
“Aku takut Janu. Aku takut mereka mengira aku menyalahi perjanjian dengan sengaja bertemu. Aku takut dia akan mencelakai anakku. Aku takut Dia akan mengambil anak ini,” kata Maria, sambal memeluk posesif perutnya sendiri, seolah tak mengijinkan seorangpun mengganggu perutnya, atau lebih tepatnya janin didalam perutnya. Dia menyadari pertemuan tanpa disengaja tadi bisa menimbulkan masalah besar.
Kurengkuh Wanita didepanku ini kedalam pelukanku. Badannya gemetar menjadi penanda betapa Dia sangat ketakutan. Saat Maria merintih meminta maaf pada ibu membuatku tersadar ada hati perempuan yang harus dijaga. Sekilas aku teringat pada Ibu dan menengok kearah tempat tidur. Aku langsung melotot melihat keadaan Ibu yang tersengal sengal sambil memegangi dadanya. Ibu kolaps dan harus mendapatkan perawatan intensif. Maria kembali histeris dan merasa bersalah, membuat suster meminta ku untuk membawanya keluar. Aku harus menariknya keluar dengan susah payah. Aku tahu, Maria pasti Kembali merasa seperti kemarin, menjadi penyebab sakitnya Ibu. Di depan kamar, Aku memeluk wanita yang telah sah menjadi istriku. Maria memeluk pinggangku erat dan menenggelamkan mukanya didadaku.
“Ehem, oh rupanya jalang kita sudah ada yang menampung. Aku dengar kalian menikah inses ya,” sebuah suara laki-laki mampu membuatku menengok dan hampir melayangkan tinju jika tidak ada Maria yang gemetar parah dalam pelukanku. Suara Gerald.
“ANJING. PERGI KAU!” kataku dengan penuh emosi. Maria memegang pinggangku erat dan makin menyembunyikan mukanya didadaku.
“Ha… ha… ha… tidak perlu emosi man. Kami hanya ingin memastikan bahwa perempuan ini harus menepati
perjanjian dengan tidak pernah muncul dan mengatakan apapun tentang kami. Oh ya, kami tahu tentang bayi kalian. Segera gugurkan dan jangan pernah membawa dan menghubungkan nama kami dengan bayi itu. Jika kalian terlalu miskin untuk bisa membayar biaya menggugurkannya, ini cek rasanya cukup,” kata Jerry sambil mengulurkan selembar cek. Kulihat nominal Rp. 50.000.000,- disana. Kepalaku sudah sangat panas. Dadaku terasa sesak menahan marah. Sementara Maria seperti sudah tidak punya daya, bergantung dalam pelukanku sambal terisak menangis pelan. Istriku ini terlalu ketakutan untuk bisa bergerak dan bersuara. Apalagi menerima cek itu. Karena kami tidak menjawab atau menerima cek yang diulurkan Jerry, Gerald menyambar cek tersebut dan melempar kemukaku.
“Ambil, babi. Tidak usah sok-sok an menolak. Miskin saja belagu,” katanya. Aku mencoba menarik nafas Panjang. Pikiranku berjalan cepat. Saat ini prioritasku ada di Maria yang sangat bergantung padaku dan ibu yang sedang kritis dalam penanganan dokter. Jadi meladeni dua cecunguk ini adalah hal terakir dalam skala prioritasku saat ini. Baiklah, kalian bebas kali ini. Tapi setelah semua ini tenang, jangan harap kalian bisa bernafas tenang, batinku.
__ADS_1
“Kami tidak butuh kalian. Anak ini anakku, dia adalah istriku. Kalian tidak berhak memerintah apapun pada keluargaku. Bicara tentang munculnya Maria, bukan salah dia. Kalian yang muncul didepan kalian. Kami sudah tinggak di rumah sakit ini berbulan-bulan, dan dikantin tadi, Maria yang lebih dulu tiba. Kalian yang mendatangi kami di sini. Kalian tidak bisa mengatakan kalau Maria menyalahi perjanjian, aku bisa membuktikannya dengan mudah melalui CCTV rumah sakit. Oh iya, satu lagi, kalau kalian mengancam Maria dengan video rekaman yang kalian potong-potong, jangan menyesal jika tuduhan itu akan berbalik pada kalian. Saya sudah mempunyai video aslinya. Disana sangat jelas terlihat, kalau kalian yang memberi obat dan memperkosa Maria. Kami malu dan hancur? Kalian akan lebih hancur. Mudah buat saya melakukannya. Apalagi saya juga memiliki video kalian berdua yang menghancurkan banyak gadis lainnya. Oh iya, salam buat Ibu kalian yang suka cek in bersama brondong brondong dan ayah kalian yang saling memuaskan. Ayah kalian berdua memang pasangan serasi. Apalagi kalau urusan isap mengisap ya. Videonya luar biasa hot dan pasti akan sangat laku jika dijual dikalangan Gay. Jangan
jangan kalian berdua juga begitu,” kataku sambal tersenyum.
