Nada Nara

Nada Nara
Bab 73 Menjagamu dan Bunda (Bagian 3)


__ADS_3

POV Mahardika


Setelah hal menjijikan didepan Nara yang dilakukan Pradipta dan wanita yang membawa kotak kalung itu selesai, buaya darat itu menyuruh pembawa kotak pergi.


“Pergilah, aku harus menyelesaikan penyerahan kalung ini. Bilang sama Tuanmu, jangan seenaknya aja melimpahkan tugasnya,” kudengar Pradipta berkata dengan volume agak keras. Aku yakin dia memang sengaja dan bermaksud menyadarkan Nara dari diamnya. Si pengantar kotak kalung membungkuk hormat kepada Pradipta


sambil tersenyum genit lalu membungkuk kepada Nara dengan sikap formal. Terlihat sekali dia memang terlatih melakukan hal seperti ini.  Dia memberi kode kepada empat laki laki yang mengikutinya tadi dan pergi keluar ruangan. Aku segera meminta anak buahku untuk mengikuti mereka dan mencari tahu rencana mereka. Aku kembali mengemballikan fokusku pada Nara


“Dia sekretarisnya Franco. Franco dan saya bersahabat sejak kami masuk kuliah. Dia yang mengajakku membantunya membesarkan LC seperti sekarang ini. Jadi kami terbiasa saling membantu dan menjadi backup satu sama lain. Ya seperti sekarang ini,” kudengar Pradipta setelah perempuan dengan rok super mini dan selalu mendesah akibat sesuatu yang dilakukan Pradipta dibalik roknya, itu pergi.


Aku segera mengalihkan perhatianku pada Nara dan ruangan itu. Laki-laki itu dengan tenang setelah memperbaiki duduknya,kembali menghadap ke arah Nara. Pradipta mencoba meraih tangan Nara yang ada diatas meja. Aku melihat Nara sangat nyaman dengan apa yang dilakukan Pradipta sebelumnya. Sangat terlihat kalau Nara cukup jijik dengan apa yang dilakukan Pradipta. Membayangkan apa yang dilakukan tangannya dibawah rok, kemudian memasukannya kedalam mulut dan ingin memegang tangannya,membuat Nara bergidig. Dia menarik tangan pura pura mengambil smartphone dengan cepat. Dan aku rasa Pradipyapun menyadari itu.


Aku melihat Pradipta berusaha mencuci tangannya dengan memasukan tangannya ke dalam gelas berisi air putih dan kemudian mengeringkan dengan serbet yang ada di pangkuannya. Laki-laki itu memanggil pelayan untuk


mengganti gelasnya dengan yang baru. Hadeh, buaya kok jorok. Kan dia bisa saja cuci tangan ke wastafel, atau ingin sok-sokan di depan Nara? Bahkan aku melihat dia menenggak habis segelas air minum lalu winenya, seolah juga membersihkan mulutnya. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.


“Ish, jorok  bener. Wueeek,” kata Henry seperti mau muntah. Aku tertawa ngakak.


“Sst kalian berisik,” bisik Adrian.


“Dengan tulus, Franco menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, karena tidak bisa hadir. Dia ada keperluan mendesak yang tidak dapat ditunda atau dibatalkan. Tanggung sih intinya, belum selesai. Dari pada


wanita secantik dan sebaik Nara harus menunggu, maka Franco meminta saya mengganntikannya. Toh saya juga bagian dari LC dan saya sahabat  sekaligus rekanan dan tangan kanan Frnaco. Semoga Nara tidak keberatan,”


kata Pradipta sambil mengambil tanganku yang kuletakan dimeja kembali. Sangat terlihat kalau Nara terlihat risi dan tidak nyaman dengan genggaman si buaya darat. Apalagi saat beberapa kali Pradipta mengecup punggung tangannya.


“Wakakaka, Nara bentar lagi muntah tuh kayaknya,” kata Henry.


