Nada Nara

Nada Nara
58. Bertemu Denganmu Lagi (Bagian 2)


__ADS_3

Sejak menapaki karpet merah, Nara sudah menjadi pusat perhatian. Dia melangkah dengan tenang dan anggun. Pemandangan saat itu menampilkan seorang wanita sempurna yang pinta dan sexy.  Apa yang orang tidak tahu adalah apa yang tidak terlihat oleh mata, yang tidak seperti yang terlihat. Hal ini tak luput dari perhatian seorang Pradipta, si pemilik acara.. Semua perhatian yang tersedot menuju karpet merah dan berlanjut  ballroom, membuat Pradipta mengerutkan keningnya. Dia mulai mencari apa yang mampu menyedot perhatian sebagian besar tamunya saat itu. Matanya terus menyapu ruangan,hingga matanya terpaku pada seorang wanita yang belum dia kenal namun sudah mampu menjadi pusat acaranya  tanpa disengaja. Ada sesuatu di wanita itu yang membuatnya terpaku. Ada  sesuatu  di wanita itu, yang mengingatkannya pada hal yang dia sendiri tidak tahu apa. Saat mata mereka bertemu, Pradipta merasa sangat mengenal mata itu. Tapi dia tidak tahu siapa. Matanya seperti terpaku tanpa bisa melepaskan diri dari pesonanya. Namun disaat yang sama, Juli menmgembalikannya pada kenyataan siapa dirinya. Juli mengembalikan pusat dunia yang tadi sempat berpindah dengan suara yang tajam dan menekan.


Pradipta sangat paham maksud nada Juli yang ingin mengendalikannya dari balik topengnya sebagai perempuan lemah. Sangat tidak mungkin terjadi, itulah pikiran Pradipta. Laki-laki itu memeluk pinggang Juli. Meski matanya masih tetap mencari gadis itu, diam-diam. Pradipta tidak mau mengambil resiko, Juli tahu kalau dia sedang mencari gadis lain


Saat ini Juli adalah asetnya. Diusianya sekarang untuk bisa menduduki posisi penting di pemerintahan, dia harus menikah. Juli adalah orang yang tepat untuk dia pilih mendampinginya. Selain cerdas, dan cantik, Juli juga populer dan memiliki massa yang bisa dia manfaatkan untuk mengangkat namanya. Dia harus hati-hati dalam hal perempuan sekarang ini. Jadi lupakan gadis karpet merah. Pradipta kembali memusatkan perhatiannya pada pesta dan tamu yang ada didepannya.


Lain pradipta lain pula Nara.  Setelah tatapannya bertemu dengan Pradipta tadi, hingga dia hampir terjatuh, mencoba menenangkan diri dengan segelas orange juice. Setelah tenang dia kembali memusatkan diri kepada Mahardika. Dengan suara pelan dan tertahan, Nara mengakui kalau dia tidak tahu harus berbuat apa.


“ Aku harus bagaimana M? Bagaimana caraku menarik perhatiannya? Bagaimana aku mendekatinya? Bagaimana aku merayunya sekarang? Dia bahkan hanya melihatku sekilas dan tak bergerak dari sisi Juli,” kata Nara


“Berusahalah untuk menarik perhatian Pradipta Nara. Dia sudah melihatmu. Aku tahu dia tertarik padamu sesaat.


Setelah itu entah kenapa dia memakai topeng dinginnya. Mungkin karena dia takut Juli tahu. Mungkin dia takut Juli marah. Apakah dia selemah itu? Setahuku selama ini diapun banyak bermain perempuan dibelakang Juli. Jadi kamu  pasti bisa mendekatinya,” kata Mahardika.  Nara berpikir dengan cepat. Dia bergerak kearah meja minuman yang memang melimpah disediakan untuk tamu. Saat sudah tak jauh dari Pradipta, dilihatnya laki-laki itu mengambil segelas wine dan Nara tahu bahwa Wine itu adalah wine bekas orang lain. Dia segera meraih gelas Pradipta


“Maaf Tuan, saya rasa, sebaiknya gelas anda diganti. Gelas itu sudah diminum oleh Nenek keriput yang dari tadi menatapmu seperti mau memakanmuitu,” kata Nara sambil menunjuk seorang wanitayang tak lain adalah direktur HRD LC. Pradipta yang terkejut terdiam sejenak lalu tertawa. Dia sekilas melirik ke gelas yang tadi diambilnya dan memang disana tampak ada noda lipstik.


“Apa katamu? Kamu memanggilnya Nenek keriput? Wow, berani sekali kamu menyebut Madam direktur seperti itu,” kata Pradipta sambil mengambil gelas wine baru yang diambilkan Nara. Dia tahu siapa yang dimaksud oleh Nara. Pradiptapun tahu bahwa Madam Direktur sering menggodanya secara terang-terangan, menawarkan *** padanya. Dia tersenyum sambil berjalan. Dia berlalu begitu saja, tanpa Nara sempat mengenalkan diri.


