
POV Mahardika
Rupanya Sisca dan Pradipta ingin menanamkan kamera dan pelacak di tubuh Nara. Sangat luar biasa, ada 4 camera yang sangat tipis menempel di baju Nara. Untung aku tidak meninggalkan pengamatan di ruang super VIP hingga aku tahu ada camera yang datang dari arah badan Nara. Karena mencurigakan, aku meminta Adrian memeriksa dan membersikan Nara ang cukup kooperatif.
Setelah bersih, Adrian dengan cepat membawa Nara menuju mobil yang sudah disiapkan di carport dengan pintu ter buka. Nara buru buru masuk ke pintu belakang, melewati satu orang pasukan yang tak terlihat dari luar. Begitu pintu ditutup, dua orang pasukan bayangan keluar dari jog belakang dan duduk disamping kanan kiri Nara. Sementara itu tempat duduk depan dibiarkan kosong karena Adrian duduk di kursi pengemudi. Setelah keluar dari halaman LC Tower, salah satu orang pasukan bayangan yang tadi di belakang akan pindah duduk di kursi depan. Pasukan bayangan yang lain sudah berada di mobil yang menunggu di luar gedung LC. Sementara
itu Henry langsung berada dibelakang mobil Adrian tanpa sepengetahuan pasukan Sisca, Orang hanya tahu, mobil Henry diisi oleh sepasang lovebird dang kasmaran, sebagai penyamaran Henry.
Saat Adrian dan Nara masih di lobi, Bayu mencari keberadaan Sisca. Dia menemukan wanita itu memasuki mobil yang mirip dengan mobil yang digunakan Adrian. Seorang wanita yang tidak kalah cantik dari Sisca, dengan celana
jeans dan hoodie gombrong itu menjadi pengemudi Sisca. Dari melihat sekilas aku tahu bawa di pinggang wanita itu ada beberapa pistol, pisau dan granat. Dikakinya juga ada 2 pasang belati lempar. Wow lumayan juga wanita
ini. Aku menyebutkan semua hasil pengamatan ini pada Adrian dan Henry. Aku segera menyambar Ipad khususku dan berlari kearah lobby. Pasukanku yang tersisa akan membereskan ruangan dan memindahkan semua di markas yang berada di basement.
Tak lama kemudia aku mendengar laporan dari Adrian bahwa ada mobil yang menghadang mobilnya. Situasi di sekitarpun sangat lengang kata Adrian. Sepertinya pihak lawan memang sudah mengkondisikan jalanan menjadi lengang. Pilihan jalan Adrian rupanya dilihat sebagai peluang emas bagi Sisca dan pasukannya. Adrian memilih untuk berhenti, menghindari kejar-kejaran yang justru akan membahayakan semua orang. Aku mendengar jendela
__ADS_1
mobil Adrian diketuk dengan keras minta dibuka. Namun Adrian memilih untuk tetap diam di dalam mobil. Sekilas aku lilhat dari Ipad, Adrian menunjukan keadaan Nara yang pucat pasi diapit dua pengawal kami yang sekilas tidak terlihat. Sepertinya Nara menyembunyikan kepalanya di balik badah Krisna, pengnawal yang ada di kanannya.
Situasi mulai memanas setelah beberapa orang berusaha menodongkan senjata api ke mobil Adrian. Aku melihat Sisca menghendikan mobilnya tidak jauh dari mobil Adrian hingga masih tertangkap kamera. Aku segera mencari CCTV polda metrojaya terdekat dan meretasnya. Gotcha! Aku segera menghubungkan beberapa CCTV yang merekam kejadian itu ke markas sekaligus menghubungkan ke IPAD ku agar mudah aku pantau. Aku melihat sekitar 20 orang mengelilingi mobil Adrian. Mereka semua mengeluarkan senjata api yang diarahkan ke mobil Nara. Saat itu terdengar teriakan salah satu yang terdekat dari jendela Adrian.
“Buka! Atau aku hancurkan mobil kalian,” kata laki-laki berotot dengan kaos hitam dan jeans hitam itu. Muka mereka semua menggunakan masker, hingga tidak bisa kulihat wajah mereka. Saat itu kudengar dari radio di
pinggang laki laki itu menyala
“Tidak usah berlebihan. Usahakan tanpa korban. Hanya ambil kalungnya dan lepaskan mereka Tuan P tidak mau korban terluka,” kata suara itu yang aku yakin adalah Sisca.Laki-laki itu terdiam sejenak. Dia kembali mengetuk jendela Adrian.
