
Setelah mereka pergi, Maria segera berganti pakaian dan bersiap menuju rumah sakit. Maria bertekad akan tampil baik-baik saja didepan ibunya. Dia tidak mau terjadi apa apa pada ibu. Setelah selesai, Maria mengambil baju yang dipakainya semalam dan memasukannya kedalam tas plastik. Diambilnya tas berisi smartphone dan dompet.
Saat itulah matanya tertuju pada tas berisi uang yang tadi diberikan padanya, namun ditolaknya. Maria segera menutup ta situ dan menyimpannya dibawah tempat tidur. Lalu pergi ke rumah sakit, setelah membakar baju yang penuh noda. Bagi Maria, membakar baju itu adalah pelampiasan dari segala kemaraannya. Maria berharap bisa mengakiri dan membuang semua kemarahan dan deritanya akibat malam mengerikan ini, bersama dengan terbakar habisnya baju yang dikenakan.
Sesampainya di rumah sakit, Maria melihat keadaan ibunya dengan hati hancur. Sang ibu tampak lemah tak berdaya, dengan bibir dan wajah yang sedikit tertarik. Matanya yang tertutup terlihat bergerak-gerak gelisah. Ada lelehan airmata turun ke pipinya. Melihat itu, Maria mengusap air mata ibunya dengan penuh kasih sayang.
“Ibu, kenapa menangis? Sakitkah?” tanya Maria. “Ibu kenapa? Maafkan Maria yang tidak bisa menjaga Ibu. Kata dokter ibu terlalu kelelahan. Seharusnya ibu memang tidak usah bekerja lagi.”
Mendapat elusan tangan anak gadisnya dan suara lembut Maria, membuat Ibu lies sadar dan terbangun.
“Ma… lia… maafkan ibu ya nak,” kata ibu sambil memegang wajah anaknya.
“Kenapa ibu minta maaf? Maria yang minta maaf karena Maria tidak mengantar ibu ke rumah sakit,” kata Maria sambil menangis. Ibu Lis menggeleng lemah.
“Maafkan ibu yang tidak menolongmu. Maafkan ibu yang membialkan semuanya. Kamu pasti sakit dan sedih. Ibu tahu kamu tidak belsalah dan tidak sepelti yang meleka bilang,” kata Ibu Lis, membuat Maria bingung.
“Ibu bicara apa? Ibu tenang ya, ibu harus sembuh dulu,” kata Maria.
“Ibu tahu apa yang teljadi semalam, ibu sadal dan melihatnya. Tapi meleka mengancam ibu akan menyebarkan videomu nak. Meleka mengancam akan menyakitimu, kalau ibu melaporkan meleka ke polisi atau mengatakan tentang kejadian semalam pada orang lain,” kata Ibu. Rupanya mereka juga mengancam Ibu dengan surat pernyataan yang sama.
“Sudahlah bu, lupakan. Maria tidak apa-apa. Kita lupakan apa yang terjadi semalam.Maria juga sudah berjanji pada mereka untuk membebaskan mereka dari tututan. Tadi pagi mereka juga melakukan hal yang sama pada Maria. Lupakan mereka bu. Sekarang kita lanjutkan hidup. Kita orang miskin yang tidak bisa melawan mereka. Kita fokus
pada kehidupan kita sendiri ya bu, Maria janji, akan selalu baik baik saja. Sekarang yang penting ibu sembuh. Maria tidak bisa baik-baik saja, kalau ibu seperti ini, “ Ibu hanya mengangguk. Kamipun berpelukan dan melepaskan segala sedih dan sakit.
“Maria, kamu sudah memberitahu Janu?” tanya Ibu Lis
“Oh iya belum,” kata Maria
“Lebih baik, beri kabar dia kalau ibu sakit di rumah sakit. Ibu takut dia pulang dan rumah kita kosong. Jangan beritahu apapun padanya ya nak. Ibu kawatir dia akan marah dan melakukan sesuatu yang membuat kamu yag rugi,” kata Ibu Lis mengelus kepala anaknya. “Sabar ya nak, Tuhan tahu kamu anak yang baik. Tuha sedang mengujimu untuk sesuatu yang indah.”