“Ya tapi keren sih, dia nutupin dengan wajah polos tersipu begitu mualnya,” kata Adrian.  Aku menjadi sangat kasihan dan mulai berpikir untuk menghentikan project ini. Namun aku tidak gila. Usaha Nara hari ini sudah


setengah jalan. Sebuah usaha keras yang menurutku luar biasa, dan rasanya tidak adail jika aku hentikan sekarang.


“Nara mau makan dulu atau bagaimana?” kudengar Pradipta bertanya pada Nara, memberikan pilihan.


“Saya rasa sebaiknya kita selesaikan urusan LC dahulu. Asisten sekaligus pengacara saya yang akan mengurus pembayaran dan administrasi serta memeriksa keaslian kalung, sudah menunggu,” kata Nara dengan tenang. Ok,


good  Nara. Kulihat ada raut tidak senang muncul di muka Pradipta. Mungkin  dia berpikir, Nara akan dengan bodohnya menerima sebuah kalung seharga 150 juta, tanpa memeriksanya.


“Anda tidak percaya pada kami? LC dan Dirgantara adalah perusahaan besar. Kami tidak mungkin mengorbankan nama baik kami untuk sebuah kalung seharga Rp.150 juta nyonya,” kata Pradipta dengan tegas. Ok, Pradipta berusaha mengintimidasi dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Nara. Masalah ego? Aku pikir tidak. Namun aku yakin mereka akan memiliki rencana  berbeda.


“Bukan begitu, percaya kok. Tapi secara bisnis kan tetep harus ada pertanggung jawabannya,” dan Nara berhasil mengontrol dirinya dengan baik. Setiap kata yang diucapkan dengan lembut mampu menutupi kegugupannya. Nara mungkin sedang mencari perlindungan dan dukungan Adrian. Kulihat dia sedikit gelisah mencari Adrian dari sudut matanya.


“Adrian, sepertinya Nara membutuhkan dukunganmu. Dia mencarimu dengan sudut matanya, lewat kaca,”  kataku pada Adrian. Sepertinya, Adrian juga sudah menyadari hal itu.


“Ok Boss,  dicopy. Tetapi semua aman terkendali. Saya ada disini, jangan khawatir” katab Adrian sedikit keras, sambil melirik kearah Nara. Kata kata Adrian sendiri, seolah olah sedang berkoordinasi dengan tim keamanan. Namun kata-kata dan matanya ditangkap oleh Nara.


“Bodyguard Nara cukup bagus dan waspada. Tim dia seperti cukup banyak? Dia dan teamnya hanya menjaga Nara?” tanya Pradipta. Laki-laki itu diam diam mengamati Adrian rupanya.


“Adrian, Pradipta mengawasimu sepertinya. Komunikasi di efisienkan,” kataku mengingatkan.


“Sebenarnya lebih tepat kalau dikatakan, dipinjam sementara uuntuk menemani saya. Tugas utama dia lebih kepada manajemen kok. Manajemen Nara berpikir Nara sekarang ini sedang membutuhkan dia untuk mendampingi Nara. Baiklah bisa kita mulai dengan bisnis kita terlebih dahulu? “ Kulihat Nara meyakinkan Pradipta dengan memegang tangannya. Pradipta menatap tangan Nara yang berada diatas tangannya. Dia mengambil tangan Nara dan mengecupnya. Sungguh, rasanya aku tidak rela melihat hal itu.


“Baiklah, mari. Tapi setelah itu, kamu harus temani aku makan siang,” kata Pradipta dengan wajah merajuk. Aku tahu, Pradipta tidak benar-benar marah. Dan aku juga tahu Nara menyadarinya dan hanya tertawa.


“Tentu, kenapa seolah-olah kamu takut aku tidak mau mau menemanimu makan siang?“ tanya Nara sedikit menggoda Pradipta. Sementara itu aku ingin menyolok matanya yang tidak pernah lepas, memandang Nara.Sayang aku dibatasi oleh tembok ini.

__ADS_1


“Aku hanya takut Nara langsung pulang setelah selesai. Padahal aku sangat ingin bersama Nara siang ini,” katanya dengan suara lembut. Kulihat Nara terpaku mendengar gombalan Pradipta dengan suara buaya.


