Nada Nara

Nada Nara
BAB 45 . Dendam Mahardika Cinta Nara (bagian 1)


__ADS_3

Pov Mahardika


Setelah semalaman tenggelam dengan masa lalu dan kenangan, pagi ini Aku terbangun dengan kepala berat. Kepalaku seperti terbebani barbel semen bang Jamal, tukang yang membangun rumah sebelah. Berat dan tidak


beraturan, kiri kanan tidak sama.  Badanku terasa kaku karena posisi tidurku yang aneh sejak semalam. Kurentangkan tangan sambil menghirup udara pagi yang lumayan dingin. Baru kusadari kalau ditanganku masih tergenggam dua fotoku. Satu fotoku bersama Agusta. Sedangkan yang kedua adalah foto keluarga, Papa Janu dan ketiga anaknya, aku Agusta dan Juli yang masih kecil.  Kupandangi foto kedua dengan rasa rindu. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu yang membuatku tersenyum lebar. Aku baru menyadari bahwa dalam foto itu ada Papa Shasa yang menjadi latar belakang. Dia sedang sedang tersenyum memandang kami dari belakang. Jika Papa Janu adalah malaikatku, maka Papa Shasa adalah super hero bagiku.


Kerinduan dan bayangan masa lalu kembali membuat dadaku sesak. Banyak hal yang membuatku bersyukur, memiliki orang seperti mereka berdua. Tanpa mereka, entahlah apa yang terjadi padaku. Dan kenangan pada mereka selalu membawaku pada kenangan tentang Ayah dan Ibu Dirgantara. Tentang sebuah luka dan dendam. Namun semua kenangan itu buyar karena ketukan dan suara merdu yang kukenal, Nara.


“M, kamu belum bangun ya? Kita mau ke gym nggak hari ini?” Tanya Nara pelan seolah takut menggangguku.


“Aku sudah bangun Nara,” kataku segera bangkit, membuka pintu kamar untuk sekedar setor muka pada Nara yang ada di depan pintu.


“Selamat pagi Nara. Tunggu sebentar,” kataku pada Nara yang sudah rapi, tersenyum manis padaku. Sebuah senyum yang selalu menjadi mood boosterku akhir-akhir ini. Sebenarnya, tadi aku tidak membuka pintu dan langsung ke kamar mandipun tak masalah. Namun aku sendiri belum merasa benar-benar terbangun jika belum


membuka pintu dan melihat senyum Nara. Tanpa menutup pintu aku segera meuju kamar mandi untuk melakukan ritual pagiku. Setelah 15 menit, aku keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutku yang basah. Kulihat kamarku sudah kembali rapi. Di samping tempat tidur, Nara sedang memperhatikan  foto keluarga yang tadi aku letakkan diatas bantal


“Kalian terlihat sangat dekat dan saling menyayangi,” kata Nara. Aku menggangguk setuju dengan apa yang Nara lihat dan katakan.


“Sejak kecil kami dekat satu sama lain. Papa selalu menekankan kalau kami bersaudara. Kami harus saling menjaga satu sama lain, apapun yang terjadi. Papa juga berpesan, kalau aku tidak boleh menganggap dia orang lain. Papa adalah papaku meski tidak memiliki darah yang sama. Begitu juga Agusta dan Juli, kami saudara meski tidak sedarah. Itulah yang selallu ditekankan Papa. Bahkan disaat terakir sebelum meninggal, Papa mengajakku bicara tentang hubungan kami. Papa bilang, meskipun dia bukan ayah kandungku, bagi dia aku adalah anak sulungnya. Aku sama dengan Agusta. Dia juga menitipkan Juli dan Agusta jika terjadi apa-apa padanya,” kenangku.


“Sepertinya kita bicara sambil sarapan yuk Nara. Aku lapar,” kataku. Nara tersenyum dan meletakan foto-foto itu diatas nakas. Dia mengambil pakaian kotor dan mengikutiku keluar kamar.


