
“Lalu setelah kamu mengatakan perasaanmu, kamu pacaran?” tanyaku. Aku tidak tahu mengapa aku sangat ingin tahu status resmi mereka. Padahal sebenarnya tidak terlalu penting kan? Apalagi sepertinya apapun jawabannya aku tetap tidak suka mendengar M dekat Juli. Apa-apaan aku ini? Apa hak ku buat tidak suka? Arghh sudahlah, mending aku selesaikan sarapan. Toh M tidak menanggapi lagi omonganku dan kembali pada perjalanan virtual di otaknya, alias bengong. Aku memutuskan untuk membuat teh untukku dan kopi untuk M. Setelah meletahkan kopi dan teh aku berdehem membuat M kembali padaku.
“Jadi seteleh itu kalian pacaran? Kamu mengumumkan pada semua orang kalau kamu mencintai adik kamu sendiri?” kataku sambil menyeruput the. Dan kamu tahu apa yang dilakukan M? dia kembali berada di dunia antah berantah, alis Mahardika melamun lagi. Wajahnya tampak aneh. Ada sedikit senyum disana. Sepertinya dia sedang melamunkan masa lalunya saat bersama dengan Juli.
“Ya, sejak kejadian itu kami memang pacaran. Tapi aku tidak bisa mengumumkan hubungan kami pada siapapun. Juli tidak menginginkan ada yang tahu tentang hubungan kami,” kata M sedikit mengawang. Dia bicara seperti antara sadar dan tidak. Namun aku tahu kalau dia tahu apa yang dia bicarakan. Aku sendiri mulai sedikit memahami Juli. Namun tidak mungkin aku mengatakan apa yang kupikirkan. Bagaimanapun, M pasti tidak suka jika aku menilai hubungannya. Pasti dia akan malu kalau aku bilang dia dipermainkan oleh Juli.
“Lah kenapa?” tanyaku mencoba mengatakan keherananku dan sekaligus mencari tahu apa yang dia pikirkan. M mendengar pertanyaanku langsung mengerutkan keningnya. Dia tampak serius memikirkan sesuatu. Mungkin, dia sedikit menyadari arah pertanyaanku tentang Juli dan hubungan antara mereka yang aneh.
“Entah aku hanya mengikuti maunya Juli tanpa bertanya seperti biasa,” jawabnya dan mulai menyesap kopi. Aku rasa dia mulai berpikir tentang masa lalu dan hubungannya dengan juli. Lagi-lagi Mahardika melamun.
“Kalian aneh. Kalau memang saling cinta, kenapa tidak diumumkan saja. Toh kalian pasangan yang ideal. Tidak seperti aku dengan Pradipta. Dia terlalu sempurna untuk menjadi pendampingku yang seperti gajah bengkak,” kataku mencoba membandingkan keadaanku. Tepi memang benar begitu adanya. Juli sangat cantik dan Mahardika sangat tampan. Jika mereka tampil bersama, maka semua orang akan bilang sebagai pasangan serasi. Rasanya baik Mahardika maupun Juli bisa saling membanggakan satu sama lain. Sangan berbeda denganku. Pradipta laki-laki pintar, tampan dan lulusan luar negeri. Sementara aku saat itu seperti kata mereka, gajah bengkak.
Aku bisa bangga sekali memiliki suami pradipta. Tapi Pradipta akan sangat mau jika
orang tahu, istrinya sangat gemuk dan jelek.
“Bukannya kamu dan Pradipta juga sama?” tanyanya menanggapi pembicaraanku. Oke, dia sepertinya mulai membandingkan keadaannya dengan keadaanku. Tentu saja tidak akan sama. Aku adalah perempuan yang tidak pernah dilihat keberadaannya oleh orang lain selain orang tuaku dan Sandra. Disinilah hebatnya Pradipta. Dia satu-satunya laki-laki yang melihatku, bahkan menikahiku. Sedangkan Mahardika dan Juli adalah pusat perhatian. Mereka memiliki banyak pilihan untuk menjadi pendamping. Dan ketika mereka memilih saling mendampingi, itu tidak mengherankan dan bisa saling membanggakan. Dan lagi, jika Juli menyembunyikan hubungannya dengan Mahardika, aku selalu mengatakan statusku sebagai istri Pradipta.