“Iya bu, doakan Maria kuat. Kita memang tidak bisa melakukan apa-apa. Apapun yang kita lakukan akan kalah jika melawan mereka yang punya banyak uang dan kedudukan. Kita juga yang akan lebih hancur. Maria iklas bu. Yang penting ibu bahagia dan sehat,” kata Maria sambil memeluk ibunya.
Maria segera menelpon Papa Janu yang segera datang ke rumah sakit. Ibu Lis dan Maria sepakat hanya mengatakan pada Papa Janu kalau Ibu Lies terkena stroke saat bekerja semalam karena kelelahan. Hal ini didukung dengan pernyataan dari dokter. Ya, Papa Janu langsung menemui dokter yang merawat ibu Lis. Perawat yang menjaga ibu Lis tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Papa Janu, bahkan cenderung menghindarinya. Setiap didesak, para perawat hanya mengatakan, kalau ingin mengetahui tentang keadaan Ibu Lis, sebaiknya langsung bertanya kepada dokternya. Hanya dia yang berhak memberika keterangan dan menjawab pertanyaan
dari keluarga dan siapapun. Kesempatan visit doket tidak disia-siakannya. Papa Janu langsung mencegat sang dokter dipintu keluar untuk menanyakan keadaan ibu angkat yang sangat dia sayangi. Jawaban dokter menyenangkan tetapi tidak memuaskan. Bahkan dengan alasan ditunggu pasien, sang dokter yang enggan
menjawab pertanyaan Papa Janu, langsung pamit dan pergi.
__ADS_1
Awalnya Papa Janu curiga melihat Maria berjalan ngangkang dan sering meringis kesakitan. Tetapi Maria hanya bilang, karena panic dia jatuh terduduk hingga pantatnya sakit. Saat melihat semua tagihan sudah dilunasi, padahal kamar dimana ibu dirawat adalah kamar VVIP di rumah sakit mewah, Janu kembali terheran-heran. Ibu bilang,
ini semua merupakan bantuan dari keluarga tempatnya bekerja. Ibu Lis mengatakan, tidak perlu meributkan hal itu, karena dia hanya ingin pulang.
Setelah sampai dirumah Papa Janu melarang ibu dan Maria bekerja. lagi Toko kecil mereka diserahkan sepeuhnya
pada orang kepercayaan ibu. Bahkan awalnya, Papa Janu memberikan begitu saja, pada asisten Ibu Lis. Mulai hari itu, semua kebutuhan rumah ditanggung sepenuhnya oleh Papa Janu, yang akan memberikan uang bulanan pada Ibu Lies dan Maria. Tetapi Ibu Lis dan Maria tidak setuju. Bagaimanapun, usaha itu adalah usaha yang mereka rintis dari nol. Namun Maria juga tidak bisa lagi turun langsung pada bisnis yang mengingatkannya pada malam naas itu.
“Janu, ibu dan Maria sangat berterimakasih karena mau menanggung semua kebutuhan rumah ini. Ibu dan Maria setuju untuk tidak terjun langsung mengurus resto. Tetapi ijinkan kami mengurusnya dari rumah. Untuk uang bulanan, berikan saja sesuai kebutuhan rumah ini kepada Maria agar dia yang atur semua. Ibu tidak perlu diberikan uang bulanan. Untuk apa nak, ibu sudah tidak butuh apa-apa. Ibu hanya butuh melihat kalian berdua anak-anak ibu, bahagia,” kata Ibu Lis dengan mata berkaca kaca. Papa Janu tidak memaksa dan akhirnya setujju dengan pengaturan yang diinginkan Ibu.
***
Sebulan setelah kejadian itu, Maria mulai merasa sering pusing dan muntah di pagi hari. Rasa pusing selalu menderanya saat matapagi pukul 8 menerpa dari balik jendela. Badan Maria terasa lemah pagi itu, membuatnya bertahan bergelung malas dibalik selimut. Ini sama sekali diluar kebiasaan Maria yang memiliki tipe morning
person. Setiap pagi, Maria selalu bangun pagi, menyiapkan sarapan untu semua orang, belanja dan beberes rumah. Biasanya pukul delapan adalah waktu mereka bertiga berkumpul dimeja makan untuk sekedar sarapan da berbincang, mengawali hari. Namun tidak untuk hari ini. Ibu yang akhirnya menggantikan Maria menyiapkan sarapan merasa khawatir.
