
Kemunculan Jerri dan Gerald membuat Ibu kolaps dan Maria terguncang. Seandainya bisa, ingin aku langsung melenyapkan mereka. Bukan hal sulit sebenarnya. Namun aku masih memikirkan keadaan Ibu dan Maria sebagai skala prioritas. Karena aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan kondisi ibu, maka aku berusaha melindungi Maria. Aku hanya meminta bodyguard yang menjaga kami untuk menyingkirkan dua cecunguk itu dari hadapan
Maria. Sikap mereka yang songong sempat membuatku naik darah dan hamper tak terkendali. Namun melihat keadaan Maria yang syok, aku memilih menahan diri dan memeluknya sambil berbisik, “ Jangan pernah takut pada mereka. Mulai sekarang kamu tidak pernah akan bisa mereka sentuh dan sakiti. Tegakkan kepalamu dan jangan terlihat lemah. Aku selalu ada disampingmu, ingat itu. Lebih baik kita konsentrassi pada Ibu dan kedua anak kita.”
Bujukan dan kata-kataku cukup menenangkan Maria. Setelah mendengar kata-kataku, Maria sedikit tenang dan mulai Kembali ke bumi. Ia mengerjapkan matanya lalu memandangku dengan sedih. Dia kembali merenanung dan sesekali menatapku, berulang kali, sampai akhirnya dia mengeluarkan suaranya.
“Janji ya Jan, kamu akan selalu ada dan disampingku,” kata Maria. Sebuah permintaan yang tidak perlu sebenarnya. Bagaimanapun keadaannya aku harus tetap berada disampingnya dan menjaga mereka. Mereka adalah anak dan istri yang menjadi tanggung jawabku kan? Untuk menenangkan Maria, pertanyaannya kujawab dengan anggukan.
“Aku berjanji untuk selalu ada disamping kalian berempat,” kataku meyakinkan sambal menariknya dalam rengkuhanku. Kucium pucuk kepala istriku dengan sayang. Ya, aku memang sayang mereka, sampai kapanpun. Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan, memanggilku. Menurut dokter, keadaan Ibuku sedikit mengkawatirkan. Dokter memintaku untuk menjaga kondisi mental ibu saat ini. Maria mencengkeram tanganku dengan erat. Sangat terlihat rasa bersalah di wajahnya. Aku menepuk tangannya pelan untuk menenangkan. Aku sedikit berbicara dengan dokter dan kemudian mengajak Maria masuk menemui Ibu.
“Maria, kesini nak. Kamu tidak apa=apa?” tanya ibu lirih.
“Tidak bu, Maria baik-baik saja, Ibu jangan kuatir sama Maria. Ibu harus tenang dan sembuh biar bisa menjadi cucu-cucu Ibu nantinya,” kata Maria sambil tersenyum. Aku ikut mendekat dan memegang tangan Ibu.
“Ibu tidak perlu kuatir. Mereka tidak akan bisa mengganggu keluarga kita lagi. Ada Janu disini bu. Sekarang ibu tenang dan tidak perlu berpikir aneh-aneh. Biar Ibu cepet sembuh,” kataku. Ibu tersenyum padaku.
***
Pagi ini, semua kembali tenang, setelah huru hara kemarin. Aku dan Maria baru saja kembali dari sarapan. Pagi tadi, tiba tiba Maria ingin makan nasi uduk dan jengkol. Mengherankan memang karena selama ini, Maria tidak pernah menyukai makanan itu.Mungkin itu yang dinamakan ngidam. Aku duduk disofa dan mulai menyalakan
__ADS_1
laptopku saat ibu memanggilku untuk mendekat. Aku segera mendekati Ibu dan Maria.
“Janu, Ibu titip Maria dan cucu-cucuku. Ibu sepertinya tidak bisa menjaga mereka. Tapi Ibu percaya, kamu bisa lebih baik dari ibu,” kata Ibu sambil menarik nafas Panjang. Aku hanya diam mempersiapkan hatiku untuk segala kemungkinan yang terjadi nanti. Maria terlihat mulai berkaca dan ingin protes. Namun dengan lembut ibu meletakan satu jarinya di mulut Maria sambil tersenyum.
“Sst, dengarkan ibu terlebih dahulu nak. Ibu sudah terlalu tua. Keadaan ibu memang sudah sangat parah. Dan ibu Bahagia melihat kalian bisa bahagia saling menjaga. Ibu bukan tidak mau menjaga kalian. Namun setiap manusia memiliki waktunya, dan sepertinya waktu ibu tidak akan banyak lagi. Kalian berdua, bahagialah. Ibu akan selalu menemani kalian meski Ibu tidak ada dihadapan kalian,” kata Ibu. Maria mulai menangis tertahan. Aku bergerak mendekat dan memeluk Maria menenangkannya. Kukatakan, yuk kita tersenyum agar Ibu bahagia. Setelah beberapa kali kubisikan, akhirnya Maria mulai bisa mengusasai diri. Dia menghapus airmatanya dan tersenyum.