Nara yang terpesona dengan tawa Pradipta, hanya diam membisu seperti patung. Jantungnya berdegup kencang tanpa bisa dia hindari. Mulutnya terkunci dan badannya seperti membeku. Jangankan memperkenalkan diri, menahan langkah Pradipta yang pergi begitu saja, tidak mampu dilakukan Nara. Wanita itu benar benar membeku karena tawa dan sentuhan ringan jari Pradipta saat mengambil gelas wine tadi. Ya, secara singkat, Pradipta membelai jari Nara dengan jarinya ringan, tak terlihat oleh orang lain namun mampu membuat darah Nara membeku diimbangi dengan degupan sang jantung yang memompa.


Di earpun Nara terdengar suara Mahardika menarik nafas berat. Tentu Mahardika melihat situasi tidak

__ADS_1


menguntungkan ini.  Dia tahu, usaha pertama ini sudah gagal total. Nara berhasil bicara dengan Pradipta namun tidak berhasil berkenalan. Bahkan Nara tidak bisa berkata apa apa saat laki-laki itu pergi. Meskipun tidak terlalu


yakin, dia melihat gerakan jari Pradipta dan seringai licik laki-laki itu. Ya, pasti Pradipta menyentuh Nara hingga Nara membeku seperti itu.


“Adrian, dekati Nara dan cubit dia agar segera sadar!” perintah Mahardika yang langsung dilaksanakan oleh  Adrian. Dengan gerakan seperti seorang asisten yang ingin memberikan informasi pada tuan putrinya, Adrian membungkuk disamping Nara dan memanggil namanya di telinga wanita itu. Menurut Adrian, mencubit wanita yang sedang membeku ini bukan pilihan terbaik.


“Sudah cubit saja, percuma Adrian. Kamu harus cepat!” kata Mahardika sedikit keras. Suaranya tak terlalu terdengar karena dia menjatuhkan satu buah gelas dari meja tanpa disadari siapapun. Sambil membungkuk seolang ingin membersihkan pecahan, Mahardika berteriak ditelingan Nara.


Wanita yang membeku itu sedikit tersadar saat mendengar bentakan Mahardika. Nara kembali sadar bahwa dia masih on duty. Dia mencoba melawan seluruh rasa yang dia sendiri tidak tahu. Dia hanya tahu, ini adalah akibat dari pertemuannya dengan Pradipta. Saat bertemu saja sudah membuatnya gugup, apalagi saat Pradipta memberikan sentuhan kecil. Sekilas dalam pemikiran Nara ada rasa bersalah kepada Mahardika. EH! Apa? Merasa bersalah pada Mahardika? Nara kembali menelusuri hatinya memikirkan apa yang baru saja terlintas dikepalanya. Namun belum jauh dia berpikir, Nara terjenggit karena bisikan namanya di telinga. Ya, Adrian kembali memanggilnya langsung ditelinga, sedikit lebih keras dari tadi. Nara menengok pada Adrian, melihat laki-laki


setengah Rusia itu tersenyum padanya.


Banyak wanita yang tergila-gila pada Adrian. Namun laki-laki ini selalu dingin dan tidak peduli. Dia jarang sekali tersenyum seperti ini. Jika para wanita melihat senyum Adrian saat ini, pasti mereka akan berteriak histeris. Nara? Wanita itu tersenyum geli dengan pikirannya saat ini.


“Humpth,” terdengar suar aneh keluar dari muka Adrian yang masih tampak datar. Dimatanya ada kilatan tawa yang hanya bisa dilihat oleh Nara. Jika saat itu hanya ada Nara dan Adrian, pasti akan terdengar suara tawa berat Adrian yang hanya pernah didengar oleh Nara dan Mahardika, serta orang terdekat Adrian. Bahkan beberapa kekasih laki-laki ini tidak pernah melihatnya sama sekali. Ya, benar, beberapa kekasih. Adrian meskipun terlihat sangat, namun dia buaya sejati. Itulah istilah yang diberikan Nara untuknya. Adrian adalah laki-laki  dingin yang mampu membuatpara kekasihnya bertekuk lutut menyerahkan diri dan rela di dua tiga kan. Sehebat itulah pesona Adrian bagi pada laki-laki cantiknya. Laki-laki? Ya benar, laki-laki cantik. Adrian memang tidak pernah tertarik pada Nara, karena dia perempuan.


“Whoi, kalian berdua. Kerja!” terdengar teriakan Mahardika yang entah dimana. Adrian langsung menegakan tubuhnya bersikap siaga seorang bodyguard. Sedangkan Nara yang sempat terlonjak kaget karena suara Mahardika, sedikit menghentakan kaki, jengkel. Ia melebarkan pandangannya mencari Mahardika.


“Aku tidak ada disana Nara, tidak usah dicarai. Aku sedang di toilet sekarang,” kata Mahardika masih dengan suara


keras. Ya, jika Mahardika bisa bicara bebas seperti ini, bisa dipastikan laki-laki itu tidak ada di ballroom. “Adrian, usahakan kamu selalu disamping Nara. Kalian berdua jangan menyentuh apapun selain dari yang aku berikan.”

