
POV Mahardika
Setelah obrolan tidak penting yang membuat Adrian berinisiatif mematikan earpiece Nara agar tidak terhubung denganku, Aku kembali kemisi bersama Nara. Gadis itu tampak serius berbicara dengan wanita yang menjabat sebagai direktur HR LC yang darang bersama Mr Arya. Aku melihat bandot satu ini juga mencoba menggoda Nara. Tapi aku yakin Nara tidak akan tertarik padanya. Nara bukan gadis gila peran dan uang yang bisa ditipu oleh pria mesum sepertinya. Selama mereka berbicara beberapa kali orang menghampiri mereka untuk sekedar menyapa. Kulihat Nara pun dapat mengatasi keadaan. Dia beramah tamah dengan tamu undangan yang hadir. Aku rasa keadaan Nara sudah jauh lebih baik sekarang. Meskipun tidak sepenuhnya baik. Paling tidak Nara sudah bisa mengatasi dirinya sendiri dengan baik dan kembali memasang topeng artis ramahnya. Adrian pun secara perlahan membiarkan Nara untuk bersosialisasi, hanya pada saat-saat benar benar genting, Adrian baru akan turun tangan. Dia juga menjaga jarak dengan Nara.
Beberapa tamu yang tadi sempat menyapa Nara dan didiamkan olehnya, kembali disapa. Nara meminta maaf karena tadi sedang kehilangan fokus. Dia beralasan tadi ada sedikit masalah dengan orang terdekatnya yang terkena serangan jantung hingga dia sedikit khawatir. Pembicaraan mereka ternyata cukup lancar. Ada beberapa pekerjaan yang ditawarkan kepada Nara. Namun dengan cantiknya, Nara mengatakan bahwa malam ini dia tidak ingin bicara bisnis. Tapi nanti managejr Nara yang akan menghubungi mereka.
Setelah beberapa saat, Nara menghentikan aksinya dan konsentrasi mendengar paparan Pradipta. Dia mengernyitkan dahinya. Nara tampak berpikir sambil memperhatikan presentasinya. Sebuah ide brilian dengan jangkauan teknologi masa depan yang cukup jauh. Sebuah lompatan bisnis teknologi dan penyiaran yang sangat jauh kedepan. Dan Nara merasa sangat familiar. Bagaimana tidak, program ini adalah project yang Nara kembangkan dari skripsi sampai tesis dan kemudian dia olah untuk disampaikan pada Pradipta. Hal itu dia lakukan sebagai bentuk pengabdian dan dukungan bagi karya suami.
Aku sudah tahu hal ini beberapa waktu yang lalu, saat mendalami kehidupan Pradipta. Aku tahu bahwa karya yang dia buat bukan milik dia sendiri. Aku tahu ada seseorang dibelakang dia yang memiliki ide brilian untuk dikembangkan. Bisa dikatakan bahwa Pradipta hanyalah seorang salesman yang beruntung memiliki produk yang luar biasa. Ditambah dengan nama besar dan uang LC yang ingin menjadikan Pradipta sebagai wayang. Setelah dekat dengan Nara, aku jadi memngerti siapa orang penting dibelakang keberhasilan laki-laki bajingan itu.
“Bapak Pradipta memang luar biasa visioner di bidang komunikasi dan penyiaran. Ide-idenya kita kenal sejak lama selalu spektakuler dan penuh kejutan. Bagaimana Bapak bisa mendapatkan ide seperti ini?” suara Juli yang memuji dan memancing Pradipta untuk lebih terlihat hebat. Juli tidak tahu kalau pertanyaannya itu bisa menjadi jebakan yang berbahaya saat ini.
“Terimakasih sayang, Dipuji oleh wanita hebat dan cantik seperti dia, ternyata mampu membuat saya gugup,” jawab
Pradipta diatas panggung yang disahuti dengan suara tawa para undangan. Yeah, aku tahu kamu memang gugup menjawab pertanyaan ini, karena ini bukan idemu, batinku yang ingin kuteriakkan dimuka Pradipta.
“Saya mengerjakan ini sejak lama. Awalnya ini adalah project untuk skripsi saya, meskipun pada akhirnya tidak saya lanjutkan dan saya memilih untuk membuat skripsi tentang komunikasi corporate. Namun kemudia saya melanjutkan project ini. Tidak mudah memang. Apalagi saya harus banyak bekerja di berbagai project dan juga menyelesaikan kuliah. Saya beruntung kenal dengan Mr. Franco , bos saya di LC. Selamat malam Mr Franco,” kata Pradipta yang memberikan salam salut pada pemilik LC yang baru saja tiba. Franco hanya tertawa sambil mengangkat gelasnya.
