Nada Nara

Nada Nara
BAB 45 . Dendam Mahardika Cinta Nara (bagian 2)


__ADS_3

POV Mahardika


Sesuai janji, sepulang sekolah Aku langsung mencari Juli. Di lorong keluar aku melihat Juli sedang di hadang oleh 3 cowok bertampang preman. Aku tahu siapa mereka. Cowok-cowok pembuat onar di sekolah yang cukup ditakuti oleh siswa-siswa lain. Mereka seniorku yang akhirnya menjadi satu angkatan karena seringnya tidak naik kelas. Namun mereka juga anak orang kaya yang uangnya cukup besar menyokong jalannya proses belajar mengajar


disekolah ini. Mungkin itu sebabnya, mereka masih ada disekolah ini meskipun kelakukuan mereka meresahkan siswa lain.


Lorong dimana Juli dihadang biasanya lumayan ramai orang lewat di jam seperti ini. Saat ini, lorong itu mendadak sepi. Jalan keluar sekolah memang ada beberapa, selain yang saat ini kami lewati. Tapi lorong ini pun bukan tidak pernah dilewati siswa, hingga sesepi sekarang ini. Aku yakin sebelumnya, para siswa sudah tahu apa yang terjadi. Rupanya Juli juga sudah tahu akan seperti ini, itu mengapa Juli memastikan siang  ini ada Mahardika  yang melindunginya.


“Juli!” teriakku membuat empat orang dilorong itu menengok kearahku. Kulihat seorang cowok dengan tubuh tegap dan lumayan tampan, menyeringai kearahku. Dia dan dan kedua temannya  memandangku dengan sinis


“Tsk, tuan putri memanggil anjingnya ya rupanya,” katanya sambil tertawa diikuti teman temannya.  Kepalaku terasa panas didera amarah. Juli yang berdiri tenang tersenyum melihat kedatanganku.


“Kamu yang anjing. Dia kekasihku, jauh lebih baik dari kalian. Jadi sebaiknya kalian tahu diri dan pergi dari sini sebelum kalian dibuat babak belur,” kata Juli. Ya, Juli memang selalu bangga dan mengandalkanku untuk bisa membuat siapapun yang mengganggunya babak belur. Pelatihan beladiri dari Papa Shasa memang membuatku tak terkalahkan selama ini. Aku hanya dikalahkan oleh Papa, om Sergei Dan Om Andrei. Kalau mereka, aku menyerah


kalah, bahkan sebelum naik ring. Tiga orang ini jika digabungkan dalam satu pertempuran, maka tidak akan ada lawan yang masih bisa pulang tanpa ijin mereka.  Mereka sangat ahli dalam berbagai pertempuran, baik tangan kosong maupun dengan senjata. Meskipun menurut ketiganya aku sudah menguasai ilmu mereka bertiga, namun aku sendiri tidak pernah yakin dengan kemampuanku dihadapan mereka. Menurut Papa Shasa, keraguanku menghadapi mereka itulah yang membuatku kalah. Tak usah diragukan lagi, ketiganya dan Papa Janu,  selain jagonya beladiri juga memang ahli mind game yang tak terkalahkan.


Itu jika berhadapan dengan tiga master yang kukagumi. Namun saat berhadapan dengan musuh, aku belum pernah kalah. Bahkan jika berhadapan dengan cecunguk pengganggu Juli, seperempat kemampuanku saja sudah cukup untuk membuat mereka babak belur. Bahkan kadang aku belum sempat berkeringat saat para pecundang itu lari tunggang langgang meninggalkan kami  erdua. Aku benar-benar tidak pernah ragu menghadapi mereka sebenarnya. Namun ada hal yang harus aku jaga  an rahasiakan yang tidak bisa aku tunjukan pada orang

__ADS_1


lain yang kemudian membawa pertanyaan serta kecurigaan


“Wow, takuttt!” teriak si pecundang yang didepan Juli  sarkasme. Aku tahu kalau mereka meremehkanku. Aku yang tadinya emosi, mulai tenang. Aku melihat keadaan Juli baik-baik saja. Itu berarti cecunguk cecunguk ini belum menyentuh gadisku. Mereka terlalu banyak omong kosong dibanding berkelahi. Hanya senjata ditangan


orang bodoh yang membuatku harus waspada.


“Kalian sebaiknya segera pergi dari sini dan jangan  pernah mengganggu Juli lagi. Se-la-ma-nya…” kataku sembari menekankan kata selamanya. Kupasang muka sedatar mungin serta mencoba menata suara dan jawabanku. Meski mereka tidak menyadari, aku melihat kilat gentar dimata mereka, meskipun ditutupi dengan sikap tengilnya.


“Buahahaha, kalau kami tidak mau gimana?” kata pecundang gila menantangku. Aku kembali meringis melihat mereka. Benar-benar pecundang yang tidak bisa mengukur diri. Kesombongan dan kemanjaan mereka njadi kelemahan yang membuatku tersenyum.


