
POV Mahardika
Kehilangan orang yang berarti dalam hidup kita, itu memang berat dan kadang sangat menyakitkan. Saat itu terjadi, kita akan merasa dunia runtuh. Kita akan mersa bahwa saat itu adalah saat terberat dalam hidup kita yang membuat kita ingin menyerah. Kehilangan orang penting dan sangat berarti bagi jiwa dan hati kita, membuat kita merasa sebagian dari jiwa dan hati kitapun ikut pergi meninggalkan raga. Bahkan ada saat dimana raga inipun ingin menyerah dan ikut pergi bersama orang yang sangat kita cintai. Tetapi Dunia nyata tidak semudah khayalan. Kehidupan kita bukan hanya tentang apa yang kita inginkan dan impikan. Dunia nyata adalah kenyataan yang harus kita tapaki. Kesadaran ini yang aku rasakan saat ini.
Saat aku kehilangan Ayah dan Bunda dengan cara mengerikan, aku mati rasa sesaat. Namun setelahya, baru kurasakan beratnya kehilangan mereka. Saat itu aku yakin bahwa itulah titik terberat dalam hidupku. Dan aku beruntung ada dua orang laki-laki yang ada dan mendampingiku, atas permintaan superhero yang kupanggil Ayah. Satu laki-laki baik hati, genius dan lembut yang kupanggil Papa Janu, dan satu laki-laki bayangan yang tanpa kusadari selalu membayangiku sejak lama yang baru baru ini kupanggil Papa Shasa. Berkat mereka aku mampu keluar dari beratnya kehilangan dan tidak terseretr pada khayalan kelam atas rindu pada Ayah dan Bunda. Mereka berdua bersaa Agusta dan Juli yang kemudian menjadi tiang pancangku untuk tetap menapaki kehidupanku sebagai Mahardika Alexandrovich dan bukan Dika Dirgantara.
Namun kini, kehilangan itu kembali menggulungku dalam ombak kelam yang membawa kami berempat dala kegelapan. Papa Janu adalah matahari bagi rumah Maria dan isinya, Aku, Juli, Agusta dan Papa Shasa. Kemarian Papa Janu malam tadi bagaikan tirai yang menutupi semua jendela rumah kami dan membiarkan kami
terkurung dalam gelapnya rumah tanpa cahaya.
Aku kembali teringat semua kisah Papa Janu dan Mama Maria. Aku kembali mencerna perjalanan hidup yang
menghadirkan dua orang yang sangat kusayangi, Agusta dan Juli. Bahkan mereka sendiri untuk tahu kisah mereka,yang diceritakan padaku. Aku kembali teringat pada saat dimana aku harus keluar dari kamar Papa Janu, setelah pembicaraan panjang kami. Setelah aku diingatkan kembali jati diriku sebagai seorang Dirgantara. Aku melihat bagaimana panik dan marahnya Papa Shasa pada para dokter yang sedang bekerja keras membawa
kesadaran Papa Janu kembali. Aku melihat bagaimana frustasinya Papa Shasa melihat kondisi Papa Janu yang entah bagaimana didalam sana. Yang kudengar hanya teriapkan marah Papa Shasa pada para dokter yang kemudian berganti menjadi teriakan marah pada Papa Janu, lalu tangisan keras dan panjang yang menyakitkan dan berakhir dengan kesunyian yang cukup panjang saat asisten Papa Shasa, membawa laki-laki itu duduk di sofa panjang. Dari jauh kulihat keputusasaan dan kesedihan yang teramat sangat di wajah Papa Shasa. Sementara itu para dokter masih terus sibuk entah melakukan apa dan untuk apa. Setelah perjuangan panjang, Papa Janu kembali tersadar tepat disaat Juli dan Agusta pulang ke rumah.
Papa Janu meminta kami bertiga untuk masuk ke kamarnya setelah makan malam. Tapi sebelum makan malam, Papa Shasa memanggilku ke kamar kerjanya. Dia memintaku untuk menyimpan semua cerita dan pembicaraan kami tadi siang untuk diri sendiri. Tidak seorangpun boleh tahu termasuk Agusta dan Juli. Apapun yang terjadi, Hanya aku dan Papa Shasa yang boleh tahu dan memegang kendali mulai sekarang. Papa Shasa minta aku untuk mulai belajar dan perlahan menggantikan Papa Janu sekaligus suatu saat nanti menggantikannya.
