Nada Nara

Nada Nara
BAB 45 . Dendam Mahardika Cinta Nara (bagian 3)


__ADS_3

“Jadi seteleh itu kalian pacaran? Kamu mengumumkan pada semua orang kalau kamu mencintai adik kamu sendiri?” kata Nara sembil menyeruput tehnya. Anganku kembali mengingat awal mula hubungannku dengan Juli, saat Juli meminta pertolonganku dari gangguan tiga perosuh sekolah yang mengancam kami dengan pistolnya, Namun aku tidak pernah takut dan berhasil mengatasi keadaan, mengusir mereka, membuat mereka lari tunggang langgamg.Hari itupun diakhiri dengan manis, aku dan Juli menjadi sepasaang kekasih


“Ya, sejak kejadian itu kami memang pacaran. Tapi aku tidak bisa mengumumkan hubungan kami pada siapapun. Juli tidak menginginkan ada yang tahu tentang hubungan kami,” kataku.


“Lah kenapa?” tanya Nara heran. Aku sendiri langsung berpikir, iya ya, kenapa?


“Entah aku hanya mengikuti maunya Juli tanpa bertanya seperti biasa,” jawabku.


“Kalian aneh. Kalau memang saling cinta, kenapa tidak diumumkan saja. Toh kalian pasangan yang ideal. Tidak seperti aku dengan Pradipta. Dia terlalu sempurna untuk menjadi pendampingku yang seperti gajah bengkak,” kata Nara. Dia termenung sejenak. Mungkin sedang mengenang bagaimana dia dan suami dulu.


“Bukannya kamu dan Pradipta juga sama?” tanyaku memancing Nara.


“Nggak juga. Kan aku tidak pernah menyembunyikan statusku sebagai istri. Kalau ada yang bertanya, ya aku bilang kok kalau aku sudah menikah dengan Pradipta. Sayangnya, tidak ada yang pernah bertanya,” kata Nara. “Bahkan Juli juga tahu aku istri Pradipta.”


“Iya, tapi kenapa Pradipta dijuluki most wanted Single?” tanyaku, mencoba menyadarkan Nara betapa bajingannya laki-laki yang dipuja sebagai suami.

__ADS_1


“Emang iya?” tanyanya. Lah? Dia tidak tahu apa pura-pura tidak tahu? Sebagai seorang ahli komunikasi yang cemerlang, pasti Nara tidak asing dengan dunia maya kan?


“Iya, aku memang menggunakan internet sekedar untuk belajar dan kepentingan komunikasi. Aku tidak punya media sosial karena suami dan ibu mertuakuku melarang,” kata Nara seolah-olah tahu pemikiranku.


“Trus medsosmu yang sekarang?” tanyaku.


“Itu bisa-bisanya Sandra saja. Tapi ya sudah hanya itu. Aku tidak punya waktu untuk bermain sosmed. Pekerjaan rumah dan tugas dari Pradipta membuatku cukup sibuk setiap harinya. Tidak ada waktu buat bermain sosial media,” kata Nara. Wow, meski aku sudah tahu bagaimana Pradipta dan keluarganya memperbudak Nada, namun hal itu masih terus membuatku takjub.  Dan wanita ini begitu tulus dan polos mengerjakan semua tanpa mengeluh dan keberatan sedikitpun. Hatinya begitu murni dan luar biasa. Berbeda sekali dengan Juli.


“Lalu bagaimana dengan Agusta?”  tanya Nara. Sepertinya Dia masih tidak nyaman membicarakan masa lalunya.


“Tidak ada yang tahu, Agusta sekalipun. Hanya aku dan Juli yang tahu. Bahkan kata Juli, agar Agusta dan sahabat-sahabatnya tidak curiga, Juli memintaku untuk mencari pacar lain dan dia akan berpacaran dengan laki-laki lain yang bisa memenuhi kebutuhannya akan barang-barang mahal. Kami bersama sampai kuliah,” kataku mengenang kebersamaanku dengan Juli yang tidak pernah diketahui siapapun.


“Tidak. Aku tidak bisa begitu Nara. Aku tidak pernah punya pacar selain Juli. Bahkan sampai sekarang. Bagiku, mempermainkan perempuan adalah kejahatan terbesar. Bunda selalu bilang, laki-laki yang baik adalah laki-laki yang selalu menjaga, menyayangi dan menghormati wanitanya. Aku selalu ingat pesan Bunda itu Nara. Aku sudah punya Juli, dan aku akan menjaga hatiku hanya untuk dia. Aku akan menjaganya bahkan dengan taruhan nyawaku sekalipun, seperti pesan Bunda, “ kataku sambil mengambil sebuah apel dari meja. Saat itu aku menyadari Nara sedang menatapku dan tersenyum. Tatapan yang tiba-tiba menimbulkan rasa aneh yang menyenangkan. Sebuah rasa yang tidak pernah aku miliki seumur hidupku. Detak jantungku tiba-tiba meningkat. Aku kenapa? Jangan-jangan karena minum kopi. Tapi aku kan setiap pagi minum kopi. Jangan-jangan aku terkena serangan jantung. Tapi diagnosanya bukan begini. Jadi aku kenapa?


