
Nara dan Mahardika memandang kearea loby. Disana tampak Pradipta sudah bersama Juli yang datang entah dari mana. Keduanya berdiri tak jauh dari tempat M dan Nara duduk. Jadi keduanya tidak kesulitan mendengar apa yang mereka bicarakan.
“Hai baby, baru tiba?” Kata Pradipta pada Juli. Dia memiberikan buket bunga mawar merah yang tadi dibawanya, pada Juli. Gadis itu menyambut pemberian kekasihnya dengan wajah berseri. Dipeluknya sang kekasih dengan erat lalu mundur selangkah. Pradipta mengecup sekilas pucuk kepala Juli dan mengelus kepalanya dengan senyum hangat. Perih rasa hati Nara melihat itu.
“Iya honey. Aku punya berita gembira. Tadi aku mendapatkan tawaran kontrak besar senilai ratusan juta, untuk menjadi model berlian dari International Star Diamon,” kata Juli sambil melonjak kegirangan. Nara dan Mahardika yang bisa mendengar pembicaraan itu berkernyit.
“International Star Diamon,” kata keduanya bersamaan. Mahardkia tampak membuat catatatn di I-padnya. Perhatian perhatian mereka kembali teruju pada dua sejoli, yang sedang saling berbisik dan terkikik geli. Juli mencubit pinggang Pradipta. Mahardika memandang muka Nara yang pucat pasi. Matanya terlihat berkaca-kaca. Laki-laki itu tahu, saat ini perasaan gadis cantik didepannya sedang terhempas badai. Seperti juga hatinya. Akan tetapi keduanya juga tidak dapat melepaskan pandangan dari orang yang mereka cintai itu.
“Ish kamu, dasar mesum. Oke, tapi makan dulu. Aku lapar hon,” kata Juli manja.
“Tidak masalah, kita makan siang dulu lalu kembali ke apartemen,” kata Pradipta sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Ih kamu, emang nggak bosen ya tiap hari, tiap saat, pasti deh kita make love?” kata Juli.
“What! bosen Tidak pernah beb. Tidak mungkin aku bisa bosen make love sama kamu. Kamu tahu 'kan, kalau kamu selalu menggairahkan. Kamu selalu membuatku ingin memakanmu,” kata Pradipta, memainkan alis matanya dan mengedipkan sebelah mata. Gadis itu memeluk laki-laki di depannya, sambil tertawa disambut kecupan Pradipta didahi gadis itu. Berbanding terbalik dengan pasangan yang duduk menghadapi kopi tak jauh mereka.
“Ngomong-ngomong, kapan kita akan mengumumkan hubungan kita hon?” kata Juli memandang Pradipta dengan pandangan tegas, senyum menawan dan jari yang bermain di rahang Pradipta. Perpaduan antara menagih janji, merayu dan sedikit bumbu ancaman.
“Sabar ya, pokoknya sebelum kita menikah. Kita masih harus hati-hati, karena ini menyangkut reputasiku dan reputasimu. Jangan sampai berita yang mengatakan kamu sebagai wanita ketiga dalam perkawinanku, muncul lagi,” kata Pradipta sambil mengelus pipi Juli. Mereka tampak berbincang tanpa melepaskan pelukan.
Juli membisikan sesuatu ditelinga Pradipta. Terlihat Pradipta mengangguk sambil mempermainkan hidung Juli dengan jarinya, yang disambut tawa senang Juli. Mereka lalu saling berciuman tidak perduli mereka sedang di loby area umum. Nara justru yang merasa jengah. Tetapi Nara kemudian mengernyit menyadari rasa dalam hatinya. Entahlah, dia sesaat menyadari bahwa dia tak lagi sakit melihat keduanya berciuman. Nara segera menengok kea rah Mahardika yang mukanya tampak merah karena marah. Tangan yang tadinya menggenggam tangan Nara, kini mengepal diatas meja. Nara menyentuh tangan itu bermaksud menenangkan. Nara sendiri bingung, mengapa Mahardika semarah itu? BUkankah harusnya Nara yang marah? Pertanyaan-pertanyaan yang muncul saling menyusul dibenak Nara, membuat gadis itu sadar, dia tidak mengenal Mahardika sama sekali.