“Nggak juga. Kan aku tidak pernah menyembunyikan statusku sebagai istri. Kalau ada yang bertanya, ya aku bilang kok kalau aku sudah menikah dengan Pradipta. Sayangnya, tidak ada yang pernah bertanya,” kataku dengan yakin. “Bahkan Juli juga tahu aku istri Pradipta.”
Aku sangat ingat dengan pertemuanku dengan Juli yang berakhir dengan bencana memalukan yang sempat viral. Sebuah kejadian yang membuatku sadar siapa Pradipta, ibu mertua dan saudara iparku sebenarnya. Sebuah kejadian yang membuatku mengakui kepiawaian Juli dalam berakting. Kejadian saat pertama kali aku menemui Juli setelah mengetahui perselingkuhan dia. Kejadian yang kadang aku sesali, mengapa aku harus mencari Juli saat itu, mengabaikan keraguanku.
Flash Back On
Aku ingat telah mendatanginya meski firasatku mengatakan jangan. Firasatku mengatakan bahwa pertemuan ini akan berakibat buruk bagiku. Aku bertanya apakah dia Juli dan dijawab dengan angkuh.
“Ya, betul saya Juli. Ada apa?” katanya dingin tanpa membalas uluran tanganku yang ingin menyalaminya. Aku menarik tanganku perlahan dan duduk didepannya. Baiklah, sepertinya aku harus segera menyelesaikan ini, karena aku lihat dia tidak nyaman dengan kehadiranku saat itu.
“Aku Nada. Aku rasa kamu mengenal Pradipta. Aku istri dari Pradipta yang kamu kenal,” kataku perlahan dengan ragu.
“Ha.. ha... ha… pede juga ya kamu. Tadinya aku kasihan padamu, tapi sekarang, aku kasihan sama tunanganku yang terjebak denganmu delapan tahun ini,” katanya mengejekku. Dari sinilah aku tahu bahwa dia memang tahu kalau Pradipta sudah memiliki istri. Dia tahu kalau Pradipta sudah menikah 8 tahun denganku.
“Aku tahu siapa kamu.,” kata Juli sambil mengamati cincin berlian ditangannya.
“Oh ya, perlu kamu tahu, kami sudah bertunangan. Dia memberikan cincin berlian ini untukku. Sedangkan kamu? Oh iya aku lupa, kamu yang membeli cincin pernikahannya ya, kasihan sekali. istri yang tidak pernah dianggap dan
disentuh. Atau jangan-jangan kamu juga masih perawan dan tidak pernah disentuh suamimu?” ejek wanita itu. Mukaku entah sudah berwarna apa. Aku merasa terhina dan hancur mendengar semua yang dikatakannya. Aku terdiam dan tak mampu berkata-kata membalas perkataannya. Tidak aku tidak boleh menyerah, tekatku saat itu.
“Juli, kamu wanita hebat dan cantik. Kamu masih bisa mendapatkan laki laki manapun yang lebih hebat dari Pradipta. Dan aku hanya memiliki Pradipta. Tolong tinggalkan suamiku,” kataku memohon dengan derai air mata di pipiku. Aku menyesal jika mengingat aku sudah begitu merendahkan diriku.
“Aku tahu kalau kamu tergila gila dengan tunanganku itu. Tapi aku sarankan padamu, belilah sebuah cermin besar, lalu mengaca siapa dirimu. Agar kamu sadar bahwa kamu tidak pantas mendampingi seorang CEO seperti Pradipta. Kamu itu hanya buntelan kentut besar yang memalukan Pradipta. Ah sudahlah. Lebih baik kamu pulang dan jangan pernah menggangguku atau Pradipta. Sadar diri lah sedikit agar kamu tidak dipermalukan. Dia tidak akan pernah mengakui kamu sebagai istrinya,” katanya lagi sambil berdiri, bersiap meninggalkanku.