“Pangeran Modusa beraksi, sebaiknya pecah konsentrasi Nara yan,” kata Henry, tanpa sadar aku mengangguk. Kudengar Adrian menggerakan kursinya. Berbeda dengan tadi, dia bergerak cepat dan jauh tanpa suara, kali ini Adrian memberikan suara yang cukup keras unuk menyadarkan Nara. Dan berhasil,  Nara berdehem memberikan isyarat bahwa dia baik baik saja.


“Henry standby! “ kataku.


“Siap boss!” jawab Henry.


“Coba Nara ulang lagi,” kata Pradipta sambil mendekatkan mukanya pada Nara. Kalau dekat,  ingin rasanya aku menarik Nara menjauh.


“yang mana? Kita mulai lagi?” kata Nara pura-pura tidak mengerti.


“Ish, bukan itu,” kata Pradipta tersenyum.  Yah Pradipta sangat mengerti kalau perempuan didepannya pura-pura  tidak mengerti untuk menggodanya.


“Kita mulai serah terima dulu ya mas,” kata Nara dengan nada manja yang menggemaskan membuat Pradipta tersenyum. Tentu saja, mendengar rayuan gadis secantik Nara, hati siapa yang tidak berbunga.


“Adrian, boleh minta tolong panggil Henry? Kita selesaikan urusan kalung dulu,” kata Nara memberikan kode pada Adrian untuk memanggil Henry.


“Baik nona,”  kata Adrian sambil berdiri dan keluar ruangan. Setelah Adrian keluar Pradipta kulihat  mencoba mengoda Nara dengan menarik tangan dan mendekatkan mukanya.


“Adrian, Henry cepat. Takutnya Pradipta keburu memangsa Nara,” kataku dengan tidak sabar.


“Sabar bos, tenang,” kata Adrian.


Untungnya Nara bisa mengatasi dengan pura pura memainkan smartphone dan membalas pesanku. Dari tadi aku memang bertukar pesan dengan Nara. Selain memberikan petunjuk apa yang harus dilakukan, aku juga mengingatkan agar tidak terpengaruh dengan Modusa. Kulihat Nara tersenyum  membaca pesan-pesan yang kukirim barusan.


M : -cie-cie, pegangan tangan. Awas, tangannya bau jigong tuh juga bau itu… hiiii-


Nara: -bodo ah-


Itulah potongan pesan yang membuat Nara Tersenyum.


“Chat sama yayang ya, senyum senyum gitu?” kata  Pradipta dengan cemberut. Rupanya dia menyadari jika Nara fokus pada pesan di smartphonenya. Dia mungkin tidak menyukai perhatian wanita cantik didepannya teralihkan. Ya, memang. Laki-laki mana yang menyukainya?


“Ish kok cemberut sih mas?” kudengar Nara menggoda Pradipta. Aku tidak suka sikap pmenggodanya ini.


“Abis dilupakan. Padahal didepan mata nih,” kata Pradipta. Cih, sok manja. Dasar buaya. Kenapa Henry dan Adrian lama sekali?


"Ya ampun, enggak dilupakan kok. Idih, kayak  abege cemburuan gitu sih mas mukanya," kata Nara masih dengan sikap menggodanya.


"Emang cemburu kok, boleh nggak?" tanya Pradipta sambil mengedipkan matanya namun masih dengan nada merajuk. Ini pemandangan yang sangat menyebalkan.


“Adrian! Henry! Cepat!...,” kataku dengan suara sedikit kutahan agar emosiku tidak naik. Belum aku menyelesaikan kalimatku, kulihat Adrian dan Henry sudah masuk ke ruangan. Mereka berjalan dengan cepat menuju meja Nara.


“Selamat siang pak Pradipta, saya Henry dari manajemen Nona Nara,” kata Henry mengulurkan tangan. Pradipta menyambut uluran tangan Henry dengan muka datar tanpa ekspresi. Sangat berbeda dibanding saat berbicara dengan Nara. Dasar buaya darat keparat, ingin kulipat lipat.