“Kamu keren,” kata Nara menatapku dengan matanya yang penuh bintang. Mata itu sangat indah, mata asli milik Nada Nara, yang tidak akan pernah bisa diubah oleh dokter estetika terbaik seluruh dunia sekalipun. Yah, mata Nara memang sangat indah. Banyak bintang yang menenangkan disana. Bahkan saat dia sedang kesakitan, matanya tetap bisa membuatku tenang.

__ADS_1


“Seharusnya laki-laki memang seperti itu Nara. Itulah mengapa aku memanggil Pradipta bajingan. Kamu terlalu baik untuknya,” kataku.


“Lalu, Juli bagaimana?” tanya Nara kembali mengingatkan pembicaraan kami.


“Ya seperti aku bilang tadi. Selama aku pacaran, dia juga berpacaran dengan banyak cowok kaya yang selalu memanjakannya dengan hadiah,” kataku. Sebenarnya aku bisa saja membelikan semua yang dimau oleh Juli. Namun ada Papa Shasa yang selalu melarangku memanjakan Juli dengan harta. Bahkan Papa Shasa sangat tidak suka dengan sikap Juli yang berganti-ganti pacar demi mengejar hartanya.  Itu kata Papa Shasa yang selalu aku bantah.


“Trus kamu pacarannya?” tanya Nara. Aku tersenyum melihat wajahnya yang menatapku penasaran. Bibirnya yang indah tampak mengerucut seperti magnet untuk dicium. Eh, maksudku, semua laki-laki pasti ingin mencium  jika melihat muka Nara saat ini. Tapi bukan berarti aku akan mencium Nara. Tidak. Aku hanya mencintai Juli, bukan Nara. Jadi aku tidak ingin mencium Nara kan?


“Aku dan Juli pacaran di rumah. Kan kami masih tinggal serumah. Kadang Juli memintaku menemaninya jika cowok-cowoknya sibuk. Jika ada yang mengganggunya, aku masih selalu melindunginya. Pacar-pacarnya hanya tahu aku adalah kakak angkat Juli. Jadi ya kami bisa bertemu dengan bebas tanpa perlu kencan,” kataku dengan tenang. Ya, meski aku juga tahu ini aneh, Tapi aku memang harus melepaskan Juli saat itu. Juli tidak ingin dikekang dan tidak mau dilihat aneh karena pacaran dengan kakakknya sendiri. Dan lagi saat itu aku benar-benar sibuk dengan banyak tugas yang diberikan Papa Shasa. Mulai dari urusan perusahaan, urusan organisasi sampai latihan beladiri dan senjata. Itu belum urusan kuliah dan tugas yang tidak ada habisnya. Jadi pacaran bagiku adalah prioritas kesekian. Itu kenapa aku tidak keberatan Juli jalan dengan cowok lain. “Toh aku memang tidak punya banyak waktu untuknya. Dia butuh cowok yang menjaga dan mengantarnya kemana-mana dan membelikan apa yang dia inginkan,” kataku yang disambut gelengan kepala Nara.


“Itu cowok apa sopir merangkap ATM?” tanya Nara.


“Haish, kayak kamu nggak gitu ke Pradipta,” kataku sambil nyengir menang. Nara menunduk mendengar kata-kataku. Dia tampak berpikir keras dan menutup matanya sejenak. Setelah beberapa saat Nara menarik nafas panjang dan menghembuskan pelan. Hal itu dia lakukan berulang kal;i. Aku hanya memandangya tanpa mengatakan apa-apa. Aku tahu, dia teringat pada Pradipta dan keluarganya, serta apa yang terjadi padanya dulu. Mungkin kata-kataku memang jahat. Tapi dia harus tahu dan sadar.


“Dan Agusta tetap tidak tahu kalian pacaran??” tanya Nara yang kujawab dengan anggukan.

__ADS_1


“Sejak awal, Juli memang selalu manja padaku. Jika ada yang menggoda, dia selalu berlindung dibelakangku. Dia selalu bilang kalau mereka tidak boleh mengganggunya, karena dia milikku. Namun saat kami bersama, Juli selalu mengatakan bahwa tidak boleh ada yang tahu hubungan kami dan dia tidak mau dikekang. Dia merasa masih terlalu muda untuk hanya terpaku padaku. Dia bilang dia masih ingin menikmati masa mudanya tapi membutuhkanku,” kataku mengenang masa kecilku bersama gadis manisku. Gadis kecil yang selalu membutuhkanku. Membuat aku selalu merasa berharga dan dibuutuhkan.


“Apalagi aku sering meninggalkannya, karena aku harus kuliah sambil bekerja Itu kenapa aku membiarkan Juli berpacaran dengan orang lain. Apapun yang terjadi, selama ini, Juli selalu kembali kedalam pelukanku dia selalu kembali padaku. Petualangannya hanya aku anggap sebagai petualangan remaja yang mencari jati diri dan kesepian akibat kesibukanku.  Aku memaafkannya. Dan kami akan kembali bersama lagi,” kataku.


__ADS_2