“Maria, kamu kenapa?” tanya Ibu menghampiri anaknya yang masih bergelung dibalik selimut.
“Aku tidak tahu bu, sudah seminggu ini lemas, pusing dan mual-mual. Masuk angin kali ya?” kata Maria.
“Kamrin kamu tidak apa-apa waktu menemani ibu beli bahan kue?” kata Ibu Lis mengernyit.
tengkuk anak gadisnya. Setelah Maria kembali ke tempat tidur, ibu menggosok perut Maria. Sesaat tangannya diam disana seperti sedang merasakan sesuatu.
“Nak, apakah kamu sudah haid?” tanya Ibu Lis pelan.
“Haid? Oh iya, kapan ya aku haid? Kok belum ya bulan ini. Padahal biasanya aku sudah haid dari minggu lalu. Tidak pernah terlambat,” kata Maria keheranan. “Memamngnya kenapa bu?”
“Tunggu disini ya nak. Ibu ke apotik sebentar,” kata Ibu.
“Tidak perlu bu. Tidak usah beli obat. Aku baik baik saja, nanti juga sembuh,” kata Maria menggenggam
tangan Ibunya.
“Pokoknya, tunggu disini,” kata Ibu dan bergegas keluar. Tak lama kemudian, ibu kembali dengan satu buah tas plastik ditangannya. Ada dua kotak disana yang kemudian diberikan kepada Maria.
“Kamu coba sana dikamar mandi,” kata Ibu dengan gamang.
__ADS_1
“Test kehamilan? Maksud Ibu?” kata Maria heran. Ibu hanya bisa mengangguk dan mengelus punggung
tangan putrinya.
“TIDAK! Ini tidak mungkin bu!” kata Maria histeris. Ibu segera memeluk anak gadisnya seolah mengerti rasa yang ada dihati putrinya. Pasti menyakitkan.
“Tenang nak. Tarik nafas panjang dan bersabar. Kita coba lihat apa hasilnya,” kata Ibu Lis sambil tersenyum. Maria mencoba menenangkan diri dan mencoba untuk kuat. Dipandangnya wajah sang ibu yang tampak memucat. Meski bibir itu tersenyum, Maria tahu ibunya sedang tidak baik-baik saja. Gadis itu segera meraih tas yang diberikan
ibunya, dan melangkah ke kamar mandi.
Mata Maria terbelalak melihat dua benda mungil ditangannya. Kakinya bergetar hebat. Dadanya menjadi sesak seperti mendapat beban batu yang berat. Dengan sempoyongan, Maria berjalan keluar kamarmandi menuju ibunya yang sedang duduk diatas tempat tidur. Airmatanya mengalir deras tak terbendung. Melihat reaksi putrinya, Ibu Lis tahu apa yang terjadi. Direngkuhnya tubuh sang putri dalam pelukan dan keduanya menangis bersama sama. Keduanya menyadari aka nada beban berat lain yang akan ditanggung oleh Maria secara sosial kedepannya. Namun untuk saat ini, Maria dan Ibu Lis hanya bisa menangis.
***
Kedua wanita yang sedang bertangisan itu dikejutkan dengan suara berat Papa Janu. Sejak tadi ketukan Papa Janu tidak mereka dengar. Bahkan Papa Jau yang memutuskan masuk, karena mendengar Ibu dan Maria bertangisan, terkejut melihat keadaan keduanya. "Kalian kenapa?"
"Ehm Janu?" kata Ibu sambil mengurai pelukan pada putrinya. Maria segera menyembunyikan mukanya di bantal.
"Ibu dan Maria kenapa? Kenapa kalian seperti ini? apa yang terjadi?" tanya Janu menyelidik. Matanya memandang ibu dan anak itu bergantian.
"Kami tidak apa-apa Janu. Keluarlah. Sarapan sudah Ibu siapkan, nanti kami menyusul," kata Ibu masih dengan suara seraknya.