“Ibu, maumakan apel? Aku pingin disuapin sama Ibu,” kata Maria. Aku segera bergerak ken akas mengambil apel dan pisau.
“Mau dikupasin? “ kataku pada keduanya.
“Tidak usah dikupasin papa, kami mau apel yang tidak usah dikupas. Kami mau disuapin sama nenek,” kata Maria sambil menirukan suara anak kecil. Hatiku menghangat. Aku memotong apel kecil kecil dan memberikannya pada Maria. Ibu yang tadinya lemas, kini bisa bangkit dan duduk menyandar, mengambil piring apel dari Maria. Ibu dengan wajah bahagia, menyuapkan potongan potongan apel ke mulut Maria sambil tersenyum. Aku menunggu mereka selesai sambil meneruskan pekerjaanku di sofa. Sebuah ketenangan yang membuat kami merasa damai. Belum kami puas menikmati kedamaian, tiba tiba pintu diketuk dengan keras. Hal yang tidak biasa kami alami. Jika yang dating dokter atau suster, mereka hanya mengetuk dua kali dan pelan, tidak seperti kali ini.
“Hahaha, tidak usah dicari, bodyguard sombongmu lagi tidur,” kata Gerald dengan sombongnya. Aku melirik kearah Maria dan Ibu yang tampak ketakutan. Aku sedikit kawatir dengan keadaan mereka namun aku tidak bisa menenangkan saat ini. Bagaimanapun caranya aku harus membuat orang orang ini keluar dari kamar. Ibu Jerry menatap nanar pada Maria dan menutup mulutnya. Sedangkan Jerry tampak diam sambil memandang Maria sesekali lalu menunduk. Gerald dan papanya mendekatiku sambil membawa sebuah amplop besar.
“Anda pasti yang bernama Januaria, suami dari Maria,” kata papa Gerald.
“Ya saya Januaria suami Maria. Ada apa kalian berada di sini. Dengan hormat saya minta kalian semua untuk keluar dari ruangan ini karena ibu saya sedang sakit dan butuh istirahat,” kataku dengan tegas dan cepat.
“Saya pengacara yang mewakili keluarga Jerry. Ini adalah Ibu Jerry dan Jerry serta Gerald. Apakah Anda tahu jika Maria sedang mengandung anak dari Jerry? Dan Apakah Anda tahu bahwa ibu Lis dan Maria sudah menanda tangani surat perjanjian untuk tidak muncul dihadapan Jerry apapun keadaannya,” kata Pengacara songong itu.
__ADS_1
“Ya saya tahu jika ada perjanjian yang dipaksakan itu. Saya tahu kejadian yang membuat keluarga saya menderita, namun untuk anak dikandungan Maria, itu adalah anak saya,” kataku dengan tegas.
“Hahaha, bagaimana bisa Anda mengaku anak itu sebagai anak Anda? Kami memiliki bukti tes DNA bahwa
anak dalam kandungan Maria adalah anak Jerry. Tapi saya tidak ada urusan dengan Anda sebenarnya. Saya disini karena ingin berbicara dengan nona Maria,” Kata Pengacara Jerry. Tentu saja aku tidak akan mengijinkan dia mendekati Maria dan ibu yang sudah pucat passi. Aku melihat ibu mulai tersengal sulit bernafas.
“Maaf, saya tidak mengjinkan Anda berbicara dan mendekati mereka. Silahkan Anda keluar!” teriakku sambil memencet bel memanggil suster.
“Denny, tahan diluar, jangan boleh ada yang masuk kedalam! “ teriak pengacara gila itu. Tentu saja aku meradang mendengarnya.
“Biarkan dokter dan suster masuk! Ibuku membutuhkan mereka! Kalian Gila!” teriakku lagi
“Maria, kalua kamu meu ibumu cepat ditangani, sebaiknya kamu cepat menandatangani surat ini. Jika tidak, kamu akan aku masukan ke penjara karena melanggar perjanjian untuk tidak muncul dihadapan Jerry,” kata pengacara arogan itu.
“Surat perjanjian apa?” tanyaku merebut perjanjian itu.
“Tsk, itu bukan urusanmu, kami hanya nberurusan dengan Maria,” katanya. Aku membaca surat perjanjian yang berisi tentang nasib kedua bayi yang ada dikandungan Maria, setelah lahir akan langsung diserahkan kepada Jerry dan istrinya. Maria sama sekal;I tidak boleh melihat dan mengakui anak itu sebagai anaknya dan harus menghilang selamanya dari kehidupan Jerry dan anak-anaknya’
***
__ADS_1