
Nara yang baru selesai dimakeup oleh MUA yang didatangkan Mahardika, terlihat sedikit resah. Apalagi saat ini dia sedang memegang sebuah gaun mewah yang menurut mbak Sri, MUA nya, harganya jutaan. Lalu Nara ingat dengan percakapannya semalam.
“Ini sudah milyaran kalau di catatanku M, itupun sudah dipotong dengan aset dan perhiasan yang aku bawa kemarin. Sabar ya M, begitu urusan ini selesai aku akan fokus membayar hutangku. Aku akan bekerja keras, lalu menyewa kamar kost saja. Semua gajiku 80% aku berikan padamu. Aku tahu, pasti sekarang tabunganmu sudah habis karenaku. Maaf,” kata Nara.
“Nah itu tahu kalau kamu tidak bisa membayarku. Tapi kamu membuatku punya ide. Kamu akan melihat berapa hutang kamu yang harus kamu bayar nanti. Bersiap siaplah untuk kerja padaku seumur hidupmu Nara,” kata Mahardika sambil tersenyum. Nara tahu, Mahardika tidak serius saat mengatakan dirinya akan kerja seumur hidup untuk Mahardika. Tetapi Narapun tahu kalau hutangnya memang sangat banyak. Untuk mengubah tubuhnya menjadi seperti sekarang dengan melibatkan dokter dan trainer terbaik, membutuhkan biaya yang sangat banyak. Belum lagi untuk penerbangan dan biaya hidupnya. Tidak bisa dibayangkan hutang budi dan materi Nara pada
laki-laki tampan didepannya. Namun nanti setelah Nara kembali pada Pradipta, Nara berjanji akan bekerja keras untuk mengembalikan uang itu semampunya. Dan sekara ng, Nara mau bekerja sebaik mungkin agar project ini cepet selesai. Nara ingin segera membayar hutangnya pada Mahardika.
Nara segera memakai gaun yang dibelikan Mahardika. Sangat pas dibadan Nara. Gadis cantik ini makin mempesona dengan gaun sutra satin berwarna hitam itu. Potongan sederhana yang elegan makin memunculkan aura kecerdasan yang mempesona seorang Nara. Cutting yang pas badan menampakan bentuk tubuh Nara yang sexy namun elegan. Jauh dari kata murahan atau mengoda, na mun mampu menjadi magnet bagi siapapun yang
memandang. Jangankan pria, bahkan mata wanita pun mengakui keindahan seorang Nara, malam itu.
Para MUA dan asisten Mahardika yang hadir disana sampai tidak mampu menutup mulutnya, mengagumi kecantikan dewi yang hadir didepannya. Mahardika yang masih sibuk dengan Ipadnya tampak tidak peduli dengan kedatangan Nara. Namun sudut matanya melihat reaksi aneh dari orang-orang disekitarnya. Hal ini membuat laki-laki yang malam itu tampil dengan buasana ala-ala pelayan café, kemeja putih, celana hitam, = fest hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu, mengangkat kepalanya. Matanya mengikuti arah pandang asistennya yang terbengong-bengong mengindahkan panggilannya.
Saat matanya terpaku pada sosok yang dipandang sang asisten, tenggorokan Mahardika langsung mengering. Dia segera menelan ludah seolah-olah ingin menutupi kegugupan sekaligus keringnya tenggorokan yang muncul tiba-tiba. Dadanya berdegup kencang antara terpesona, bahagia dan kesal. Terpesona, sudah pasti dong tidak jauh berbeda dengan suma yang ada disana. Bahagia dan hangat muncul dari perasaan aneh yang beberapa minggu ini
mengganggu pikiran Mahardika. Kesal, karena semua orang termasuk para laki-laki yang ada disana memandang Nara seperti hendak memakannya. Entah mengapa, dia seperti tidak rela Nara dipandang orang lain seperti itu. Mahardika merasakan dirinya mulai posesif kepada gadis ciptaannya. Sedangkan Mahardika juga tidak ingin dikatakan aneh karena cemburu pada orang-orang yang memandang Nara. Bukankah Nara hanya orang lain yang bukan mi iliknya, Apakah dia cemburu?
“M, apa aku aneh? Kenapa kalian menatapku seperti itu? “tanya Nara dengan hati hati, membuat semua tersadar dan sekaligus gugup. Secara bersamaan semua mengjawab “Nggak!” sambil sedikit berteriak.
“Kamu sangat-sangat cantik Nara. Makanya para laki-laki disini pada tersepona dan ngeces,” kata Mbak Sri sambil tertawa tergelak. Dia adalah orang pertama menyadari bagaimana para laki-laki menampakan mupeng dengan tanpa mereka sadari. Nara yang mendengar kata-kata mbak Sri langsung memerah mukanya.
