
Sesampainya dikamar, kulihat ibu masih terjaga. Ibu memandang kehadiran dua orang yang disayanginya dengan lembut. Ia tersenyum melihat tangan Maria yang ada dalam genggamanku. Kami mendekati Ibu dengan saling bergandeng tangan. Maria langsung memeluk Ibu.
“Aku sayang Ibu,” kata Maria. “Eyang, hai. Kenalkan, aku cucu eyang. Eyang harus sehat ya biar bisa gendong aku,” kata Maria sambil membawa tangan Ibu ke perutnya. Ibu tersenyum dan mengelus perut Maria. Wajah ibu bersinar dan cantik. Menurutku, inilah wajah malaikat yang turun ke bumi.
“Ibu, Janu mohon ijin dan restu ibu untuk menikahi Maria besok pagi,” kataku, mencoba melamar Maria. Kurasakan tangan gadis yang ada digenggamanku bergetar dan dingin. Dia menggenggam tanganku kuat kuat, membuatku ingin meringis. Aku meremas lembut memberi kekuatan padanya.
“Syukurlah, ibu bahagia nak. Ibu merestui dan mengijinkan kalian menikah. Ibu ingin melihat kalian menikah dengan meriah. Ibu harus mengatur pernikahan kalian, Handphone ibu mana? “ Kata Ibu Lis. Tiba tiba Ibu seperti mendapat kekuatan, mendadak sehat. Ia ingin bangun dari kasur dan seperti ingin segera pergi dari tempat itu. Tepat disaat yang sama, dokter yang merawat Ibu Lis masuk kedalam ruangan.
“Nah, tepat waktu. Dokter, saya boleh pulang kan sekarang? Besok anak saya menikah dok,” kata ibu dengan ceria. Entah mendapat kekuatan dari mana, ibu sudah melepas infusnya dan berdiri hendak mencari bajunya.
“Ibu!” Aku, Maria dan dokter , berteriak bersama membuat Ibu berjengit .
“Ibu, sabar. Ibu belum boleh turun dari tempat tidur. Infusnya jangan dicopot sebelum obatnya habis. Obat yang itu harus sampai habis bu,” kata dokter dengan sabar dan memasang kembali selang infus ibu. Maria menghampiri ibunya dan mencubit paha sang ibu, memarahi ibunya, seperti seorang ibu memarahi anaknya. Reaksi ibu sungguh luar biasa, bukan marah, beliau hanya tersenyum bahagia dan kembali tiduran.
“Kalian harus menikah besok. Ibu harus hadir,” kata Ibu. Dokter memandang kearahku dan ibu bergantian.
“Pak dokter, saya sudah tidak apa-apa. Ini anak saya. Mereka mau menikah besok. Pak dokter tahu keadaan saya kan. Saya harus hadir dan mempersiapkan pernikahan putri saya satu-satunya,” kata Ibu bersemangat. Dokter itu kembali menatapku dan menggeleng.
“Bapak Janu, sebaiknya dipikirkan dengan sungguh-sungguh. Saya rasa membawa ibu keluar sangat riskan
dimasa seperti ni.,” kata dokter. Aku mengerti. Sangat mengerti. Namun waktu ibu tidak akan lama, dan aku juga tidak bisa mengecewakan Ibu dnegan menikahi Maria diam-diam.
“Iya dok, saya mengerti. Tapi boleh kan dok kalau saya menikah di ruangan ini? Tidak akan lama dan tidak akan mengganggu pasien yang lain.” Tanyaku. Dokter itu tersenyum dan menganggukkan kepala. Ruangan ini cukup luas dan sedikit terpisah dari kamar lain. Baiklah, ini yang terbaik, dan aku sudah mengantongi ijin rumah sakit. Ibu
memaksa untuk membantu persiapan pernikahan dengan menghubungi teman-temannya.
Maria pulang kerumah untuk mempersiapkan diri. Ibu memaksanya untuk menggunakan kebaya dan kain yang
__ADS_1
disimpan di lemari. Dia juga minta membawakan baju terbaiknya untuk acara besok. Ibu juga memesan bunga pada temannya, pemilik florist terkenal. Ibu meminta disiapkan makanan dan kue dari resto. Maria awalnya memang tidak mau berdandan dengan mengundang MUA ataupun mengenakan kebaya untuk acara besok. Namun aku mengedipkan mata dan meminta Maria untuk mengikuti apapun yang diinginkan Ibu.
Awalnya bahkan Ibu memaksa agar semua biaya ditanggungnya. Dia memi ta Maria untuk mengambil semua uang dan perhiasannya. Untung aku bisa meyakinkan bahwa semua harus menjadi tanggunganku sebagai pengantin pria. Aku hanya minta ibu untuk tidak mengurus semua ini dan istirahat agar besok bisa segar.
“Kalau ibu kelelahan dan tumbang lagi, besok siapa yang menemani kami menikah?” kataku. Dan Ibu mengangguk setuju. Menurut dia, semua sudah siap dan ingin istirahat.
Sahabat yang juga bosku, datang lengkap dengan Fotografer dan cameramen untuk mengabadikan pernikahanku. Aku tidak mengundangnya, entah dari mana dia tahu tentang pernikahanku. Namun aku juga tidak heran,
mengingat siapa dia diluar sana. Saat datang, sahabatku itu sempat memarahiku karena tidak mengatakan padanya tentang rencana pernikahanku.
