Nada Nara

Nada Nara
Bab 21. Dia Wanita Hebat (Bagian 3)


__ADS_3

Seperti kataku sebelumnya, membuat pencitraan dan menjadikan Nara dengan fisiknya yang sekarang, menjadi super model tidaklah sulit. Kecantikan, keseksian, otak cerdas, attitude yang baik, dan mudah membuat orang jatuh cinta padanya adalah kehebatan wanita ciptaanku ini. Dengan cepat dan tanpa hambatan, nama Nara melesat didunia model dan hiburan. Gadis ini pekerja keras dan tidak mudah lelah. Pekerjaan apapun yang diberikan, dilalap habis dan diselesaikan dengan baik tanpa banyak kesulitan. Mungkin awalnya agak canggung, namun dia sangat mudah diarahkan dan mau kerjasama. Semua orang yang pernah terlibat dengannya pasti menyukainya. Semua acara yang dibawakannya, FTV yang dibintanginya sampai podcast yang dibuatnya langsung booming dan dibicarakan banyak orang.


Aku juga masih terus melancarkan image PR program dan framing media sosial untuk Nara. Hal ini membuat Nara menjadi buah bibir netizen Indonesia. Hasilnya, aku dan manajemen mulai kebanjiran telpon dan pertanyaan dari netizen. Lebih hebatnya lagi, beberapa perusahaan yang menginginkan Nara menjadi model produk mereka mulai menghubungi kamu. Termasuk perusahaan yang menjadi klien LC. Tentu aku sudah  melakukan survey perusahaan apa saja yang berada dibawah LC, dan akan menjadi prioritas. Sepanjang itu mengharuskan aku dan Nara pergi ke gedung LC dan dibawah naungan LC, tak peduli nilai nominalnya, kita akan follow up.


Sampai suatu hari, aku dan Nara datang ke gedung megah milik keluarga Dirgantara, dimana kantor LC berada. Nara yang biasanya sederhana dan tidak suka berdandan lama-lama, pagi ini pertama kalinya membuatku menunggu.


“Nara, sudah siap?” teriakku tidak sabar. Aku sudah siap sejak tadi, tinggal mengenakan sepatu, sementara Nara belum juga keluar dari kamarnya. Ini hanya pertemuan awal dengan pihak LC. Walaupun ada kemungkinan pihak yang menggunakan model juga ada disana. Menurutku tidak perlu terlalu resmi. Aku sendiri hanya mengenakan kaos hitam polos dilapisi Kemeja lengan panjang yang kugulung sampai ke siku, dipadukan dengan jeans hitam dan sepatu kets warna hitam metalik. Karena Jakarta lumayan terik, aku memutuskan menggunakan topi baseball dengan tulisan NY. Aku sebagai manajer, tidak terlalu mengatur cara berpakaian Nara. Biasanya cukup bisa menempatkan diri, sesuai tempat dan acara. Nara tahu bahwa ini pertemuan kasual, bukan resmi. Itu kenapa aku cukup heran dengan lamanya Nara dikamar untuk berdandan.


Kudengar suara pintu terbuka. Pandanganku reflek memandang kearah asal suara dan aku terpana. Nara keluar dari kamar dengan baju selutut berbahan sifon yang pas tubuh, berwarna peach dengan bunga-bunga biru dan kuning yang manis. Dia mengenakan flatshoes di kaki putih jenjangnya yang indah. Rambut sebahu yang lurus dia ikat menjadi satu dengan jepitan mutiara. Wajahnya yang simetris sempurna dihiasi dengan make up natural, memberikan efek sederhana, manis namun mempesona. Jantungku langsung berlompatan ingin keluar dan berderap tidak menentu. Kurang ajar memang jantungku ini. Untuk apa dia harus bereaksi begini? Harusnya reaksi ini untuk gadisku bukan untuk Nara. Tetapi, akupun tidak bisa mengendalikannya. Semua perasaan dan tingkah polah sijantung diluar kendaliku, meski aku tidak ingin mengkianati cinta pertamaku.


Aku segera tersadar dengan tingkah konyolku, saat denting besi terdengar. Untungnya Nara tidak menyadari apa yang terjadi barusan.


“Aku ini kenapa? Kenapa hatiku berdebar melihat Nara? Tidak, debar ini hanya untuk gadisku. Tidak boleh untuk yang lain. Nara hanya seorang gadis yang aku ciptakan,” gumamku pelan mencoba mengendalikan diriku.

__ADS_1


“Apa M? kamu bilang apa? Maaf aku tidak mendengar,” kata Nada sambil menengok kearahku. Aish, dia mendengar gumamanku. Untung jarak kami cukup jauh sehingga Nara tidak bisa mendengar apa yang kukatakan dengan jelas.  Jika sampai dia mendengar, maka dunia akan kacau.