"Tidak bu, Janu tidak akan keluar sebelum kalian mengatakan ada apa? Siapa yang membuat kalian seperti ini?" Matanya memandang sebuah benda pipih putih yang terjatuh di lantai. Janu segera berjalan mengambilnya sambil berkernyit. Kemudian mata Janu memandang sebuah kotak bekas diatas nakas, dan mengambilnya untuk dibaca. Berulang kali Janu memandang benda pipih itu dan kotak kosong berisi keterangan pemakaian ditangannya.
"Apakah ini yang membuat kalian menangis? Ini milik siapa?" tanya Janu. Maria yang melihat Janu memegang hasil test kehamilannya kembali histeris. Dia memukuli perutya sendiri.
"Aku tidak mau! Aku tidak ingin anak dari laki-laki bejat itu! Aku tidak mau! keluarkan!" tiba tiba Maria berteriak tentang kehamilannya berulang kali. Ibu segera mendekap Maria untuk menenangkannya. Ibu memberikan isyarat paada Janu untuk diam. setelah itu Ibu menenangkan Maria dan memintanya untuk tidur. Bujukan ibu ternyata berhasil. Maria bisa kembali tenang dan tertidur. Janu yang dari tadi hanya diam terpaku, tersadar oleh sentuhan Ibu lia ditangannya. Ibu lis segera mengambil kedua test kehamilan dan sampahnya, kemudian menympannya dalam plasitik dan dibawanya keluar. Dia mengamit lengan Janu untuk ikut keluar bersamanya. keduanya kemudian duduk dimeja makan sambil menikmati teh mansi yang ibu buatkan.
"Ini ada apa bu?" tanya Janu masih kebingungan.
"Baiklah, karena keadaan baru ini, ibu rasa kamu harus tahu apa yang terjadi. karena hanya kamu yang bisa menjaga Maria. Ibu akan ceritakan semua dari awal tapi berjanjilah untuk tidak gegabah. Disini, kita harus banyak mempertimbangkan nama baik dan mental Maria, Janu. Ibu minta apapun yang akan kamu lakukan, pikirkan sebelum ya. Maukah kamu berjanji pada Ibu?" kata Ibu.
"Hem, baiklah. Janu mendengarkan ibu," laki-laki itu tahu bahwa ada masalah serius yang dihadapi Ibu dan Maria. Sambil menyendokan nasi goreng ke mulutnya, laki-laki itu menyiapkan diri untuk mendengar cerita dibalik dua garis merah yang tadi dilihatmya. Setelah ibu melihat Janu menghabiskan sarapannya, ibu menceritakan semua kejadian hingga ke detilnya. Semua kejadian dari awal, surat perjanjian, surat pernyataan yang ditanda tangai ibu dan Maria, ancaman sampai kehamilan Maria. Dipegangnya tangan laki-laki yang sudah dianggapnya anak itu. Tangan itu begitu dingin mencengkeram erat. Bahkan terlihat telapak tangannya mulai berdarah karena kukunya sendiri.
"Janu, bersabar nak. Ini semua sudah terjadi dan kehendak Tuhan," kata Ibu
"Tidak bisa bu. mereka tidak bisa lari dari tanggung jawab. Janu harus mendatangi mereka dan menuntut tanggung jawab mereka. Kalau perlu, Janu bunuh dua bajingan itu!" kata Janu hendak berdiri namun ditahan oleh ibu.
__ADS_1
"Janu, dengan ibu. Sekarang ini Maria butuh kita berdua. Lebih baik kita konsentrasi pada Maria, jangan sampaidia nekat. Kalau kamu mendatangi mereka dan ribut, ibu taku akan berbahaya bagi kamu, dan kalau mereka sampai menyebarkan video Maria, lalu sekarang Maria hamil, pasti akan berat bagi adikmu. Sudah ya, bantu Maria Janu. Ibu hanya bisa memasrahkan Maria padamu. Kita tunggu Maria tenang dan kita bicarakan apa langkah kita selanjutnya, " kata ibu. Papa janu menarik nafas panjang dan berusaha sabar.