Nada Nara

Nada Nara
Bab 97 Nada Menantu kesayangan Pak Henky


__ADS_3

Sore itu, Nara membuat kue putu mayang andalannya.  Dia menata rapi kue-kue itu dipiring dan membawanya ke kediaman Hermawan. Ada keraguan dihati Nara, saat kembali mendatangi rumah ini. Kilas balik kisahnya puluhan tahun seolah menggulungnya dalam emosi yang hampir saja membuatnya terjatuh duduk didepan gerbang. Untunglah disaat yang sama , wajah Mahardika melintas dikepalanya, seperti memberi kekuatan untuk kembali tenang dan berdiri tegak.  Dikuatkan mentalnya ditetapkan hatinya untuk bisa menjalani ini semua. Nara menekan bell yang ada disisi kanan pagar. Bel itu tidak berubah, masih ada disana.


Setelah beberapa saat memencet bel, terdengar suara seseorang membuka pintu.  Jantung Nara berdetak kencang. Ada trauma dan ketakutan  dikepala dan hatinya. Dipejamkan matanya untuk bersiap menghadapi siapapun orang dibalik pintu yang dia yakin sebentar lagi akan terbuka. Ternyata Pipit yang berdiri disana dengan wajah berkerut. Nara tahu, Pipit keheranan melihat kehadiran seorang wanita tak dikenal bersama sepiring kue di depan pagar rumahnya. Sambil tersenyum, Nara mengenalkan diri kepada Pipit. Dia mengaku bernama Nara, yang baru beberapa hari menghuni rumah di ujung jalan. Pipit mengamati Nara dari ujung kepala sampai ujung kaki, menggeleng dan mengerjap lalu tersenyum lebar.


“Oh hai, aku Pipit. Wah senang sekali punya tetangga baru yang secantik kamu. Sepertinya kita seumuran,” kata Pipit.


“Oh tidak, aku 3 tahun 3 bulan lebih tua darimu,” kata Nara.


“Hei bagaimana kamu tahu umurku?” Tanya Pipit keheranan saat Nara mengatakan bahwa dia 3 tahun lebih tua. Padahal ini adalah kali pertama mereka bertemu dan berkenalan. Tentu saja Pipit tidak akan memberikan tanggal lahirnya.


“Oh maksudnya, kira kira. Sepertinya aku lebih tua 3 tahun dari kamu,” Nara menyadari kesalahannya berusaha menutupi kesalahannya. Untung tidak lama kemudian Pak Henky datang dengan mobilnya. Setelah memarkir mobil, Pak Henky berjalan menghampiri Pipi dan Nara.


“Ada apa, kenapa kau diluar, Pit?” Tanya laki-laki tua yang masih tampak gagah dengan penampilan sederhana itu.


“Ini ayah, ada tamu. Dia tetangga baru disini. Rumahnya diujung jalan situ tuh,” Jawab Pipit dengan santai. mengikuti pandangan Pipit, Pak Henky baru menyadari ada orang lain disana. Dipandangnya wajah Nara sejenak dengan berkerut, lalu tersenyum lebar.


“Hei, selamat sore Nona,” kata pak Henky menyapa Nara


“Ayah mengenalnya? Dia kan baru pindah kesini. Ini dia bawa kue putu mayang kesukaan ayah,” jawab Pipit


keheranan.


“Benarkah?”kata pak Henky

__ADS_1


“iya. Saya baru pindah beberapa hari. Kebetulan tadi bikin kue putu mayang. Wah, saya tidak tahu kalau kue ini ternyata kesukaan bapak,” kata Nada.


“Pipit! Ada siapa di luar? Kenapa lama sekali. Ayah sudah pulang? Kok tidak langsung masuk?” terdengar teriakan bu Henky. Tak lama wajah ibu Henky yang penasaran muncul. Dia melihat ada Nara disana dan mengerutkan mukanya.


“Aku pernah melihatmu sebelumnya… ” kata Ibu Henky, istri Pak Henky yang muncul dengan dandanan full make up, ala ibu-ibu sosialita. Jauh dari kata sederhana dan berbanding terbalik dari suaminya.


“Ya, Nyonya.. Kemarin kita bertemu, ”  kata sambil membungkuk Nara. Nara kemudian menyerahkan kue putu mayanya pada Pipit.


“Wua, ini enak sekali sepertinya. Kamu membuatnya sendiri?” kata Ibu Henky.


“Iya bu, kebetulan tadi tidak ada kegiatan  membuat saya bosan. Makanya saya membuat kue ini. Sekaligus sebagai hadiah perkenalan untuk tetangga baru. Sayangnya para tetangga disini tidak saling kenal dan tidak


banyak yang membuka pintu,” kata Nara.


