smartphoneku, aku mengaktifkan moda perekam dan mute. Hingga tidak ada suara apapun dari sisiku.
__ADS_1
“Rencana Mama? Menghancurkan Janu dan pacar gilanya yang sok jago itu, dan membunuh dua anak haram itu agar tidak pernah datang mengganggumu selamanya. Mama sudah suruh orang buat membakar rumah mereka. Sok sokan pakai pasang alat pengamanan. Mereka tidak tahu kalau yang memasang sistem pengaman mereka adalah hacker sewaan Mama. Trus mereka pakai nyewa bodyguard empat orang. Menurut info, bodyguard mereka itu cemen nggak bisa apa apa. Jadi gampanglah orang suruhan mama buat bunuh dan menghilangkan mereka nanti tengah malam. Habis itu kita bakar rumah mereka,” kudengar suara Ibu Jerry yang sombong. Aku nyengir sambal geleng-geleng kepala. Rupanya mereka tidak tahu siapa kami yang sebenarnya. Oke, mari kita mainkan, siapa yang akan mati malam ini, kami atau orang mereka.
“Mama! Itu anak-anakku Ma! Anakku dari Maria yang aku cinta!” teriak Jerry marah.
“Anakmu? Jerry, Aku istrimu, bukan Maria. Perempuan murah an itu sudah mati! Masih aja kamu bilang cinta sama Dia,” terdengar suara perempuan diikuti suara tamparan keras. Sepertinya kali ini Jerry mendapat tamparan dari
istrinya yang bernama Jade. Aku meringis mendengar suara tamparan yang cukup keras. Aku jadi kasihan pada Jerry. Aku sadar, kalau Jerry memang benar-benar menyesali perbuatannya pada Maria. Aku sedikit melunak pada laki-laki yang menyebabkan semua ini terjadi. Namun tidak pada keluarganya. Aku sudah mendengar dan merekam pembicaraan mereka.
“Hahaha, kamu bilang Maria murah an ? Salah kaca ya? Kamu yang pelacur murah an . Aku tahu kamu juga jadi pela curnya Gerald. Aku hanya diam karena aku tidak peduli. Toh kalian sama-sama manusia bejat. Memang wajar kalau kalian Bersatu. Aku sudah muak dengan kalian,” kudengar lagi suara Jerry. “Aku akan senang jika Janu benar-benar menghancurkan kalian, keluarga bobrok.”
“Jerry! Bicara apa kamu. Kami keluargamu, kenapa kamu bilang seperti itu. Kita keluarga terhormat," suara Ibu Jerry terdengar murka. "Dan Kalian berdua , benar kalian selingkuh dibelakang Jerry?”
“Apa yang kalian bicarakan? Apa maksudnya selingkuh dibelakang Jerry?” suara bariton laki laki yang sexy terdengar.
“Hahaha Kebetulan papa juga disini. Masalah mereka selingkuh kok ditanya, tidak mungkin lah Mereka ngaku. Tapi kalau mau tahu dengan jelas, Aku rasa Janu punya semua buktinya. Bisa mungkin minta sama dia. Aku juga akan minta Janu untuk benar-benar memviralkan video Mama dengan brondongnya. Ah ya, Gerald juga brondong peliharaannya Mama ya, kenapa aku lupa. Gimana ma rasanya main sama anaknya pacar Papa? Bagaimana rasa mendapat bekasan mantumu? Eh siapa yang dapat bekas ya? Mama atau Jade? Gimana Pa istrimu yang suka brondong ini akan jadi mantu nya pacar Papa? Oh iya, lupa. Papa nggak bakal cemburu juga sih. Kan Papa lebih suka ditusuk sama Papa kamu, ya Gerald. Anjir, ancur banget ya keluargaku, ha… ha… ha…” tawa Jerry menggelegar.
