Nada Nara

Nada Nara
Bab 27 Bertemu Keluarga Baru


__ADS_3

Hai semua,


Gimana puasanya? Lancar donng.  Alhamdulilah ya  sebentar lagi lebaran. Sudah pada liburan mudik? nah dari pada bengong liburan nggak tahu mau ngapain, lebih baik baca cerita Nada Nara ya. Jangan lupa berikanvote, komen atau apapun jika kamu menyukainya.


Banyak Cinta buat kalian semua


SK Sae



Aku berusaha mencari alat untuk dapat membebaskan Ayah dan Bunda dari gudang. Mumpung semua penjaga pergi dan menjauh dari gudang, berkumpul di gerbang villa. Akan tetapi saat aku mau melangkah, terdengar ledakan hebat yang meluluh lantakan gudang dengan segala isinya, termasuk Ayah dan Bunda. Ledakan itu kemudia diikuti oleh suara -wush!-. Aku melihat api besar menjilat habis sisa-sisa ledakan. Aku menjadi sangat histeris, sampai Ayah berhasil menenangku. Aku kemudian bertekad kuat mengubah takdirku. Demi Ayah dan Bunda aku harus kuat. Kembali kuarahkan pandangnku  pada  gudang yang terbakar habis, aku melihat Ayah dan Bunda pergi dengan sanyum mengembang. Aku tahu aku harus pergi sekarang. Aku tahu aku harus kuat berjalan sendiri mulai sekarang. Aku tahu aku harus siap hidup dengan hanya yang ada di badan. Kugenggap bekal hidup yang dititipkan Bunda dan menyimpannya ditas pinggang dibalik kaosku.  Aku berjalan menjauhi Vila tanpa tahu arah tujuanku. Yang aku tahu, aku harus menjauh sekarang.


Aku tidak tahu berapa lama aku berjalan. Yang kutahu, hati dan pikiranku terasa kosong. Mengingat apa yang terjadi di gudang membuat dadaku terasa sesak dan pundakku berat. Kepala seperti tidak ada di badanku. Ingin aku berhenti dan menangis seperti anak-anak lain yang ditinggal orang yang sangat dicintai, Anak-anak yang histeris karena kehilangan pegangan dan harus hidup sebatang kara. Tetapi aku tidak bisa. Bukan tidak boleh. Bukan tidak mau,  tetapi memang benar-benar tidak bisa. Semua terasa kosong seperti perutku sekarang ini.


Aku lapar. Perutku terus berbunyin sejak tadi. Namun sepanjang mataku memandang, yang kulihat hanya pohon dan jalanan. Tidak ada warung dan tempat makan. Di kantongku ada beberapa lembar uang yang diselipkan Ayah. Meski aku yatim piatu, aku tidak miskin. Aku tidak harus mencuri atau meminta minta untuk bisa makan.


Aku seorang Dirgantara, pantang mengemis dan berkeluh kesah. Tapi memang tidak ada makanan yang bisa dibeli dan dimakan. Sampai akhirnya aku sampai di batas lelahku. Aku terseok dipinggir jalan dan beberapa kali. Aku tetap berusaha tegak berdiri.  Aku laki-laki kuat, bukan lemah. Ya, kan Bunda? Apa Bunda melihatku dari surga?


Apa Bunda bangga padaku? Atau malah bunda sedih melihatku seperti ini? Jangan, jangan bersedih Bunda. Aku kuat, aku tidak apa-apa. Aku laki-laki tegar dan kuatmu. Aku tidak akan pernah mengijinkan airmata mengalir di wajah cantikmu.  Bunda. Sudahlah, lebih baik Bunda dan Ayah bersenang-senang disana. Nanti kalau aku sudah terlalu lelah disini, aku pasti menyusul Bunda. Nanti kalau Dika sudah bisa membuat kalian bangga, baru aku akan menyusul. Untuk sekarang, ijinkan Dika untuk melanjutkan langkah kaki meraih cita-cita.


Lamunanku terhenti saat kusadari seorang laki-laki menyentuh pundakku. Tak jauh dari kami ada sebuah sedan baleno hijau tua. Mobil murah yang sederhana, tetapi bersih mengkilap. Di dalam mobil kulihat  seorang gadis yang cantik, kira kira dua tahun lebih muda dariku. Dia menatapku dengan mata cemerlangnya dan senyum yang membuatku ikut tersenyum.