“Seperti saya katakan tadi, saya beruntung kenal dengan Mr. Franco dan bekerja di LC, sehingga saya berhasil mengembangkan konsep ini. Tidak mudah dan cukup melelahkan menyelesaikan, bisa dikatakan menghabiskan banyak dana, waktu dan keringat. Tapi semua tidak sia-sia dan hasilnya dengan bangga saya persembahkan kepada Anda semua,” kata Pradipta. Seorang wanita yang tampaknya dari sebuah televisi memberikan selembar kertas kepada Juli. Wanita itu segera mendekati Pradipta dan memberikannya.
“Wah terimakasih sekali atas perhatiannya. Wanita secantik Anda, bisa memberikan pertanyaan cerdas dan membuktikan bahwa Anda sudah melakukan riset sebelum bertanya. Sayang sumber Anda salah mbak,” kata
Pradipta. Wanita yang tadi memberikan kertas langsung bertanya kembali, “Lalu yang benar seperti apa?”
“Oke sebenarnya sesi tanya jawab tidak diadakan. Namun karena takut semua penasaran, saya hanya menjawab satu ini ya,” kata Pradipta sambil menarik nafas. Dia melirik pada Juli yang memberikan gelengan kepala.
“Hadirin sekalian, Mbak Ester, betul ya mbak namanya mbak Ester?” tanya Pradipta yang dijawab dengan anggukan.
__ADS_1
“Mbak Ester tadi menanyakan pada saya bahwa ide dan gagasan project ini adalah milik orang lain yang saya ambil begitu saja. Atau dengan kata lain, sumber Mbak Ester mengatakan bahwa saya mengakui pekerjaan orang lain dan menjadikan sebagai project saya,” kata Pradipta sambil tersenyum.
“Saya patah hati Mbak, sedihnya saya,” kata Pradipta memasang muka sedih dan memegang dadanya.
“Oke, seperti saya katakan tadi, project ini saya kerjakan sejak saya masih kuliah. Sudah lama sekali. Saya ada coretan awal dari project ini jika ingin dibuktikan. Ada didalam laptop saya ini, yang metadatanya bisa dibuktikan. Saya mengerjakan project ini dengan sungguh-sungguh dan banyak pengorbanan. Tetapi jika ada yang bisa membuktikan bahwa project ini adalah miliknya, saat ini juga saya akan menyerahkan jabatan saya padanya. Tapi jika tidak bisa membuktikan maka saya bisa menuntut siapapun Anda dengan pasal pencemaran nama baik,” kata Pradipta dengan serius. Aku melirik Nara. Matanya tampak membulat menatap Pradipta. Mungkin dia tidak percaya kalau Pradipta dengan mudahnya mengakui karyanya. Mungkin Pradipta merasa aman melakukan apa
yang baru saja dia lakukan karena menganggap Nada sudah meninggal. Tidak ada yang bisa mengklaim pekerjaan ini kan. Dan yang tahu bahwa pekerjaan itu milik Nada, hanya mereka berdua.
Tepuk tangan bergemuruh menyambut jawaban Pradipta. Setelah itu Aku tidak lagi mendengar apa yang dikatakan Pradipta dan Juli. Semua hanya kata-kata tidak penting seperti ocehan seorang tukang obat di pasar. Aku kembali memperhatikan Nara. Dia sedang menunduk. Mukanya memerah dan tangannya mengepal. Apakah dia baik-baik
saja? Aku segera memberikan kode pada Adrian untuk berjaga-jaga.
“Nara,” kataku lembut saat kulihat Nara sudah sendiri disudut minuman. Adrian sudah kembali menyalakan earpiece Nara. Mendengar suaraku, gadis itu mendongak mencari posisiku. Adrian tampak menunjukkan
lokasiku. Nara memandangku sambil tersenyum. Manis sekali, meski masih terlihat kilatan kecewa dan marah disana.
“M? kamu baik-baik saja?” kata Nara masih khawatir. “Aku baik baik saja. Tadi aku diam dan meninggalkanmu sebentar, karena ada yang harus aku kerjakan,” kataku menjelaskan kenapa aku menghilang dari sekitarnya dan tidak bericara.