“Aku aja yang bego, selama ini mau dicekoki alkohol dan obat perangsang sama orang yang ngaku sahabat tapi ngebobol mama dan istriku. Sementara itu bapaknya ngebobol Papaku. Begonya aku yang bikin orang baik seperti Maria jadi korban ketidak warasan keluaga ini. Begonya aku yang nggak sadar, sudah kalian rusak dengan obat-obatan," kata Jerry dengan suara bernada menyesal.
"Sudahlah, Janu keluarkan semua, Aku akan melihat aksimu dari neraka sambil tersenyum,” Kata Jerry seolah-olah bicara denganku.
“Janu? Apa maksudmu Jerry?” nah kalau ini suara Gerald yang bicara. Namun pertanyaan Gerald tidak mendapat jawaban dari Jerry, hanya sebuah ledakan keras yang diikuti suara orang memanggil nama Jerry bersama-sama.
Selamat tinggal Jerry, jangan kuatir, pesan terakhirmu akan Aku lakukan kataaku dalam hati. Aku tahu, Jerry telah menembak dirinya sendiri di seberang sana. Aku segera mengakiri panggilan dan rekamanku. Aku menyimpan file rekaman ini di tempat yang aman. Setelah selesai aku kirimkan copy rekaman itu pada Shasa.
“Halo hon, apa ini maksudnya?” kata Shasa yang langsung menelponku setelah menerima pesanku.
“Dengarkan saja. Seperti nya rencana menghancurkan keluarga Jerry harus kita realisasikan segera. Nyawa Agusta dan Juli taruhannya,” kataku.
“Oke, beri waktu aku untuk mendengarkannya. Aku pulang sekarang juga,” kata Shasa. Laki-laki yang berwajah tampan khas Rusia itu sudah berada di sampingku lima jam kemudian. Dia benar-benar langsung pulang saat mendengar nyawa kami terancam. Dalam perjalanan pulang, Shasa mendengarkan rekaman yang tadi aku kirim. Dia langsung bertindak cepat dengan menarik kami ke rumah perlindungan baru. Dia juga mengirim informannya ke rumah Jerry. Dari informan ini, kami tahu bahwa Jerry benar-benar bunuh diri didepan keluarganya. Kondisi jenasahnya cukup mengerikan karena kepala Jerry benar-benar hancur. Bahkan otak laki-laki itu berhamburan di muka mamanya, hingga sang mama pingsan.
Saat ini keluarga Jerry sedang berada dirumah duka menunggu jenasah Jerry dikremasi. Kepada para kolega dan tamu yang melayat, mereka mengatakan bahwa Jerry meninggal karena kecelakaan dan jenasahnya hancur, hingga peti tidak bisa dibuka. Keluarga Jerry benar-benar berusaha menutup segala gossip tentang penyebab kematiannya, yang sudah muncul di media sosial seluruh dunia. Mereka tidak tahu siapa aku dan apa yang aku mampu lakukan di dunia maya. Aku adalah laki-laki yang ingin mengabulkan permintaan terakhir anak kesayangan mereka, Jerry. Aku menyebarkan rekaman Jerry yang mengatakan tentang kebobrokan dirinya yang sudah memperkosa banyak Wanita, karena dicekoki obat-obat terlarang serta obat perangsang oleh Gerald dan Mamanya. Tentang cintanya pada Maria dan anak kembarnya. Tentang Mama, sahabat dan istrinya yang bertukar peluh diatas tempat tidur, tentang Papanya yang juga seorang bisex dan tidur dengan papa sahabatnya sendiri. Sebagai penutup Jerry mengatakan bahwa apapun yang dikatakan keluarga tentang kematian Jerry itu omong kosong.
__ADS_1
“Sejatinya, saat pesan ini ditayangkan, saya sudah tidak lagi bernyawa karena saya menembak kepala saya sendiri. Dari pada hidup Bersama keluarga yang hancur berantakan ini, lebih baik Saya membangun keluarga saya di akhirat Bersama Maria, yang menungguku,” itulah sebagian dari rekaman Jerry yang kuterima di email. Dalam email itu Jerry memintaku untuk mewujudkan ancamanku saat bertemu dengannya, di rumah sakit beberapa waktu.