“Nak,  Namamu siapa? Kenapa berada di sini? Kamu sama siapa disini?” tanya seorang laki-laki seumuran papa. Wajah tampannya yang teduh membuatku merasa aman. Aku merasa, ini awal hidup baruku dan aku akan baik baik saja. Kulihat Ayah dan Bunda tersenyum padaku diseberang jalan. Mereka mengangguk, seolah menyuruhku untuk pergi dengan laki-laki ini.


“Aku Dika om, maksudku Mahardika. Aku  dari atas sana. Tadi aku dengan Ayah dan Bundaku, tapi mereka kecelakaan dan aku takut. Makanya aku lari kesini dan aku tidak rahu mau kemana,” kataku dengan wajah sedih. Laki-laki itu langsung memelukku. Dilihatnya kaki dan tanganku yang berdarah. Juga bajuku yang sudah tidak karu-karuan.


“Ayah ibumu kecelakaan dimana? Biar om panggil polisi?” katanya


“Aku lupa om, aku takut. Aku tadi hanya berlari dan berlari,” kataku mencoba menghalangi niat om itu untuk mencari.


“Lalu keluargamu?” tanyanya. Aku mulai putus asa. Laki-laki ini ternyata sulit untuk kuyakinkan agar membawaku tanpa banyak tanya. Aku mulai kesal dan lapar yang sangat menyiksa membuatku menangis tanpa aku sadari.


“Aku benar benar tidak tahu om. Aku tidak ingat,” kataku pura pura. Aku bertekad akan melaksanakan apa yang Ayah dan Bunda pesan. Tidak boleh ada yang tahu siapa aku. Aku harus bisa menjaga rahasiaku. Itulah tekadku.


“Ok, ya sudah. Aku  Januaria, panggil saja om Janu. Dika mau ikut om? Nanti om bantu cari orang tuamu,” Katanya sambil memelukku. Benar-benar nyaman. Aku rasa Om Janu adalah takdirku.  Aku mengangguk setuju. Disaat yang sama, cacing di perutku memulai paduan suaranya, menyambut kedatangan om Janu, seolah memberitahukan kalau mereka membutuhkan asupan. Aku seketika terdiam, anta malu dan tidak tahu  harus berbuat apa. Tiba-tiba sebuah tangan mungil mengulurkan setangkup roti isi coklat dan susu kotak, padaku.


“Kamu lapar ya? Perutmu bunyi tuh. Ini makan, aku punya banyak kok. Papa tadi membuatkan buat aku dan Agusta,” kata gadis cilik didepanku tanpa senyum. Om Janu tersenyum senang dan mengacak acak rambut gadis itu. Aku memandangi sandwich itu lalu melihat padaku yang sangat kotor. Aku mencoba membersihkan tanganku dengan baju namun bukannya bersih malah tambah kotor.  Om JAnu tertawa melihatku. Dia segera ke mobil dan kembali dengan sebotol aor dan sekotak tissue basah. Dia bersihkan tanganku dengan air lalu dilap dengan tissue.


“Nah sudah bersih.


Sekarang ambilah. Makan. Pasti kamu lapar sekali. Makan ini dulu, nanti baru kita makan dirumah om,” kata om Janu. Aku segera menghabiskan sandwich coklat dan susu dengan cepat.


“Pelan pelan makannya. Tidak baik buru-buru, nanti tersedak,” suara anak laki-laki  menegurku. Aku menoleh dan memandangnya dengan sebal. Anak laki-laki itu tersenyum lebar menunjukan giginya yang ompong.


“Hai! Aku Agusta. Muka kamu kenapa seram begitu? Jangan marah, aku hanya mengingatkan,” kata Agusta.


“Makanya jangan rese. Tidak usah sok kenal. Belum tentu dia mau kenal sama kita,” kata anak perempuan yang memberikan sandwich padaku.


“Juli, Agusta, kenalkan. Ini Mahardika. Mulai sekarang, untuk sementara Mahardika akan tinggal bersama kita,” kata Om Janu.