“Janu, kamu menganggapku apa sih?” katanya begitu sampai di depan kamar Ibu, dan menemukanku disana dini hari, dihari pernikahanku.
“Eh si bos. Kok nanya? Ya bosku lah,” kataku sambil tersenyum polos.
“Bos… bos… bosok! Kamu mau menikah kok nggak bilang. Kalau kamu bilang, aku yang akan menyiapkan semua. Nggak cuma seperti ini. Masa sih sahabatku menikah hanya seperti ini,” katanya.
“Aku tahu. Dan lagi, kenapa Ibu kamu biarkan di sini? Kenapa tidak kita bawa berobat keluar negeri? Kenapa
tidak sejak awal kita lakukan pengobatan? Ibumu, Ibuku juga Janu,” katanya.
“Wah, uangmu uangku juga bukan bos,” kataku becanda garing, yang langsung dibalas dengan tatapan tajam khas dia. Kalau orang lain langsung ketakutan mendapat tatapan ini, aku malah tertawa tergelak.
“Aku juga baru tahu bos. Sudahlah, semua sudah terjadi. Yang penting hari ini lancar dan Ibu
bahagia. Ini permintaan terakhirnya,” kataku sedikit tercekat.
“Ok lah bro. Aku mendukungmu. Tapi kasihan juga ya istrimu, Juniormu kan kandangnya beda,” kata Sahabat
__ADS_1
gilaku yang memang tahu orientasi *** ku. Aku langsung melotot dan melihat kekanan dan kekiri memastikan tidak ada yang mendengar. Hanya ada beberapa bodyguard yang juga sudah mengenalku akrab disana, yang langsung membuang muka menahan senyum, menghindari tatapanku.
“Gila!” kataku yang disambut tawa lepas pagi-pagi buta, membuatku menginjak kakinya.
“Oh iya, lalu si dua bajingan itu mau kita apakan? “ kata sahabatku. Aku terkejut dan memandangnya
dengan pandangan heran.
“Tsk, kamu itu ya. Kenapa heran? Aku tahu kejadian sebulan lalu. Aku tahu kalau Ibu dan Maria diancam dan
aku juga tahu tentang video yang mereka buat. Aku hanya menunggu kamu bicara Janu. Kalau kamu mau, kita bisa menghabisi dua cecunguk itu sampai ke nenek moyangnya,” katanya santai. “Tidak Cuma Video yang hilang, Semua yang terlibat didalamnya pun akan hilang, bagaimana?”
“Nanti dulu bro. Aku masih menghormati permintaan Ibu dan Maria untuk tidak melakukan apa-apa. Sekarang
aku hanya akan konsentrasi membahagiakan Ibu di hari-hari terakhirnya. Ini sudah sebulan dari batas perkiraan Ibu bertahan, dari dokter. Aku tidak mau Ibu mengurusi dua cecunguk itu dulu. Aku akan menghabiskan waktuku dengan Ibu. Satu lagi, aku akan mengurangi waktuku untuk pekerjaan, aku harap kamu tidak keberatan. Tetapi aku tetap akan mengawasi dari rumah sakit,” kataku.
“Santai bro. Nggak usah terlalu mikirin kerjaan. Partikan saja flow nya lancar. Untuk dua cecunguk itu, sebenarnya kamu juga nggak perlu turun tangan. Maria dan Ibu juga tidak perlu tahu. Do the Magic brow. PUUFFF…” katanya nyengir lebar.
“No! Harus dengan tanganku sendiri.Pasti brow, pasti. Tapi bukan sekarang. Anyway, thanks bro. Means
a lot for me,” kataku menepuk pundaknya. “Aku kedalam dulu ya.”
Keesokan harinya, pagi pagi sudah ada MUA yang mendandani Maria dan ibu. Mereka mengenakan kebaya senada. Kamar VVIP tempat ibu dirawat sudah dihiasi bunga yang sangat indah dan banyak. Ruangan ini sudah tidak seperti ruang rawat inap. Makanan dari resto cukup banyak ternyata. Sepertinya Ibu ingin memberi makan seluruh isi rumah sakit, kata
dokter yang pagi itu mengenakan kemeja batik. Ibu mengundangnya khusus untuk menjadi saksi pernikahan kami. Semua berjlan lancar dan kamipun resmi menjadi suami istri.
Tamu yang hadir sebagian besar adalah suster yang merawat Ibu. Yang sudah selesai berdinas, hadir dengan baju seadanya, karena bersiap untuk pulang. Sementara suster yang sedang berdinas, hadir lengkap dengan atributnya sebagai suster. Beberapa dokter juga ghadir, lengkap dengan snelinya. Menurut mereka, khusus hari ini am prakter diundur untuk memenuhi undangan Ibu peri. Semua tertawa mendengar candaan ini. Ibu tampak sangat ibu peetiei
__ADS_1
bahagia. Dia sibuk minta berfoto dengan semua orang. Dia sibuk membagikan makanan untuk semua orang. Dan dia sibuk menyuruk Maria dan aku untuk tetap duduk di sofa tidak melakukan apapun, selain menerima ucapan selamat dan berfoto. Ibu tampak sehat dan bersinar. Cantik dan bahagia itulah yang ingin ditunjukan oleh Ibu.