Nada Nara

Nada Nara
Bab 71 Misi Kalung Lidya Dirgantara (Bagian 3)


__ADS_3

POV NARA


“Tidak Nara, aku tidak marah,” kata Pradipta sambil tersenyum. Setelah aku merubah panggilan pak menjadi mas, dia juga mengubah kata saya menjadi aku. Rupanya dia ingin kami lebih akrab dan santai. Tidak sulit mendekati Pradipta selama punya wajah cantik rupanya. Pantas saja dengan mudah dia digoda oleh perempuan-perempuan cantik itu.


Huft, aku menyadari saat menjadi Nada, aku memang jauh dari kata cantik dan sexy. Pantas saja suamiku yang memiliki selera terhadap wanita yang tinggi. Sementara itu Pradipta  juga gampang tergoda wanita.  Hal inilah yang membuat Pradipta memilih perempuan lain. Seharusnya aku tahu diri dan tahu dari awal tentang kecenderungan ini. Jika aku dulu menyadari, mungkin Nada sudah melakukan operasi plastik sebelum tragedi itu terjadi. Tapi percuma kan berandai-andai?


“Hah? Kamu memakai kata Aku?” kataku seolah-olah mencoba meyakinkan apa yang aku dengar memang


benar.


“Kenapa, aku tidak boleh aku-kamu dengan Nara?” tanya Pradipta. “Aku hanya ingin kita menjadi lebih dekat Nara. Kamu sangat cantik. Lebih cantik dari Juli.”


“Wow, tidak mungkin. Juli adalah wanita cantik yang menjadi pusat perhatian. Aku hanya seorang Nara. Pasti kamu hanya ingin membuatku senang. Kamu mau menggombaliku ya?” kataku. Aku tahu pandangan Pradipta masih akan tetap kepadaku untuk meyakinkanku. Dengan begitu Henry akan lebih mudah melakukan aksinya. Tapi aku


tidak berani melirik apa yang dilakukannya. Meskipun penasaran aku mengembalikan konsentrasiku pada Pradipta. Dari kaca aku juga tidak melihat ada pergerakan apapun dari Adrian. Bahkan yang tadinya bersuara, kini dia hanya


terdiam.

__ADS_1


“Nggak lah. Kamu lebih cantik dan menggoda dibanding Juli,” suara Pradipta mengembalikan kesadaranku. Sepertinya tadi dia cukup ragu menjawab candaanku hingga tidak langsung menjawab.


"Ish Gombal,” kataku sambil melepaskan tanganku. Aku melakukan ini karena Henry berdehem untuk memberikan kode kalau dia sudah selesai melakukan tugasnya. Deheman Henry sepertinya menyadarkan Pradipta akan tugasnya. Dia tampak terburu buru mengambil kotak itu dan membukanya.


“Nona Nara, semua sudah sesuai. Ini saya kembalikan kepada Pak Pradipta untuk diserahkan kepada nona Nara,” kata Henry sambil melepas sarung tangan yang kemudian dimasukan kedalam saku jasnya. Dia lalu mengambil dan melingkarkan kembali gelang-gelangnya dengan atraktif hingga  menimbulkan bunyi. Aku dan Pradipta langsung memperhatikan gelang Henry yang terbuat dari platinum.


“Baiklah, jadi sudah sesuai ya. Ini Nara, kalungnya aku berikan kepadamu. Pasti kalung ini akan sangat cantik di lehermu yang indah ini,” Pradipta tampak lega setelah memeriksa kalung itu masih utuh dan baik baik sja. Dia menyerahkan kotak itu dalam keadaan terbuka kepadaku.


“Yeiiyyy, terimakasih,” kataku menirukan tokoh di drama korea yang kecentilan menerima hadiah dari sugar daddynya. Kuraih kotak itu dan dengan terang terangan mengagumi kalung  Lidya Dirgantara KW milik M. Aku menatap Pradipta dengan berbinar. Badanku kubuat sedikit condong kedepan untuk membuat permohonan padanya.


