
POV Mahardika
Semua proses yang menyakitkan sudah dijalani Nada. Awalnya aku benar-benar tidak yakin jika wanita yang semula sangat tidak menarik ini, akan kuat menjalani program yang aku buat. Dia adalah wanita pertama yang menjalankan rancangan -membuat wanita tercantik se Asia-. Ya itulah keinginanku sejak dulu. Project ini kugarap dengan serius. Aku melakukan banyak riset untuk obsesiku yang satu ini. Akan tetapi dari awal aku juga
sadar bahwa tidak akan ada wanita yang sanggup menjadi kelinci percobaanku.
Sebagai penjajagan awal, aku menjalankan program televisi berjudul Makeover di berbagai negara. Termasuk dinegeri asalku sendiri, Indonesia. Mengapa? Karena Aku memang ingin kembali ke Indonesia untuk mengejar cinta pertamaku, yang ada di negeri yang elok ini.
Program makeover ku memang berjalan lancar. Paling tidak kelihatannya seperti itu dimata orang banyak. Sayangnya, tidak ada satu wanita yang terpilih, dengan morivasi sebesar apapun, mau dan sanggup menjalani proses menyeluruh yang aku tawarkan. Mereka hanya sanggup menjalani sebagian saja yang menurut mereka paling penting. Itupun jujur sudah membuatku cukup frustasi saat mendampingi mereka. Sebagai pilot project, aku memang selalu mendampingi setiap pemenang Makeover selama proses makeover mereka. Itulah salah satu alasanku mempelajari ilmu psikologi secara serius. Dari sini aku mulai frustasi dan kehilangan kepercayaan atas keberhasilan rancanganku. Seindah apapun sebuah rancangan dan ide, jika tidak bisa diterapkan tetap menjadi omong kosong kan.
Semesta memang terkadang aneh. Pada saat aku mulai berpikir keniscayaan, datang seorang wanita ke kantor PH program Makeover milikku. Wanita yang diawal kedatangannya menjadi bahan tertawaan kru, kemudian menjadi kesayangan para kru saat syuting berlangsung. Wanita yang selalu tersenyum ceria, menghibur yang sedang bersedih meski itu adalah saingannya, meskipun masalah dia tidak kalah menyedihkan. Wanita yang membawakan
makanan-makanan lezat untuk para kru, dan membawa kebahagiaan di lokasi syuting. Hal ini mulai menarik perhatianku. Aku melihat kualitas inner beauty yang luar biasa yang tidak bisa dilihat dari penampilannya yang mengundang bully.
Dari data dan riset pertama yang dilakukan tim, aku mulai melihat semesta mendukungku. Disana kulihat keterlibatannya pada kasus penyerangan Juli oleh hatter. Jika melihat sekilas, Nada, meski namanya tak pernah diungkapkan, memang seperti hatter gila yang menyerang Juli. Saat itu adalah masa penentuan pemenang Makeover yang tentu saja akan menjadi wajah dari program dan televisi kami. Jika kami membatalkan Nada karena kasus ini, maka kami harus melakukan syuting lagi dari awal. Jika kami melanjutkan dan ternyata Nada adalah hatters gila tersebut, maka kami akan diserang netizen, dikritik membantu hatter dan sebagainya. Ini juga akan memberikan kerugian pada kami.
Salah seorang asistenku di PH mengusulkan untuk meneliti permasalahan dengan sedalam-dalamnya. Disinilah kami menemukan bahwa penderitaan Nada tidak hanya diperlakukan tidak adil oleh mertua dan ipar-iparnya, dibully karena badan nya yang besar dan diperlakukan tidak adil oleh suaminya, tetapi juga kenyataan suaminya sudah lebih dari dua tahun berselingkuh. Suaminya sudah kembali ke Indonesia namun tidak menemui Nada sebagai istrinya dan malah tinggal di apartemen bersama selingkuhannya. Kenyataannya Juli adalah selingkuhan dari suami Nada. Timku menemukan video-video lain disaat kejadian penyerangan Juli, yang menunjukan Nada sama sekali tidak bersalah. Akan tetapi aku tidak mau percaya ini. Ini semua pasti rekayasa Pradipta yang ingin istrinya disalahkan. Dari sanalah aku mulai mencari tahu siapa Pradipta dan keluarganya dengan lebih dalam. Aku akan tunjukan semua hasilnya nanti pada Juli agar dia tidak begitu saja percaya pada Pradipta.
__ADS_1
Tim Makeover Indonesia dengan suara bulat memenangkan Nada. Akupun setuju. Jika Nada berubah menjadi cantik, maka Pradipta akan kembali pada istrinya dan meninggalkan Juli bukan? Sayangnya, sehari sebelum syuting malam final, Nada menelpon dan mambatalkan keikutsertaannya. Awalnya dia meminta untuk batal total. Namun berkat bujukan Winda, kru humas kami, dia mengijinkan episodenya ditayangkan. Di akhir acara Nada
dinyatakan kalah dari Mawar. Aku menitipkan alamatku pada Winda, agar Nada mau datang menemuiku untuk kebujuk lagi. Aku tidak bisa menemuinya di kantor karena saat itu sedang ditengah-tengah pekerjaan penting yang harus kuselesaikan di rumah. Kupikir tidak ada salahnya memberikan alamat rumahku pada Nada. Sayangnya lagi,
perempuan gemuk nan baik hati itu tidak pernah muncul. Ya sudahlah, mungkin bukan rejeki ku memanfaatkan dia untuk memisahkan Juli dari bajingan tengik itu.
