Nada Nara

Nada Nara
Bab 38. Gangguan 3 Bajingan


__ADS_3

Pemakaman Maria berjalan dengan lancar. Seperti juga pemakaman ibu, semua diurus oleh anak buah Mr. S. Laki-laki keturunan Rusia yang dikenal orang sebagai laki-laki dingin dan garang itu memang selalu baik padaku. Pada awalnya, jujur saja aku menyukainya. Kalau boleh dibilang, aku mencintainya. Namun aku cukup tahu diri. Siapalah aku ini berani menyukai seorang pangeran tampan berwajah dingin dari kerajaan Mafia dnegan kekayaan yang tak terukur.


Aku cukup beruntung berteman dengannya. Semua menjadi lanca r sejak aku bersahabat dengannya. Diapun sangat perhatian padaku. Dia selalu menjagaku. Setiap kali aku membutuhkannya, sebelum aku meminta dia sudah ada disana dan membantuku. Secara materi, dia jugalah yang menyokong kehidupanku. Selain Maria dan ibu Lis, Shasa adalah malaikat pelindungku.  Secara emosional, hubunganku dengan Shasa, panggilan kesayanganku untuk mr. S cukup dekat. Kami seringkali melakukan skinship saat hanya berdua. Itu juga yang membuatku kadang  baper. Namun aku juga tahu rasanya tidak mungkin dia menyukaiku. Shasa adalah laki-laki dingin yang dikelilingi banyak wanita. Walaupun kadang dia juga menunjukan dan memberikan beberapa kecupan dipipiku. Ya Shasa tahu persis orientasi sexualku. Namun aku tidak tahu dia seperti apa. Beberapa kali aku melihat dia menghabiskan waktunya dengan Wanita di sebuha klub malam hingga pagi.


Aku sudah lama memutuskan untuk menghilangkan perasaan cinta dan menggantinya dengan  persahabatan. Meski tidak selalu bisa. Bahkan setelah pernikahanku dengan Maria, aku tidak mampu melupakannya. Sampai tadi sore setelah pemakaman Maria, Shasa mendekatiku.


“Jan, aku pingin bicara denganmu,” kata Shasa mengambil tanganku lembut. Aku yang sedang menggendong Agusta menatap wajah Shasa heran. Tidak biasanya dia seperti ini. Saat itulah Juli menangis diatas tempat tidur. Dengan sigap Shasa bangun dan mengambil bayi cantikku. Dalam gendongan Shasa Juli langsungdia, membuatku tersenyum. Shasa membawa Juli dalam gendongannya dan duduk di sampingku. Kami sudah seperti sepasang suami istri dengan dua bayi kembar.


“Jan, aku boleh ngomong nggak?” kata Shasa. Lah emang dari tadi dia nggak ngomong ya?


“Emang dari tadi nggak ngomong gitu sa? “ kataku sambal membetulkan botol minum Agusta dan Juli.


‘Ish kamu ya. Gemesin banget sih,” kata Shasa. Eh kok? Dia bilang aku gemesin? Entah dari mana asalnya, tiba-tiba pipiku terasa panas dan memerah. Apalagi saat Sahabatku itu mencubit pipiku.


“Janu, boleh nggak aku jadi daddy nya Agusta dan Juli,” kata Shasa tiba-tiba. Sebuah pernyataan ambigu yang membuatku menoleh menatapnya. Shasa tersenyum manis dan tiba tiba mengecup pipiku.


“Maksudnya? “ tanyaku tak mengerti.


“Kamu kan papanya, aku daddynya gimana? Boleh?” kata Shasa.


“I love you Janu,” kata laki-laki tampan yang selalu menjagaku ini.  Dan sejak itulah kami membesarkan Agusta dan


Juli bersama sama. Dalam perjalanan waktu, Agusta lebih banyak menghabiskan waktu denganku dan mendapat sedikit gemblengan dari daddynya, sampai Mahardika datang. Kedatangan Mahardika menarik perhatian Shasa. Dia menjadikan Mahardika sebagai penggantinya.Dengan kejeniusan anak angkat yang  sekaligus menjadi sulung dari keluarga kami, membuat Shasa memberikan tanggung jawab besar sebagai penerusnya. Apalagi Shasa akhirnya mengetahui latar belakang keluarga Mahardika. Namun Shasa sendiri tidak bisa selalu ada untuk keluarga

__ADS_1


ini. Sebagai ketua organisasi yang memiliki banyak musuh, hubunganku dengan Shasa tidak boleh diketahui siapapun. Bahkan oleh anak buah kami. Semua orang hanya tahu kalau aku bekerja untuk Shasa.  Kedekatan Mahardika dengan Shasa pun tidak diketahui siapapun.