“Bolehkan kalau mas yang memasangkannya di leherku?” tanyaku dengan suara kubuat manja. Sebenarnya


“Tentu saja, dengan senang hati. Kehormatan besar bagiku untuk menghiasi leher cantik ini,Nara,” jawabnya sambil berdiri. Aku segera mengulurkan kotak itu pada Pradipta.  Laki-laki yang masih berstatus suamiku itu mengambil kalungnya, dan menimang ditangannya sejenak. Entah apa yang dipikirkannya. Dia seperti meragu. Mungkin


dia teringat pada Juli yang menginginkan kalung itu, dan berniat membawanya lari. Tapi aku tahu, dia tidak mungkin melakukan itu dengan gegabah. Aku berbalik menghadap Adrian agar Pradipta memasangkan kalung dan mengancingkannya dibelakang. Kubuang kotak perhiasan kalung itu kearah Adrian yang menatap luru kedepan. Laki laki dihadapanku itu seolah olah tidak memperhatikan kotak yang jatuh dikakinya, seolah-olah itu adalah sampah tidak berguna. Kalau dipikir, sebenarnya aneh. Tidak perlu kan membuang kotak itu dengan dilempar. Kenapa tidak diletakkan saja di meja, lebih dekat dan lebih simple. Ah, semoga Pradipta tidak berpikir hal yang sama denganku.


Setelah beberapa saat, kurasakan deru nafas Pradipta dileherku. Aku sedikit membeku, Bulu-bulu halus ditengkukku naik begitu saja membuatku bergidik.  Namun kembali wajah M melintas di otak, membuatku sadar, menetralkan diri dan nafasku. Kulirik dari kaca, Pradipta telah mendekatkan diri  kearahku. Kalung telah terpasang dengan baik dileherku. Meskipun terlihat ragu, sepertinya diangin mendekapku. Ini tidak boleh terjadi. Selain aku memang tidak siap, tugas lain masih menanti, aku juga tidak mau Pradipta menganggapku seperti wanita-wanita murahan  yang mencintai laki-laki demi segepok uang.

__ADS_1


Segera ku membalik badan dan sedikit mengangguk, mengucapkan terimakasih. Aku buru buru kembali duduk sambil memegangi kalungku. Aku tahu, Pradipta sangat menyadari ketidak inginanku. Pradipta menyadari bahwa aku tahu dia ingin memelukku dan aku menolaknya. Dia berusaha keras untuk tidak tahu dan bertindak seolah tidak pernah terjadi apa apa.


“Indah sekali kalung ini mas,” kataku sambil mengelus kalung yang melingkar dileher.


“Ya, memang sangat Indah Nara. Dan makin cantik karena berada dileher cantikmu,” kata Pradipta sambil mengedipkan  matanya. Jika dalam situasi biasa, akan banyak gadis yang dengan sukarela melemparkan \tubuhnya ke pangkuan Pradipta. Tetapi bukan aku tentunya. Sebagai seorang perempuan, mendapat perlakuan dan berbagai kata manis yang diucapkannya, hatiku berbunga-bunga.  Namun pada akhirnya aku sadar kalau semua keromantisan ini tidaklah nyata. Tidak juga tulus. Aku segera menepis semua bung-bunga dikepalaku dan kupu-kupun diperutku. Aku tidak mau terlalu berharap. Saat ini konsentrasi pikiranku adalah mendekati Pradipta dan menggagalkan pernikahan mereka. Aku harus menjadi wanita cantik lahir  batin. Apapun yang kupikirkan sekarang dan nanti, aku harus jauh lebih pintar dan kuat dibanding Nada. Aku kembali disadarkan oleh deheman Henry.  Henry segera berdiri dan mengulurkan tangannya pada Pradipta.


“Karena tugas saya sudah selesai, saya sebaiknya pamit,” kata Henry.


“Kamu tidak makan atau minum sesuatu?” kataku dengan cepat. Pradipta langsung menampakan muka tidak senang, dan langsung menangkap tangan Henry yang mengajaknya salaman.


“Tidak usah Nona Nara. Kebetulan saya ada janji makan siang setelah ini,” kata Henry.


“Wua, pasti  makan siang dengan kekasihmu ya, sampai tidak mau bergabung dengan kita,” kataku melirik Pradipta. Pradipta tampak sedikit menggeleng. Sedangkan Henry menampakan muka malu-malu menyebalkan seolah olah tebakanku tepat.


“Nara, biarkan Pak Henry pergi. Lihat, mukanya sudah merah, malu karena kau goda. Kita makan siang disini juga kan, siapa tahu bisa seperti Pak Henry dan teman makan siangnya,” kata Pradipta sambil tersenyum.


“Hahaha, bapak bisa aja. Mari Pak, mari Nona, saya pamit,” kata Henry membungkuk dan melangkah keluar diikuti Adrian. Aku melirik kebawah tempat kotak yang kulempar tadi berada. Sudah tidak ada lagi. Berarti tadi Adrian sudah mengambilnya, dan akan menyerahkan pada Henry atau M yang menunggu disuatu tempat tak jauh dari

__ADS_1


tempatku makan ini. Sekarang adalah giliranku melancarkan misi kedua.


__ADS_2