
POV Nara
Aku merasa ada yang aneh ditubuhku. Kubuka mataku perlahan, terasa berat dan sedikit pusinng. Suara berdengung tak nyaman itu kembali mengisi ruang kosong dikepalaku, kembali memaksaku untuk menutup mataku. Aku mencoba menarik nafas dalam dan menghembuskan, berulang kali hingga aku sedikit rileks. Meski awalnya aku merasa seperti lupa bagaimana bernafas dan sedikit sulit untuk mengatur ritme nafasku, akhirnya aku berhasil mengisi paru-paruku dengan lancar dan normal. Barulah aku mencoba kembali membuka mataku perlahan. Cahaya lampu sedikit membuatku kesulitan beradaptasi. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali sehingga pandanganku kembali normal. Kupandangi sekitarku, aku merasa cukup familiar dengan ruangan ini, meski masih disorientasi. Aku merasa sangat mengenal ruangan ini dan merasa seperti di rumah. Ah iya, ini rumahku. Tapi, bukannya aku tadi diculik ya?
Kucoba menggerakan kaki dan tanganku, ternyata sangat sulit. Lalu kucoba fokus dan konsentrasi pada diriku sendiri. Barulah aku menyadari kalau aku sedang duduk disofa besar, dengan tangan dan kaki terikat. Ini aneh, aku terikat di dalam rumahku sendiri? Jangan-jangan ada perampok masuk rumahku?
“Argh!!”teriakku tanpa sadar.
“Ssst berisik Nara!” terdengar suara di sisi kiriku. Kuarahkan pandanganku ke sofa single di sebelah kirri, asal suara baritone yang sexy tadi. Lho, perampok itu tahu namaku? Pasti aku sudah lama diincarnya. Kupandangi laki-laki tampan yang duduk di sofa single itu. Laki-laki dengan potongan rambut Layered Undercut yang cukup keren, dengan celana jeans pendek dan kaos v neck hitam menampilkan siluet tubuh sixpacknya. Hemm, keren juga. Tapi mukanya itu yang menyebalkan dan jutek. Masa sih laki-laki setampan ini mau merampok rumahku. Kulihat dia sedang mengobati tangan dan kakinya yang lebam. Oh iya, tadi kan dia sempat terkena kata gatame dan tachi waza. Dan aku empat mencengkeramtangannya. Bekasnya terlihat membiru sekarang. Wua, apakah aku sehebat itu?
“Kamu siapa? Kamu perampok di rumahku ya?” tanyaku sambil melotot. Dia mendegus marah padaku. Lho, kok dia marah. Bukannya harusnya aku yang marah karena dia ikat ya?
“Kamu itu! Pasti kamu tidak minum obat, makanya jadi menyebalkan dan m,erepotkan! Kamu sudah menyiksaku dan membuatku kesakitan.” bentaknya. Lho, kok aneh. Aku bertanya apa, dia jawannya apa.
“Mana kutahu, aku tadi kan merasa tidak kenal kamu trus tiba-tiba kamu mencengkeram seperti itu. Dan setelah itu
tahu-tahu kamu sudah terkunci dibawahku,” kataku dengan pelan “lagian kenapa tidak bicara baik-baik coba. Sekarang kamu mau apa? Mau merampok rumah ini?”
“Nara, mana mungkin aku merampok rumahku sendiri. Ini rumahku dan kamu tinggal dirumahku,” kata laki-laki itu.
“Bohong, pasti kamu mau jahatin aku! Makanya kamu mengikatku seperti ini kan! Kamu menyerangku di mall tadi kan? Pasti kamu berniat jahat” kataku berteriak.
“Haish, kalau aku mau jahat, untuk apa aku nunggu kamu sadar. Kamu aku ikat, karena aku tidak mau kamu siksa
__ADS_1
lagi. Sakit Nara!” katanya masih dengan nada marah.
“Kamu, siapa? Kenapa kamu jahat sama aku,” teriakku, mulai merasa tidak nyaman, bingung, marah dan entahlah, aku tidak bisa berpikir. Aku kenapa? Aku Nara, aku cantik aku bisa, hanya itu yang ada di pikiranku. Aku mencoba mengendalikan pikiran dan badanku, namun gagal. Badanku terasa tidak nyaman sehingga membuatku berteriak. Laki laki itu kemudian memelukku dan menenangkanku. Dia menyuruhku tenang dan bernafas.
“Oke, tenang Nara, tenang. Dengarkan aku ya, aku Mahardika, yang merawatmu selama ini. Kamu tinggal bersamaku sudah enam bulan untuk merubah bentuk tubuhmu, ingat? Kamu sekarang sedang mengalami Delirium, sebagai efek dari operasi dan perawatan panjang selama enam bulan ini. Yang kamu alami hari ini adalah efek delirium. Ini, kamu minum obatmu dulu. Obat ini harus tetap kamu minum agar tidak terjadi lagi,” katanya sambil memberikan 3 butir obat dan segelas air. Tentu saja aku tidak mau. Kalau dia berniat jahat dan meracuniku bagaimana?
“Delirium? Apa itu? Aku sehat, aku tidak apa-apa. Jangan-jangan ini akal akalanmu biar aku pingsan lagi dan kamu bisa berbuat jahat lagi padaku?” kataku masih protes dan masih tidak mau percaya padanya begitu saja. Bagaimanapun aku harus waspada kan. Kata bunda tadi, akan ada orang yang jahat padaku kan.