“Oke silahkan duduk pak Henry. Mas, boleh langsung lihat kalungnya? “ kata Nara dengan serius. Jiahhh, dia manggil mas dengan cara begitu bikin aku tambah tidak rela.


“Tenang, sabar Nara,” kata Pradipta dengan lembut. Dia kembali memegang kotak yang tadi diberikan oleh sekretaris Franco. Terlihat sekali, dia berbunga-bunga karena kemanjaan Nara.


“Pak Henry, ini kalung yang kemarin dilelang. Saya pastikan bahwa ini berlian dan emas asli,” kata Pradipta.


“Saya percaya pak Pradipta. Namun saya disini ditugaskan untuk memeriksa selain keaslian dan kualitas berlian, juga keaslian kalung ini sebagai kalung milik Lidya Dirgantara,” kata Henry dengan tegas.


“Tentu saja ini kalung milik Lidya Dirgantara. Apakah anda meragukan? Anda mengatakan bahwa kami melakukan penipuan? Anda tahu kan kalau mr. Franco adalah bagian dari keluarga Dirganta. Lagi pula bagaimana Anda membuktikannya? Nara, apa maksudnya ini?” kata Pradipta dengan nada emosi. Matanya memandang Nara, Henry dan adrian curiga.

__ADS_1


Sepertinya Pradipta cukup terusik dengan kehadiran dua asistenku dan Nara. Mungkin secara insting, Pradipta dan Franco merasakan keanehan ini. Aku sempat berpikir bahwa kemunculan kalung Lidya Dirgantara dimaksudkan untuk memancing DD keluar.Tetapi sebelum motif jelas dan bukti bukti  ada, aku tidak mau gegabah. Aku tahu bahwa mereka sudah menyelidiki Nara, Adrian dan Henry. Namun berkat data palsu yang kami tanam, semua aman. Bahkan kami bisa membaca pergerakan anak buah Franco saat mengakses pusat data, mencari tahu ketiga


orang ini. Setelah itu kami menitipkan program khusus untuk dimasukan kedalam pusat data pribadi keduanya.  Aku juga sudah tahu bahwa mereka mengawasi meeting ini lewat beberapa CCTV di ruangan. Namuntidak membuatku khawatir. Mereka hanya mengakses 30 % dari jumlah CCTV yang ada. Sedangkan aku bisa mengakses semua milik mereka dan menambalkan 70% CCTV  lainnya di ruangan ini.


“Pak Pradipta, Nona Nara tidak mengetahui hal ini. Dia dan saya hanya menjalankan apa yang sudah iperintahkan. Kalung ini adalah hadiah istimewa untuk Nona Nara dari bos kami. Nona Nara sangat istimewa bagi bos kami. Itulah mengapa kami harus memastikan semua barang yang diterimanya juga istimewa. Bukan barang yang bisa didapatkan dipasaran. Kami yakin Mr. Franco dan Pak Pradipta orang yang kompeten dan bisa dipercaya. Jadi tidak akantakut dengan pembuktian kecil seperti ini. Hanya orang-orang pengecut, punya niat jahat dan curang yang ketakutan saat barang yang dijualnmya diperiksa, ” kata Henry sambil tersenyum. Pradipta terdiam sejenak. Lalu dia mendorong  kotak tersebut dengan dua tangannya, setelah berpikir sejenak.


“Tentu saja saya tidak takut barang ini diperiksa oleh Anda. Lakukan didepan mata saya,” kata Pradipta serius. Henry mengenakan kacamata khususnya sambil mengangguk. Dia membuka kotak tersebut lalu memandanginya dengan serius. Nara tampak memperhatikan apa yang dilakukan Henry dengan seksama. Dari kacamata


Henry, aku seperti melihat dunia melalui mata Henry.


“Henry, jangan lupa membuka  gelangmu sebelum menggunakan sarung tangan,’ kataku mengingatkan saat kulihat Henry sudah mengambil sarung tangan. Aku melihat dia membuka gelangnya dengan cepat dan  meletakkan diatas panngkuannya lalu mengenakan kaos tangannya. Dengan teliti Henry melihat dan membolak ballikan kalung dan menelusurinya. Akupun begitu. Beberapa kali aku memberikan penilaianku paada Henry.