“Aku sudah membuatkanmu nasi goreng dan bakwan jagung. Tadi aku juga membuat Juice pisang bayam kesukaanmu. Makanlah duluan, aku letakan ini dulu diruang laundry,” kata Nara sambil menunjukan baju kotor ditangannya. Aku mengangguk dan langsung duduk santai di meja makan. Alih alih segera mulai makan, aku memilih untuk membuka smartphone, memeriksa pesan pesan yang biasanya sudah menumpuk di jam seperti


ini. Aku berakhir dengan tenggelam diantara ratusan email yang harus segera kuselesaikan tanpa menyentuh sarapanku.

__ADS_1


“Hai, nanti sakit kalau kamu lupa sarapan. Memangnya melototin smartphone bisa membuatmu kenyang ya?” tanya Nara mengagetkanku. Ternyata gadis cantik itu sudah duduk dihadapanku dengan sepiring nasi goreng didepannya. Nasi gorengku masih utuh tak berkurang sedikitpun. Akirnya aku meletakkan gawaiku dan mulai menyendok isi piringku.


“Jadi, kamu kakaknya Juli atau kekasihnya?” kata Nara dengan mulut penuh. Gaya makannya masih mirip dengan Nada, bersemangat dan seolah ingin memasukan banyak makanan ke perutnya. Anmun karena lambungnya sudah diperkecil, maka dia tidak lagi bisa menghabiskan banyak makanan seperti Nada. Seringkali makanan yang diambilnya hanya dimakan sepertiga. Kadang aku yang kebagian menghabiskan, kadang nara menyimpan


makanannya untuk dia habiskan kemudian.


“Nara, makannya sedikit-sedikit, nanti perutmu sakit. Lagi pula saat mulutnya penuh, jangan bicara,” kataku mengingatkan. Nara hanya nyengir mendengar kata-kataku. Entah kenapa ada perasaan aneh menyentil hatiku. Sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Bukan cinta pastinya, karena aku hanya mencintai Juli.


“Juli adalah gadis kecilku. Dia gadis pertama yang memberikan perhatian padaku.Dia adalah gadis  kecil yang dititipkan Papa Janu untuk kujaga,” kataku pelan.


“Jadi jawabannya? Dia adikmu atau kekasihmu?” kata Nara lagi.


“Sepertinya  jawabku masih sama dengan kemarin,” kataku mencoba menghindar. Karena jujur aku sendiri jadi bingung. Dan ini sangat aneh bagiku. Aku sepertinya tidak ingin menjawab pertanyaan Nara karena aku tidak


tahu harus menjawab apa.


“Jawaban yang waktu aku  bilang kalau aku bertemu Juli saat aku berusia 10 tahun dan dia, 8 tahun. Dia yang bersama papa saat menemukanku dijalan. Dia yang mengajakku duduk di mobil dan memegang tanganku saat itu. Meski tanpa mengatakan apapun. Sejak itulah aku berjanji akan selalu menjaganya. Menurutku, sejak itu Aku jatuh cinta padanya. Dialah cinta pertamaku. Bahkan aku mengatakan perasaanku pada Juli saat SMA,” kataku. Kulihat Nara mengangguk angguk sambil mengunyah makanannya. Mataku tanpa sadar menatap bibirnya yang merah alami sedikit berminyak dari telur yang dimakannya. Aku segera menggeleng kepala kuat-kuat mengusir kegilaan dikepalaku.


“Apanya yang tidak,” kata Nara tiba-tiba menatapku serius. Waduh, apa yang dia tanyakan?


“Maksudnya?”tanyaku ragu.


“Maksudnya, kenapa kamu geleng geleng dan berkata tidak,” kata Nara dengan wajah heran. Tidak mungkin kan aku jawab kalau  aku mengkhayalkan bibirnya. Bisa langsung dilempar keluar jendela oleh Nara.


“Eh Nara, nasi gorengnya enak banget, Oh ya, tadi katanya kamu membuat juice?” kataku mengalihkan pertanyaan Nara. Gadis itu tampak menyapukan pandangannya ke gelas lalu menepuk jidatnya lucu.