Mahardika yang sedang konsentrasi pada pasangan didepannya, tiba tiba berjenggit. Dia merasa tangannya tersetrum listrik tak nampak. Sengatan mengejutkan yang sekaligus menyenangkan dan membuat dadadnya berdebar. Saat melihat senyum Nara, hatinya langsung tenang dan sejuk. Amarah yang tadi bergejolak langsung luruh tak berbekas. Mereka berdua saling tatap dan saling senyum. Secara bersamaan keduanya menoleh kearah pasangan yang menjadi pusat perhatian mereka tadi. Kedua pasangan itu sudah tak ada lagi ditempat mereka. Pradipta dan Juli tampak menunggu mobil diarea drop off. Setelah mobil tiba, Pradipta menerima kunci, membukakan pintu untuk gadisnya. Juli tersenyum dan masuk ke sisi penumpang,
Setelah menutup pintu mobil, Pradipta tiba-tiba mengarahkan pandangannya kepada Nara, yang saat itu juga sedang memandangnya. Mungkin laki-laki itu sadar, dirinya sedang diperhatikan. Tatapan keduanya saling bertemu dan terpaku. Jantung Nara berpacu dengan keras. Dipandanginya Pradipta dengan rasa rindu yang mendalam. Pradipta tersenyum dan mengangguk pada Nara, yang disambut dengan senyuman ceria. Secara sembunyi-sembunyi Pradipta melambaikan tangannya dan memberikan kedipan singkat, lalu segera berputar menuju kursi sebelah Juli, dan mobilpun melaju, meninggalkan kilasan kilasan cahaya di kepala Nada.
__ADS_1
“Mobil itu!” kata Nara sambil mengernyit.
“Kenapa Nada? Kamu ingat sesuatu?” tanya Mahardika.
“M, Kamu masih ingat 'kan, ceritaku tentang kecelakaan yang membuat Tania meninggal?” kata Nara.
“Iya, ingat," kata Mahardika dengan datar. Dia merasa sedikit tidak nyaman menyaksikan Pradipta menggoda Nara. Melihat senyum bahagia Nara saat digoda Pradipta. Ada rasa tidak rela tumbuh dihatinya.
"Kamu ingat aku mengatakan bahwa selain dua mobil orang yang mengejak kami dan mencelakakan kami, dibelakangnya ada mobil merah yang ikut berhenti setelah kecelakaan. Disana keluar seorang laki-laki dan perempuan yang memerintahkan penjahat-penjahat itu, seperti bosnya. Aku memang tidak bisa melihat dengan jelas wajah mereka. Tetapi aku ingat mobil itu. Mobil sport merah itu,” kata Nara terbata, berusaha mengingat apa yang terjadi malam itu.
“Jadi kamu ingat mobilnya? Ingat plat nomornya,” kata M
“Ingat, itu mobil yang dipakai Pradipta dan Juli tadi,” kata Nara.
“Kenapa tidak mungkin? Kan aku yang melihat. Aku ingat dengan mobil yang membawa mereka. Dan aku yakin itu mobilnya,” kata Nara dengan yakin.
“Itu mobil Juli. Tidak mungkin kalau wanita yang kamu lihat itu Juli. Dia tidak akan terlibat dengan kejahatan seperti ini,” kata Mahardika dengan keras.
“Sepertinya, kamu tahu sekali dengan Juli. Dan kenapa kamu justru membela pelakor itu?” kata Nara tajam dan curiga. Pertanyaan dan pemikiran yang ada dikepalanya sedari tadi, seperti mendapat pembuktian. Matanya menatap penuh selidik pada laki-laki yang sudah hidup bersamanya hampir satu tahun itu. Mahardika yang menyadari tatapan Nara, mulai kembali pada kesadarannya.
“Sudahlah Nara, kita jangan berdebat seperti ini. Bagaimanapun kita harus hati-hati dan tidak terburu-buru,” kata Mahardika dengan lembut. Nara yang sudah tidak melihat Pradipta dan Juli, akhirnya mengangguk setuju.