“No, Papa. Aku masih terlalu muda dan aku bisa apa?” kataku menolak mentah-mentah gagasan menggantikan Papa Shasa di organisasi. Aku katakan kalau aku tidak akan pernah bisa menjadi mafia seperti dia, jangankan membunuh manusia, membunuh binatang saja aku tidak tega. Apalagi menggantikan Papa Janu yang super genius menurutku. Dia juga sangat hebat berkamuflase. Dengan peran dan kemampuan sehebat dia, bagaimana Papa Janu hanya terlihat seperti pegawai kantoran biasa. Aku? Tidak mungkin bisa melakukan hal yang sama.
“Dika, Papa tidak pernah minta kamu menjadi kami. Papa Janu tahu bahwa kamu lebih hebat dari dia. Analisa kamu lebih tepat dan lebih cepat, bagan stretegi kamu lebih tepat guna dan akurat. Kamu seorang pemimpin yang luar biasa. Tidak perlu kamu yang turun tangan. Aku tidak meragukan kemampuanmu menjatuhkan lawan dengan caramu, bukan caraku. Jadi kami yakin kamu akan mampu menggantikan kami. Dalam kehidupan atas, jadilah pemuda biasa yang tekun dan mahasiswa yang pekerja keras. Jadilah kakak yang bekerja keras menjaga dan membesarkan adikmu. Namun di dunia bawah, kamu adalah Devil Angel pengganti Janu and The Boss.
Ingat itu,” kata Papa Shasa.
“Tapi pa, masih lama. Masih jauh lah. Dika masih harus banyak belajar. Kenapa harus dibicarakan sekarang? “ tanyaku dengan heran. “Papa Janu dan Papa Shasa masih ada kan?”
“Papa nggak yakin, my devil angel akan bertahan malam ini. Kasihan Papamu menahan kesakitan hanya karena
kita tidak merelakannya. Aku sudah iklas. Papa tahu, papa Janu kesayangan kita akan pergi lebih dahulu. Papa minta, kamu yang paling besar jaga adik-adikmu. Iklaskan Papa Janu dan teruskan pekerjaannya.” kata Papa Shasa.
“Papa jahat! Papa Janu pasti sembuh!” teriakku dengan keras. Sesak didada kurasakan seperti saat aku melihat ledakan itu. Sakit dan beban yang tadi kukatakan kini kembali kualami.
Papa Shasa memelukku dan berbisik. “Relakan. Mereka siap untuk pergi, jangan kamu membuat langkah mereka menuju keabadian menjadi berat. Kita tidak boleh egois. Papa Janu terlalu sakit untuk bertahan bersama kita. Papa Shasa tidak tega nak. “ Aku kembali teringat wajah pucat Papa Janu akhir-akhirnya. Nafasnya yang selalu tersengal. Seluruh badannya yang ditopang oleh mesin kehidupan. Segala macam obat yang menyiksa untuk membuatnya bertahan. Argh! Aku egois. Aku ingin dia selalu disampingku tapi aku membiarkannya kesakitan.
“Dika, kita laki-laki. Kita adalah penopang keluarga ini. Kita tidak boleh lemah. Kita boleh menangis dan bersedih saat kita sendiri atau dihadapan cinta sejati kita, selain itu, tidak!” kata Papa Shasa sambil menepuk bahuku.
__ADS_1
Dia mengajakku keluar untuk makan malam. “Ingat Dika, hanya kita yang boleh tahu. Jangan pernah tunjukan siapa dirimu dan bagaimana kita, pada siapapun sampai kapanpun.”
Di meja makan, Juli dan Agusta menceritakan apa yang terjadi hari ini padaku. Agusta masih sesekali menyapa
Papa Shasa, namun tidak dengan Juli. Adik perempuanku ini tidak pernah menyukai Papa Shasa. Menurutnya, Papa Shasa adalah laki-laki sombong tidak tahu diri yang sudah merusah Papa Janu, membuat Papa Janu melupakan Mama Maria. Selain itu, dalam buku hariannya yang diam diam kubaca, Juli sebenarnya menyukai sosok Papa Shasa yang tampan dan jantan. Sayangnya Papa Shasa tidak pernah memperdulikannya. Bagi Juli, Papa Shasa adalah satu-satunya laki-laki yang tidak memujannya dan itu menyebalkan. Dia membencinya. Ya Juli memang seperti itu.
Sejak kecil dia selalu ingin menjadi pusat perhatian semua orang. Tidak ada yang boleh mendapatkan lebih dari dia. Apapun yang dia inginkan selalu harus dia dapatkan. Papa Janu, Agusta dan aku selalu mengalah, namun tidak
dengan Papa Shasa. Bahkan saat aku dekat dengan beberapa wanita yang menyukaiku, Juli tidak pernah mengijinkannya. Dia selalu mengusir para wanita yang masuk dalam kehidupanku dan Agusta. Untuk Agusta, Juli selalu mengatakan sebagai saudara kembar, restunya yang menentukan siapa pasangan Agusta. Untukku? Juli selalu mengatakan bahwa aku miliknya. Dan aku memang tidak pernah keberatan. Aku terbiasa dengan Juli dan aku menyukainya. Mungkin ini yang namanya cinta?