“Juli, Pradipta itu suamiku, kami sudah menikah 8 tahun. Apa kamu tidak malu menjadi pelakor,” teriakku yang menarik perhatian para pengunjung. Juli
terlihat panik. Dia segera memandang keseliling dan sepertinya menyadari semua
__ADS_1
mata memandang kami. Dan iulah awal bencanaku.
Flash Back off
Akupun kembali kealam nyata saat M memanggilku. Dia mengungkit tentang pengakuan Pradipta bahwa dia belum menikah. Itulah mengapa Pradipta dijuluki Most Wanted Single diberbagai media, baik dalam maupun luar negeri.
“Emang iya?” tanyaku mencoba mengingkari. Aku sendiri memang pernah dengar tapi aku tidak peduli sebenarnya. Dulu Aku terlalu sibuk untuk membaca majalah gosip. Dulu aku sangat percaya Pradipta. Aku tahu, M terkejut dengan ketidak tahuanku pada berita gosip di media baik cetak maupun on line.
“Iya, aku memang menggunakan internet sekedar untuk belajar dan kepentingan komunikasi. Aku tidak punya media sosial karena suami dan ibu mertuakuku melarang,” kataku mencoba menjawab keheranan yang dia ungkapkan melalu matanya.
“Trus medsosmu?” tanyanya
“Itu bisa-bisanya Sandra saja. Tapi ya sudah hanya itu, tidak pernah aku urusin sejak jaman dulu. Aku tidak punya waktu untuk bermain sosmed. Pekerjaan rumah dan tugas dari Pradipta membuatku cukup sibuk setiap harinya. Tidak ada waktu buat bermain sosial media,” kataku. Ah kenapa jadi bahas tentang aku sih. Kan kami sedang
membahas M dan Juli.
“Lalu, bagaimana dengan Agusta?” tanyaku lagi mengalihkan pembicaraan kembali ke topik semula. Kuakui aku memang tidak nyaman membicarakan masa laluku. Namun bukan itu masalahnya. Aku hanya intgin tahu
tentang M lebih banyak. Sebanyak M tahu tentang aku
“Tidak ada yang tahu, Agusta sekalipun. Hanya aku dan Juli yang tahu. Bahkan kata Juli, agar Agusta dan sahabat-sahabatnya tidak curiga, Juli memintaku untuk mencari pacar lain dan dia akan berpacaran dengan laki-laki lain yang bisa memenuhi kebutuhannya akan barang-barang mahal. Kami bersama sampai kuliah,” katanya.
“Ih kalian memang pasangan aneh. Mana ada pacaran tapi masing-masing pacaran dengan orang lain,” kataku tak percaya. Apa aku salah kalau menganggap mereka dan pemikiran mereka itu aneh? “Dan kamu mau? Kamu pacaran lagi dengan cewek lain? Kamu mempermainkan mereka?”
“Kamu keren,” tanpa sadar Aku mengatakan apa yang Aku pikirkan. Untung Aku segera sadar dan mengunci mulutku sendiri, meski kondisiku masih tetap sama dengan tadi. Menatapnya dan tersenyum. Apalagi saat melihat dia juga tersenyum memandangku.
“Seharusnya laki-laki memang seperti itu Nara. Itulah mengapa aku memanggil Pradipta bajingan. Kamu terlalu baik untuknya,” katanya, membuatku melayang. Ya, memang dia tidak berniat memujiku. Tapi kata-katanya terdengar manis bagiku.
“Lalu, Juli bagaimana?” tanyaku kembali mengingatkan pembicaraan kami.
“Ya seperti aku bilang tadi. Selama aku pacaran, dia juga berpacaran dengan banyak cowok kaya yang selalu memanjakannya dengan hadiah,” kata M. Kenapa ya dikepalaku langsung nyanyi “Cewek matre… cewek matre… kelaut aje”. Jahat ya? Maaf, aku benar benar langsung berpikir seperti itu setelah mendengar kata kata M tentang Juli. Kalau begitu, bagaimana bisa M menganggap Juli pacarnya sih? Jadi hubungan mereka sebenarnya apa? Benar-benar aneh.
