
Aku tak sabar mendengar kisah tentang Mahardika dan Juli. Ada banyak pertanyaan yang gentayangan dikepalaku. Seandainya pertanyaan dikepalaku ini seperti hantu difilm Ghostbuster, pasti suasana kota yang kacau balau karena serbuan hantu, mirip dengan isi kepalaku. Seperti ada yang berlarian, berputar-putar dan bertabrakan di kepalaku. Aku menyuapkan nasi gorengku kembali kemulut. Sebenarnya aku tahu aku harus sarapan dengan diam. Namun otakku menyuruhku untuk bertanya.
“Jadi, kamu kakaknya Juli atau kekasihnya?” tanyaku membebaskan rasa kepo dengan mulut penuh nasi. Pandangannya nanar padaku. Dia memperhatikan mukaku dengan seksama dan dahi berkerut. Persis seperti polisi memandang penjahat yang diburunya, di ruang interogasi. Ya meski aku juga belum pernah melihat polisi yang sedang melakukan itu sih. Pandangannya cukup membuatku risih. Aku berusaha untuk mengalihkan pandangannya dari diriku namun entah mengapa aku seperti sulit bergerak. Tatapannya seperti menghipnotisku. Aku memejamkan mata sejenak untuk mengusir rasa berbunga ini. Rasa yang aku tahu tidak boleh kumiliki. Rasa
ini seharusnya ada saat aku bersama Pradipta nanti. Meski dulu rasa ini juga tidak pernah ada. Aku tahu rasa ini karena aku senang membaca novel-novel romantis di Noveltoon.
“Nara, makannya sedikit-sedikit, nanti perutmu sakit. Lagi pula saat mulutnya penuh, jangan bicara,” katanya mengingatkan. Dia menatapku sedikit khawatir. Aku hanya bisa nyengir malu mendengan kata-kata M. Mukanya kembali memerah. Mendengar suaranya yang memberi perhatian padaku, perutku langsung terasa geli-geli gimana. Tanpa aku sadari mulutku tertarik keatas membentuk lengkungan bodoh. Ya Aku tahu, ini bodoh sekali dan M akan mentertawakanku. Jikapun aku bukan istri Pradipta, rasa dan sneeeyum ini tetaplah bodok. Rasa ini tidak mungkin dan tidak boleh ada untuk M yang mencintai Juli. Aku langsung berdehem dan mengembalikan mukaku ke mode biasa, sebelum M mengetahui perubahannya. Dan yeah, sepertinya dia juga tidak menyadarinya karena matanya sudah kembali menerawang jauh.
“Juli adalah gadis kecilku. Dia gadis pertama yang memberikan perhatian padaku.Dia adalah gadis kecil yang dititipkan Papa Janu untuk kujaga,” katanya pelan. Sangat pelan namun tertangkap telingaku yang tidak tersentuh operasi. Onderdil di indera pendengaranku ini memang tidak tersentuh pisau operasi. Telingaku masih baik-baik saja. Namun ingin rasanya saat itu aku tidak punya telinga yang baik-baik saja. Sehingga aku tidak perlu mendengar kata-kata M tadi. Huft, aku benar-benar tidak tahu, mengapa aku tidak menyukai kalimat itu. Aku tidak suka mendengar kata cinta M untuk Juli. Perempuan yang juga mendapatkan kata cinta dari suamiku. Kupu-kupu
yang tadi beterbangan sepertinya mulai saling tabrak dan menggigit diperutku hingga membuatku mulas tapi tidak ingin ada yang dibuang. Aduh Nara, kamu ini kenapa sih? Ayo fokus!
“Jadi jawabannya? Dia adikmu atau kekasihmu?” aku mengajukan pertanyaan bodoh yang sebenarnya aku sendiri tidak siap mendengar jawabannya. Bagaimanapun aku sudah menduga, jawaban apa yang kan kau beri (duh, malah nyanyi sih aku). Galau benar M. Bagaimanapun juga aku adalah wanita bersuami. M bukan suamiku dan bukan juga kekasihku. Aku tidak boleh memiliki kupu-kupu di perutku ini. Seharusnya kupu-kupu ini hanya muncul untuk Pradipta kan?