“No, bukan cinta Dika. Juli bukan cintamu, tapi kamu termakan oleh obsesinya dan keinginanmu untuk membalas budi Janu. Jangan. Bebaskan hatimu nak,” tiba tiba Papa Shasa berbisik ditelingaku, membuatku berjenggit. Kadang kemampuan laki-laki ini dalam membaca pikiran orang, membuatku ngeri. Aku hanya diam tidak menanggapi bisikan Papa Shasa, menyelesaikan makan malamku. Sejak dulu, Papa Janu sering menjodohkan aku dengan Juli. papa janu selalu bilang bahwa akulah yang akan menjaga Juli selamanya. Dan rencana ini selalu mendapat tentangan sengit dan papa Shasa. Menurut Papa Shasa, aku akan bertemu dengan cinta sejatiku nanti, dan itu bukan Juli. Justru Juli yang akan menghancurkan hatiku. Papa Janu memarahi Papa Shasa karena hal itu.
Papa Shasa memandangku tajam seperti ingin mengingatkanku. Namun aku tidak tahu apa dan harus menanggapi bagaimana.
Juli dan Agusta yang tidak tahu persis keadaan Papa Janu heran saat kami bertiga harus menemui Papa Janu malam itu. Mereka hanya mengerti bahwa Papa Janu sedang sakit keras. Namun sekeras apa mereka tidak mengerti. Papa Janu dan Papa Shasa sangat pintar menutupi semuanya. Namun malam ini semua tidak lagi
bisa ditutupi. Malam ini Papa Janu (menurut Papa Shasa) memutuskan untuk pulang atas ijin Papa Shasa. Itulah mengapa kami semua berkumpul disini.
“Hai princcess,” sapa Papa Janu dengan lemah. Namun dimataku, yang melihat keadaan Papa tadi sore, keadaannya sekarang sudah jauh lebih baik. Dia terlihat setengah duduk di tempat tidur yang dibuat oleh Papa Shasa khusus untuknya.
“Sst, jangan menangis. Senyum dan buat Papa bahagia disaat terakirnya. Nanti setelah Papa tidak melihat, menangislah sepuasnya. Sekarang, kita harus membuat Papa bahagia seperti Papa selama ini selalu tersenyum dan membuat kita bahagia sesulit dan sesakit apapunkeadaannya,” bisikku pada Agusta. Papa Shasa yang ada disampingku, sepertinya mendengar bisikanku. Dia berbisik padaku sambil mencium ujung kepalaku. “Proud of you Son.”
Agusta mendengar apa yang kubisikan, langsung memandangku. Dimatanya tampak kesedihan mendalam.
“Sesakit itukah Papa? Kakak sudah tahu? Kenapa tidak bilang Agusta?” bisiknya padaku.
“Tidak penting lagi Agusta. Kalau mau marah nanti, bukan sekarang. Kakak juga baru saja tahu keadaan Papa. Papa hanya akan bertahan malam ini. Ini adalah kesempatan terakir bersama Papa. Kasihan Papa jika terlalu lama menahan sakit hanya karena kita egois menahannya. Lepaskan. Buat Papa bahagia. Besok, kamu mau tonjok kakak, silahkan. Tapi kakak mohon bukan sekarang,” kataku sambil menepuk bahunya. Agusta mengerti apa yang kumaksud. Adikku ini memang cerdas dan hatinya lembut. Sangat berbeda dengan kembarannya yang sedang menangis di pelukan Papa Janu.
“Eh gendut. Ngapain kamu nangis didada Papa Janu. Kasihan tuh, baju Papa ganteng jadi kotor karena ingusmu. Ish jorok!” kata Agusta sambil menjewer kuping Juli.
“Ihh apaan sih Agusta. Nggak lihat apa Papa Janu sedang sakit. Aku kan takut Papa kenapa-kenapa,” kata Juli sambil cemberut lucu.
“Iya, tapi ya nggak meper ingus di baju papa. Udah tahu papa sakit, bukannya ditawarin buah, dihibur, dinyanyiin malah mewek. Ya nggak Pa,” kata Agusta sambil tersenyum pada Papa Janu. Hebat juga akting adikku satu itu. Dia
benar-benar berusaha keras mencairkan suasana, melepaskan wajah sedih yang hanya terlihat dimatanya. Papa Janu tertawa sampai tersengal.