__ADS_1


“Memangnya dia gelandangan tidak punya rumah ya Papa?” kata  gadis kecil bernama Juli. Menyebalkan sekali ternyata dia, pikirku kesal.


“Juli, tidak baik bilang begitu,” kata Agusta


“Aku bukan gelandangan,” kataku dengan marah. Aku tidak suka ada yang merendahkanku. Bagaimanapun juga aku adalah Dirgantara.


“Iya-iya, maaf,” kata Juli sambil mengulurkan tangannya. “Aku Juli.” Aku menyambut uluran tangannya dan memandangnya dengan seksama. Menurutku Juli dan Agusta anak kembar yang usianya dua tahun lebih muda dariku. Mereka cukup menyenangkan, terutama Agusta yang ceria. Juli cenderung manja dan ingin semua keinginannya di kabulkan. Tapi Juli sangat cantik. Aku menyukainya, meskipun dia pelit dan sedikit galak.


Om Janu membawaku ke kantor polisi terdekat. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi kemudian Om Janu


keluar dari ruangan menyalami para polisi. Om Janu bergegas menghampiri kami.


“Dika, para polisi sednga mencari orang tuamu. Untuk sementara, om akan memberikan tiga pilihan padamu, Tinggal di kantor polisi bersama pak polisi, tinggal dipantiasuhan atau dirawat oleh orang yang bersedia merawatmu, nanti dicarikan pak polisi? Kata om Janu.


Aku memandang om Janu dengan nanar. Hatiku terasa pedih. Semua pilihan yang diberikan sangat tidak


nyaman bagiku.


“Apakah aku harus memilih?” tanyaku. Om januar mengangguk sambil mengelus rambutku, iba. Aku tahu dia kasihan padaku, dari cara dia menatapku. Aku tidak mau dikasihani. Tapi aku memang membutuhkan bantuannya. Apa labih baik aku berterus terang saja tentang keinginanku. Ayah dan Bunda tadi sudah menyukai om Janu, untuk merawaatku. Sekarang mungkin aku harus sedikit meyakinkannya agar aku diijinkan tinggal dengan mereka.


“Om, boleh Dika bertanya?” kataku ragu.


“Boleh, kenapa nak?” tanya om Janu.


“Bolehkah aku tinggal sama om saja? Aku janji tidak akan nakal, tidak akan merepotkan om Janu. Aku juga akan mencari uang untuk biaya sekolahku dan makanku,” tanyaku penuh harap.


Tak berapa lama, Om Janu dengan senyum lebar keluar dari ruangan. Dia menyalami polisi yang ada didepannya. Om Janu tampak akrab dengan mereka.Setelah selesai, Om Janu menghampiri kami dan memelukku erat.


“Mari kita pulang nak,” kata om Janu kepadaku. “Agusta, Juli, yuk pulang. Kedua anak itu segera beranjak dan berlari menuju mobil. Sementara aku memilih berjalan disamping om Janu, menggenggam tangannya erat. Om Janu sesekali memandangku dan tersenyum, seolah mengatkan agar aku tidak perlu takut menghadapi dunia.


Sesampainya di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, kami segera turun.  Om Janu segera mengajakku turun dan


menyuruhku masuk kedalam rumah.


“Anak anak, ayo kalian semua mandi. Agusta, ajak Mahardika mandi bersamamu dan pinjamkan bajumu padanya. Papa rasa ada baju kamu yang bisa dipakai sementara oleh Dika. Besok kita ke mal untuk membelikan Dika pakaian. Ok boy? Thank you,”  kata om Janu. Aku segera masuk ke sebuah kamar yang banyak terdapat gambar robot. Sedangkan Juli, aku sudah tidak melihatnya dari sejak turun tadi. Gadis kecil itu turun lebih dahulu, langsung


lari masuk kedalam rumah dan tak kulihat lagi.


Aku selesai mandi dan membersihkan diri. Agusta sudah menungguku sambil membaca buku. Anak itu sangat


suka membaca sepertinya.


“Dika, papa bilang kita setelah ini ditunggu untuk makan. Yuk segera ke meja makan,” kata Agusta.  Kami segera berjalan menemui om Janu.


