
POV NARA (flash back on)
Setelah semua siap, M meminta kami untuk segera berangkat. Henry sudah memerintahkan anak buahnya guna mengamati dan memata-matai kediaman Hermawan dan Pradipta. Perintah paling penting adalah, saat Pradipta keluar rumah, anak buah Henry akan segera memberitahu kami. Menurut M, kami harus sampai di taman terlebih dahulu. Dengan begitu, kamilah yang akan menentukan posisi duduk yang strategis dilihat dari jalanan, cukup terang sehingga dari jauhpun aku dan Pradipta terlihat. Selain itu, M dan kedua sahabatnya juga dapat mengawasiku dari tempat yang strategis dan sangat dekat.
Kami berempat berjalan dengan cepat menuju taman. Aku ada ditengah 3 laki-laki besar dan tampan. Jika ada orang yang melihat kami saat ini, mungkin tidak akan terlalu bisa melihatku. Posisiku benar-benar terlindung dari mata orang, tersembunyi dibalik kibasan jaket lebar tiga laki-laki tinggi besar ini.
Sesampainya di taman, M bisa menemukan lokasi yang tepat dengan cepat. Bahkan dia menemukan tempat untuk mengamatiku dengan jarah beberapa meter saja. Jika ada apa-apa, sekali lompat mereka sudah ada di dekatku. Namun kursi tempat mereka duduk, tidak terlihat dari sisi jalan maupun dari bangkuku. Aku termenung sejenak,
__ADS_1
memikirkan apa yang akan kulakukan nanti. Lamunanku terputus oleh suara dering telpon milik Henry.
“Boss, target keluar rumah menuju TKP,” terdengar suara laki-laki diujung telepon Henry. Ahh, anak buah mengawasi kediaman Hermawan rupanya. Pradipta sudah berjalan menuju taman. Aku mulai bersiap di kursiku,
sedangkan M dan dua sahabatnya juga berada di posisinya.
jajanan yang dijual setiap sore di pinggir taman, lalu duduk merenung melepaskan lelah dan rinduku.
__ADS_1
Sebenarnya arti taman ini bukan hanya saat aku sudah menikah. Sejak aku kecil, aku senang berada di taman ini.
Taman ini adalah tempat aku bermain bersama sahabatku satu-satunya. Pradipta memang telah menjadi sahabatku sejak kami kecil. Kami tumbuh bersama dikeluarga Hermawan. Pradipta memang lebih banyak menghabiskan waktunya di keluarga Hermawan. Sejak kecil Papa dan Mama sudah mengangganya seperti kakakku. Seluruh keperluan dan kebutuhan laki-laki itu dicukupi oleh Papa dan Mama. Bahkan nenek membuatkannya gelang yang sama denganku, sebagai pengakuan bahwa Pradipta adalah cucunya. Namun aku tidak tahu, kenapa perlakuan ini
hanya berlaku bagi Pradipta. Sedangkan kedua putri pak Henky lainnya, Prita dan Pipit, tidak diperlakukan sama. Kedua gadis itu memang dibiayai sekolahnya oleh Papa dan Mama, namun, hanya sebatas itu. Mereka berdua tidak pernah tinggal bersama kami atau mendapat previlage keluarga Hermawan. Mungkin karena itulah, mereka tidak dekat denganku, bahkan terkesan tidak suka kadang-kadang. Berbeda dengan hubunganku dan Pradipta.
Setelah aku pikir-pikir, Pradipta memang baik sejak dulu. Kami dekat dan bersahabat serta saling ada sejak kecil. Sayangnya sejak menikah, Pradipta berubah. Sekarang, Aku baru menyadarinya. Sedikit demi sedikit aku
__ADS_1
bisa melihat bagaimana buruknya sikap Ibu Henky, Pradipta dan adik adiknya padaku saat itu. Meski kadang kalau M yang mengatakannya, aku akan melakukan penyangkalan. Namun saat aku diam seperti saat ini, dan mengingat serta melihat kembali acara make over, aku mulai membenarkan perkataan M dan sahabat sahabatnya tentang Pradipta dan keluarganya. Namun semua ini kembali membuatku resah. Biar bagaimanapun, Pradipta masih suamiku dihadapan Tuhan. Bagaimanapun, aku memiliki janji kepada Papa tentang rumah tanggaku.