“Hei, kenapa kamu terdengar sangat mengkhawatirkanku? “ tanyaku mencoba menggodanya agar Nara tidak terlalu tegang.
“Ya, aku kan tahu kamu begitu mencintai Juli. Pasti sangat menyakitkan mendengar orang yang kamu cintai melakukan hal itu dengan mudahnya bersama laki-laki lain,” kata Nara
“Begitukah? Jadi kamu kenapa-kenaoa saat mendengar apa yang dilakukan Pradipta?” tanyaku memastikan.
“Kok jadi aku sih M? Kita kan sedang membahas tentang kamu,” kata Nara protes. Sepertinya dia sedang mengalihkan pembicaraan kami dan tidak nyaman saat masalahnya di sentuh. Sangat wajar memang. Namun membuat Nara menyimpannya juga tidak menjadi pilihanku.
“Nara, tidak apa-apa jika kamu terganggu dengan apa yang dilakukan Pradipta. Sangat wajar karena kamu istrinya. Tetapi bukan berarti juga aku akan terganggu saat ada diposisimu. Aku dan Juli jelas berbeda dengan kamu dan Pradipta. Bagaimanapun kalian sudah menikah. Sedangkan aku dan Juli dibesarkan sebagai kakak-adik. Sebagai kekasih, Juli sudah lama melakukan hal seperti ini. Aku sudah terbiasa, meskipun biasanya tidak sampai sejauh ini,”
__ADS_1
aku mencoba menerangkan rasaku pada Nara. Ya, sebenarnya aku sediri bingung mengapa aku tidak marah, cemburu dan sakit hati mendengar Juli melakukannya dengan laki-laki lain. Kurasa saat ini aku hanya marah karena gagal melindungi Juli. Aku gagal menjadi kakak yang baik. Tapi benarkah? Bukankah Juli kekasihku. Pasti aku salah menterjemahkan perasaanku. Ah, sudahlah. Bukan waktunya bagiku untuk melankolis dan mempermasalahkan hati. Saat ini aku harus menjadi anak Papa Shasa yang mengutamakan pekerjaan. Banyak yang aku pertaruhkan disini. Tugas dari Papa Shasa dan ayah, pekerjaan selama puluhan tahun untuk
membalas semua yang harus dibalas. Aku mendengar tarikan nafas berat Nara.
“Nara, sekali lagi aku ingin bertanya. Apakah kamu masih ingin melanjutkan usahamu mendekati Pradipta hari ini atau kita lakukan lagi nanti. Lain kali?” tanyaku.
“Ada lain kali ya M? Bukannya pernikahan mereka kurang dari tiga bulan lagi? “ kata Nara.
“Oke, trus maunya kamu bagaimana?” aku harus menanyakan ini. Bagaimanapun, Nara yang harus menghadapi Pradipta. Dan kini keadaannya juga tidak baik-baik saja menurutku.Apalagi saat ini Pradipta sedang konsentrasi pada peluncuran projectnya. Sedangkan Juli bisa dipastikan akan ada disamping Pradipta. Bisa dipastikan kemungkinan Nara untuk menggaet Pradipta pun sangat kecil.
“Aku ingin hari ini paling tidak bisa
berkenalan dengan Pradipta dan bertukar nomor telpon. Akan sulit menjalankan
rencara kita kalau aku dan dia tidak saling berkenalan dan bertukar telpon.
Bisa saja aku dapat nomor telpon dari orang lain, namun itu tidak akan membuat
Pradipta terkesan. Kamu tahu kan berapa banyak wanita yang mengejar dia dan
merelakan tubuhnya hanya untuk bisa dekat dengan Pradipta,” kata Nara.
“Lalu?” tanyaku.
“Aku harus bisa membuat Pradipta terkesan dan ingin mengenalku. Penasaran padaku. Bukan sebaliknya,” kata Nara dengan yakin.
“Okay, agree. Tapi bagaimana caranya? Kamu baru berdekatan dan disentuh sedikit saja sudah langsung berubah jadi patung. Atau jangan jangan Pradipta keturunan Medusa ya?’ tanyaku.
__ADS_1
“Hahaha, ada-ada saja kamu M. Maaf ya, tadi aku benar-benar tidak siap mental. Tapi janjji tidak akan terjadi lagi,” kata Nara dengan yakin. Masalahnya adalah aku yang tidak yakin Nara memiliki kesempatan untuk mendekati
Pradipta. Sepertinya harus ada manuver lain yang bisa membuat Pradipta menyadari kehadiran Nara. Tapi apa?