“Trus kamu pacarannya?” aku bertanya seperti ini karena penasaran tentang hubungan mereka yang sebenarnya. Sekilas aku lihat M melihat kearahku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Kadang seperti tatapan orang pada ayam goreng yang lezat, kadang lembut lalu berubah jadi orang yang gemas. Aku jadi ke ge-er an kan.
“Aku dan Juli pacaran di rumah. Kan kami masih tinggal serumah. Kadang Juli memintakumenemaninya jika cowok-cowoknya sibuk. Jika ada yang mengganggunya, aku masih selalu melindunginya. Pacar-pacarnya hanya tahu aku adalah kakak angkat Juli. Jadi ya kami bisa bertemu dengan bebas tanpa perlu kencan,” jawab M dengan
tenang. Menurutku, M juga sadar kalau pemikiran dan gaya pacaran mereka aneh. Mungkin
dia sangat mencintai Juli dan selalu mengalah untuk mengerti.
“Toh aku memang tidak punya banyak waktu untuknya. Dia butuh cowok yang menjaga dan mengantarnya kemana-mana dan membelikan apa yang dia inginkan,” katanya lagi. Aku benar-benar heran. Sebesar itukah cintanya sampai dia rela mencarikan pembenaran atas segala pengkhianatan Juli padanya? Benar-benar wanita yang beruntung kamu Juli, kata ku dalam hati.
“Itu cowok apa sopir merangkap ATM?” ungkapku sedikit sini, tanpa bisa aku tahan. Sumpah aku benar-benar tidak berniat untuk mengatakannya. Mulutku ini kadang memang sangat sulit aku kendalikan.
“Haish, kayak kamu nggak gitu ke Pradipta,” kata M sambil nyengir menang. Tuh kan, aku kena skak lagi. Tapi kan beda ya. Aku dan Pradipta sudah menikah. Sebagai suami istri, wajar dong kalau kami saling mendukung. Wajar kan kalau kami saling berbagi tugas dan materi. Salahnya dimana? Berbeda dengan M dan Juli yang menikah. Aku mengatur nafas dan menutup mataku untuk melihat kebenaran kata-kata M. Sejauh ini aku merasa tidak ada yang salah dengan pengorbananku untuk cinta dan rumah tangga.
__ADS_1
“Sejak awal, Juli memang selalu manja padaku. Jika ada yang menggoda, dia selalu berlindung dibelakangku. Dia selalu bilang kalau mereka tidak boleh mengganggunya, karena dia milikku. Namun saat kami bersama, Juli selalu mengatakan bahwa tidak boleh ada yang tahu hubungan kami dan dia tidak mau dikekang. Dia merasa masih
terlalu muda untuk hanya terpaku padaku. Dia bilang dia masih ingin menikmati masa mudanya tapi membutuhkanku,” kata M sambil melamun. Argh! Dia mengulang dan mengulang kata-katanya, untuk membela Juli. Terlihat sekali bahwa diamenganggap Juli segalanya baginya.
“Apalagi aku sering meninggalkannya, karena aku harus kuliah sambil bekerja Itu kenapa aku membiarkan Juli berpacaran dengan orang lain. Apapun yang terjadi, selama ini, Juli selalu kembali kedalam pelukanku dia selalu kembali padaku. Petualangannya hanya aku anggap sebagai petualangan remaja yang mencari jati diri dan kesepian akibat kesibukanku. Aku memaafkannya. Dan kami akan kembali bersama lagi,” kata M.
“Jadi, kenapa bisa Juli bersama suamiku kalau dia selalu kembali padamu?” tanyaku sambil melotot. Aku sedikit marah dengan kebodohannya. Bukannya takut padaku, dia malah tertawa melihat aku melotot.
“Hehehe, kamu lucu kalau marah ternyata. Itu saat dia masih SMA dan aku kuliah. Sampai akhirnya aku menjadi sangat sibuk dan tidak bisa mengunjunginya yang kuliah di Amerika,” katanya sambil menghela nafas.