__ADS_1


“Ah iya lupa, sebentar,” katanya sambil berdiri. Dia segera mengambil jar dari kulkas dan menuangkan juice kesukaanku. Diletakannya gelas itu didepanku sambil bilang “Lalu?”


“Lalu apa?” tanyaku setelah meneguk habis juiceku.


“Lalu setelah kamu mengatakan perasaanmu, kamu pacaran?” tanya Nara. Aku kembali tercenung. Benarkah aku pacaran? Aku kembali mengingat saat pulang sekolah bersama Juli siang itu. Kami satu sekolah. Aku baru saja menyelesaikan UN, dan menjemput Juli yang siang itu minta pulang bersama.


Flash back on


-Kak, nanti pulang tungguin ya. Kakak tungguin aku di gerbang- sebuah pesan dari Juli sampai di handphoneku. Aku sedang berada di kantin bersama teman sekelasku.


“Cie Mahar dapet SMS dari cewek,” kata gatot menggodaku. Aku hanya tersenyum, tidak menanggapi candaannya.


“Halah, siapa lagi kalau bukan adiknya. Mana ada cewek lain,” kata Anwar menyruput teh botolnya. Aku hanya mengangkat pundakku dan membaca buku kembali.


“Eh Mahar, menurutku nih ya, kalian berdua mending pacaran deh. Toh kalian bukan saudara kandung. Dan Juli juga sudah terlalu sering bilang kalau kamu adalah pacarnya. Ya sudah kenapa nggak diseriusin aja sih. Keburu beneran disamber orang lho,” kata Gatot menepuk pundakku.


“Ngaco aja lu Tot. Gimanapun dia adik gue,” kataku pelan berusaha untuk acuh. Namun sebenarnya., kata kata Gatot membuatku berpikir. Selama ini orang memang tahunya aku dan Juli pacaran. Hanya Gatot dan Anwar yang tahu kalau kami saudara satu ayah, meskipun tidak satu darah. Disekolah ini, begitu masuk, Juli langsung menjadi primadona incaran para cowok. Banyak cowok yang mendekatinya. Ada yang mengajak kenalan langsung, ada


yang hanya melihat dari jauh. Ada yang memberikan coklat (dan berakir di perutku dan Agusta), bunga dan berbagai hadiah lain. Bahkan ada yang nekat memegang dan memeluknya. Nah kalau ini biasanya akan berakhir di ruang UKS atau ruang BP bersamaku. Badannya aku jamin akan biru biru cukup lama, minimal. Bahkan ada yang sampai kehilangan gigi.


Karena gangguan ini cukup serius, Juli sampai sering ketakutan dan memintaku untuk tidak jauh darinya. Dari sanalah mulai muncul gosip bahwa kami pacaran. Demi menjauhkan para pengganggu Juli yang memang tidak terlalu menyukai cowok seumurannya, mengiyakan gosip tersebut. Sejak itu jugalah, gangguan pada Juli jauh berkurang.  Bagus sih untuk Juli, namun tidak bagus untuk kesehatan jantungku. Aku yang selalu berdebar jika disamping Juli, apalagi jika adikku itu bergelanyut manja di tanganku, sering bingung harus bersikap bagaimana. Dan ini diketahui oleh Gatot dan Anwar.


“Ya udahlah Mahar, tembak langsung aja. Siapa tahu dari pura-pura bisa jadi beneran. Irit juga kan, nggak usah usaha beliin rumah lagi, kalian sudah serumah,” kata Anwar santai disambut pelototan Mahardika.


“Iyalah langsung nikahin, kan Maharnya udah ada, “ kata Gatot ketawa.

__ADS_1


“Mahar?” tanya Mahardika heran.


“Iya lu lah ha… ha… ha…” kata Gatot ngakak sendiri disambut tatapan sebal dua sahabatnya.


__ADS_2