Ternyata om Janu pintar memasak. Dia membuat beberapa macam makanan yang sudah tersaji di meja. Kulihat Juli dan barbienya juga sudah disana. Agusta membantu om Janu menyiapkan piring dan sendok. Sementara aku hanya berdiri menunggu, melihat apa yang mereka lakukan. Setelah semua selesai. Om Janu duduk disatu sisi, sedang  Agusta duduk disebelah Juli.


“Dika, sini, duduk samping Papa,” kata om Janu. Papa? Om Janu tersenyum padaku. Kulangkahkan kakiku ragu untuk duduk disampingnya. Om Janu mengambilkan makan untuk kami bertiga dan bertanya kami mau makan apa. Setelahnya, kami makan dalam diam.  Setelah makan, aku lihat Agusta dan Juli membereskan semua piring dan


membawanya ke tempat cuci piring. Termasuk piring, sendok dan gelas yang kupakai. Aku hanya memperhatikan mereka tanpa tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


“Dika, hari ini boleh bebas tugas. Tetapi, mulai besok, Dika sama dengan Agusta dan Juli. Semua punya tugas dan harus mengerjakannya bersama sama ya nak,” kata om Juna. Sambil membereskan sisa makanan kami dan menyimpannya di lemari es.


“Iya om,” anggukku. Ya aku mengerti. Aku tinggal dirumah ini dan mengerjakan seperti yang dikerjakan Agusta dan Juli. Ayah dan Bunda pernah bilang, dimanapun kita berada, kita harus selalu mempeerhatikan tuan rumah dan aturan ya ng berlaku dirumah itu.


Om Juna kemudian mengajak kami ke ruang televise yang memiliki satu sofa untuk dua orang dan karpet bulu lebar dangan beberapa bantal. Disana om Janu mengajak kami berbicara.


“Agusta, Juli, Papa harap kalian tidak keberatan jika mulai hari ini, Mahardika tinggal dirumah ini, sebagai kakakmu,” kata om Janu.


“Kakak?”  karta kami bertiga hampir bersamaan.


“Iya kakak, karena Mahardika 2 tahun lebih tua dari kalian. Mulai hari ini, Mahardika tinggal bersama kita dan menjadi anggota keluarga. Agusta, bantulah Mahardika untuk tagu tugas dan kewajiban apa yang harus kalian bagi bertiga. Mulai hari ini, kalian bertiga adalah saudara yang harus saling menyayangi dan menjaga. Kalian mengerti?” kata om Janu. Agusta berpikir sejenak lalu tersenyum lebar.


“Mahardika, Kamu tidak keberatan kan kalau mulai sekarang menjadi kakak Agusta dan Juli? “ kata om Janu


menatapku.


“Kakak? Maksudnya om?” tanyaku.


“Baiklah, namaku Januaria Mulai sekarang kamu adalah Mahardika Januaria. Kamu adalah anakku. Jadi mulai


sekarang kamu juga memanggilku papa. Bagaimana?” tanya om Janu, eh maksudnya Papa. Hatiku menghangat dan aku gembira. Tentu saja aku mau.


“Hore! Asyik! Aku punya kakak! Sudah lama aku ingin punya kakak,” kata Agusta sambil nyengir lebar yang lucu. Ya aku suka adik laki-lakiku.  Dia menghampiriku sambil tersenyum dan memeluk.


“Kakak Dika, adik Agusta,” katanya lucu sambil menunjuk diriku dan dirinya. Aku tertawa senang dan memeluknya. Sejak itulah aku tinggal di kediaman Januaria, dan menjadi bagian dari keluarga itu. Sejak itu aku berbagi kamar dengan Agusta dan berbagi segalanya dengan keluarga ini. Setelah beberapa saat aku baru tahu kalau Agusta


dan Juli tidak pernah bertemu dengan Mamanya. Mama mereka meninggal saat melahirkan mereka berdua. Sejak itu, mereka hanya hidup bertiga, karena Papa tidak pernah menikah lagi. Setelah dewasa aku baru menyadari jika Papa Janu adalah seorang gay. Beberapa kekasih laki-lakinya sempat dibawa kerumah, namun tidak pernah mendapat sambutan yang baik dari Juli. Sedangkan aku dan Agusta tidak terlalu memperdulikannya.