__ADS_1


“Kamu dimana M?” tanya Nara.


“Kan sudah aku bilang aku di toilet,” kata Mahardika.


“Trus kenapa masih terus bicara? Segera selesaikan urusanmu di toilet dan bekerjalah. Aku tidak melihat Pradipta sama sekali. Aku harus bagaimana?” tanya Nara.


“Hei, aku sedang bicara. Saat kamu mematrung, aku mengikuti Pradipta. Aku sekarang sedang ada di dekat toilet karena Pradipta sedang melepaskan hasratnya di Toilet dengan seorang wanita. Mereka berisik sekali, teritama wanitanya. Rupanya Pradipta memasukan barangnya dengan kasar,” kata Makardika sambil tertawa pelan.


“Apa? Apa maksudmu?” tanya Nara bergetar.


“Tenang Nara. Jangan ikuti cemburu dihatimu. Toh kamu juga sudah tahu kelakuan Pradipta yang satu ini. Hei, ada yang tahu dimana Juli?” Tanya Mahardika. Nara mendengar jelas apa yang dikatakan Mahardika. Apakah benar dia cemburu? Nara memegang dadanya. Tidak ini bukan rasa sakit. Nara sangat yakin bahwa dia tidak sakit hati mendengar Pradipta di toilet bersama wanita. Dia tahu pasti bahwa rasa itu bukan cemburu. Sangat berbeda dengan rasa yang dialaminya saat terjebak di apartemen Pradipta dan menonton live Pradipta dan Juli.


Tapi Nara merasa perutnya mual dan seperti mau muntah. Nara bertanya dalam hatinya Apakah merasa jijik karena membayangkan apa yang dilakukan Pradipta di kamar mandi? Apakah dia mual karena pengkhianatan atau lebih karena apa yang dilakukan dua manusia tak bermoral ditempat yang tidak semestinya?  Ah sudahlah, sepertinya hal itu sudah tidak penting lagi. Bagi Nara, ini adalah saat dia berkonsentrasi menata langkahnya mendekati Pradipta.


“Juli sedang ada di kamar mandi lantai dua Pak, sedang di toilat bersama dengan Produser yang menawarkan peran padanya,” kata anak buah Mahardika yang bertugas mengawasi CCTV. Apa?! Juli juga melakukan hal yang sama di toilet? Laki-laki itu bahkan sudah beristri dan rambutnya sudah beruban? Meski tidak terlalu jelek, namun jauh berbeda jika dibandingkan dengan Mahardika dan Pradipta! Nara benar benar tidak habis pikir dengan apa yang didengarnya saat ini. Apakah memang seperti ini dunia interteinmen? Bagi Nara ini sangat mengerikan. Nara kembali merasa mual. Rasa yang sama saat dia mengetahui bahwa Pradipta melakukan hubungan *** di toilet dengan wanita yang bukan kekasihnya.


Nara menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Dia harus menenangkan diri dan melupakan semua pembicaraan ini. Apa yang dilakukan Pradipta dan Juli diluar pemikirannya. Nara tidak menyangka, diacara sebesar ini, diacara mereka sendiri, Keduanya melakukan hal seperti itu. Padahal tamu sudah memenuhi ballroom dan acara puncak belum dimulai. Kalau melihat jadwal yang ada ditangan Nara, Pradipta masih harus melakukan  presentasi dan memberikan beberapa patah kata di puncak acara. Sedangkan sebagai wajah LC, Juli seharusnya ada disana untuk menyambut para tamu.


Tiba-tiba terlintas dalam pemikiran Nara, keadaan Mahardika. Apakah dia baik baik saja mendengar Juli sedang melakukan hal menjijikan itu di toilet bersama laki-laki lain? Apakah dia marah dan cemburu? Nara baru menyadari bahwa Mahardika dari tadi hanya diam. Padahal dia yang menanyakan diama Juli berada. Apakah Mahardika diam karena marah dan sakit hati? Jangan-jangan Mahardika sedang pingsan? Atau jangan jangan saat ini Mahardika sedang menuju ke toilet  lantai  dua dan mengamuk? Oh, tidak! Jangan sampai terjadi.Nara sangat khawatir sekaligus merasa ada sesak di dadanya. Ada rasa sakit yang tak terlihat disana. Tapi kenapa?


“Mahardika! Kamu dimana? Apakah kamu baik baik saja?” Setengah berteriak Nara memanggil Mahardika membuat beberapa tamu memandangnya. Adrian yang menyadari hal itu langsung memegang pundaknya. Nara

__ADS_1


segera menyadari kesalahannya.


“M, kamu tidak apa-apa? Kamu dimana? Apakah aku perlu kesana M? Apakah kita batalkan saja rencana kita? Kata Nara setengah berbisik dengan nada khawatir yang sangat.


__ADS_2