“Lihat ini info terbaru tentang Pradipta,” kata Mahardika sambil menunjukan I pad nya pada Nara. Pradipta mulai
menunjukan beberapa berita terbaru tentanng kedekatan Pradipta dan Juli.
__ADS_1
“Kamu lihat ini Nara. Lihat tanggalnya. Saat peringatan 100 hari kematian Nada, Pradipta dan Juli malah jalan-jalan keliling Eropa dengan menggunakan uang asuransi kematianmu. Jadi itu berarti Nada tidak cukup penting bagi
Pradipta,” kata Mahardika dengan tegas. Rupanya dia ingin mengembalikan kesadaran Nara tentang Pradipta, yang sudah jahat kepadanya. Mahardika benar-benar tidak suka, Nara masih terus memuja cinta pertamanya. Melihat hal itu, Nara tercenung. Dia ingat kata-kata Sandra yang mengatakan bahwa Pradipta dan keluarga sama sekali tidak pernah datang ke pemakaman. Mereka benar-benar tidak mau terganggu dengan urusan Nada setelah gadis itu meninggal. Itu berarti, dirinya tak lagi penting bagi suaminya. Jangankan untuk berkabung atas kematiannya, mengingat dirinyapun sebagai istri, rasanya tidak ada dalam pikiran Pradipta.
“Dalam berita ini juga dikatakan bahwa kekasih misterius Juli ini sudah melamarnya saat perjalanan itu,” kata Mahardika.
“Kenapa mereka harus pergi di hari peringatan 100 hari kematianku?” Tanya Nara.
“Itu berarti kalau Pradipta memang tidak pernah peduli dengan istrinya. Bahkan kamu sendiri yang mengatakan kalau Pradipta menganggap Nada sebagai istri yang memalukan karena badannya seperti gajah bengkak. Jadi Dia memang tidak peduli pada Nada. Setelah melalui semua itu, kenapa kamu masih mempertahankan perasaanmu dan ingin kembali padanya?” kata Mahardika.
“Karena Dia adalah suamiku. Kami masih memiliki ikatan perkawinan yang sah. Kami masih terikat dengan janji suci didepan Tuhan,” kata Nara sambil menangis.
“Tapi Pradipta tidak menganggap ikatan dan janji itu masih ada. Bahkan menurut info dari orang terdekat, mereka akan mengumumkan hubungan mereka dan menikah tepat satu tahun setelah kematian Nada. Dengan begitu, jika ada orang yang mengulik latar belakang Pradipta, tidak ada lagi yang mempersalahkannya,” kata Mahardika lagi.
“Satu tahun kematianku?” tanya Nara meyakinkan. “Dan itu tiga bulan lagi M?” kata Nara sambil menutup mulutnya, terkejut.
“Iya memang. Itu kenapa kita harus membuat strategi memisahkan mereka sebelum hari pernikahan," kata Mahardika sambil memusatkan pandangannya pada I-pad nya. Seolah tidak peduli dengan reaksi Nada.
“Lalu aku harus bagaimana? M, kamu harus menolongku. Aku tidak ingin rumah tanggaku hancur berantakan,” kata Nara dengan sedih.
“Tenang Nara, kita harus tenang. Aku akan membuat strategi baru untuk mememangkan Pradipta dan mengambalikanmu ke padamu,” kata Mahardika. Nara menarik nafas dalam dan menghembuska pelan berkali-kali. Dia menenangkan diri dan menyadari kalau dirinya tidak boleh emosi dan gegabah.
“Waktu kita tidak banyak lagi, tiga bulan. Jangan sampai perjuangan beratmu selama hampir setahun ini sia-sia.” kata Mahardika.
Apa yang dikatakan Mahardika membuat Nara berpikir keras. Hampir setahun lalu dia datang kerumah laki-laki ini dalam keadaan terpuruk dan terhina, berjanji akan membalas semua dendam dan merebut Cinta pertamanya dari pelakor. Nara ingat tekad baja yang dia tanamkan saat itu. Pikiran Nara kembali pada perjuangan yang sangat mengerikan dan menyakitkan selama lebih dari enam bulan ini.
__ADS_1