“Eh jangan macam-macam kamu, Anjing!” kata Gerald dengan marah. Sedagkan Jerry yang aku tahu memang
seorang pengecut, tampak membelalakan mata tak percaya.
“Aku bunuh kamu kalua macam-macam.” katanya sambil mengeluarkan pisau yang diarahkan kepada kami berdua. Takut? Tidak! Aku melihat situasi saat ini masih terkendali. Dua orang yang ditugaskan menjagaku, sudah siaga di belakang dua cecunguk ini tanpa mereka sadari. Aku tertawa keras. Sangat mudah melenyapkan
“Ha… ha… ha…, tenang Gerald. Kalau sampai kamu menyerangku, maka video-video itu akan langsung dirilis.
Semua CCTV disini juga sedang merekam live kalian deserver kami. Jadi saya sarankan untuk tidak bertindak yang merugikan kalian sendiri. Lebih baik pergilah. Kami sedang ada urusan yang lebih penting dari pada berurusan dengan kalian. Oh ya satu lagi, kalua saya mau, dua laki-laki dibelakang kalian bisa langsung membunuh kalian saat ini juga. Usir mereka dari sini,” kataku berusaha setenang mungkin. Jerry yang langsung menengok kebelakang berteriak kaget saat seorang laki-laki tinggi besar sudah menempel dibelakangnya. Wajahnya pucat
__ADS_1
pasi dan lututnya gemetar parah. Sementara Gerald jauh lebih stabil meskipun sempat ketakutan saat laki-laki yang sudah menempel dibelakangnya merebut pisau ditangannya dan memelintir tangannya kebelakang. Keduanya siap diseret keluar saat kau berteriak.
“Tunggu, ambil itu cek kalian. 50 juta hanya cukup buat makan kedua sahabatku yang akan mengusir kalian. Kalau aku mau, aku bisa mengambil sendiri dari keluarga kalian nantinya. Tenang saja,” kataku sambal mendudukan Maria disebuah bangku. Aku mengambil cek yang tergeletak di tanah, lalu menyelipkannya di dalam ****** ***** Jerry.
“Ah, kecil ternyata. Ini sih Cuma bisa buat gelitikun doang. Pantas saja nggak bisa dapat gadis untuk melayani tanpa paksaan. Mana ada yang mau kalau cuma digelitikin,” kataku sambal meremas sekeras mungkin membuat Jerry berteriak kencang. Setelah itu aku mendekati Gerald yang sudah dikunci oleh bodyguardku. Kutepu keras area kebanggaannya lalu meremasnya kuat kuat membuat laki-laki itu megap megap kesakitan.
“Ini jagoan kebanggaanmu? Haishh, segini doang? Ok, jadi pingin tahu kemampuanmu nanti. Tunggu kedatangan kami ya boy,” kataku sambal menaik turunkan kedua alisku. Aku segera menyuruh mereka membawa dua bajingani yang masih meraung kesakitan akibat ulahku di kebanggaan mereka. Kuhampiri Maria yang masih terdiam sambal menatap kosong ke depan. Aku mengeluarkan tisu basah dan handsanitizer untuk membersihkan tanganku karena menyentuh dia laki-laki menyedihkan tadi.
Kupeluk Maria sambal kuberbisik, “Jangan pernah takut pada mereka. Mulai sekarang kamu tidak pernah akan bisa
mereka sentuh dan sakiti. Tegakkan kepalamu dan jangan terlihat lemah. Aku selalu ada disampingmu, ingat itu. Lebih baik kita konsentrassi pada Ibu dan kedua anak kita.” Maria mengerjapkan matanya lalu memandangku dengan sedih. Dia kembali merenung dan menatapku, berulang kali, sampai akhirnya dia mengeluarkan suaranya.
“Janji ya Jan, kamu akan selalu ada dan disampingku,” kata Maria, yang kujawab dengan anggukan.
__ADS_1
“Aku berjanji untuk selalu ada disamping kalian berempat,” kataku meyakinkan sambal menariknya dalam rengkuhanku. Kucium pusuk kepala istriku dengan sayang.
***