“Ya ampun Nara, fokus! Minum obat dan fokus. Kamu mau kuikat terus dan tidak makan hari ini?” katanya
dengan tegas.
“hah? Apa? Aku tidak boleh makan? “ kataku. Baru kusadari jika perutku sangat lapar. Terdengar suara suara aneh dari perutku. Aku memandang matanya. Meskipun mukanya dilipat dan cemberut namun matanya memancarkan kesungguhan dan jujur. Sepertinya dia tidak bohong. Aku tidak nyaman diikat seperti ini. Yang paling utama, aku lapar. Baiklah, mungkin aku lebih baik menurutinya kali ini. Toh siapa aku, yang mau dijahatinya. Dia tadi bilang ini rumahnya kan? Dan aku lihat didepanku ada barang-barang maskulin seperti beberapa sepatu kets, cukuran jenggot, jaket kulit laki-laki ukuran besar, dan foto motor besar yang sangat tidak mungkin kalau itu milikku kan. Jadi pasti ini rumahnya, meski aku juga merasa ini rumahku.
“Kamu minum obatnya, baru aku lepas. Makan sepotong coklat ini dulu,” katanya sambil menyuapkan sepotong coklat ke mulutku. Kemudian dia memasukan tiga obat tadi ke mulutku dan memberikan minum, sisa dari gelas yang diminumnya. Aku mengernyitkan dahi. Jorok sekali laki-laki ini. Tapi dia rupanya tidak peka sama sekali. Dia tetap memaksaku untuk minum obat dengan air digelas bekas dia. Mukanya datar tak peduli.
Setelah itu, aku merasa lebih tenang meskipun masih bingung. Laki-laki yang mengaku bernama Mahardika
itu melepas ikatanku dan mengajakku makan malam. Perlahan aku mengingat saat satpam tadi berbicara denganku. Aku mulai ingat mengatakan pada satpam kalau Mahardika adalah dokter yang merawatku. Akan tetapi, aku tidak ingat wajahnya. Baiklah, mungkin memang dia bukan penjahat, aku merasa lebih tenang meski banyak
pertanyaan ada dikepalaku. Sambil makan aku bertanya apa maksudnya dengan aku menderita delirium karena proses pembentukan tubuh yang kulakukan, lalu siapa dia dan siapa aku. Bukannya menjawab, dia malahan mulai bertanya apa yang aku lakukan seharian ini. Aku mengalah dan kuceritakan semua, tentang Bunda, tentang Nada dan Sandra. Dia tersenyum dan tampak tidak terkejut mendengar ceritaku.
“Baiklah Nara, apa yang terjadi hari ini, adalah efek anestesidari operasi beruntun yang kamu lakukan selama enam bulan ini. Efek inilah yang disebut Delirium. Itu akibatnya kalau kamu tidak meminum obatmu dan tidak mengikuti kata-kataku,” katanya kesal.
__ADS_1
“Maksudmu?” tanyaku.
“Kmu mengalami halusinasi dan delusi. Kamu merasa bahwa kamu artis terkenal dari Singapura yang datang ke Indonesia untuk syuting iklan, itu semua adalah keinginan bawah sadarmu, tapi bukan kamu. Saat melihat dan mendengar kisah Nada, kamu bilang kamu merasa sangat dekat dan bahkan merasa kamu mengalami apa yang Nada alami kan?” tanyanya yang kusambut dengan anggukan.
“Coba kamu Tarik nafas, buang, lalu fokus pada dirimu dan Nada. Lihat mataku,” kata Mahardika. Aku mengikuti kata katanya. Kulakukan apa yang dia minta sambil terus menatap matanya yang perlahan terasa menenggelamkanku dalam lautan yang menenangkan.
“Apakah kamu ingat semua yang kamu alami saat masih bernama Nada enam atau tujuh bulan yang lalu. Kembalikan ingatanmu pada dirimu sendiri Tujuh bulan yang lalu Nada. Ya, kamu adalah Nada, Nara” katanya.
“Tidak mungkin,” kataku membuang muka menjauh dari matanya, masih mencoba menolak pemikiran yang diberikan laki-laki itu. Aku bukan Nada, bahkan mirippun tidak. Kataku pada diri sendiri. Ya kenyataannya seperti itu kan? Nada itu besar bahkan dijuluki Gajah. Sedangkan aku, langsing dan memiliki apa yang orang bilang sebagai body goal. Akan tetapi Mahardika menngambil daguku dan mengembalikan pandanganku ke matanya.
“Kamu Nada. Ingat kan kalau tadi kamu sudah menjatuhkanku dengan kuncian dan pukulan yang hebat. Ya Nada
adalah atlit beladiri yang luar biasa. Kamu sendiri heran kenapa bisa melakukan itu padaku kan? Semua karena sebenarnya kamu memang bisa dan bahkan hebat dalam hal beladiri. Karena kamu Nada,”
tambahnya.
“Ah, iya ya,” kataku menyadari apa yang kulakukan tadi siang.
“Oke, sekarang coba kamu kembali ke dirimu sendiri dan ingatlah semuanya.
Perlahan ingatanku memudar, semua terasa mengambang dan kepalaku mulai pusing. Mahardika menggegam tanganku dengan erat, seolah memberiku kekuatan. Kututup mataku sambil menarik nafas panjang. Kubuka kembali mataku sambil menghela nafas. Saat itulah aku kembali ingat, aku adalah Nada.
***
__ADS_1