Nada Nara

Nada Nara
Bab 79 Kencan Kedua (Bagian 2)


__ADS_3

POV Mahardika


Setelah tadi pagi berbicara denganku, siang ini Pradipta menelpon Nara diantara jam makan siangnya. Sungguh gigih laki-laki ini. Aku harus bersabar mengikuti permainan Pradipta, demi Nada’s Project, demi kebahagiaan Nara.


“Kamu baik baik saja? Aku mendengar apa yang terjadi padamu kemarin sore. Tapi aku sama sekali tidak bisa menghubungimu. Aku berusaha mencari tahu kevberadaanmupun aku tidak tahu. Saat aku ke kantor polisi, mereka bilang kamu sudah pulang,” kudengar suara pradipta. Aku coba menghilangkan ketidak sukaanku dan menjadi


obyektif. Ya, dia cukup tulus saat menanyakan keadaan Nara. Dari suaranya dan cara berbicara, kali ini Pradipta benar benar, mengkhawatirkan Nara. Saat Nara menerangkan bahwa dia baik baik saja meskipun sempat ketakutan,  terdengar laki-laki itu menghembuskan nafas leganya.


“Tidak masalah, cantik. Oh iya, mas mau menawarkan untuk mengurus asuransi kalung Nara. Untuk detilnya bagaimana kalau kita makan malam nanti malam? “ Pradipta. Nah kali ini baru menyebalkan. Saat Pradipta kembali menjadi buaya yang menyebalkan, suaranya terdengar mesum dan licik.


“Ehm, tapi semua urusan kalung itu diurus oleh manajemen, bukan Nara,” kata Nara.


“Untuk detilnya, biarkan nanti manajemen LC dan manajemen Nara yang mengatur. Tapi sebelum itu


kita diner dulu,”


“Lah kenapa begitu?” kata Nara seolah tidak peka dengan kode Pradipta. Eh tapi, kayaknya memang dia tidak peka sih. Benar-benar polos dan tidak tahu modus Pradipta. Kudengar Pradipta menarik nafas berat. Mungkin dia jengkel dan gemas dengan Nara yang sama sekali tidak menangkap siyal modus yang dia layangkannya.

__ADS_1


“Ya ampun Nara, kenapa sih kamu sepolos ini. Nara, mas hanya ingin bertemu dengan kamu dan makan malam dengan kamu cantik. Kalau untuk masalah asuransi, besok semua sudah akan selesai. Jadi bagaimana? Nara mau dinner sama mas?” kata Pradipta yamg sudah mulai merubah panggilannya. Aku lihat ada kilat bahagia di mata Nara. Yah aku tahu Nara  memang  sebahagia itu mendapat perhatian Pradipta. Meskipun dia sudah bukan Nada yang selalu mendapat bulian dari orang banyak. Dia adalah Nara yang dipuja banyak laki-laki. Namun pemujaan dan perhatian Pradipta selalu mampu menumbuhkan binar nbintang dimata cantiknya itu. Entah kenapa kenyataan ini membuatku sesak.  Sepertinya Nara menyadari kalau aku memandanginya, dan menoleh padaku. Dengan gerakan bibir, dia bertanya pendapatku, tentang  ajakan Pradipta. Aku tersenyum dan mengangguk. Nara langsung tersenyum lebar melihat aku menyetujuinya. Namun entah kenapa aku tidak menyukainya.


“Nara? Kenapa diam?” tanya Pradipta diujung telpon.


“Eh maaf, baru  melihat agenda Nara mas, sepertinya Nara ada sesuatu sampai jam 6,” kata Nara mengedipkan matanya padaku.


“Ya nggak apa-apa. Mas bisa menjemputmu jam 7 atau jam 8,”  kata Pradipta.


“Nanti kemalaman lho,” kata Nara. Aku tahu Nara masih memainkan permainan tarik ulur agar tidak berkesan bersemangat menginginkan makan malam tersebut seperti umumnya wanita. Tingkah Nara yang mau-mau tidak itu akan membuat Pradipta gemas dan terus mengejar. Well done Nara.


