
Sementara keluarga Henky sedang sibuk dengan keberadaan Juli dirumah mereka, Nara sudah berada di kamarnya. Dia baru pulang dari taman menemui suaminya, Pradipta. Setelah membersihkan diri dan memilih bergelung di tempat tidur. Toh M dan kedua sahabatnya sedang sibuk di ruang kerjanya saat dia pulang. Pikirannya kembali menerawang pada kejadian setelah makan malam tadi.
POV NARA- Flash Back on
Malam ini Henry dan Adrian makan malam dirumah. Seperti biasa aku menyiapkan makan malam yang cukup banyak untuk kami berempat. Saat kami menikmati buah di meja makan, sebagai penutup makan malam kami, smartphoneku berbunyi. M melirik sejenak ke layar smartphoneku dan mengerutkan kening.
“Pradipta? Kenapa dia menelponmu malam malam begini?” tanya M.
“Mungkin dia baru tahu kalau aku tadi ke rumahnya,” kataku dengan santai.
“Oh, mungkin juga. Sepertinya pendekatanmu pada pasangan Henky cukup berhasil,” kata M sambil menekan tombol hijau serta tombol speaker. Henry dan Adrian menatap kami dengan serius. Namun belum sempat berkata-kata, terdengar suara dari seberang sana, membuat kami berempat menutup mulut tak bersuara.
__ADS_1
“Halo,” kataku dengan lembut menjawab telpon suamiku itu. Tak ada balasan dari sana cukup lama. Lalu kulihat tulisan yang disodorkan M sambil melotot. “Jaga suaramu. Kamu Nara bukan Nada!” ah, iya aku salah menggunakan warna suara tadi. Itu adalah suara asliku. Seharusnya aku menggunakan suara Nara. Hufttt semoga Pradipta tidak menyadarinya. Kupandangi tiga laki-laki didepanku yang terlihat sedikit kuatir. Tapi kemudian Henry tersenyum padaku sambil menyentuh tanganku lembut dan memberikan kode untuk menjawab “hallo”
“Eh, halo. Ini Mas Pradipta?” kataku dengan warna suara Nara. Diujung sana sesaat masih belum ada jawaban. Namun kemudian terdengar suara Pradipta yang membuatku lega. Sepertinya dia tidak curiga, meski sempat terdiam. Entahlah apa dia sadar dengan suara Nada tadi, atau tidak.
“Hai Nara, Iya ini aku Pradipta. Apa kabar?” kata Pradipta.
“Oh, baik. Ada apa mas, malam malam begini menelpon?” tanyaku dengan nada kubuat datar dan cuek.
“Aneh aja sih. Ada apa mas?” tanyaku lagi.
“Tidak ada apa apa, hanya ingin mendengar suaramu saja. Oh ya, kamu sedang apa?” jawab Pradipta dengan lembut membuat jantungku berdebar dan rasanya pipiku memanas. M tiba tiba berdehem pelan membuatku tersadar untuk tidak terhanyut dengan rayuan Pradipta, seperti yang M katakan.
__ADS_1
“Ehm, sedang siap siap untuk pemotretan besok lalu tidur mas,” kataku sedikit berbohong. Sebenarnya persiapan untuk pemotretan besok bukan tanggung jawabku. Semua sudah disiapkan oleh mbak Sri dan aku tinggal berangkat.
“Tadi sore kamu membuat kue putu mayang? Memangnya kamu bisa masak dan buat kue?” tanya Pradipta. Tuh kan benar. Pasti Pradipta menelpon karena tadi aku ke kediaman Hermawan. Keluarganya pasti sudah bercerita tentang aku. Mungkin dia penasaran apakah Nara yang dia kenal dan yang datang kerumahnya tadi sore adalah orang yang sama.
“Ya bisalah mas, namanya perempuan ya harus bisa masak, bikin kue dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Tentu selain harus cerdas. Boleh berkarir, sepanjang tidak melupakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga,” kataku
dengan lancar. Ya ini adalah jawaban yang selalu aku berikan kalau ada yang menanyakan tentang keahlianku memasak. Tak kudengar jawaban dari mas Pradipta. Dia terdiam. Aku mulai berpikir, apakah dia sadar kalau ini adalah jawaban Nada? Aduh, salah lagi!
“Kenapa?” tanya M padaku yang sedang kebingungan.
“Jawabanku adalah kata kata Nada,” kataku tanpa bersuara. Adrian dan Henry hanya menggelengkan kepala. M tersenyum padaku sambil memegang tanganku yang dekat dengannya. Diciumnya tanganku dan ditepuk kecil. Aku kembali merasa tenang. Baiklah. Aku harus tenang. Bukankah itu jawaban biasa yang bisa diberikan oleh wanita manapun?
__ADS_1