Nada Nara

Nada Nara
Bab 91 Tempat Baru


__ADS_3

POV NARA


Kami keluar dari tempat yang aku tinggali sejak pulang dari Korea. Karena tidak ada motor atau kendaraan lain, kami keluar rumah dengan berjalan kaki, sampai kami tiba disebuah jembatan. Kakiku terasa lelah. Aku memutuskan untuk berhenti dan duduk dipinggir jembatan. Aku terus terdiam, tanpa mengajak bicara M. Dia juga tidak mengatakan apapun, dan hanya mengikutiku dengan membawa tas dia ditambah koperku. Kami duduk dipinggi jalan membawa banyak barang. Aku sendiri bingung apa yang akan kami lakukan, sampai kudengar suara M.


“Nara, kamu bisa melihat kan. Banyak pria yang tertarik padamu. Kamu tidak perlu kembali pada laki-laki yang selalu menyakitimu itu,” M mengatakan ketidaksukaannya pada niatku untuk mempertahankan sumpah yang kubuat bersama Pradipta. Entahlah, mungkin dia merasa kecewa padaku yang telah menyia-nyiakan apa yang dikorbankan untukku. Alasan lain apalagi? Tidak mungkin kan karena dia cemburu. Aku mencoba menyelami isi hati M. Kupandang dia langsung dimatanya.

__ADS_1


“Kamu marah?”tanyanya padaku. Mungkin dia mengira aku marah padanya, dan aku merasa dia marah padaku. Mungkin karena aku hampir tidak pernah menatapnya seperti tadi. Aku menundukan kepalaku dan mencoba mengalihkan pemikiran dan rasa bersalahku. Tetapi sepertinya M masih salah sangka. Dia sepertinya justru aku yang marah. Akupun mereasa yang sama, bahwa situasi diantara kami tidak nyaman.


“Oke, terserah Nara. Apapun yang Nara inginkan, jalani saja. Saat ini yang kubutuhkan hanyalah pernikahan Pradipta dan Juli yang batal,” katanya. Lalu diapun mengajakku pergi dari pinggir trotoar itu.


waktu. Belum lagi keberadaan M disampingku. Apa M sudah gila? Bukannya tinggal di hotel lebih mudah?  Aku memandang M dengan nanar. Kalau ini prank, aku sangat tidak menyukainya.

__ADS_1


“Kamu ingin tinggal disini kan?” tanya M sesampainya di depan kediaman Hermawan. Aku masih tidak mengerti jalan pikiran M. Apakah dia sangat marah dan melakukan ini padaku? Apakah dia akan meninggalkanku disini bersama Pradipta dan keluarganya, yang aku tidak tahu akan bereaksi seperti apa saat mengetahui keberadaannku. Apakah dia akan meninggalkanku sekarang? Menyadari M bisa saja meninggalkanku malam ini, hatiku sangat perih. Aku tidak siap kehilangan dia. Bahkan aku rasa aku lebih siap kehilangan suamiku dibanding kehilangan M. Sakit dan sesak rasanya dadaku. Tanpa sadar aku lari memeluk M sambil menangis. Aku seolah


mencari kenyamanan saat berada di dada laki-laki itu. Aku tidak bisa kehilangan itu sekarang. Aku terus menangis sampai akhirnya aku tersadar sudah duduk dipangkuan M sambil dipeluk erat. Kulayangkan pandanganku ke sekitar. Rupanya aku berada di pos ronda yang saat terakhir kali menjadi tempatku menangis dan melihat semua kenyataan tetang Pradipta dan Juli di mobil setahun lalu. Aku memandang M dan berdiri sambil menyeka air mataku. Kami berdua tidak berkata apapun. Tangan M yang besar membelai lembut kepalaku, menenangkan. Setelah aku tenang dia berdiri mengulurkan tangannya kepadaku.


Aku memadang M. Dia mengangguk seperti ingin meyakinkanku. Kusambut tangannya yang kemudian menarikku berdiri. Setelah itu dia membimbingku berjalan di jalanan yang diterangi lampu jalan. Langit dari tadi sudah menghitam. Kami erhenti disebuah rumah kecil yang asri tak jauh dari kediaman Hermawan. M membuka pagar kecil disana yang tak terkunci. M membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Dia meletakkan barang barang kami di ruang tamu yang sepertinya baru saja dibersihkan. Masih terlihat ada tumpukan coversheet di pojokan. Rumah ini terlihat lama tidak dihuni namun cukup bersih dan lengkap. M tidak mengatakan apapun. Dia hanya membawaku ke sebuah kamar yang lumayan besar dan meletakkan barangku disana, sambil mengatakan kalau ini kamarku sekarang. Dia menunjukan letak kamar mandi dan memintaku istirahat.

__ADS_1


__ADS_2