Bagiku, apapun yang yang dilakukan Papa Janu, aku tidak peduli. Aku tahu kalau Papa Janu bekerja keras untuk makan, sekolah dan kehidupan kami bertiga.  Papa Janu juga berhak bahagia dengan kehidupannya sendiri. Seperti janjiku, aku bekerja keras untuk sekolah dan mendapatkan uang untuk tambahan tanpa sepengetahuan Papa Janu. Aku mengatakan pada Papa Janu kalau aku mengikuti banyak kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Padahal aku bekerja menjajakan minuman di pinggir jalan. Aku mendapatkan pekerjaan ini setelah berkenalan dengan kang Dirjo pemilik warung depan sekolah. Dari dialah aku mengambil minuman dengan harga murah untuk kujual di lampu merah. Hasilnya lumayan. Penghasilan kutabung untuk keperlkuanku, agar tidak perlu minta pada Papa. Tentu saja aku lakukan tanpa sepengetahuan Papa. Hanya Agusta yang tahu, tetapi dia tidak pernah mengatakan apapun tentang apa yang kulakukan, pada Papa Janu. Bahkan kadang dia ikut-ikutan berjualan.


Untuk tidak membuat Papa Juna curiga, setiap pulang kerumah dan pelajaran aku bekerja keras belajar agar


selelu ranking 1. Bahkan aku beberapa kali berhasil masuk kelas akselerasi. Dengan begitu aku bisa cepat lulus dibanding kedua adikku. Jika awalnya aku hanya anak konglomerat yang tidak pernah melakukan apapun untuk apa yang kumau. Aku tinggal dimension yang besar dengan segala kemewahannya. Aku anak emas yang


nantinya akan menjadi raja di kerajaan Dirgantara, Aku jugalah anak yang kedua orangtuanya dibunuh dodepan matanya, karena kekayaan, harta dan tahta. Aku anak yang tidak pernah tenang hidupnya karena menjadi calon raja yang berkelimpahan harta. Pada akhirya, aku mengubah takdirku dengan melepaskan semua atribut Dirgantara. Aku mengubah takdirku yang dikejar, diancam dan penuh dengan bahaya, dengan melepas semua kehebatan menjadi keturunan Dirgantara. Aku membangun sendiri takdirku dengan kerja keras dan kesungguhan dan dukungan serta cinta dari keluarga baruku. Aku mengubah takdirku.


Saat lulus SMA aku berhasil masuk kuliah dengan beasiswa penuh. Aku bahagia sekaligus sedih Karena saat itulah Papa Janu meninggal. Sejak awal Papa selalu menanamkan kekeluargaan, kebersamaan dan saling mencintai. Kami dididik untuk selalu ada satu sama lain. Selalu menjaga dan menyayangi satu sama lain. Papa yang begitu


lembut dan penuh kasih sayang telah mengisi kekosongan hati saat mengubah takdirku. Setelah Papa meninggal ada kekosongan lain dihati ini.


Sebelum meninggal, Papa memintaku untuk menemaninya. Dia banyak berbicara tentang arti keluarga baginya.


Keluarga bukan tentang darah yang sama. Bukan tentang ikatan karena surat. Tetapi keluarga adalah ikatan yang terbentuk dari kasih sayang, saling ada dan saling membutuhkansatu sama lain. Menurut papa, orang-orang dengan ikatan darah dengannya telah memutuskan ikatan keluarga. Semua hanya karena perbedaan pemikiran yang sebenarnya tidak berhebungan dengan siapapun selain diri sendiri dan Tuhan. Menurut Papa, dia menemukan arti keluarga dari orang-orang yang tulus mencintainya. Dan sampai kapanpun keluarga yang dia punya itulah yang akan dia pertahankan dengan nyawanya. Termasuk aku, Agusta dan Juli.


***


Kita lanjutkan kisakh Mahardika dan Nada besok ya. Author mau buka puasa dulu. Sebelum pergi author ingin merekomendasikan cerita sahatku, Kirana Pramudita.


__ADS_1


__ADS_2