Nada Nara

Nada Nara
Bab 116. Apakah Aku Cukup Menarik?


__ADS_3

Hari ini Nara tampak termenung. Hal ini tidak luput dari perhatian M. Beberapa kali Nara tampak menghela nafas dalam dan terus melamun. Nara tampaknya resah menghadapi kencan dengan Pradipta sabtu nanti. Rasa tidak percaya diri wanita itu kembali terlihat. Nara mulai membandingkan dirinya dengan Juli.


“Aku menarik, aku cantik dan aku tidak kalah dari Juli ,” gumam Nara sangat pelan. Wanita itu tidak menyangka bahwa kata hatinya yang dia ucapkan di pikiran ternyata terucap dalam bentuk kata yang terdengar oleh M.


“Lah emang kamu cantik. Wajah dan penampilan kamu itu hasil perjuangan kita setahun ini Nara, diakui yang terbaik di Asia,” kata M


“Eh … maksudnya?” Nara terlihat kebingungan dengan respon M yang tiba-tiba. Dia masih belum sadar kalau apa yang dia pikkirkan tadi terucap dan didengar oleh M.


“Barusan kamu kan bilang Aku menarik, aku cantik dan aku tidak kalah dari Juli. Memang kamu cantik. Kenapa harus dibanding-bandingkan? Kalian berdua cantik dan hebat dengan cara kalian masing masing. Tidak perlu membandingakan diri kamu dengan orang lain Nara,” kata M.


“Maksudnya? Aku bilang begitu?” tanya nara dengan heran. Dari tadi dia merasa bahwa dirinya hanya berpikir, tidak berucap. Bagaimana M bisa tahu?

__ADS_1


“Ya ampun Nara, kamu kenapa? Sampai nggak sadar ngomong apa sih” kata M dengan gemas. Nara sadar bahwa M benar .  Mukanya memerah menahan malu. Nara sepertinya merasa bahwa apa yang dikatakannya pasti akan membuat M tidak suka. Bagaimanapun wajah dan tubuhnya kini adalah masterpiece kebanggaan M. Dengan dia merasa buruk, maka juga berarti dia merasa hasil kerja M buruk. Nara sangat menyadari bahwa M sangat mengagumi karyanya.  Itulah mengapa dia hanya menyimpan dalam pikirannya saja. Ketika itu terucap, dan M mendengar, maka  akan sangat mengganggu. Kini semua sudah terlanjur.  Nara terdiam sejenak.


“M, apakah aku bisa melakukan tugasku di nada’s Project?” tanya Nara mengalihkan pembicaraan.


“Tentu saja kamu bisa. Kamu wanita ciptaanku dengan wajah sempurna,” kata M sambil mengerutkan dahinya.  Namun jawaban M tidak langsung membuat Nara lega. Dia masih terus ragu.


“Tapi justru sukapmu yang seperti inilah yang membuatmu tidak menarik,” kata M dengan lugas.


“Pesona apa? Tarsan ?” kata M terus mengejek Nara. “ Kalau kamu terus berteriak dan tidak percaya diri seperti ini, maka kamu akan kalah dari Juli.”


“Ahh, itulah. Aku memang kalah dari Juli. Aku harus berdandan dan memakai baju mahal yang terbaik,” gumam Nara.

__ADS_1


“Argghh bukan itu Nara!” kata M kesal.


“M, bolehkah aku meminjam uangmu untuk membeli gaun mahal di designer ternama untuk kencanku nanti?” kata Nara memelas.


“No tidak boleh. Gaunmu sudah banyak. Pakailah yang ada dan itu sudah cukup. Kamu tidak perlu terlalu merendah dan berusaha untuk seorang Pradipta,” kata M marah. Laki-laki marah melihat bagaimana usaha Nara untuk mendapatkan Pradipta. Dia merasa tidak rela dan tidak senang dengan semua itu.


“Tapi, aku butuh gaun terbaru yang sangat menawan dan menyaingi penampilan Juli. Dan kamu tahu aku tidak punya uang sama sekali,” kata Nara. M menjadi sangat jengkel melihat Nara yang tidak mengerti juga akan maksudnya. Dia mengambil selembar kertas dan menuliskan angka-angka disana.


“Dengar Nara, sesuai dengan perkataanmu saat pertama kali kita membuat kesepakatan. Kamu minta aku mencatat semua pengeluaran Nada’s Project dan akan dianggap sebagai hutang. Kamu sudah terlalu banyak mengeluarkan uang,” kata M sambil melemparkan kertas itu ke Nara. “Dan ingat, itu belum termasuk biaya operasi plastik serta printilannya, biaya menyewa tempat yang kita tinggali serta biaya lain. Intinya kamu sudah memiliki banyak pengeluaran yang bisa aku catat menjadi hutang yang mungkin tidak akan bisa kamu bayar meski nanti kamu kembali ke Pradipta. Jadi jangan menbambah lagi hutangmu hanya untuk sebuah gaun bodoh.”


Nara tahu M tidak serius dengan ucapannya. Namun Nara tidak bisa membantah kebenaran kata katanya. Nara terdiam sejenak.

__ADS_1


“Oke baiklah, maaf kan aku,” kata Nara sambil berdiri masuk kedalam kamar.


__ADS_2