Nada Nara

Nada Nara
Bab 111. Juli Tak Ingin Membuat Masalah (Bagian 1)


__ADS_3

Pulang dari taman Pradipta berjalan dengan gembira. Dia sendiri tidak menyangka, efek bertemu dengan Nara membuat dadanya mengembang karena rasa bahagia. Dia bahagia karena bisa menggenggam tangan Nara. Ada rasa nyaman yang tidak pernah dia dapat dari Juli. Dulu, rasa nyaman yang sama pernah muncul dari istrinya Nada. Sayang rasa nyaman itu tertutup dengan rasa jijiknya pada gumpalan lemak yang dimiliki istrinya. Rasa nyaman itu baru dia sadari sekarang, dulu tertutup oleh rasa malu atas hinaan orang sekelilingnya karena memiliki istri sebesar gajah bengkak.  Perasaann nyaman itu kembali hadir dari orang yang berbeda.  Perempuan cantik yang sangat bisa dia banggakan. Bahkan lebih cantik dan lebih baik dari Juli. Sepertinya Pradipta mulai membandingkan Nara dengan Juli. Sepanjang perjalanan dari rumah Nara sampai rumah kediaman Hermawan, senyum Pradipta terus mengembang. Tampak jelas dari wajahnya, laki-laki itu sangat senang dengan pertemuan di taman tadi.


Sesampainya di kediaman Hermawan, Pradipta melangkah gontai dan menyapa keluarganya. Aura kebahagiaan yang tadi membuat wajahnya bersinar sedikit berubah. Dari mobil yang terparkir diluar, Pradipta tahu siapa yang datang malam itu. Dia tahu bahwa dia harus menjawab pertanyaan pertanyaan tanpa ujung dari kekasihnya. Yah, kekasihnya ini memang berbeda dengan istrinya, Nada. Dulu Nada beberapa kali pernah cemburu dan bertanya. Namun saat dijelaskan, setidak masuk akal apapun jawaban Pradipta, Nada tidak akan bertanya lagi. Nada akan memperlakukan dirinya sebagai suami yang harus dilayani istrinya. Berbeda dengan Juli yang selalu menuntut menjadi putru raja yang harus selalu dibahagiakan. Kalau cemburu atau curiga, dia akan bertanya panjang lebar dan berkesan mengejar. Saat ini, Pradipta sedang tidak ingin diganggu dengan interogasi dan rengekan Juli.


“Aku sudah pulang kok. Lah tumben jam segini pada kumpul,” kata Pradipta sambil masuk ke ruang keluarga, masih bisa mendengar ucapan ayahnya yang menanyakan dia di mana. Kata kata Pradipta disambut gembira oleh ibunya. Ibunya juga memberi tahu Pradipta, ada Juli yang datang ke kediaman mereka. Pemberitahuan yang sebenarnya tidak penting menurut Pradipta. Tentu saja semua langsung tahu ada Juli di kediaman Hermawan.


Juli yang melihat tunangannya datang langsung memberikan senyuman kepada Pradipta. Pikiran Pradipta yang masih dipenuhi oleh kekaguman dan kebahagiaan pada Nara, tidak melihat senyum sapaan dari tunangannya itu. Pradipta hanya memandangnya sekilas tanpa membalas senyuman Juli. Dia melangkah terus menuju kamarnya.

__ADS_1


“Pradipta mau kemana kamu?” panggil pak Henky.


“Ke kamar yah, lengket banget badanku,” kata Pradipta.


“Lalu bagaimana dengan Juli,” tanya pak Henky setengah heran menatap anak laki-lakinya yang sudah menyeberangi ruang keluarga.


“Mas, kalau mau mandi, lebih baik ajak aja Juli ke kamar. Biar dia nunggu di kamarmu. Kami mau istirahat. Kasihan kak Juli sendirian nanti,” kata Prita.

__ADS_1


“Iya mas, ajak nak Juli ke kamar sana,” kata bu Henky menyetujui usul Prita sambil tersenyum.


“Lah kan sudah malam. Kenapa nak Juli nggak pulang saja?” kata Pak Henky sambil mengernyitkan dahinya. Laki-laki tua itu merasa, perempuan datang kerumah laki-laki apalagi semalam ini, adalah sangat tidak pantas. Menurut pak Henky, seharusnya Juli langsung pulang.


“Hus bapak ini seperti nggak paham. Namanya juga anak muda. Biarkan saja,” kata bu Henky memarahi suaminya. “Nak Juli, udah sana, nunggu di kamar Pradipta aja. Biarkan Pradipta mandi dulu ya.” Tambah bu Henky.


Mendengar kata-kata pak Henky membuat Juli tidak enak. Namun dia juga ingin berbicara dengan tunangan itu. Banyak yang harus mereka bahas sehubungan dengan persiapan pernikahan yang sebentar lagi. Juli sendiri sadar dengan perubahan Pradipta kepadanya. Dan julipun sadar sepenuhnya kalau  pikiran Pradipta masih pada Nara dan kencan mereka di Taman. Bagaimanapun, Pradipta tidak boleh lepas  darinya. Orang dan netizen sudah tahu rencana pernikahan mereka. Bahkan Pradipta mellamar dirinya saat sedang on air di televisi swasta terbaik. Jika sampai pernikahan mereka gagal, Juli kawatir akan menjadi pemberitaan dan viral. Hal ini akan sangat merugikan Juli dan merusak reputasinya. Juli bertekad, apapun yang terjadi, dia harus mempertahankan pertunangan dan rencana pernikahan ini, dengan cara apapun.

__ADS_1


Pradipta sendiri, setelah  mendengar kata-kata ayah ibunya, menoleh kebelakang dengan enggan. Diulurkan tangannya pada Juli yang sudah melangkah lebih dekat dengan dirinya. Juli menyambut uluran tangan Pradipta dengan gembira. Mereka menuju  kamar Pradipta tanpa kata.


__ADS_2