“Ok, fix ini adalah kalung asli. Masukan ke kotaknya lagi dan lakukan tugasmu Henry,” kataku.


Henry tersenyum dengan tenang sambil merapikan kalung kedalam kotak. Dia memandang Nara dan memegang


hidungnya. Sesuai kesepakatan kami kalau tanda itu menyatakan bahwa semua asli. Akupun lega. Sekarang misi kedua, mengeluarkan kalu ng Lidya Dirgantara asli tanpa mereka sadari.


“Mas, jangan melotot begitu. Nara takut ih. Mas masih marah karena bos ku ingin memeriksanya,” kata Nara dengan lembut sambil memegang dua tangan Praditya. Suaranya dibuat sedemikian rupa seperti orang yang sedih dan kecewa. Please Nara, kenapa sih hasru pakai pegang-pegang segala? Saat itu juga Pradipta langsung memandang Nara dengan senyum ceria. Ya, iyalah, didepannya ada wanita super cantik yang bermanja-manja


pada dia. Pasti buaya seperti dia kegirangan.


Aku melihat Pradipta menggeleng dan tersenyum. Kedua tangan Nara digenggamnya  dengan satu tangan kemudian ditepuk-tepuk dengan tangan lain.


“Duh, sok peduli sekali si buaya,” degus ku marah. Lalu kudengar suara Henry yang tertawa tergelak, dan Adrian yang mengeluarkan tawa kecil tertahan. Tentu Adrian tidak bisa mengungkapkan tawanya. Dia sedang berperan menjadi bodyguard Nara didepan Pradipta kan.  Mereka ini tidak ada hormat-hormatnya pada senior.  Henry


melakukan aksinya menukar kalung asli dengan kalung duplikat.


“Tidak Nara, aku tidak marah,” kata Pradipta sambil tersenyum.


“Wuaduh! Sudah pakai aku kamu bicaranya,” kata Henry.


“Ya kan tadi Nara yang memulai dengan memanggilnya mas,” kata Adrian berbisik.


“Dasar memangbuaya lagi usaha,” kataku ketus disambut tawa Henry dan Adrian


“Hah? Aku?”kata Nara yang sepertinya tersinggung.


“Kenapa, aku tidak boleh aku-kamu dengan Nara?” tanya Pradipta. “Aku hanya ingin kita menjadi lebih dekat Nara. Kamu sangat cantik. Lebih cantik dari Juli.”


“Wow, tidak mungkin. Juli adalah wanita cantik yang menjadi pusat perhatian. Aku hanya seorang Nara,” kata Nara yang mulai merasa insecure. Namun dia mulai menguasai diri. Dia tahu Pradipta memandanginya dengan pandangan aneh.


“Nggaklah. Kamu lebih cantik dan menggoda dibanding Juli,” kata Pradipta.


“Ish Gombal,” kata Nara  sambil melepaskan tangan. Aku melakukan ini karena Henry sudah memberikan kode


kalau dia sudah selesai.


“Nona Nara, semua sudah sesuai. Ini saya kembalikan kepada Pak Pradipta untuk diserahkan kepada nona Nara,” kata Henry memotong.


“Baiklah, jadi sudah sesuai ya. Ini Nara, kalungnya aku berikan kepadamu. Pasti kalung ini akan sangat cantik di lehermu yang indah ini. “ cih … gombalan receh banget kan. Aku memperhatikan Nara dengan seksama. Kalau sampai bajingan itu menyakiti Nara, dia habis ditanganku.


“Yeiiyyy, terimakasih,” kata Nara yang  menirukan tokoh di drama korea yang kecentilan menerima hadiah dari sugar daddynya. Film ini pernah ditunjukan Nara padaku dan kami mendiskusikan apakah sikap ini cocok untuk


Nara. Nara menarik kotak itu dan membukanya dengan mata berbinar lalu menatap berbinar.

__ADS_1


__ADS_2