Nada Nara

Nada Nara
BAB 45 . Dendam Mahardika Cinta Nara (bagian 4)


__ADS_3

Akirnya author  sembuh dan mencoba mulai konsisten untuk up tiap hari. Terima kasih buat yang masih setia dan sabar menunggu cerita Nada dan Nara. SEmoga kalian semua sehat dan bahagia selalu


Banyak cinta untukmu



“Jadi, kenapa bisa Juli bersama suamiku kalau dia selalu kembali padamu?” tanya Nara dengan mata melotot. Ah, lucu sekali mukanya. Aku merasa sedikit nersis karena menyadari betapa aku sangat mengagumi ciptaanku sendiri. Ingat ya, mengagumi dan bukan mencintai. Karena cintaku hanya untuk gadisku, aku yakin itu.


“Hehehe, kamu lucu kalau marah ternyata. Itu saat dia masih SMA dan aku kuliah. Sampai akhirnya aku menjadi sangat sibuk dan tidak bisa mengunjunginya yang kuliah di Amerika,” kataku menghela nafas. Aku teringat, saat Juli kuliah, aku disibukan dengan pergantian kepemimpinan organisasi dari papa Shasa ke diriku. Kemudian tak lama Papa meninggal, menyusul kekasih hatinya. Saat itu aku berkonsentrasi penuh pada organisasi dan perusahaan agar bisa di kendalikan dari jauh tanpa aku harus menampakkan diri. Butuh beberapa tahun untuk bisa membangun sistem seperti yang aku inginkan. Agusta dan Juli hanya tahu aku mengejar karir dan uang untuk bisa menyekolahkan mereka ke luar negeri, seperti yang mereka inginkan. Mereka mengira, uang yang mereka dapat setiap bulannya adalah hasil keringatku, bekerja tanpa henti hingga tidak bisa pulang ataupun mengunjungi mereka. Kedua adikku itu sangat berterimakasih padaku yang menurut mereka sudah banting tulang membesarkan mereka.


“Jadi kalian berpisah begitu saja tanpa putus?” tanya Nara.


“Bagiku kami tidak pernah putus. Bagi Juli, kami tidak pernah pacaran,” kataku dengan sendu.


“Maksudnya?” tanya Nara.


“Agusta pernah bertanya tentang kekasih kekasihnya. Dan dari semua nama, namaku tidak dia sebut. Aku lalu bertanya pada Juli, tentang posisiku dihatinya. Dia bilang aku adalah kakak terbaik baginya,” kataku sambil menghela nafas.


“Lalu? “ tanya Nara lagi sambil membetulkan duduknya menghadapku dengan lebih serius.


“Saat aku tanya tentang pernyataannya yang mengiyakan lamaranku untuk menjadi kekasih, Juli hanya tertawa dan mengatakan bahwa aku keterlaluan dan urusan seperti itu kenapa harus dibuat becanda. Bagaimanapun kakak adalah kakakku kan? Itu kata Juli. Tapi saat itu Juli memang sedang dekat dengan seorang bintang film yang sangat populer dan sedangbersinar. Sebelum aku menjawab, Agusta dan kekasihnya itu datang mendekat,

__ADS_1


membuat kami tidak bisa melanjutkan perbincangan kami,” katakku. Aku ingat saat itu aku sedang bersiap  untuk pergi ke Rusia selama paling sedikit 6 bulan.


“Kenapa kamu tidak mengajak bicara Juli tentang perasaanmu dengan serius?” tanya Nara.


“Saat itu tidak memungkinkan untuk mengajaknya bicara. Aku harus pergi dalam waktu yang cukup lama. Rencananya aku ingin memperjelas saat kembali. Sayangnya menjelang kepulanganku aku mendapat kabar kalau Juli sedang patah hati parah dan tertekan. Dia bersembunyi di apartemen kakak temannya di Singapura, apartemen Pradipta. Dan itulah awal dari buaya darat itu merayu gadisku,” kataku.


“Buaya darat? Dia suamiku. Juli yang keganjenan merayu Pradiptaku. Jika juli tidak merayunya dan menyodorkan


tubuhnya, cintaku tidak akan meninggalkanku,” kata Nara sambil cemberut. Mendengar apa yang dikatakan Nara, aku cukup marah. Tapi aku marah bukan karena dia menghina Juli rasanya. Aku marah karena Nara terlalu bodoh hingga tidak mengetahui kebejatan suaminya selama ini. Pradipta sudah menjadi bajingan yang berganti-ganti pasangan, mempermainkan perempuan dan mengobral cinta sejak lama, sebelum Juli masuk dalam kehidupannya. Aku bisa membuktikannya.


“Jangan naif Nara. Seperti cerita yang kamu tahu, Juli dirampas oleh Pradipta dan dijauhkan dariku,” kataku. Nara


mengernyitkan dahinya seperti tidak mengerti.