“Ehem, sudah siap Nara? Ayo kita berangkat. Kamu dan Andrian aka n naik mobil BMWku sementara aku akan
menyusul dibelakangmu,” kata Mahardika.
“Kenapa kita harus datang terpisah?” tanya Nara.
“Malam ini, kamu sendiri. Adrian akan menjadi bodyguard kamu,” kata Mahardika
“Jadi kamu tidak pergi kesana? Kamu mau kemana?” kata Nara menyelidik dan kecewa. Nara berpikir,
__ADS_1
langkah pertama ini akan dilalui bersama Mahardika disampingnya. Nara berpikir akan selalu ada Mahardika yang menyelamatkannya jika nanti dia mengacau. Namun ternyata, kini dia harus sendirian menghadapi suaminya bersama pelakor, untuk pertama kalinya setelah mereka mencoba membunuhnya. Keraguan itu mulai muncul lagi.
“Kamu mau ninggalin aku sendiri ya M. Mana bisa? Kamu kan janji mau menemaniku. Kamu janji menjalani Nada’s Project ini bersama-sama. Lalu kenapa saat penting seperti ini kamu meninggalkanku?” berondong Nara dengan cepat tanpa jeda, membuat Mahardika dan se mua orang diruangan itu terbengong-bengong.
"Ehem,” Mahardika mencoba membasahi kerongkongannya. Dia merasa aneh dengan perpaduan yang ada dalam diri Nara saat ini. Cantik, sederhana, elegant dan garang dalam satu paket.
“Bukan begitu Nara. Kenapa kamu jadi merepet seperti ini sih A…”
“Apa? Benar kan kamu mau ninggalin aku sendiri menghadapi Juli dan Pradipta. Kamu tidak mau kan ketemu Juli dan terlihat jahat oleh Juli! Jadi sekarang aku yang harus menghadapi mereka sendiri?” potong Nara sebelum Mahardika bisa menyelesaikan kalimatnya. Mbak Sri mendekat pada Nara yang tampak ngos ngosan setelah mengucapkan kalimat panjang penuh emosi tadi, sambil memberikan menggelengkan kepalanya. Begitu juga para kru, dan menipis.
Nara yang mulai tenang sedikit menyadari kalau dirinya lepas kontrol Dia melihat pandangan kasihan Adrian yang ditujukan pada Mahardika. Sementara itu Mahardika tampak frustasi dengan kelakuannya. Hal ini membuat Nara menyadari kalau dia terlalu emosi hingga tidak memberikan kesempatan pada Mahardika bicara.
“Baiklah, maaf kalau aku merepet. Sekarang katakan apa rencanamu. Tapi jangan paksa aku untuk menghadapi
Pradipta dan pelakor gila itu sendiri malam ini. Jika kamu memaksaku melakkukan itu, lebih baik batalkan saja. Aku tidak siap. Kata Nara sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa.
“Ini,” kata Mahardika sambilmemberikan sebuah anting mutiara berbentuk aneh. Ujung anting
tanpa terlihat jelas.
“Apa ini?” kata Nara.
“Oke jangan bicarasebelum aku suruh bicara! Bisa?” kata Mahardika dengan tatapan tajam dan suara
yang dalam. Nara merasa terintimidasi dengan sikap Mahardika dan mengangguk.
“Kamu akan datang ke pesta sendiri. Adrian hanya menjadi bodyguard yang mengawasimu dari jauh. Jika butuh apa apa, kamu bisa memanggil dia dengan lambaian tangan atau usyarat . jangan khawatir, Adrian akan terus
mengawasi dan menjagamu dari bahaya sekecil apapun. Kalung yang kamu pakai sekarang ini adalah kamera jarak jauh yang mengirimkan rekaman gambar dan suaranya ke laptop yang ada dimobilku. Laptop itu akan dijaga orang kepercayaanku. Jadi jika sewaktu-waktu ada bahaya yang mengancammu mereka akan segera datang. Semua yang kamu lakukan dan sekitarmu akan tertangkap oleh kamera dan terekam. Jika terjadi apa-apa, rekaman itu secara otomatis akan tersimpan dibeberapa tempat,” terang Mahardika. Nara mengerjap lucu saat
mendengar apa yang dikatakan Mahardika. Bibir cantiknya tampak bergerak gerak Menggemaskan.
__ADS_1
“Arghh! Nara.Jangan bersikap seperti ityu!” kata Mahardika tanpa sadar.
