Nada Nara

Nada Nara
59. Melihatnya Terluka (Bagian 1)


__ADS_3

POV Mahardika


Setelah mukaku dipermak habis oleh Mbak Sri, aku segera kembali ke gedung LC. Kali ini aku tidak tampil sebagai Mahardika. Tetapi aku tampil sebagai pelayan berumur yang akan melayani disekitar Nara nanti. Aku tahu sekali wajah seperti apa yang aku ta,pilkan ini. Muka dan penampilan ini adalah favorit MUA andalanku, mbak Sri. Dulu aku pernah bertanya, saat dia senyum senyum setelah selesai melakukan make over padaku. Muka Mbak Sri tampak sangat bahagia dan terus memandangku. Bahkan dia sempat meminta ijin untuk memelukku. Setelahnya mbak Sri berkata bahwa wajahku saat ini adalah wajah kekasih hatinya yang sudah meninggalkan dirinya bertahun


tahun lalu. Aku  hanya bisa melongo mendengar apa yang dikatakan mbak Sri dengan penuh semangat dan berbunga-bunga.


Nara sudah berangkat bersama Adrian. Anak buahku sebagian sudah berada di sebuah mini bus di basement parkir LC  Tower yang menjadi markas kami. Sebenarnya markas darurat itu sudah berada disana sejak kemarin. Bahkan aku sejak kemarin sudah bolak-balik untuk memastikan semua berada pada tempatnya. Mobil katering yang berlogokan restauranku juga menjadi markas back up di halaman belakang, tepat di pintu keluar ballroom. Kali ini aku sudah mengatur agar perusahaan kateringku yang menjadi vendor LC dalam acara ini. Dengan demikian aku dan anak buahku dengan mudah bisa keluar masuk LC Tower dan ballroom. Aku memilih berangkat menggunakan motor Honda CBR250RR SP milikku. Dengan demikian aku bisa sampai di lokasi acara sebelum Nara sampai.


Sesampainya di markas sementara aku mengakses kamera Adrian.  Aku melihat Nara hanya berdiam diri melamun saat dalam perjalanan. Mungkin dia sedang terkenang dengan masa lalunya bersama laki-laki yang sebentar dia jumpai. Laki-laki brengsek yang sudah menyakiti Naraku. (Ah, maaf. Maksudku Nara tidak pakai ku ya.) Bagaimana


pun juga, dia pernah mengalami percobaan pembunuhan, yang direncanakan oleh Pradipta, suami Nara. Jadi sangat wajar jika dia takut menghadapi Pradipta.  Aku membiarkan wanita yang tetap cantik meskipun sedang bengong itu menikmati perjalanan. Aku membiarkannya diam dan mempersiapkan diri menghadapi pertempurannya.


Kami memang selalu menjaganya. Tak akan kubiarkan seseorang atau apapun menyakiti dirinya. Adrian dan timnya yang siap bergerak jika terjadi sesuatu. Namun kami hanya bisa menjaganya dari luar, bukan menjaga hatinya. Aku hanya berusaha membuatnya tenang dan tidak merasa sendirian lagi. Aku mengingat kembali percakapan kami sebelum berangkat tadi.


“Nanti aku akan menyamar menjadi pelayan katering dalam pesta. Mbak Sri setelah ini akan sedikit mengubah


wajahku hingga berbeda.  Aku akan membantumu dari dekat. Aku akan berusaha berada tidak jauh darimu. Kita bisa berbicara melalui earphone ini, jadi kamu mengerti Nara?” kataku pada Nara tadi. Jangan kamu kira itu hanya omong kosongku, untuk menghibur dan menyenangkannya. Aku akan selalu menjada dan berada didekatnya, semampuku.

__ADS_1


Meski begitu, Nara tahu, pertempurannya kali ini tidak akan mudah dihadapi. Bahkan aku tahu, Dia tidak yakin dengan kemampuannya sendiri dalam menguasai pikiran dan hatinya, kala bertemu langsung dengan Pradipta untuk pertama  kalinya.  Ketidak yakinan inilah yang membuatku sempat mempertanyakan kesungguhan Nara pada Nada’s Project. Sebenarnya bukan aku meragukannya. Itulah caraku untuk membuatnya meyakinkan diri sendiri. Karena bukan aku yang harus dia yakinkan Dia tidak akan meninggalkan Nada's Project dan semua pengorbanan yang dia lakukan. Bagiku, apa yang sudah aku lakukan dan keluarkan tidak sebanding dengan penderitaan yang Nara alami. Itulah mengapa aku ingin membuatnya bertahan dengan berusaha menekan emosi dan psikologinya,


dengan mempertanyakan kesungguhannya.


“Kamu masih ragu, Nara?” tanyaku.


“Iya M. Aku benar-benar ragu dengan reaksiku nanti,” Kata Nara. Benar kan kataku. Aku harus benar-benar membuatnya yakin,


“Jadi kamu mau membatalkannya saja?” tanyaku dengan sedikit khawatir. Kemungkinan trik ku ini menjadi bumerang dan membuat Nara benar-benar membatalkan, sangat besar. Tapi itu adalah resiko yang harus aku ambil saat ini.


“Ah, tidak… tidak… tidak…” tolak Nara. Huft, diam-diam aku menarik nafas lega. Hanya Adrian yang menangkap reaksiku. Laki-laki yang satu ini memang luar biasa. Dia tidak jauh berbeda dengan ayahnya, yang juga asisten dan sahabat Papa Shasa.


