
POV Mahardika
“Terimakasih Juli. Sebuah kehormatan bagi saya bisa mewakili Almarhum ibu saya, Lidya Dirgantara dan keluarga Dirgantara memberikan kalung kenangan ini untuk dilelang di peluncuran besar LC. Kebetulan perusahaan ini saya rintis sendiri sebagai pembuktian saya kepada nenek. Dirgantara dan keluarga besar, bahwa saya adalah bagian dari keluarga yang selalu saya banggakan ini,” Franco tampak membuka kotak dan mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin bertuliskan PLD yang terukir indah memanjang, bertaburan berlian. Sangat Indah.
“Agar terlihat keindahannya, sepertinya kalung ini harus berada ditempat yang tepat. Maaf Mr. Pradipta, pinjam Juli sebentar ya,” kata Franco menggoda Pradipta dan mendekati Juli. Salah satu asisten Franco “Nah cantik kan. Secantik yang memakainya. Ups! Maaf bro. Just kidding,” kata Franco tertawa.
“Saya ingin meminta bantuan kekasih sahabat saya ini, untuk menunjukan keindahan perhiasan ratu pendamping Dirgantara. Tentu kalian tahu, inisial di kalung ini adalah PLD yaitu Putra-Lidya Dirgantara. Lambang cinta ayah dan bunda kami. Siapapun bisa memiliki kalung ini malam ini dan dananya akan kami sumbangkan atas nama Bunda Lidya untuk adik-adik yang kurang beruntung di panti asuhan dan pendidikan mereka. Kami berharap dengan kepedulian LC ini, mereka bisa menuntut ilmu setinggi mungkin dan menjadi bagian LC dimasa depan,” kata Franco yang disambut dengan tepuk tangan bergemuruh.
Apa? Sok tahu sekali anak haram ini. Berani-beraninya dia mengakui Bunda sebagai ibunya. Aku bahkan tahu bagaimana dia dan Ibunya yang pelakor itu diusir dari rumah dengan hina. Dan sekarang dia berani mengaku sebagai bagian dari Dirgantara? Yah aku tahu, Nenek Dirgantaralah yang menariknya kembali ke rumah Dirgantara. Tapi bukan berarti dia berhak mengakui Lidya Dirgantara sebagai ibunya. Bahkan arti kata PLD pun dia tidak tahu. Kalung itu adalah kalung kenangan kami bertiga. Ayah membuat kalung itu untuk Bunda. Selain kalung itu ayah membuat dua kalung dogtag platinum kecil dengan tulisan PLD untukku dan ayah. Kami memakainya sampai saat kejadian di gudang itu terjadi. PLD adalah singkatan dari Putra-Lidya-Dika. Aku marah dengan apa yang dilakukan
Franko. Kini, dua dari tiga sudah muncul. Bagaimana mungkin dia memiliki kalung Bunda? Dimana kalung ayah? Apakah mereka juga memilikinya? Aku meraba dadaku dan meremas kotak kecil yang ada disana. Dogtag dengan tulisan PLD.
Disaat yang sama, Juli tampak bahagia sekali mengenakan kalung cantik tersebut. Berulang kali jarinya mengelus kalung yang berharga ratusan juta tersebut. Aku masih meras tidak senang, kalung cantik itu ada dilehernya. Aku bertekad harus mendapatkannya, apapun yang terjadi.
__ADS_1
“Sepertinya Juli juga menyukainya, bro. Bagaimana kalau kamu yang membelikan untuk kekasihmu? Ikut lelanglah kamu,” kata Franco menggoda Pradipta yang juga masih diatas panggung. Juli tampak tersenyum manis pada Pradipta sambil mengelus kalungnya.
“Wow, memang luar biasa kalulnya. Indah sekali. Apalagi kalung itu adalah perwujudan cinta yang indah dari cinta
Dirgantara. Semoga uang saya cukup untuk bersaing di lantai lelang nanti ya bro,” kata Pradipta sambil tertawa. Jangan harap kamu bisa mendapatkan harta keluarga Dirgantara. Aku akan mengambilnya.
Franco membisikan sesuatu ke Pradipta dan laki-laki itu mengangguk. Setelahnya, Pradipta mendekati Juli, mengambil mic yang ditangannya lalu menyerahkan kepada MC. Dia membisikan sesuatu ke MC dan menggandeng Juli turun dari panggung. Mr Franco menngikuti pasangan itu kemudian duduk di kursi VIP belakang panggung.
“Baiklah hadirin sekalian, pasangan spektakuler yang penuh cinta ini akan berkeliling untuk menjukan kepada anda kalung yang hendak dilelang malam ini. Siapkan cek Anda dan jangan ragu untuk mendapatkan kalung indah ini,” kata MC mengumumkan.
“Sudah sadar bro? Bahwa kamu sebenarnya tidak pernah cinta ? Bahwa sebenarnya Papa Shasa benar?” suara bisikan Adrian membuatku berpikir, Namun aku memilih untuk diam. Yeah, sahabatku ini dan Papa Shasa pernah berkomentar tentang hubunganku dengan Juli. Namun seperti Papa bilang, “Biarkan dia menyadarinya sendiri, Ian, Henry. Dia terlalu keras kepala.”
Henry kembali menyentuk pundakku. Saat aku menolek, dia menujuk pada Nara dengan pandangannya. Kulihat Pradipta dan Juli mendekati Nara. Adrian segera mendekat pada Nara, nyaris menempel. Pradipta berjalan sedikit dibelakang Juli. Saat ada dihadapan Nara, Juli berhenti sebentar menatap Nara. Gadis itu memandang Nara sambil berkernyit. Sedangkan Nara hanya diam tanpa ekspresi.