“Eh, apa? Aku melakukan apa? Kan kamu bilang aku harus diam mendengarkanmu. Aku diam. kumendengarkanmu,” kata Nara sambil memandang Mahardika dengan muka polosnya yang membuat Mahardika makin tidak konsentrasi dan merasa sebel sendiri. Andrian dan Mbak Sri yang menyadari apa yang terjadi pada Mahardika terkikik geli.
“ Apa kalian tertawa? Apa yang lucu? Kalian mentertawakanku?” degus Mahardika kesal pada dua orangnya itu. Keduanya langsung menutup mulut bersamaan dan memilih menjauh kepinggir ruangan.
“Huft! Oke lanjut! Anting yang aku berikan itu adalah earphone canggih yang akan dihubungkan dengan earphone ku. Aku ada disana Nara. Tapi aku tidak mungkin muncul sebagai Managermu dan mendampingimu. Juli akan tahu kalau itu aku. Mungkin dia akan heran dan menanyakan tentang hubunganku denganmu pada Agusta. Jika itu terjadi, maka semua akan terbongkar dan sia-sia. Aku belum ingin hal itu terjadi. Aku masih harus bicara dengan Juli tentang kamu sehingga Juli tidak curiga,” kata Mahardika serius. Nara mendengarkan kata-kata Mahardika dengar serius. Dia mulai mengerti arah dari rancana lagi-lagi yang selalu membuat Nara kagum akan kecerdasan dan ketajamananalisanya itu.
“Nanti aku akan menyamar menjadi pelayan katering dalam pesta. Mbak Sri setelah ini akan sedikit akan tetar
mengubah wajahku hingga berbeda. Aku akan membantumu dari dekat. Aku akan berusaha tidak berada jauh darimu. Kita bisa berbicara melalui earphone ini, jadi kamu mengerti Nara?” kata Mahardika.Nara yang merasa bersalah karena sikapnya tadi, hanya bisa menunduk sambil mengangguk.
“M, nanti kalau aku gugup dan tidak bisa bicara dihadapan suamiku, bagaimana?” tanya Nara Ragu.
“Kamu masih ragu, Nara?” tanya Mahardika.
“Iya M. Aku benar-benar ragu dengan reaksiku nanti,” Kata Nara.
“Jadi kamu mau membatalkannya saja?” tanya Mahardika.
“Ah, tidak… tidak… tidak…” tolak Nara dengarn segera. Bagaimanapun juga Dia tidak mau pengorbanan dan penderitaannya sia-sia.
“lho terus bagaimana? Kan kamu yang ragu,” kata Mahardika sambil memincingkan matanya. Mahardika sedikit lelah menghadapi keraguan Nara. Namun laki-laki itu juga tahu, sudah sangat terlambat untuk mundur sekarang. Bagaimanapun caranya, dia harus bisa membuat wanita itu berhenti meragu, apalagi ingin berhenti. Namun dia juga tahu kelemahan dan ketidak percayaan Nara yang sangat besar akibat terus menerus dibuli. Meski mereka terlihat baik-baik saja dan terus mengatakan bahwa tidak apa-apa, namun hati dan jiwa mereka terluka. Tidak mudah baginya maupun Nara untuk bisa mengubah ini semua.
“Bukan begitu M. Aku hanya ragu. Bukan ingin berhenti. Aku membutuhkan kamu untuk selalu ada disisiku, memberiku kekuatan,” kata Nara. Meskipun konteksnya berbeda, namun kata-kata Nara membuat dada Mahardika menghangat. Ada sebuah perasaan yang muncul dengan membawa wangi bunga yang tak nyata. Mahardika merasa sangat senang. Karena kata-kata yang mengalir dari bibir cantik ituMahardika merasa sangat jantan
sebagai laki-laki.Mahardika menghembuskan nafasnya dengan kuat, menghalau semua rasa yang tidak seharusnya ada.
“Aku akan selalu ada. Jika kamu merasa gugup, anggap saja aku ada disampingmu dan menggandengmu,”kata
Mahardika sambil memanggil mbak Sri untuk bersiap melakukan tugasnya mempermak wajah Mahardika
__ADS_1
“Nara, aku rasa sudah waktunya bersiap-siap. Aku tak kan lama karena mbak Sri sudah biasa melakukan ini. Adrian sudah menyiapkan mobil di depan. Jika kamu sudah siap, kamu bisa berangkat duluan. Ingat jangan jauh jauh dari Adrian. Kau tidak akan lama kok,” kata Mahardika sambil duduk didepan M bak Sri. Dengan sgiapo dia segera mengaplikasikan alas bedak, bedak dan segala macamny. Nara memutuskan untuk menunggu Mahardika dan berangkat bersama meskipun beda mobil