“Yakinlah. Badan kayak dia, sendirian, bisa apa ? Sudahlah, tidak usah banyak bacot dan buang waktu. Lebih baik kamu kesini. yang, kitabertempur di ranjang saja bagaimana?” kata laki-laki itu membuatku jijik dan kembali marah. Diam diam mataku melakukan scanning. Kulihat ketiga orang didepanku dengan hati-hati. Aku tahu aku pasti menang melawan mereka bertiga. Tapi aku juga tidak boleh terlalu percaya diri dan gegabah. Menurut Papa Shasa, musuh yang paling berbahaya ada musuh yang terlihat lemah atau yang sangat dekat dengan kita. Dalam situasi apapun, bahkan saat kita benar benar sudah diatas angin, kita tetap harus waspada dan menilai kelebihan musuh yang memungkinkan untuk menyerang kita.


Aku memindai semuanya. Aku bisa melihat kemampuan mereka yang diatas rata-rata siswa SMA pada umumnya. Kelebihan mereka juga berada pada kenekatan dan kemampuan menahan sakit. Mereka masing masing membawa senjata tajam yang jika berada ditangan orang ya ng tepat, bisa mematikan. Sedangkan si pecundang pengaggum Juli memiliki sebuah pistol kecil  yang dari caranya memegang, sudah biasa dia gunakan. Sedangkan kelemahan mereka sekaligus hal yang bisa menjadi bahaya tak terkendali adalah emosi mereka yang mudah terpancing dan sangat labil. Kali ini aku tidak boleh main-main. Salah salah, nyawa gadis kecilku yang terancam.


Omongan orang tentang genk ini memang benar. Mereka adalah siswa berandalan yang selalu mengandalkan uang orang tuanya. Apapun yang mereka lakukan, pihak sekolah memaaafkan dan tidak melakukan apapun karena


orang tua mereka yang bertindak. Tidak ada yang berani menegur mereka. Anak anak ini, terutama si pecundang itu bahkan bisa memporak-porandakan seisi kota namun tidak akan mendapat sangsi apapun. Bahkan untuk pistol yang dibawanya kali inipun entah dari mana asalnya. Di negara ini, memiliki senjata api tidak semudah beli pisang goreng teman. Namun dengan uang, kadang kita bisa memungkinkan apa yang tidak mungkin. Dari Papa Shasa aku banyak belajar bagaimana menghadapi orang-orang seperti ini.

__ADS_1


Aku memandang Juli dan memberikan beberapa instruksi padanya lewat isyarat jari yang kami pelajari dari Papa Janu untuk berkomunikasi secara rahasia. Juli mengangguk. Aku dan Juli merencanakan untuk mengalahkan genk ini dan membuat keadaan terbalik. Dalam sekejap aku sudah bisa memegang pistol kecil sekaligus menjatuhkan dua lawan lain dengan mudah.Sedangkan Juli yang tadi sempat mengalihkan perhatian pecundang didepannya


tertawa gembira dan memelukku.


“Lihat kan, kekasihku jauh lebih hebat dari kalian,” katanya membanggakanku. Aku hanya tersenyum dengan hati bangga. Bagaimana tidak bangga, kalau aku diakui sebagai kekasih orang yang kita sayangi. “Pergilah


kalian atau kekasihku akan membuat kalian babak belur.”


“Juli, jangan sombong, tidak baik,” kataku mengingatkan. Namun Juli tetap memprofokasi ketiga orang yang tadi menyerangnya. Meski jelas aku sudah menang dari mereka namun ketiga pecundang itu masih yakin bahwa bodyguard mereka akan membantu dan menghabisi aku yang sendirian. Aku tertawa tergelak dan mengacungkan jempol atas keyakinan yang begitu kuat. Mereka malah mengancam akan menghancurkan hidup Juli, aku dan keluargaku.


“Halah, banyak omong ya kalian. Jangan pernah mengancam Juli dan aku apalagi keluargaku. Belum sampai kalian menyentuh kami, nyawa kalian sudah menyeberang ke neraka. Atau sekarang saja?” kataku sambi mengacungkan


pistol yang kurampas tadi, dikepala pemilik pistol Hal ini membuat ketiganya  gemetar. Mereka akhirnya menyerah dan pergi.


Setelah kepergian mereka itulah aku mulai menyatakan perasaanku dan mengajaknya pacaran Juli menyambut perkataanku dengan tertawa lebar. Dia mengangguk dan menjulurkan kelingkingnya tanda kami menjadi pasangan kekasih. Aku tentu menyambut gembira. Kukecup ringan pucuk kepalannya dan kutarik Juli dalam pelukan. Julli tersenyum, lalu mengajakku untuk segera pulang. Sepanjang berjalanan aku tersenyum gembira. Apalagi mendengar kekasih beruku berdendang kecil di boncenganku sambil memeluk pinggangku dengan erat.


Flash Back off

__ADS_1


__ADS_2