“Jadi kalian berpisah begitu saja tanpa putus?” tanyaku keheranan. Hubungan macam apa yang sedang mereka jalin?
“Bagiku kam tidak pernah putus. Bagi Juli, kami tidak pernah pacaran,” kata M dengan sendu. aksudnya?” tanyaku kebingungan.
“Agusta pernah bertanya tentang kekasih kekasihnya. Dan dari semua nama, namaku tidak dia sebut. Aku lalu bertanya pada Juli, tentang posisiku dihatinya. Dia bilang aku adalah kakak terbaik baginya,” kata M sambil menghela nafas.
“Lalu apa
tanggapan Juli? “ tanyaku sambil membetulkan duduknya menghadapku dengan lebih serius.
“Saat aku tanya tentang pernyataannya yang mengiyakan lamaranku untuk menjadi kekasih, Juli hanya tertawa dan mengatakan bahwa aku keterlaluan dan urusan seperti itu kenapa harus dibuat becanda. Bagaimanapun kakak adalah kakakku kan? “ Itu kata Juli. “Tapi saat itu Juli memang sedang dekat dengan seorang bintang film yang
sangat populer dan sedangbersinar.” Kenang M.
“Kenapa kamu tidak mengajak bicara Juli tentang perasaanmu dengan serius?” tanyaku.
“Saat itu tidak memungkinkan untuk mengajaknya bicara. Aku harus pergi dalam waktu yang cukup lama. Rencananya aku ingin memperjelas saat kembali. Sayangnya menjelang kepulanganku aku mendapat kabar kalau Juli sedang patah hati parah dan tertekan. Dia bersembunyi di apartemen kakak temannya di Singapura, apartemen
Pradipta. Dan itulah awal dari buaya darat itu merayu gadisku,” katanya.
“Buaya darat? Dia suamiku. Juli yang keganjenan merayu Pradiptaku. Jika juli tidak merayunya dan menyodorkan tubuhnya, cintaku tidak akan meninggalkanku,” katanya kesal
“Jangan naif Nara. Seperti cerita yang kamu tahu, Juli dirampas oleh Pradipta dan dijauhkan dariku,” kata M membuatku mengernyitkan dahinya seperti tidak mengerti.
“Kenapa menyalahkan Pradipta? Juli yang datang ke apartemen suamiku. Dia yang menggoda suamiku. Juli yang menawarkan dirinya pada suamiku. Sebelum kehadiran Juli, hubungan kami baik baik saja meskipun LDR. Cintaku selalu menjagaku, memberikan kabar dan komunikasiku baik baik saja,” kata Nara dengan muka masam. Terlihat
sekali dia tidak terima aku mengatakan bahwa suaminya buaya dan bajingan licik.
“Nara, Juli kesana karena diajak Prita dan Pipit. Dia kesana karena stres, patah hati. Pradipta memanfaatkan kerapuhan Juli dan pura-pura menghiburnya. Lalu dia menipu Juli agar bisa memacari dan menidurinya. Ya walaupun Pradipta bukan laki-laki pertama bagi Juli,” kata M yang masih terus mencoba membela Juli .
“Itu berarti, kamu pun tidak ada dihati Juli. Lalu jika Juli patah hati dan dipaksa oleh cintaku, tidak mungkin kan dia itu melupakan mantannya. Melupakan patah hatinya yang katanya sangat parah dan membuatnya rapuh. Hanya beberapa hari kan dia di Singapura sampai akhirnya mereka pacaran dan bahkan tunangan,” kataku lagi. M
tetap membela Juli dengan mengatakan bahwa Pradipta hanya pelarian. Aku katakan bahwa Juli memang mengejar Pradipta. “M, kamu terlalu dibutakan oleh rasa cintamu pada Juli. Bahkan menurutku Juli tidak pernah mencintaimu. Dia hanya memanfaatkanmu untuk melindunginya dari cowok-cowok yang menggodanya,’ kataku
dengan sedikit emosi. M tampak mengerutkan dahinya. Mungkin dia mendengar nada suaraku yang naik tadi.
__ADS_1