Nada Nara

Nada Nara
Bab 78. Kembali Ke Rumah


__ADS_3

Jalannya perampokan ternyata tidak seseru yang dibayangkan tim Mahardika maupun tim Sisca. Meskipun ada adegan penodongan senjata pada Adrian, namun tidak ada adegan tembak-tembakan. Disaat kritis, Mahardika, Henry dan Adrian menyadari bahwa melawan pasukan Sisca secara terbuka,   sama dengan membuka jati diri mereka terlalu cepat. Dan hal ini akan membahayakan operasi utama jangka panjang. Belum lagi, Nara kembali


pada trauma percobaan pembunuhannya setahun lalu, ditambah kondisi pasca operasi dan obat bius yang belum sepenuhnya pulih. Disaat saat terakhir, Adrian memutuskan untuk diam ditempat tanpa bereaksi apapun. Lagi pula, kalung Nara juga bukan kalung Lidya Dirgantara yang asli, meskipun cukup mahal. Tetapi uang 100 juta bukan apa-apa dibanding keberhasilan misi.


Setelah menuruti perintah perampok, melepas kalung di leher Nara dan menyerahkan langsung didepan mereka? Adrian segera tancap gas ke kantor polisi. Sesampainya disana Adria dan Nara segera turun dan membuat laporan Ternyata melaporkan cukup melelahkan dan sangat lama. Butuh waktu beberapa jam sampai Adrian dan Nara tampak keluar pintu dan masuk ke mobil. Mahardika dan Henry tahu, tim Sisca tidak melepaskan mereka begitu saja. Mobil mereka terlihat mengikuti Adrian dan Nara sampai kantor polisi. Tetapi Mahardika juga tahu, mereka tidak menunggu lama, hingga kemudian meninggalkan kantor polisi tanpa melakukan apapun. Adrian dan Nara kemudian mengurus asuransi kalung seperti layaknya orang biasa. Henry sengaja membocorkan kejadian ini ke media hingga menjadi headline. Namun Nara tidak bersedia menjawab pertanyaan media.


Aku segera meluncur ke rumah. Sementara itu, Adrian dan Nara meluncur ke apartemen dan pura pura naik ke atas, lalu turun untuk berganti baju dan mobil, kembali ke rumah. Sambil menunggu Nara dan Adrian, aku dan Henry sibuk menjawab media dan membuat setup di media on line. Satu persatu permintaan wawancara aku ladeni


dengan copy paste jawaban yang sudah disediakan tim PR. Dengan bantuan mereka yang masih berada di kantor atas permintaanku, kami menyelesaikan masalah publikasi ini dengan cepat. Malam ini sepertinya kami masih harus lembur menghadapi permintaan media. Beberapa foto perampok yang dibuat Adrian aku berikan kepada media. Jawaban-jawaban yang dikeluarkan manajemen, membuat orang percaya bahwa Nara dan Manajemen menganggap ini perampokan biasa. Toh memang banyak yang tahu kalau Nara memenangkan lelang kalung emas berlian seharga Rp.150.000.000,-. Siapapun pasti tergiur dengan kalung semahal itu. Pradipta dan Franco pun mengumumkan bahwa kalung itu akan diberikan dalam acara makan siang bersama. Jadi manajemen mengarang cerita bahwa para perampok itu sudah mengikuti dan menunggu Nara sejak berangkat menuju gedung LC. Saat keluar dari gedung LC, Nara sudah diikuti oleh para perampok dan dihadang di jalanan sepi. Karena mengkhawatirkan keselamatan Nara, maka kalung itu terpaksa diserahkan. Lalu foto-foto perampok yang diambil dari dalam mobil juga dibagikan meski dibuat lebih blur dari aslinya.

__ADS_1


Nara sendiri menyatakan terimakasih atas perhatian media dan semua penggemar. Namun meminta maaf belum bisa tampil karena masih shock akibat peristiwa perampokan tersebut. Pihak manajemen berjanji akan menampilkan Nara jika keadaannya sudah kembali tenang. Selain itu, Manajemen mengumumkan bahwa semua urusan yang bersangkutan dengan perampokan ini, diserahkan penuh kepada kepolisian dan asuransi. Pihak manapun yang merasa ada sangkut paut dengan masalah ini dipersilahkan menghubungi kepolisian. Pengumuman ini dimaksudkan Mahardika untuk pihak LC sebagai pemilik kalung sebelumnya.