“Kita sudah dewasa Nara, kalaupun makan malam dan tidak pulang, tidak akan ada yang marah kan?” tanya Pradipta memancing.


“Apa akan ada yang marah kalau kita makan malam dan terlambat pulang? Kekasih Nara?” tanya Pradipta makin memperjelas pancingannya.


“Oh nggak ada kekasih kok Nara,” kata Nara lembut. Ah, kenapa dadaku terasa sesak. Rasanya aku seperti laki-laki yang tidak dianggap oleh kekasih. Padahal Nara tidak salah. Dia tidak punya kekasih tetapi dia punya suami yang tidak ingin mengakuinya. Dan aku hanya laki-laki yang ingin memanfaatkannya dengan dalih ingin membantunya, tanpa dia sadari. Lalu kenapa aku harus marah?


“Oke, berarti aku boleh dong mengajak dinner Nara malam ini,” kata Pradipta.

__ADS_1


“Ehm, oke boleh,” kata Nara malu malu. Mukanya memerah sambil melirikku.


“Baiklah, Nanti aku jemput jam 7 ya. Aku jemput di Apartemen?” kata Pradipta.


“Hah Apartemen?” kata Nara.


“Iya aku nanti jemput di lobby apartemenmu atau ke unit? “ kata Pradipta dengan yakin.


“Hah? Kok Apartemen?” kata Nara masih linglung dan keherananwah gawat. Nara sepertinya tidak ingat jika dia sedang menjadi Nara sang model yang tinggal di apartemen mewah. Jika dibiarkan, Pradipta akan curiga atau malah Nara membuka kedok siapa dia dan alamat markas ini.  Aku segera merebut smartphone Nara sementara Nara masih kebingungan.


“Maaf tuan pradipta, Nara harus take photo. Bagaimana jika untuk makan malam, Nara akan kami antar ke restoran yang tuan Pradipta tentukan. Karena sepertinya tidak akan cukup waktu untuk kembali kerumah dan terlalu merepotkan jika Tuan harus menjemput Nara di  apartemen. Terlalu macet dan akan menghabiskan waktu,” kataku.


“Baiklah, bagaimana dengan bertemu di Restauran dimana saya dan Nara makan siang kemarin?” kata Pradipta. Oh, tidak. Nara tidak boleh kesana sendiri. Sedangkan bagiku, akan sangat mencurigakan jika aku kembali kesana bersamaan dengan kencan Nara.Sepertinya aku harus memindahkan tempat kencan mereka.


“Maaf karena pemotretan Nara di utara, untuk kembali ke selatan sepertinya terlalu melelahkan. Bagaimana kalau kami yang atur tempatnya? Bagaimana dengan jimbaran resto di Ancol pukul 7 atau 8?” kataku.


“Oh oke, nice place. Boleh juga. Sampaikan pada Nara, saya akan menunggunya disana,” kata Pradipta. Dan akhirnya telpon itu ditutup. Sementara Nara masih terdiam. Akhirnya aku memberikan secangkir teh dan menyadarkannya. Setelah itu aku mencoba menerangkan kenapa aku melakukan semuanya tadi. Aku mengingatkan dia akan resiko yang bisa dialami Nada’s Project karena sikapnya tadi. Pembicaraan kami cukup panjang dan intens sampai Nara memahami apa yang harus dilakukan dan kemungkinan yang akan terjadi.  Lalu  aku menghubungi Sri untuk mempersiapkan Nara, Aku juga menyiapkan beberapa pengawal untuk Nara dan menghubungi Adrian serta Henry. Kami bertiga segera melakukan koordinasi dan membuat rencana perlindungan

__ADS_1


bagi Nara dengan matang. Nara pergi diantar Adrian dan seperti biasa kami membayanginya dari jarak aman.


__ADS_2