Papa Shasa untuk Adrian dan kuselipkan dibawah pintu kamarnya. Hanya butuh satu jam setelah surat itu aku selipkan, laki-laki itu keluar kamar dengan wajah sembab dan tubuhnya yang lemas. Badannya terlihat segar, karena habis mandi. Penampilannya terlihat tampan meski gurat kesedihan masih ada disana. Tanpa berkata apapun, dia makan dengan lahap dan pergi entah kemana selama satu minggu. Setelah kembali, dia berubah menjadi Adrian yang misterius, kuat, bekerja keras, bersumpah setia sampai mati padaku dan menjadi play boy cap kambing yang menjadi pujaan para laki-laki cantik. Entah apa yang Papa Shasa katakan, karena Adrian hanya


tersenyum jika aku menanyakannya. Dia pernah bilang Papa Shasa adalah cinta pertama dan terakhirnya, kecuali aku mau menjadi istrinya. Hell! Tentu saja aku tolak mentah-mentah. Aku bukan homophobia, tapi aku juga tidak berminat untuk belok. Aku masih menyukai Nara, eh maksudnya wanita.  Oke, kembali ke laptop!


“Lho terus bagaimana? Kan kamu yang ragu,” kataku tadi pagi. Kadang aku sedikit lelah menghadapi wanita-wanita yang menjadi klien makeoverku. Aku juga mengalamai hal itu saat menghadapi Nara. Ada saat dimana aku lelah, apalagi saat harus menghadapi ketidak stabilan emosinya karena pengaruh obat. Namun ini adalah proses yang harus dia jalani dan aku wajib mendampinginya. Ini adalah tugasku, bagian dari pekerjaan ini bukan? Efek operasi dan obat-obatan membuat Nara sulit mengontrol dirinya sendiri.  Beruntung Nara pun sadar akan semua hal yang

__ADS_1


terjadi padanya, dan efeknya. Kadang dia meminta maaf atas semua perilakunya saat tidak menyadari dan tidak mempu mengontrolnya. Dia selalu bilang dia sadar jika dia sudah sangat merepotkanku. Nara dan aku juga tahu, sudah sangat terlambat untuk mundur sekarang. Melanjutkan project ini tidak mudah, tapi tidak bisa mundur.


“Bukan begitu M. Aku hanya ragu. Bukan ingin berhenti. Aku membutuhkan kamu untuk selalu ada disisiku, memberiku kekuatan,” kata Nara tadi. Ah, kenapa aku merasa bahagia dengan jawabannya itu. Aku merasa menjadi laki-laki sejati yang begitu kuat dan hebat. Entah mengapa, kata katanya itu membuatku tersenyum tanpa henti sehak tadi pagi. Bahkan Adrian sempat menyenggol bahu, untuk menyadarkanku.


“Jangan jadi gila gara-gara cinta boss! Kamu menyeramkan kalau senyum-senyum sendiri. Pasang lagi muka datarmu,” bisik Adrian menyadarkanku. Aku segera menghentikan senyumanku dan mengantikan dengan pelototan garang kearah Adrian. Laki-laki itu hanya tertawa kecil secara sembunyi-sembunyi. Apa? Cinta? Bukan! Ini bukan cinta. Adrian pasti siwer dan harus memeriksakan matanya sampai melihat hal yang tidak-tidak. Tahu apa dia


tentang cinta, bahkan kekasih saja dia tidak punya. Semua laki-laki cantiknya itu hanya FWB nya dia kan. Seperti yang selalu dia bilang, kalau cintanya sudah mati. Aku memegang bahu Nara dan memandang matanya.


“Aku akan selalu ada. Jika kamu merasa gugup, anggap saja aku ada disampingmu dan menggandengmu,”kataku. Saat itu aku menangkap senyum dan semburat merah yang sangat cantik di pipinya. Sungguh menggemaskan.


Tangannya memegang perut dan dadanya. Dan menatapku dengan wajah bahagia dan mata yang berbinar. Ya ampun, menggemaskan sekali. Sebuah pemandangan yang masih ada dikepalaku, sampai saat aku duduk di markas sementara memandang wajah cantiknya dalam perjalanan menuju LC Tower. Tak lama kemudian wajah cantik itu tersadar kalau mereka sudah tiba di LC Tower. Aku segera bersiap-siap untuk mendahuli Nara menuju ballroom. Aku sedang berlari menuju ballroom, saat mendengar suara Nara.


“Ya Adrian? Kenapa?” tanya Nara.


“Tidak apa apa nyonya. Senang melihat Nyonya tersenyum tenang sepanjang perjalanan. Nyonya membutuhkannya. Namun sebenarnya apa yang kalian berdua lakukan saat ini adalah sia-sia. Akan lebih singkat


dan lebih baik jika kalian melupakan masa lalu, mengakui perasaan kalian dengan jujur dan berjalan bersama,” kata Adrian. Aku yakin saat ini muka dingin Adrian masih terpasang, namun senyum jahil juga ada disana. Sebuah kombinasi yang menurutku sangat tidak cocok. Yah seperti menambahkan sambal pada semangkok kolak.

__ADS_1


“Apa maksudnya Adrian? Siapa yang kamu maksud kalian? Dan apa maksudnya berjalan bersama?” tanya Nara. Tepat! Pertanyaan yang tepat. Bahkan aku menghentikan langkahku sejenak untuk mendengarkan jawaban Adrian.


__ADS_2