“Iya, ini kue kesukaan bapak. Dulu menantu bapak yang sering membuatkan untuk bapak. Dan sejak dia meninggal, bapak tidak pernah makan kue ini lagi,” terlihat kilat bening dimata pak Henky saat mengatakan itu. Namun istri dan anaknya tidak menyadarinya. Mereka masi mengamati kue dan berbicara satu sama lain.  Nara mengamati detil ini. Ssepertinya pak Henky benar-benar sedih atas meninggalnya Nada.


“Bapak, maaf saya tidak bermaksud membuat bapak sedih,” kata Nara.


“Ah sudahlah Nak Nara. Bapak memang begitu. Selalu berlebihan jika sudah berbicara soal menantu kesayanganya itu. Jangan dipedulikan,” Kata ibu Henky sambil meraih tangan Nara. Narapun tersenyum. Dari sudut matanya dia lihat Pak Henky mundur dan mengusap air matanya, seolah olah menyembunyikan dari semua orang. Hati Nara menjadi pedih. Dalam hatinya dia mengatakan bahwa dia juga menyayangi bapak mertuanya itu, seperti dia menyayangi papanya. Dia merindukan kedua laki-laki baik hati itu.


“Sudahlah Nara.  Jangan perdulikan ayah. Dia memang lebih sayang Nada dibanding kami anak-anaknya. Bahkan Dia tidak pernah memarahi Nada seperti dia memarahi kami,” kata Pipit.


“Kalian bicara apa? Nada memang tidak perlu ayah bentak, karena selalu baik, nurut dan mengerti kita semua. Dia yang merawat kita semua. Sedangkan kalian memang harus serinhg diomelin karena sering bikin yang tidak tidak,” kata Pak Henky. Saat itu Pipit sudah mau menjawab. Nara yang tidak ingin terlibat dalam pertengkaran yang sebenarnya melibatkan diri nya itu, memotong Pipit.

__ADS_1


“Maaf, sudah sore, sepertinya saya harus pulang,” kata Nara.


“Wah kenapa pulang? Makan malamlah disini,” kata Pak Henky yang langsung disetujui oleh Ibu Henky.


“Iya, makan malam lah disini bersama kami. Nanti akan saya perkenalkan dengan anak laki-laki kami yang tampan. Dia seorang CTO perusahaan terkenal. Namanya Pradipta. Pasti Nara tahu. Karena dia memang terkenal sekali,” kata Ibu Henky mempromosikan Pradipta. Nara tersenyum. Namun sebelum berkata kata, Pipit sudah memotong,


menegur ibunya.


“Ibu apa apaan sih? Mas Pradipta kan sudah mau tunangan dengan Kak Juli. Kenapa harus promosi ke Nara sih?Kalau kak Juli mendengarnya dan marah bagaimana?” kata Pipit.


“Oh iya ya. Sayang ya Pradipta sudah akan menikah dengan Juli. Kalau tidak pasti ibu jodohkan dengan Nara. Tapi Juli calon menantu ibu itu juga hebat. Dia terkenal, banyak uangnya, cantik, wanita karier dan tidak memalukan kalau ibu kenalkan di ibu ibu arisan. Tidak seperti Nada, mantan istri Pradipta yang dulu. AUUUUCHH! ” kata


Ibu yang langsung kena cubit pak Henky.


“Berapa kali ayah katakan. Jangan menjelekan Nada. Apalagi didepan orang asing yang tidak tahu dia seperti apa. Bagaimanapun juga sampai dia meninggal dia adalah menantu dan istri  yang baik. Bahkan jika harus memilih antara Juli dan Nada, ayah akan tetap memilih Nada, atau sekarang ayah lebih suka Pradipta  dengan Nara,” kata


Pak Henky.


“AYAH!” teriak Ibu Henky dan Pipit secara bersamaan. Hati Nada terasa campur aduk, antara kesal akan hinaan bu Henky, sedih dengan kesedihan pak Henky dan dia belum bisa melakukan apa-apa serta terharu dengan pembelaan ayah mertuanya.


“Maaf memotong. Saya benar-benar harus pulang. Saya belum pamit dengan orang dirumah, takut mereka kawatir dan mencariku. Karena saya masih baru disini, dan tidak terbiasa pergi pergi sendiri. Saya pamit dulu. Lain kali saya pasti akan mampir kembali untuk makan malam. Kata orang ayam bekakak dan sambel trasi buatan saya sangat enak,” kata Nara mengalihkan pembicaraan, sekaligus berpamitan.


“Wah kamu benar benar wanita yang baik. Tidak kelayapan sampai lupa waktu dan pintar masak seperti Nada ya. Ayam bekakak dan sambel Nada juga yang terenak,” kata Pak Henky.

__ADS_1


“Baiklah-baiklah Nara. Terimakasih kue putunya. Pokoknya kapan kapan kamu makan malam di rumah kami ya,” kata Pipit sambil menyalami Nara. Nara sekali lagi menyalami ibu bapak Henky dan berjalan keluar ditemani Pipit.


__ADS_2