Sedangkan Juli sebagai satu satunya perempuan dikeluarga ini, selalu mendapatkan apa yang diam au. Dia tumbuh menjadi gadis keras kepala yang semua    keinginannya wajib dikabulkan. Baik oleh Papa, daddy dan kakak-kakaknya. Kemanjaan yang kadang membuat para lki-laki di rumah itu pusing tujuh keliling


***


Meski hubunganku dan Shasa dirahasiakan, namun Shasa selalu menjagaku, termasuk dari gangguan keluarga Jerry. Setelah meninggalnya Maria, Jerry hanya sekali datang untuk melihat Agusta dan Juli. Setelah itu dia menepati janjinya untuk tidak muncul dihadapan kami. Namun janji itu hanyalah janji seorang Jerry. Bukan janji dari keluarga dan teman kejahatannya.


Saat kemunculan terakhirnya di makam Maria, aku mendengar Jerry mengucapkan maaf pada pusara istriku. Dia mengatakan bahwa dia benar-benar menyayangi Maria dan anak-anak. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tahu bahwa dia pengecut dan tidak berani melepaskan seluruh kemudahan dan harta yang dimilikinya demi membela Maria. Ancaman kedua orang tuanya yang akan mencoret namanya  dari daftar keluarga dan mencabut seluruh fasilitasnya, membuat Jerry tak berkutik. Tapi saat ini Jerry juga tersiksa oleh rasa bersalahnya pada Maria dan kedua


anaknya.  Jerry mengatakan ini saat dia sendiri di makam. Dia tidak tahu jika saat itu aku mendengarkan dari balik


persembunyianku. Saat seorang pengawal datang, Jerry langsung terdiam tidak sinilah aku tahu bahwa Jerry memang benar-benar menyesal. Itulah mengapa aku mengijinkannya bertemu Juli dan Agusta. Aku juga meminta Shasa yang sudah berencana membunuh Jerry, untuk melepaskannya.


Kedatangan Ibu Jerry tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Dia akan mengambil Agusta dan Juli. Pengacara bangsat itu menyodorkan sebuah surat pengalihan hak asuh Juli dan Agusta. Bahkan Pengacara itu memberikan opsi dengan perbaikan surat kelahiran anak-anakku itu menjadi anak Jerry dan Istrinya. Tentu saja aku tidak mau. Ada tidak ada wasiat dari Maria, Agusta dan Juli adalah milikku, harta paling berharga yang aku punya. Tidak akan pernah aku menyerahkan pada siapapun. Aku akan mempertahankan bahkan taruhan nayawa sekalipun.


“Janu, tidak usah sok-sokan mempertahankan bayi Jerry. Serahkan pada kami dan kami akan memberikan mereka kehidupan yang lebih layak. Kamu yang pengangguran dan mengandalkan warung kecil ibumu yang sudah mati itu, tidak akan memberikan kehidupan yang lebih baik dari kami,” kata Ibu Jerry.


“Iya Janu. Kamu kan pengangguran selama ini. Tidak punya kerjaan, tiap hari dirumah. Yang kerja kan ibu mertuamu yang sudah koit itu. Kalau dua anak Jerry ikut kamu, bisa bisa mereka jadi gembel nanti. Jadi lepaskan dan berikan pada kami. Mana anak-anak itu?” kata Gerald dengan cengiran kurang ajar diwajahnya. Aku ingin meledak mendengar omongan songong mereka. Namun aku juga malas untuk beradu otot tak berguna dengan tika manusia arogan ini. Aku hanya diam tak menanggapi, memilih duduk di sofa dan bersedekap.