Suatu malam dia datang dengan kondisi yang mengerikan. Atas dasar kemanusiaan aku mempersilahkannya
masuk. Namun kemudian aku berpikir, kenapa tidak aku lanjutkan saja rencanaku memanfaatkan dia sekaligus menjadikannya kelinci percobaan. Sepertinya dia cukup depresi setelah mengalami percobaan pembunuhan yang menewaskan sahabatnya sendiri. Dari sanalah aku mulai mempengaruhi Nada untuk menjadi model rancanganku, kelinci percobaanku. Meski aku sendiri sering ragu dan tidak sampai hati padanya, namun rencana yang kuberi Nada’s Project tetap kujalankan.
Demi sebuah masterpiece, aku rela mencurahkan seluruh tenaga dan uangku padanya. Ya Nada adalah calon masterpiece ku. Meski Nada merasa dia membayarku, namun perhiasan dan surat berharganya tidak pernah aku gunakan. Semua aku simpan di brankas. Lagipula jika dibanding dengan biaya yang harus aku keluarkan, semua itu tidak ada artinya. Belum lagi resiko hukum yang akan kami tanggung jika terbongkar. Aku memberikan identitas palsu pada Nada, sebagai Nara.
Tapi terserahlah kamu sebut apa. Kehadiran Nada didekatku, caranya membahas sesuatu, caranya berbicara, seringkali mampu membuat jantungku jungkir balik. Mampu membuat perutku tergelitik geli. Tapi itu bukan cinta ya. Karena aku yakin, cintaku hanya untuk gadisku.
Kami tinggal satu atap cukup lama. Bukan sekali dua kali aku melihat bagian tubuhnya secara menyeluruh, sejak dia menjadi Nada sampai dia menjelma menjadi Nara, masterpieceku yang luar biasa. Apalagi dimeja operasi aku selalu mendampinginya. Namun sejak fase kedua Nada’s Project, aku merasa kedekatanku dengan Nada mulai berubah. Sejak awal, Aku memang merasakan nyaman berada disampingnya. Nada adalah tipe perempuan baik hati yang mampu membuat kita merasa nyaman, damai dan dibutuhkan. Sebuah rasa yang sebenarnya dicari banyak laki-laki diakhir petualangannya. Sebuah rasa yang membuat banyak laki-laki merasa seperti pulang ke rumah.
Rasa itu makin hari makin besar dalam diriku. Dalam dirikku, ada ketergantungan yang muncul pada perempuan bernama Nada ini. Bahkan saat sudah menyediakan suster untuk menjaganya di rumah sakit, ternyata pada akhirya, aku lebih memilih untuk bekerja di rumah sakit sambil menemaninya. Semua ide dan pekerjaanku terasa lebih mudah dan ringan dengan adanya Nada disampingku, meski dia tidak mengatakan apa-apa atau bahkan hanya tertidur tanpa berinteraksi denganku. Apalagi jika aku mulai mengalami kesulitan dalam pekerjaan atau apapun, Nada sering memberikan solusi yang briliyan.
__ADS_1
Saat kepulangan kami ke Indonesia, tanpa sengaja bertemu dengan pasangan Pradipta-Juli di bandara Soekarno Hatta. Awalnya aku benar-benar tidak tahu jika mereka juga ada ditempat yang sama, meski dari penerbangan yang berbeda. Asistenku memberitahu saat melihat Nara sedang terpaku sambil berurai airmata. Dengan kekawatiran penuh, melihat kearah Nada. Kupikir dia sedang freeze atau mungkin kesakitan. Salahku memang, karena meninggalkannya sendiri. Setibanya di Indonesia, saat aku menyalakan smartphoneku sebuah pesan emergency datang dari salah satu asisten yang kupercayai mengendalikan bisnisku. Sesbuah urusan yang membutuhkan penanganan segera. Tidak mungkin aku membicarakan bisnisku disebelah Nara. Aku harus menyelesaikan masalah bisnis dengan segera tadi. Aku meiihat wanita kuat itu tampak begitu rapuh disana. Setelah mendekatinya dan mengikuti arah matanya, aku menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata dia tidak mengalami serangan freeze ataupun efek operasi lainnya. Aku sedikit bernafas lega.
