
POV NARA (flash back on)
“Nara, fokus please,” kudengar suara M di telingaku membuatku tersadar dari lamunan. Kurapikan jaketku dan mulai mengedarkan pandanganku. Aku tahu, M mengingatkanku karena Pradipta sudah datang.
“Arah jam 4 Nara,” kata M lagi. Aku segera memandang ke arah yang ditunjukan M. Disana berdiri Pradipta dengan gaya kasual yang sangat berbeda dari laki-laki itu saat kutemui sebagai bagian dari LC. Dia tampak santai dan lebih tampan menurutku. Aku sedikit terpesona dengan penampilannya kali ini. Aku kembali merasa sebagai Nada yang terpesona pada Pradipta, satu satunya laki-laki yang tidak menhinanya saat semua membullynya. Laki-laki yang sering membelanya waktu kecil. Laki-laki yang sering ada untuknya dan bermain bersamanya. Laki-laki yang mau menikahinya. Aku yakin saat ini mukaku memanas dan memerah.
“Nara, jangan seperti anak SMA jatuh cinta gitu dong. Sampai kapan kalian diam-diaman dan saling terpesona seperti itu?” kudengar suara Henry sambil cekikikan. Aku segera tersadar akan tugasku.
__ADS_1
“Hai,” kataku dengan gugup. Aku mencoba bersikap malu malu ala anak SMA. Aku tahu aku tidak boleh bersifat ****** dan murahan seperti wanita-wanita yang mengejar Pradipta selama ini. Kata kata Henry tadi memberiku ide, peran apa yang harus aku jalani untuk mendapatkan kembali suamiku. Aku menunduk namun mataku melirik kearah Pradipta tanpa dia tahu. Remang-remang cahaya di taman ini memudahkan Nara melihat reaksi Pradipta secara sembunyi sembnnyi.
“Hai Nara. Sudah lama?” tanya Pradipta.
“Belum kok. Baru beberapa menit. Aku tadi langsung keluar tanpa berdandan dan ganti baju,” kataku berbohong, masih dengan akting malu malu kucingku.
“Nara mau apa, biar mas belikan. Kamu tunggu saja disini,” kata Pradipta dengan senyum manisnya. Aku cukup merindukan senyum yang selalu menemaniku sejak aku kecil itu. Ya Pradipta memang murah senyum padaku, saat kecil. Caranya dia menawariku makanan dan akan membelikannya, masih sama dengan yang ada dalam ingatanku, saat kami bermain bersama di taman ini. Aku menunjuk beberapa kedai makanan yang dulu selalu aku kunjungi. Kulihat Pradipta berjalan menuju tenda penjual makanan dan membelikan makanan yang Aku mau. Kulihat diam diam anak buah Henry berdiri disamping Pradipta saat membeli makanan. M memberikan pengawasan penuh pada Pradipta rupanya. Kulihat Pradipta menengok kearah anak buah Henry yang hanya diam disebelahnya tanpa memesan apapun. Namun Pradipta tak melakukan apapun. Mungkin dia curiga ada yang mengikuti dirinya. Walau bagaimanapun, Pradipta cukup terbiasa dengan kehidupan yang mirip M dan teman-temannya. Entah apapun itu yang mereka jalani. Aku melirik M dan teman-temannya. Kudengar samar samar Henry menyuruh anak buahnya untuk membeli sesuatu yang sama dengan Pradipta. Lalu dia meminta anak buahnya yang lain untuk menggantikan posisi mengawasi. Aku tersenyum, aku yakin aku aman bersama M dan teman-temannya. Kupandangi langit yang cukup cerah malam ini. Ada beberapa bintang muncul di langit yang malam ii terlihat cukup bersih. Hal yang langka di ibu kota yang dipenuhi polusi.
__ADS_1
Tak berapa lama Pradipta sudah kembali didepanku dengan makanan pesananku dan dua botol air mineral. Dia memandangku dengan pandangan yang membuat jantungku berdegup. Setiap wanita pasti meleleh dan tersanjung, menerima tatapan seperti ini. Laki-laki yang telah lama ada dalam hidupku ini kembali hadir disisiku. Tapi aku harus menahan diri dan menjadi orang yang asing. Malam itu kami berbincang dan tertawa. Beberapa kali Pradipta mampu membuatku tersipu dan meleleh. Selain dengan tatapannya, juga karena kata-kata yang intinya dia merindukanku dan selalu memikirkanku.
“Aku ingin selalu bertemu denganmu” itulah salah satu kalimat Pradipta yang membuatku tersipu. Namun aku tidak bisa lama lama menikmati rayuan Pradipta. M membisikan padaku kalau Juli sedang lewat taman dan sudah melihat kamu,
“Ih mas gombal ya. Nanti ada yang marah,” kataku sambil tetap memperhatikan mobil yang ternyata berhenti dipinggir taman. Aku mengenali mobil Juli.
“Bukan gombal tapi mas serius kalau selalu kangen dan selalu ingin selalu bertemu Nara,” kata Pradipta sambil terus memandangku. Pradipta sendiri sedang membelakangi arah datangnya Juli. Tapi aku bisa melihat jelas wanitu itu turun dari mobilnya lalu berjalan menuju kearah kami. Dari tadi, aku masih menahan diri dan tidak ingin disentuk oleh Pradipta. Entahlah, aku merasa tidak nyaman disentuh Pradipta saat ada M yang memperhatikanku. Aneh bukan? Namun saat ini ada Juli. Aku harus membuat Juli cemburu dan marah. Aku sangat tahu, Pradipta tidak suka ditanya, dicemburui ata dimarahi untuk hal seperti ini. Salah satu caranya adalah mengijinkan laki-laki didepanku iini memegang tanganku. Aku juga terus memancing Pradita untuk bersikap mesra dan membuatnya tidak menyadari kehadiran Juli.
__ADS_1