
Juli hanya berdiam diri di ruang keluarga Henky. Dia hanya diam memperhatikan tingkah ibu dan dua anaknya yang sibuk sendiri. Bahkan dia tidak ingin mengatakan bahwa dia baru saja melihat laki-laki yang dari tadi mereka ributkan, di luar sana, dengan seorang perempuan. Setelah bolak balik menggedor pintu kamar Pradipta, Bu Henky dan kedua anaknya baru menyadari kalau laki-laki itu tidak ada dirumah. Mereka tampak kebingungan. Pradipta tidak pernah meninggalkan rumah malam malam tanpa mobil dan smartphonenya seperti ini. Melihat reaksi mereka inilah,Juli tahu bahwa mereka tidak sedang berpura-pura. Terlahir dan dibesarkan oleh keluarga yang mengajarinya membaca orang dengan cepat, membuat Juli mengetahui mereka berbohong, pura-pura atau tidak. Mereka benar-benar tidak tahu kalau Pradipta keluar rumah. Itu berarti mereka juga tidak tahu hubungan Pradipta dan Nara. Saat itulah otaknya bekerja. Untuk menyelamatkan hubungannya dengan Pradipta dari si pelakor, sepertinya Juli harus menjadikan tiga orang ini sekutunya.
“Sudahlah tidak apa-apa. Mungkin tadi Pradipta merasa suntuk dan jalan jalan cari angin sebentar. Nanti juga pulang,” kata Juli, mengeluarkan suaranya, menarik perhatian tiga wanita didepannya.
“Ah iya mungkin ya. Nak Juli ini memang calon istri yang sangat men gerti Pradipta. Luar biasa, “ kata Bu Henky dengan muka manis. Prita dan Pipit saling berpandangan. Mereka tidak terlalu suka dengan sikap ibunya yang terlalu menjilat pada Juli. “Kamu sudah makan malam?”
“Sudah bu. Tadi dikantor,” kata Juli yang disambut ******* lega Prita dan Pipit. Bagaimana tidak lega. Jika Juli sampai belum makan malam, pasti ibu akan menyuruh mereka menyiapkan makan malam entah bagaimana caranya. Makan malam mereka tadi kan sudah habis tak bersisa. Jika dulu ada Nada, maka kakak ipar mereka itu dengan cepat bisa memasak bahan apa aja yang ada, untuk disajikan makan malam. Sekarang, diantara mereka bertiga tidak ada yang ahli memasak. Dan mereka bertiga memiliki sifat yang sama, malas mengerjakan pekerjaan rumah tangga apapun itu, walau hanya nyapu atau cuci piring. Dua wanita yang usianya tidak jauh dari Juli itu
akhirnya asik berbincang bincang dengan Juli, sampai Pak Henky keluar.
“Kalian berisik sekali. Ada apa sih malam malam begini gedor gedor kamar Pradipta dan sekarang malah ngrumpi disini,” kata Pak Henky keluar dari kamar. “Loh, ada Juli to? Sudah lama?”
Juli segera berdiri dan menyalami calon ayah mertuanya. Dia tersenyum sambil menggeleng. “Belum ayah. Baru juga datang.”
“Oh ada apa malam-malam kesini?” tanya pak Henky sambil mengkerutkan kening.
__ADS_1
“Issh ayah. Rumah kita lebih meriah dengan adanya kamu disini, Juli,” Ujar Bu Henky.
“Setelah kalian menikah, kamu harus tinggal disini. Pasti rumah ini tidak akan membosankan lagi. Oh iya, kita berdua harus sering jalan sama-sama. Makan diluar,menonton filem dan belanja. Begitu banyak hal yang ingin kulakukan bersamamu,” kata bu Henky dengan mata berbinar. Juli menjawab perkataan calon ibu mertuanya dengan senyum datar tanpa kata. Pipit dan Prita sepertinya menyadari ekspresi Juli. Reaksi Prita dan Pipit sempat tertangkap oleh Juli. Sebelum Pipit mengatakan sesuatu, Juli segera memperbaiki reaksinya.
“Tentu bu, tentu. Aku juga senang kalau kita bisa menghabiskan waktu bersama, Ibu. Impianku adalah bisa akrab dan berjalan bergandengan tangan dengan mertuaku..” Jawab Juli
“Ibu. Selalu deh, ibu terlalu berlebihan, lebay,” kata Prita yang tidak terlalu menanggapi ucapan Juli.
“Emangnya ibu yang mau menikah dengan Juli? Biasa aja kek,” kata Pipit dengan ketus. Pak Henky yang setuju dengan kedua anaknya memilih memotong percakapan mereka.
“Juli kebetulan lewat sepulang dari syuting tadi. Ingin mampir untuk mengantar tiket VIP nonton Teater Koma buat ayah dan Ibu. Kan ayah ibu fans mereka. Juli dapat tiketnya dari seorang teman, dan Juli tidak mungkin bisa pergi,” kata Juli sambil mengeluarkan dua lembar tiket, diserahkan pada ayah.
“Wuahhh, keren. Kamu memang selalu tahu apa yang bisa membuat kami senang,” kata bu Henky sambil merebut tiket tersebut. Dia tidak peduli meski suami dan kedua anaknya melotot bersamaan. Pak Henky mulai merasa ada yang kurang, melihat kekanan dan kekiri.
“Loh, ini, Pradiptanya mana?” tanya Pak Henky. “Bukannya tadi dia masuk kamar dan kalian sudah gedor-gedor, ribut sekali?”
__ADS_1
“Nah itu dia yah. Kita gedor-gedor karena kita pikir mas ada di kamar. Kan emang dia tadi setelah makan malam langsung masuk kamar. Pas kita panggil pelan pelan nggak ada sahutan. Kita pikir bobok makanya kita gedor. Ternyata orangnya nggak ada dikamar,” kata Pipit.
“Loh itu, mobilnya ada. Coba kamu telpon, bilang Juli ada disini,” kata pak Henky sambil menunjuk kunci mobil Pradipta yang tergeletak diatas meja.
“Sudah yah. Mas nggak bawa hape, ada tuh di kamarnya. Prita tadi lihat di tempat tidur mas,” kata Prita. Pak Henky mengerutkan dahinya.
“Tumben sekali anak itu pergi tanpa hapenya, kemana dia?” gumam Pak Henky.
“Nah kan, ayah aja heran. Apalagi kami. Itu kenapa kami tadi ribut,” Kata Prita sambil melihat ke Pipit. Saudaranya itu menyetujui kata Prita dengan mengangguk. Sementara bu Henky masih asyik dengan tiket Teater Koma ditangannya.
“Tumben Pradipta pergi jam segini dan tidak pamit. Kemana dia? “ kata Pak Henky melihat pada istrinya. Belum sempat bu Henky berkata-kata, terdengan suara anak laki-lakinya menyapa.
“Aku sudah pulang kok. Lah tumben jam segini pada kumpul,” kata Pradipta sambil masuk ke ruang keluarga.
“Tuh dia anaknya. Kemari Pradipta. Ada Julinih,” kata Bu Henky. Juli yang melihat tunangannya datang langsung memberikan senyuman kepada Pradipta. Pradipta Hanya memandangnya sekilas tanpa membalas senyuman Juli.
__ADS_1