POV Mahardika


Semua masalah yang muncul siang ini cukup menyita perhatianku.  Tim PR yang ada dikantor segera dihubungi


Henry untuk mengurus semua publisitas dan public relation berkenaan dengan peristiwa sore tadi. Aku dan Henry ingin agar pihak lawan mengira kami tidak tahu apa yang mereka lakukan. Kami ingin mereka dan pihak asuransi mengira bahwa bagi kami ini adalah perampokan biasa yang melibatkan para perampok profesional. Lumayan juga, karena biaya pembuatan kalung palsu itu bisa tertutupi dari asuransi.


LC.  Diantara kesibukan didepan laptop, aku mendengar suara mobil masuk ke garasi. Tak lama kemudian kudengar suara derap kaki, lari menuju ke ruanganku.

__ADS_1


“M, kamu dimana!” teriak Nara dengan suara serak habis menangis. Aku segera berdiri dan menyambut Nara yang menghambur dalam pelukanku. Kubiarkan gadis itu menangis sambil kuangkat tubuhnya. Aku membawanya ke sofa dan membiarkannya menangis dipangkuan dan pelukanku. Aku mengangguk, mengucapkan terimakasih saat Henry membawakan teh manis untuk Nara, meletakkan di meja.


“Boss, ada telpon dari tele…,” salah seorang staf lari padaku dan dihadang oleh Henry sambil meletakan jarinya dimulut, untuk memberitahu agar tidak bersuara. Henry mengajaknya keluar dan menyelesaikan masalah yang dibawanya, menggantikanku. Sedangkan Adrian duduk bersandar di sufa singgle dan memejamkan mata, melemaskan tubuhnya. Aku menatapnya dan mengucapkan terimakasih tanpa suara, saat dia memandangku sejenak. Adrian tersenyum sambil mengacungkan jempol dan kembali memejamkan matanya. Henry mendekati Adrian sambil membawa segelas wine. Ditariknya tangan Adrian untuk duduk tegak hingga membuat laki laki itu membuka mata, malas. Henry menyerahkan gelas wine pada Adrian yang langsung diminum. Kemudian Henry melepas jas Adrian dari belakang laku mengacak acak kela Adrian dengan sayang. Adrian yang sempat protes karena rambutnya berantakan, memberikan senyum manis sambil mengedip. Aku melihat apa yag mereka lakukan langsung menampakan wajah ingin muntah, tapi tetap memeluk dan mengusap  kepala Nara yang mulai menguragi intensitas tangisannya.


Setelah meletakan jas Adrian di pinggiran sofa sebelah kananku, Henry kemudian duduk disana. Kami bertiga saling menatap dan mengangguk Ya kami memang seperti ini sejak dulu. Kami bisa saling berdiskusi tanpa suara. Dengan gerakan tangan dan membaca pikiran kami saling bicara satu sama lain. Karena terlalu asyik,  kami tidak sadar saat Nara sudah tertidur dipelukanku. Adrianlah yang menyadarinya saat mendengar desir lembut. Henry


berdiri hendak mengangkat Nara dari pangkuanku, untuk dibawa ke kamar. Aku menggeleng dan berdiri sambil tetap menggendong Nara dalam pelukanku. Sebenarnya aku tidak ingin Nara tidur karena dia belum membersihkan diri dan makan malam. Namun sepertinya Nara sudah terlalu lelah, jadi aku membiarkannya tidur.


Kubaringkan Nara di tempat tidurnya dengan lembut. Kukecup dahinya, kulepas sepatunya. Sejenak aku berpikir ragu  apakah akan mengganti bajunya atau tidak. Saat itu kudengar deheman Henry yang ternyata sedang berdiri

__ADS_1


di pintu. Kulihat dia menggelengkan kepala tanda tidak  setuju. Oke, memang sebaiknya tidak. Aku melangkah ke kamar mandi mengambil handuk kecil dan membasahinya sedikit, serta selembar handuk kering. Aku mengusap pelan mukanya berusaha agar tidak mengganggu tidur nara yang lelap. Setelah muka dan leher aku me lap tangan dan kaki Nara. Setelah itu aku tutupi badannya dengan selimut, mengecup dahinya pelan, mematikan lampu dan meninggalkannya agar istirahat dan lelap. Berharap esok dia kembali ceria.


__ADS_2