__ADS_1
“Sepertinya Nara mencoba meniru wajah datarmu Adrian,” kataku pelan. Kudengar kikikan Henry dibelakangku yang dijawab dengan degusan Adrian.
“Selamat malam Juli. Cantik sekali kalung dilehermu. Luar biasa memang. Pasti sangat menyenangkan bisa memakainya meskipun sementara,” kudengar suara Nara yang manis.
“Ah iya, selamat malam. Maaf saya tidak tahu nama Anda. Anda model baru itu kan? Ya kalung ini sangat indah dan hanya orang tertentu yang bisa memakainya,” kata Juli dengan nada sedikit sinis. Nara tampak sedikit heran dengan reaksi Juli. Aku tahu, Nara heran mengapa Juli tampak tidak menyukainya. Nara terlalu polos menghadapi situasi seperti ini. Tentu saja Juli tidak menyukai Nara. Bahkan Juli sudah menganggap Nara sebagai saingan yang akan mengancam eksistensinya di dunia model dan keartisan. Juli tidak bodoh. Meskipun keduanya cantik, namun Juli harus berjuang bertahun tahun untuk mencapai posisinya. Sedangkan Nara hanya dalam hitungan minggu bisa mencapai posisi yang tidak jauh berbeda. Tidak akan heran jika sebentar lagi, Nara akan menggantikan posisinya. Bagi Nara, kehadirannya di dunia model hanyalah jalan untuk bisa kembali mendapatkan suaminya. Bagi Juli, apa yang diraihnya sekarang adalah hdiupnya.
Belum sempat Nara menjawab, Juli sudah berpindah ke wanita yang terlihat sangat kaya dengan perhiasan sepanjang lengannya. Wanita itu berdiri persis disamping Nara, membuat Juli dan Pradipta tidak banyak bergeser. Aku melihat laki-laki bajingan itu memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa menempelkan badannya ke Nara. Wajahnya menghapap pada wanita yang sedang berbicara dengan Juli dan tersenyum pada wanita itu. Dia seperti tidak menganggap Nara ada disana. Sebelah bahu laki-laki itu menempel pada bahu Nara membuat gadis itu kebingungan. Dia tidak mungkin menggeser ke sebelah kanan, karena ada orang disampingnya. Sedangkan di belakang ada Adrian. Melihat hal itu, Adrian diam diam memegang pinggang Nara dan memundurkan posisi gadis itu hingga terbebas dari bahu Pradipta. Dengan heran Pradipta memandang kesamping yang kini kosong. Aku dan Adrian bisa membaca raut kehilangan dan ketertarikan Pradipta kepada Nara yang disembunyikan.
Aku tersenyum melihat situasi ini. Aku, Adrian dan Henry saling berpandangan dan mengerti situasi ini. Seperti biasa, kami bisa saling berkomunikasi tanpa bicara. Kami sama-sama tahu bahwa saat ini kami berada pada zona yang sama. Ada ide brilian dikepalaku yang mereka mengerti. Kami sudah mendapat ide bagaimana mendekati Pradipta dan Franco untuk Nada’s Project dan misi besar rahasia kami, yang lebih penting. Aku kembali pada diriku sendiri dan melupakan emosiku. Aku tahu, kalau aku terjebak pada emosi masa lalu, maka semua akan sia-sia. Butuh kewaspadaan dan kejeniusan untuk menjalankan misi ini. Tidak ada tempat untuk kesalahan sekecil apapun. Sepertinya aku butuh melihat data itu lagi. Aku butuh Ipadku. Kuulurkan tanganku pada Henry tanpa bicara. Laki-laki itu seolah tahu apa yang aku inginkan. Dia memberikan Ipad ditangannya dan membiarkan aku mengutak-atik sebentar. Setelah selesai, aku tunjukan layar itu kepadanya. Dia langsung mengangguk mengerti.
“Adrian,” bisikku. Laki-laki itu segera melihat kearahku. Dengan segera kukirimkan sebuah pesan melalui jari yang langsung dibalasnya dengan anggukan. Mataku kembali kuarahkan kepada Nara yang sudah ditinggalkan oleh rombongan Juli dan Pradipta. Sementara itu Nara masih tampak serius menatap Pradipta. Wanita ini sepertinya sedang berpikir keras bagaimana melakukan pendekatan kepada Pradipta. Dengan tampang seperti itu dan bibir sedikit mengerucut, wanita ini tampak sangat menggemaskan. Mukanya benar-benar cantik dan menjadi mood booster terbaikku. Ada keinginan tak tertahankan dihatiku untuk menggodanya.
“Nara, awas nanti rambutmu botak. Tidak usah berpikir bagimananya. Aku sudah menemukan caranya. Sebaiknya kamu segera ikut Adrian dan kita bertemu diruang sebelah. Kita akan membuat manuver rencana dan akan membuatmu menjadi pusat perhatian, bukan hanya Pradipta, namun juga seluruh undangan di ballroom ini. Go!” kataku sekaligus memberikan perintah yang sama pada kedua asistenku. Adrian yang sudah mendapatkan perintah sebelumnya langsung bergerak menggiring Nara.
__ADS_1
Acara di ballroom sendiri terus berlanjut. MC kini sibuk dengan petugas lelang diatas panggung. Lelang barang dan perhiasan Malam Amal LC sudah dimulai. Ada puluhan barang yang dilelang malam itu. Semuanya adalah barang-barang berharga dari klien LC yang jauh dari kata murah. Bisa dimaklumi sebenarnya. Tamu undangan yang hadir malam itu memang bukan tamu biasa yang menyebut uang ratusan sebagai recehan. Meski begitu, Kalung keluarga Dirgantara adalah salah satu barang yang diinginkan banyak orang. Kalung ini akan menjadi lelang
terakhir yang menutup acara.