“Nara, Juli kesana karena diajak Prita dan Pipit. Dia kesana karena stres, patah hati. Pradipta memanfaatkan kerapuhan Juli dan pura-pura menghiburnya. Lalu dia menipu Juli agar bisa memacari dan  menidurinya. Ya walaupun Pradipta bukan laki-laki pertama bagi Juli,” kataku mecoba mempengaruhinya.


“Itu berarti, kamu pun tidak ada dihati Juli. Lalu jika Juli patah hati dan dipaksa oleh cintaku, tidak mungkin kan dia


secepat itu melupakan mantannya. Melupakan patah hatinya yang katanya sangat parah dan membuatnya rapuh. Hanya beberapa hari kan dia di Singapura sampai akhirnya merebut suamiku?” kata Nara mengatakan logikanya. Iya sih. Tapi tetap saja bagiku, Pradipta si buaya bajingan itu yang salah, merebut Juli dariku. Tetap saja bagiku Pradipta adalah manusia jahat, serakah dan tidak tahu terimakasih. Tetap saja aku marah atas apa yang dia lakukan pada Nada dan membuat Juli pada posisi pelakor.


“Yang namanya orang patah hati kan memang jadi tidak waras dan gampang terpengaruh. Orang patah hati butuh perhatian. Pradipta memanfaatkan itu untuk menjebak Juli, Nara,” kataku tidak terima. “Sayangnya aku terlambat untuk tahu keadaan Juli karena Agusta tidak memberitahuku sebelum Juli ke Singapura.

__ADS_1


“Ya kadang memang seperti itu. Tapi aku yakin bukan seperti itu keadaannya. Dari yang Juli katakan padaku waktu itu, Pradipta bukan pelarian. Tapi Juli memang mengejar Pradipta. M, kamu terlalu dibutakan oleh rasa cintamu pada Juli. Bahkan menurutku Juli tidak pernah mencintaimu. Dia hanya memanfaatkanmu untuk melindunginya dari cowok-cowok yang menggodanya,’ kata Nara dengan nada naik. Aku mengerutkan dahi saat kudengar kemarahan


begitu besar dari Nara saat mengingat pertemuannya dengan Juli. Argh, mungkin aku memang tidak pernah memahami kekasihku itu sejak dulu. Mungkinkah Nara benar aku sudah dibutakan oleh rasa cintaku yang bertepuk sebelah tangan? Lalu, selama ini, apa arti hubungan yang kujaga sepenuh hati ini bagi Juli?  Argh! Kenapa aku jadi meragu seperti ini.


Pradipta yang salah. Pradipta yang jahat.Juli hanyalah korban dari laki-laki bajingan itu. Dan Nara? Hanya perempuan  lemah yang mendambakan cinta sejati dan meyakininya. Dia hanya salah satu korban yang dibodohi laki-laki jahat itu. Kemarahanku kembali menggelegak. Kebencianku pada laki-laki yang dicintai sepenuh hati oleh perempuan cantik didepanku ini semakin besar. Rasanya aku tidak rela jika Juli maupun Nara dimiliki oleh laki-laki bejat itu.


“Apapun yang terjadi antara aku dengan Juli sebelumnya itu tidak lagi penting. Karena sekarang ini, Juli bersama dengan Pradipta bahkan akan menikah dengan suamimu itu. Jadi tidak penting lagi. Sadarlah Nara. Kamu yakin akan kembali pada laki-laki bejat yang sudah mengkianatimu dengan ratusan wanita? Bahkan laki-laki itu ingin


membunuhmu! “ kataku juga sedikit teriak. Emosiku membuatku lupa mengontrol nada bicaraku.


“Dia suamiku M. Dia cintaku. Cinta pertamaku. Bagaimanapun, hanya dia yang mau mencintai dan


menghargaiku saat aku begitu besar dan bahkan orang lain enggan melihatku,” kata Nara


“Ya karena dia ingin merebut hartamu. Didepanmu dia manis, dibelakangmu dia merendahkanmu. Bahkan dia meniduri banyak wanita di belakangmu. Kenapa selalu membelanya dan ingin kembali padanya. Dia ingin membunuhmu Nara!” kataku.


“Bukan Pradipta yang ingin membunuhku M. Tapi Juli!” kata Nara.


“Juli gadis yang baik. Dia tidak mungkin mencelakaimu Nara! Dia tidak akan tega,” belaku.


“Tidak akan tega? Gadis baik? Bahkan saat aku bicara baik baik padanya untuk melepaskan suamiku,  dia bisa pura pura sakit dan menjebakku serta mengancamku untuk dilaporkan ke polisi. Itu bukan gadis baik-baik M!” kata Nara.

__ADS_1


Wajah Nara memerah. Dia berdiri dan berjalan menuju lemari es untuk mengambil segelas air es. Aku kemudian sadar bahwa kami yang awalnya bicara baik-baik tidak lagi baik-baik saja. Kami mulai berdebat tanpa guna karena dendamku berbenturan   Akuu memutuskan untuk meredam emosi. Sepertinya Nara pun mencoba meredam


emosinya. Karena kini kami ada di kapal yang sama, kapal Project Nara.


__ADS_2