
POV NARA
Dengan persetujuan M atau lebih tepatnya dorongan M, aku menyetujui paksaan Pradipta mengantarku pulang. Menurut M, mereka akan mengikutiku dari belakang. Selama perjalanan pulang, Pradipta menggandeng tanganku dengan mesra. Meski tidak merasa nyaman, aku membiarkan dia melakukan itu. Kami tidak banyak berbicara sampai kami berdiri didepan pagar. Pradipta langsung pamit. Dia mengecup keningku dan pamit pulang. Aku segera masuk kedalam rumah dan bersih bersih. Setelah membersihkan diri Aku mendengar M dan kedua sahabatnya sedang berdiskusi di ruang kerja M. Kami sudah makan malam, sehingga sepertinya aku tidak diperlukan lagi. Itulah mengapa aku memilih bergelung di tempat tidur sambil memikirkan kejadian tadi. Aku sednrii bingung. Bukankah ini yang kuinginkan. Kembali bersama Pradipta. Tapi mengapa debaran itu tidak lagi seperti dulu. Aku salah tinggak? Ya memang, aku masih tersipu dan salah tingkah saat dirayu dan disentuh Pradipta. Tapi tidak ada lagi debaran kuat yang dulu kurasakan. Semua terasa hambar. Dan entah mengapa, ada rasa tidak nyaman dan terpikir perasaan M. Aku istrinya Pradipta, bukan M. Itulah yang kupikirkan tadi. Lamunanku terputus oleh bunyi ketukan di pintu kamarku.
“Nara, kamu sudah tidur? “ kudengar suara M dari balik pintu. Aku segera bangun dan berkaca. Merapikan diri sejenak.
“Belum M, apakah kamu butuh sesuatu?” tanyaku.
“Aku boleh masuk?” tanya dia kembali.
“Masuklah, tidak dikunci kok,” kataku. Sambil duduk ditempat tidur. Kulihat M melongokan kepalanya kedalam kamar memperhatikanku.
“hai, kamu baik baik saja?” tanya M sambil duduk disampingku. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
“Pekerjaanmu sudah selesai?” tanyaku sambil pura-pura memainkan kukuku. Ada debar aneh yang kurasakan namun selalu kuingkari. Aku sadar sepenuhnya kalau aku tidak boleh memikirkan dan menyimpan cinta untuk laki-laki lain selain Pradipta. Aku sadar sepenuhnya kalau aku masih berstatus sebagai istri Pradipta.
“Sudah. Hanya melakukan beberapa evaluasi dan mempersiapkan koordinasi untuk besok,” kata M masih terus menatapku, membuat jantungku dag dig dug.
“Oh, kenapa kamu kesini? Kan ada Henry dan Adrian?” tanyaku.
“Jangan kuatir. Mereka sudah pulang. Sebenarnya mereka tadi ingin pamit pulang padamu, tapi kami pikir kamu sudah tidur karena kelelahan berkencan,” goda M sambil mengedipkan sebelah matanya dengan tampan.
“M, Aku yakin tadi Juli melihatku, tapi kenapa dia mengabaikan kami? Dia harusnya marah pada kami kan?” kataku sambil memandang wajah M yang juga memandangku khawatir. Dia diam tidak berkata apapun.
“Dia seharusnya berkata kenapa kami bersama atau apa dia selingkuh. Tetapi kenapa dia malah diam dan mengabaikan kami. Dia tidak mau melabrak kami, atau sekedar bertanya pada Pradipta apa yanng dilakukan di taman bersama wanita lain?” aku terus mengoceh mengeluarkan keheranan di kepalaku. M memandangku masih dengan tatapan khawatirnya. Dia mengambil tanganku dan menggenggamnya hangat.
“Juli sangat cerdas dan penuh perhitungan. Menurutku, kini bahkan Juli sudah berjalan satu langkah didepanmu,” kata M.
__ADS_1
“Maksudmu?” tanyaku.
“Langkah Juli sangat tepat. Dia sadar jika Pradipta tidak tahu kalau Juli tahu, apa yang dilakukan Pradipta dibelakangnya. Jika Juli melabrakmu di depan Pradipta, Juli masih belum yakin kalau tunangannya akan membelanya. Bisa jadi jika Juli menyerangmu, maka Pradipta akan membantunya. Semuanya masih kabur bagi Juli. Namun aku tahu, Juli melihat Pradipta tergila-gila padamu. Aku yakin Juli berpikir bahwa melabrak kalian tadi, malah akan membuatnya kehilangan Pradipta. Dengan dia pura-pura tidak tahu, maka dia akan bisa tetap berada di dekat Pradipta,” kata M berasumsi.
“Jadi maksudnya, Juli tidak ingin membuat masalah dengan Pradipta?” tanyaku
“Yup. Tapi sekarang, mungkin Juli sudah melakukan sesuatu untuk mempertahankan Pradipta sebagai tunangannya. Bagaimanapun dia dari tadi ada di kediaman Hermawan dan bertemu dengan keluarga Pradipta sejak dia keluar dari taman. Lalu sekarang dia juga berdua dengan Pradipta dan bersamanya,” kata M
“Lalu? Apa hubungannya?” tanyaku.
“Kalau dia ngamuk, suasana jadi tidak enak dan dia tidak bisa tinggal lebih lama untuk bisa menguasai Pradipta dan menghapus jejakmu di pikiran Pradipta,” kata M Aku berpikir keras menelaah omongan M. Setelah kami berdua terdiam aku mulai memahami apa yang dikatakan M.
“Sudahlah, tidak usah dipikirin ya. Kamu tidur,” kata M sambil berdiri. Dia menepuk bantalku dan menatanya. Lalu dia memintaku untuk berbaring. Setelah itu dia selimuti aku, dia kecup keningku, dinyalakannya lampu dan dimatikannya. Setelah mengucapkan selamat tidur, laki-laki itu keluar dari kamar untuk tidur.
__ADS_1