“Ah, tidak ada apa-apa. Ayo cepatlah nanti kita terlambat,” kataku pura-pura kesal, mencoba menutupi gugup.  Kupikir tadi aku hanya bermonolog dalam hati, ternyata lolos dari bibir.


***


Aku melihat, sejak masuk dalam gedung Dirgantara, Nara sudah gelisah. Matanya tampak selalu memperhatikan semua yang ditemui. Aku tahu, dia mengharapkan  bertemu dengan Pradipta. Aku tahu dia banyak berharap akan mendapatkan suaminya kembali, dengan kecantikan yang dimiliki sekarang ini. Aku tahu, dia berharap dapat menggoda Pradipta jika nanti bertemu, hingga laki-laki itu kembali padanya. Toh mereka belum benar-benar


bercerai. Keyakinan itu yang membuat Nara semangat.


meeting di lantai 7 sedangan ruangan CEO dan jajarannya ada di lantai 25.


“Nara, kenapa sedih? Kamu tidak senang dengan hasil kerja hari ini?” tanyaku

__ADS_1


“Senang M,” katanya datar.


“Lalu kenapa masih sedih? Sudahlah! Mari kita rayakan hari ini dengan secangkir kopi dan satu atau dua buah pastry,” ajakku. Nada langsung setuju. Kami memilih gerai kopi yang cukup terkenal di area loby gedung Dirgantara. Gerai ini terkenal diseluruh dunia. Setelah memesan kopi, kami akhirnya duduk di kursi terluar. Kursi ini tidak cukup nyaman bagiku. Kami bagaikan pembatas dari gerai ini dengan loby Orang yang lalu-lalang bisa melihat kami, dan sebaliknya, kami bisa mengamati dan mendengarkan orang-orang yang ada di loby. Kupandangi wajah perempuan didepanku. Aku tidak tega dan marah melihat dia masih mengharapkan Pradipta seperti ini.


“Sudahlah, tidak usah kecewa, Nara. Nanti pasti ada waktunya kamu akan bertemu dia. Kalaupun tidak, kita pasti akan bertemu dengannya  secara resmi.  Kita bisa bertemu dengan mereka di acara-acara resmi perusahaan. Itu kenapa kita harus endapatkan kontrak utama di LC. Jika melihat apa yang mereka katakan, peluangmu untuk naik daun sangat besar,” kataku mencoba melerai hati.


“Huft, emangnya aku ulat bulu, pakai naik daun segala,” kata Nara sambil menggelembungkan pipinya. Matanya mengerjap lucu dan pipinya bersemu merah. Ini adalah reaksi alami Nara sejak masih menjadi Nada. Pipinya selalu berubah menjadi merah jambu dan menggemaskan saat dia menggelembungkannya seperti itu. Ciri Nada yang masih ada pada Nara adalah cara minumnya. Dia selalu minum dengan rapi, memegang cangkir sengan jempol, jari tengah dan jari manis, sementara jari telunjuk dan kelingking keluar. Bayangkan posisi ngithing penari jawa, seperti itulah cara Nada dan Nara memegang gelasnya. Aku kembali terpesona. Gemas ingin mendekap gadis


didepanku ini, mencium pipinya dan---. STOP MAHARDIKA! Apa yang kamu lakukan Mahardika! Ingat, hati kamu hanya untuk gadismu. Kamu hanya terobsesi dengan karyamu. Aku kembali bermonolog dalam hati.


“What? Apa M? aku tidak jelas mendengarmu. Kenapa kamu bergumam?” kata Nara mendekatkan telinganya kearahku  Jantungku langsung melompat karena dua alasan. Pertama, karena menyadari monolog dalam hatiku


kembali nekat lolos dari bibir dan  didengar Nara, Yang kedua adalah bau aroma alami gadis ini seperti bayi yang menyegarkan masuk ke indra penciumanku, karena begitu dekatnya Nara padaku. Bau ini selalu membuat jantungku merdetak dengan cepat. Belum pernah aku mendapatkan bau seperti ini pada perempuan-perempuan yang aku temui. Perempuan-perempuan itu memiliki bau wangi buatan pabrik yang sama satu sama lain, tidak istimewa. Akan tetapi tidak dengan bau Nara. Bau yang kas, menenangkan sekaligus bikin kangen. kupukul jidatku sendiri, mengusir pikiran-pikiran aneh yang akhir-akhir ini muncul. STOP MAHARDIKA!

__ADS_1


STOP!


__ADS_2