Aku melihat Nara menangis sambil terpaku menatap arah pengambilan bagasi. Hampir saja jantungku copot melihat siapa ada disana. Bajingan tengik itu sedang disana berpelukan dan berciuman dengan wanita. Pantas saja Nara langsung bereaksi. Aku melihat pikiran insecure bermunculan dikepalanya, terpantul dimata dan bahasa tubuhnya. Aku melihat kehancuran hati dan cintanya. Entah mengapa, saat itu akupun ikut merasakan pedih yang
menyakitkan. Aku tanpa berpikir panjang menghampiri Nada dan memeluknya. Aku ingin menenangkannya. Aku tahu pasti, rasa sakit fisiknyapun belum hilang, efek operasi dan anestesinya masih sangat menganggu.
Sekarang, dia seperti kehilangan harapan. Aku melihat kilatan rasa ketidakpercayaan diri dimatanya saat membandingkan dirinya sebagai Nada, dengan wanita yang aku lihat sedang menunjukan kemesraannya dengan Pradipta. Rasanya aku ingin berteriak pada Nada, bahwa dia sekarang adalah NARA, masterpieceku. Dia adalah wanita terbaik yang bisa mengaku sebagi wanita tercantik se-Asia. Bahkan dia lebih baik dari pada wanita itu, lebih cantik, lebih hebat dan lebih baik. Aku benar-benar emosi saat ini, sampai dadaku sesak.
Aku marah dan mendidih memandang pada bajingan itu. Disaat yang sama, wanita itu memalingkan mukanya
kearahku. Juli! Itu Juli dan Pradipta? Pantas Nara begitu hancur sekarang ini. Dadaku terasa sangat nyeri. Aku tidak tahu, sakit ini karena melihat Juli dan Pradipta atau karena isak tangis Nara serta kehancuran Nada. Yang pasti, Akupun merasakan sakit di hatiku saat ini.
Tubuhku terasa kaku saat mendengar Juli memanggil namaku. Oh tidak! Sekarang belum waktunya Juli dan pradipta melihat Nara. Belum tepat waktunya untuk mempertemukan Nada dengan laki-laki yang ingin membunuhnya. Jika itu semua ternjadi dan mereka curiga, maka semuanya akan sia-sia. Selain itu, Aku juga tidak mau Juli melihatku dengan wanita lain. Aku harus menyembunyikan Nada dari kedua orang ini. Kuminta Nara untuk tetap duduk ditempatnya. Aku segera berdiri menghampiri Juli. Aku katakan pada Juli, kalau aku sedang menemani peserta yang sedang sangat rapuh. Peserta ini tidak boleh bertemu dengan siapapun, saat ini. Juli yang memang tahu pekerjaanku seperti apa, bisa mengerti Dia menawarkan diri untuk membantu, namun kutolak mentah-mentah. Kukatakan padanya untuk segera kembali kepada kekasihnya. Tidak baik jika dia meninggalkan kekasihnya terlalu lama dan berada di sini bersamaku.
Aku segera menarik Nara ke mobil dan pulang. Di dalam mobil, Aku mencoba menenangkan diri dan menyembuhkan sakitku sendiri dulu. Aku benar-benar membutuhkan waktuku sendiri. Saat itulah kusadari Nara memandangku dengan matanya yang indah. Dari matanya aku melihat kesedihan dan sakit yang sangat, dihatinya. Dia tampak sangat insecure dan terluka.
Nara adalah tipe wanita yang sangat transparan dan mudah untuk dibaca. Aku bisa melihat semua rasa itu tanpa dia mengatakannya dengan kalimat dari bibir indahnya. Aku bisa melihat dia sedang memandang rendah dirinya sendiri dengan membandingkan pakaiannya dari Juli. Bahkan saat dia memandangiku, dengan teliti, dia bukan sedang mengagumi ketampananku. Akan tetapi, dia sedang membandingkan aku sebagai laki-laki pendampinganya, dengan Pradipta yang mendampingin Juli. Arghh! ayolah, Aku jauh lebih tampan dari bajingan itu. Kualitasku sebagai laki-laki jauh lebih hebat dibanding dia. Aku bahkan jauh lebih pintar dari Pradipta. Tak perlu membandingkan, 'kan?
__ADS_1
Aku mencoba melihat Nara dengan sembunyi-sembunyi. Entah mengapa, Aku tidak mau dia tahu aku memperhatikannya. Begitu juga Nara. Kami seperti dua orang ABG yang diam-diam mengagumi pasangan disebelahnya. Lama-lama aku pikir ini menggelikan. Aku melotot pada sopir dan Henry yang duduk didepan, mentertawakan kami berdua. Tapi entahlah, jantungku mulai berulah dengan sikap Nara yang menggemaskan itu.
Aku juga mulai posesif dan mengkhawatirkan Nara berlebihan. Aku juga tidak pernah bisa marah pada perempuan itu. Saat efek deliriumnya muncul, kesabaranku benar-benar diuji. Namun pada akhirnya aku juga memaafkannya. Saat kami berlatih otot bersama, aku sering kali terpesona dan junior juga beberapa kali bereaksi membuatku gelisah. Aku bukan jatuh cinta pada Nara ya. Mungkin ini hanya terpesona pada ciptaanku yang memang luar biasa ‘kan?”