__ADS_1
“Sepertinya jawabku masih sama dengan kemarin,” kata M. Tuh kan, apa kataku. Apa yang kupikirkan memang benar kan. Meskipun dia tidak menjawab pertanyaanku secara langsung. Tapi aku juga bukan orang bodoh. Meski
kadang aku ingin menjadi bodoh dengan pura-pura tidak tahu.
“Jawaban yang mana?” kataku sambil berkernyit dan mengerucutkan bibirku menahan semua rasa agar tidak diketahui M. Aku benar-benar harus mencuci otakku dengan poke soap. Tahu kan maksudku? Sabun colek yang serba bisa itu lho. Siapa tahu bisa untuk mencuci otak konslet wanita bersuami yang pelihara kupu-kupu untuk
laki-laki penolongnya ini.
“Jawaban yang waktu aku bilang kalau aku bertemu Juli saat aku berusia 10 tahun dan dia, 8 tahun. Dia yang bersama papa saat menemukanku dijalan. Dia yang mengajakku duduk di mobil dan memegang tanganku
mengangguk. Dalan hati aku merasa, M berat untuk mengakui bahwa Juli adalah kekasihnya. Entah mengapa. Tapi menurutku, hubungan mereka memang aneh. Menjadi kekasih tapi sepihak. Hanya bagi M dan bukan bagi Juli. Sekali lagi, itu menurutku ya. Tetapi sepertinya M tidak menyadari dirinya dipermainkan oleh Juli. Aku menyelesaikan sarapanku sambil sesekali melirik kearah M yang sedang melamun Matanya sih memang kearahku, tapi sepertinya pikirannya traveling entah kemana. Mungkin otaknya sedang jalan-jalan pakai baling baling bambu, makanya tidak singkron dengan matanya. Aku berkernyit saat tiba tiba M mendesah dan mengatakan kata tidak sambil menggeleng.
“Apanya yang tidak,” tanyaku langsung. Dari pada aku hanya menebk dan salah, lebih baik aku tanyakan langsung kan? Dia memandangku dengan aneh, seolah-olah aku menanyakan sesuatu dalam bahasa alien.
__ADS_1
“Maksudnya?”tanyanya. Tuh kan benar, otak dia sepertinya memang sedang jalan-jalan.
“Maksudnya, kenapa kamu geleng geleng dan berkata tidak,” kataku menjelaskan pertanyaanku dengan pelan. Aku takut jika dia memang benar-benar tidak paham kata-kataku karena sudah berubah jadi alien. Hehehe, otakku sepertinya juga sudah mulai konslet dan berpikir yang sama anehnya dengan M.
“Eh Nara, nasi gorengnya enak banget, Oh ya, tadi katanya kamu membuat juice?” tanyanya
tiba-tiba. Halo…! Salah sambungkah anda? Ini obrolan apa ya? Kok aneh? Aku mencoba untuk tidak memandang M sambil menepuk jidatku sendiri. Ya iyalah, masak menepuk jidat tetangga. Nanti dimarahin kan berabe. Tapi benar juga, aku tadi sudah membuat juice untuk sarapan kami yang aku simpan di kulkas agar tetap dingin. Lebih baik segera aku ambil saja.
“Ah iya lupa, sebentar,” kataku sambil berdiri, mengambil jar isi juice dari kulkas. Aku tuang ke sebuah gelas dan aku letakkan didepan M. Kulirik dia yang dari tadi menatapku serius.
“Lalu?” tanyaku sambil mengembalikan percakapan pada topik awal kami. “Lalu apa?” tanya M setelah meneguk habis juicenya.
“Lalu setelah kamu mengatakan perasaanmu, kamu pacaran?” tanyaku. Aku tidak tahu mengapa aku sangat
__ADS_1
ingin tahu status resmi mereka. Padahal sebenarnya tidak terlalu penting kan? Apalagi sepertinya apapun jawabannya aku tetap tidak suka mendengar M dekat Juli. Apa-apaan aku ini? Apa hak ku buat tidak suka? Arghh sudahlah, mending aku selesaikan sarapan. Toh M tidak menanggapi lagi omonganku dan kembali pada perjalanan virtual di otaknya, alias bengong.