__ADS_1
“Tuh kan Agusta, gara gara kamu Papa jadi tertawa sampai susah napas,” kata Juli mengebuk Agusta.
“Sst sudah, kalian berdua malah brisik sih,” kataku menyentil jidak duo kembar . Mereka mengaduh bersamaan dan memukulku dengan keras. Papa Janu tampak bahagia melihat kami bertiga.
“Dika, Agusta,Juli, Papa bahagia punya kalian. Kalian adalah salah satu anugerah terindah dalam hidup Papa, yang selalu Papa syukuri. Kalian adalah keluarga Papa, dan selamanya kalian adalah keluarga. Tumbuhlah dan berkembang seluas mungkin, namun saat kalian lelah, kembalilah sebagai keluarga saling jaga dan saling
sayang,” kata Papa Janu sambil tersenyum. Juli dan Agusta yang sedari tadi ribut hanya terdiam menggenggam tangan Papa.
“Papa minta maaf karena tidak lagi bisa menemani kalian langsung. Tapi Papa selalu ada bersama kalian. Ingat itu,” kata Papa Janu masih terus tersenyum meski bertambah pelan.
“Dika, kamu masih ingat semua pesan Papa Janu dan Papa Shasa. Jaga adik-adikmu. Pastikan mereka bahagia dan Pastikan juga kamu bahagia dengan pilihanmu. Keluarga bukan beban karena kalian akan saling menopang dan menjaga,” kata Papa Janu sambil memandangku.
“Agusta, Juli, turuti kata Dika kakakmu dan baik-baiklah kalian nak. Shasa, titip anak anak. Kamu tahu aku selalu sayang kamu dan kamu duniaku. Maaf jika aku harus pergi lebih dulu. Aku menunggumu nanti setelah kamu
menyelesaikan tugasmu,” kata Papa Janu dengan lembut. Papa Shasa menggenggam tangan kiri Papa janu, sedangkan ditangan kanannya ada kami bertiga. Tak lama setelah itu, mata Papa Janu mulai tertutup, Nafasnya perlahan menghilang dan kami kembali kehilangan.
***
Hari ini adalah hari yang menyesakan bagi Rumah Maria. Aku, Agusta, Juli dan Papa Shasa hanya berdiam diri tanpa bicara. Kami seperti berada didalam rumah yang tertutup tirai kabut hitam, karena kehilangan matahari kami.
Pagi tadi kami sudah memakamkan jenasah Papa Janu. Tidak perlu waktu lama untuk memutuskan segera memakamkan jenasah Papa di samping Mama Maria. Toh kami keluarganya sudah ada disini semua. Keluarga Papa Janu sendiri sudah tidak peduli sejak lama padanya. Jadi untuk apa menunggu mereka. Toh saat kami
mengabarkannya pun mereka tidak merespon apa apa, seolah-olah mereka memang tidak mengenal Papa Janu.
Sepulang dari makam, entah kenapa kulihat Agusta menjatuhkandirinya dalam pelukan Papa Shasa. Papa Shasa yang sedang diam terpaku di sofa sempat kaget. Namun dia segera memeluk Agusta dengan sayang.
“Ssst, relakan Papa, son. Kamu anak laki-laki Papa Janu yang lembut dan sabar. Kamu cintanya Papa Janu. Kamu adalah fotocopy Papa Janu. Jadi semua duka ini pasti bisa kamu atasi, seperti Papa Janu selalu bisa mengatasi
kesedihannya. Masih ada Papa Shasa disini nak, ada Kakak Dika juga. Laki-laki boleh menangis. Menangislah sekarang di dada Papa. Simpan disana, setelah itu keluar dan buktikan kalau kamu bisa menjadi laki-laki sehebat Papa Janu. Kalian semua anak-anak hebat Papa, Agusta, Juli dan Dika. Tidak apa sekarang menangis. Tetapi
jangan terlalu lama. Jangan membuat Papa Janu bersedih melihat kalian lemah disini. Menangislah, lalu keluar dan buktikan pada Papa Janu, kalau kalian anak-anak yang bisa dia banggakan, ” kata Papa Shasa. Kudenga Agusta menagis terseduk sambil menyembunyikan mukanya di dada Papa.
Sedangkan Juli dari tadi sudah meringkuk di pelukanku dengan air mata yang tidak kunjung berhenti. Aku yakin
Juli juga mendengar kata kata Papa Shasa. Tadi dia sempat mengangkat kepalanya memandang Papa Shasa. Aku mengusap lembut gadis mungil yang selalu mengag=ku sebagai pacarku ini. Aku sangat menyayanginya. Jangan kawatir Pa, aku akan menjaga Princcess dan Agusta sekuat aku mampu.
__ADS_1