“Dika, tolong, aku takut! Mereka mau membunuhku lagi!” kudengar suara Nara beberapa kal6 memohon. Aku khawatir kondisi mentalnya saat ini akan terganggu. Tak lama Aku dan Henry sampai di lokasi. Henry segera masuk ke mobilku.
“Terserah bos bagaimana. Tapi menurutku lepaskan saja. Setelah ini, Adrian dan Nara langsung ke kantor polisi melaporkan kehilangan dan mengklaim asuransi kehilangan kalung.Adrian sebaiknya buat foto lokasi dari dalam mobbil untuk kepentingan pelaporan kepada polisi. Tidak penting sebenarnya mereka percaya atau tidak, namun semua itu untuk menghilangkan kecurigaan mereka,” kata Henry.
“Gimana bos, ini saya keluar pasti langsung ditodong atau bahkan mungkin di tembak. Kalau di mobil takut mereka melakukan sesuatu dengan mobil ini. Pilihan ketiga adalah kabur dengan resiko kejar-kejaran di jalan,” kata Adrian. Tiga tiganya saya nggak masalah,” kata Adrian dengan tenang. Aku mendengar suara Nara mulai menangis.
__ADS_1
Aku berpikir
bahwa apa yang dikatakan Henry benar. Memang kalung yang dipakai Nara cukup berharga. Meskipun bukan asli milik Lidya Dirgantara, tetap saja harga emas dan berlian kalung itu lebih dari 100 juta. Namun jika diperpanjang, Nara akan semakin tertekan. Adrian mungkin bukan masalah besar meskipun nyawanya bukan pilihan untuk dikorbankan. Aku harus mengambil keputusan dengan cepat.
“Kisna dan tim kalian cepat sembunyi. Adrian, katakan pada mereka untuk tidak menyakiti Nara. Lalu buka penutup jendela. Biarkan mereka melihat Nara melepas kalungnya dan diberikan kepadamu. Kamulah yang menyerahkan kepada mereka melalui jendela,” setelah itu segera pergi dan pergilah ke kantor polisi. Jangan kerumah. Aku yakin mereka akan terus mengikutimu,” kataku memberikan perintah.
“Semua pasukan bersiap untuk meinggalkan lokasi bersama Adrian kecuali mobil Bayu dan henry. Kalian buntuti kemana mereka pergi,” kataku sambil mengusir Henry untuk segera keluar dari mobil. Tim 2 pulang ke rumah untuk swipe out rumah. Perika sampai parameter 500 meter. Usahakan selesai sebelum Nara dan Adrian kembali,” aku
mulai melakukan koordinasi pada semuanya yang dengat cepat pula dilakukan. Saat itu aku mendengar Adrian sudah selesai bernegosiasi.Kulihat Nara berusaha untuk tenang. Semua orang, baik pasukanku maupun pasukan Sisca bergerak dengan cepat. Adrian sudah selesai bernegosiasi. Kini saatnya dilakukan penyerahan kalung.
Aku lihat seluruh pasukan Sisca mengokang senjata mereka masing masing dan mengarahkan pada Adrian. Namun laki-laki satu ini sudah sangat terlatih menghadapi situasi setegang apapun. Mukanya tetap datar. 3
orang passukan Sisca mengawasi Nara dan Adrian yang tidak keluar mobil. Kuliat Nara melepaskan kalungnya dengan gemetar. Setelah itu, hati hati dia menyerakan kalung pada Adrian. Dengan membuka sedikit jendela, Adrian menyerahkan kalung. Pasukan Sisca Langusng memeriksa kalung. Tak berapa lama dia mengacungkan
jempol kearah Sisca. Perlahan seluruh pasukan Sisca mundur dan menghilang bersama kalung Nara.
__ADS_1
Adrian segera tancap gas ke kantor polisi. Sesampainya disana Adria dan Nara segera turun dan membuat laporan Ternyata melaporkan cukup melelahkan dan sangat lama, sampai sampai kami tertidur. Beberapa jam kemudian Adrian dan Nara tampak keluar pintu dan masuk ke mobil Aku sempat melihat mobil Sisca mengikuti sampai kantor polisi. Mereka tdak menunggu lama, segera meninggalkan kantor polisi.