“Hei! Kamu tuli apa bisu?  Atau jangan jangan kamu sudah ketularan bisunya Maria? Cepat berikan anak-anak Jerry dan tanda tangani surt ini,” teriak Gerald padaku, tidak sabar.  Ah, dia yang somgong dan sekarang dia yang


kesal?   Aku mengambil smartphoneku dan bermain gim tanpa memperdulikan mereka. Mengerti akan sikapku, beberapa pengawal yang tadi siaga akirnya bergerombol dan mengobrol seolah-olah tiga orang songong ini tidak ada.  Hal ini membuat Ibu Jerry dan rombongan sirkus ini berteriak tidak jelas dan makin lama makin kesal. Gerald

__ADS_1


menelpon seseorang memintanya untuk masuk. Tidak berapa lama muncul beberapa orang bertampang jagoan masuk kerumah dengan gaya preman.


“Ambil bayi itu, cari disemua tempat dirumah ini dan kita bawa paksa,” kata Gerald.


“Ini uang buat pengganti biaya yang sudah kamu keluarkan untuk cucuku,” kata Ibu Jerry sambal melemparkan segepok uang yang aku taksir berjumlah 20 juta rupiah. Uang itu dilempar tepat ke mukaku. Aku mendongakkan kepala dan memandang tajam pada perempuan gila itu.


“Ambil uang itu karena aku tidak butuh uangmu. Bahkan saat ini aku bisa membeli seluruh perusahaan dan dirimu untuk kubuang ke bantar gebang,” entah dari mana, tiba tiba Shasa sudah muncul membawa satu kantong besar uang yang kemudian dia sebar diatas meja.jumlah uang yang puluhan kali lipat dari yang tadi dilempar ke mukaku.


“Janu tidak perlu mengeluarkan keringat untuk mendapat uang sebanyak ini. Dia diam dirumah bukan berarti pengangguran dan bisa kalian hina,” kata Shasa dengan muka merah karena marah. Aku melihat Gerald dan ayahnya bergidik ngeri. Aura Shasa memang cukup mengerikan saat ini. Tapi Ibu Jerry tampanya tidak takut pada Shasa. Dia segera mengambil uang yang tadi dilempar Gerald dan memasukan kedalam tas


“Ya sudah kalau tidak mau,” katanya  santai.


“Nyonya, tuan, anak-anak itu sudah tidak ada. Kami sudah menyisir setiap  ruangan dirumah ini tapi tidak menemukan dua bayi yang nyonya inginkan,” kata pengawal yang tadi ditugaskan mencari Agusta dan Julli. Aku memasang muka datar mendengar laporan anak buah para bajingan ini. Shasa kulihat juga memasang muka


datar. Begitu juga semua pengawal yang langsung siaga saat kemunculan Shasa.


“Hei, Janu! Dimana kau sembunyikan cucuku? Cepat berikan! Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni kamu,” kata perempuan tua itu. Aku mendekati Shasa dan menanyakan kabarnya tanpa memperdulikan perempuan tua yang sudah sangat jengkel itu. Tanpa aba-aba, Gerald tiba tiba menarik tanganku dan mengancamku dengan pisau, agar aku memberikan Agusta dan Juli.  Melihat hal itu Shasa langsung mengamuk. Sebuah pisau tiba tiba melayang mengenai tangan Gerald yang memegang pisau hingga pisau ditangan Gerald terjatuh. Pegangan tangan Gerald yang mengendor  membuatku leluasa untuk melepaskan cengkeramannya.


“Berani kamu mengancam kekasihku dan menggangu keluargaku!” teriak Shasa marah. “Aku bunuh kalian!” Aku tahu Shasa tidak main main. Aku segera memeluknya dan membisikan bahwa membunuh mereka sampai mati, adalah hukuman teringan yang bisa mereka dapat. Aku tidak mau. Mereka harus merasakan sakit dan kehilangan.


Aku membisikan sebuah rencana hukuman bagi mereka.


“Menghilangkan nyawa kalian sepertinya terlalu mudah dan terlalu ringan untuk menghukum orang seperti kalian. Oke, pergilah dan bersiaplah menghadapi kehancuran kalian,” kataku sambal tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2