Nada Nara

Nada Nara
Bab 12 Nada adalah Nara (bagian 2)


__ADS_3

Flash back


Kembali ingatanku melayang ke masalalu saat aku akan pulang ke Mama di Bandung bersama Tania. Aku seperti


menonton film dalam kepalaku. Kulihat aku duduk dikursi penumpang, sementara Tania mengendalikan mobil sambil mendengarkan musik Kitaro kesayangan kami. Kami mengendara ditengah hujan dan gelap gulita,karena saat kami pergi pun sudah jam Sembilan malam. Jalanan licin dan berbahaya. Pamandangan didepan terganggu dengan kabut tipis dan gerimis. Tania mengendarai mobil dengan saat hati hati.


“Nada, kamu sadar tidak, dua mobil dibelakang kita, dari tadi mengikuti kita?” kata Tania sambil melihat ke spion beberapa kali. Aku segera bangkit dari kantukku dan melihat kebelakang. Ada dua mobil landrover hitam yang sama persis, ada dibelakang kami. Dibelakangnya ada mobil merah yang sepertinya aku juga pernah melihatnya. Namun karena gerimis dank abut tipis ini, aku tidak terlalu yakin.Tania berusaha melakukan maneuver untuk memastikan apakah mobil itu mengikuti kami. Dan ya, benar, mereka menempel dan mengikuti kami terang terangan sekarang. Mungkin mereka tahu bahwa kami sudah sadar dengan kehadiran mereka. Tania mulai menambah kecepatan, berusaha menghilang dari kuntitan kedua mobil tersebut. Namun tiba tiba mobil bergerak tak terkendali. Tania mulai terlihat gelisah.


“Kenapa Tania? “ tanyaku sedikit ketakutan Perasaanku saat ini mulai terasa tidak nyaman. Tania tampak berpikir keras. Entah apa yang ada dalam pikirannya, namun dia melirikku dan menarik nafas panjang.


“Nada, apapun yang terjadi, jika kamu bisa keluar dari mobil, jangan kembali ke mobil. Bersembunyi sampai orang-orang itu pergi. Jangan percaya pada siapapun setelah itu,” kata Tania.


“Tania, jangan bicara ngawur. Konsentrasi pada mobil dan berhenti,” kataku. Tania tampak tersenyum.


“Nada janji ya, hiduplah dan bahagia. Kamu tidak boleh kembali kemobil apapun yang terjadi. Ambil handphone  dan dompetmu, kantongin, tinggalkan tasmu sekarang,” kata Tania.


“Meskipun bingun, entah kenapa aku melakukan yang tania katakan. Setelah selesai, tania meminta KTP ku dan memasukan k etas yang dia taruh di pangkuannya. Tak berapa lama, salah satu dari mobil itu menyalip kami. SEtelah ada didepan kami, mobil itu menyorotkan lampu sorot yang menyilaukan membuat Tania kehilangan arah. Alih alih mengendalikan mobil, Tania membuka kunci mobil dan melepas sabuk pengamanku. Dia membanting setir mobil kekiri membuat mobil terbuka dan aku terlempar keluar. Setelah itu, mobil berjalan tak terkendali hingga menabrak pembatar jalan lalu pohon besar yang tak jauh dariku. Aku yang terlempar berteriak ketakutan memanggil nama Tania. Namun aku  ingat kata kata Tania. Apalgi dua mobil Landrover dan mobil sport merah itu berhenti tak jauh dariku. Aku yang kesakitan, lemas dan bingung memutuskan untuk berbaring dibalik pohon.


Aku melihat empat orang turun dari dua Lanrover dan dua orang turun dari mobil sport. Tepat saat itu mobilku mulai terbakar dengan Tania masih didalamnya. Keenam orang itu bukannya menolong tapi malah sedikit menjauh menonton mobilku meledak dan terbakar habis. Aku hanya bisa menangis dalam diam sambil menggigit kardiganku


agar tidak didenngar oleh orang lain. Sedih, takut teramat sangat dan putus asa, aku bersembuyi dibalik pohon besar.  Setelah memastikan mobilku terbakar parah, keenam orang itu pergi meninggalkan lokasi. Setelah mereka pergi barulah ada kendaraan lain yang berhenti hendak menolong tapi sudah sangat terlambat.  Aku mendekat kearah jalan raya mendekati sebuah mobil sayur yang berhenti. Sopir yang kemudian kukenal bernama Mang Udin


ternyata melihatku.  Matanya terbelalakmelihat kondisiku. Dia mendekatiku dan memberikan air minum dan bertanya apakah aku penumpang mobil yang terbakar. Aku mengangguk sambil terus menanngis tanpa suara. Aku tidak bisa berkata-kata. Saat Mang Udin akan memanggil bantuan dan polisi, aku segera mencegahnya. Aku tidak mau ada yang tahu kalau aku masih hidup. Aku mencoba menenangkan diri.

__ADS_1


“Maaf Mang Udin, saya mohon jangan katakana pada siapun kalau saya masih hidup. Ini menyangku keselamatan dan nyawa saya. Biarlah orang mengannggap saya sudah mati dalam kecelakaan itu. Kalau boleh, saya numpang Mang Udin untuk malam ini. Tidur di bak sayurpun tidak  apa apa Mang. Yang penting saya pergi dari sini tanpa diketahui orang yang sengaja mencelakakanku.,” kataku memelas. Mang Udin tampak berpikir keras. Ya siapa


yang mau mempercayai wanita gemuk dan compang camping dengan wajah lelah dan kotor. Namun aku akhirnya bernafas lega saat Mang Udin setuju. Dia menyuruhku naik di kursi depan dan meminta keneknya di belakang.  Setelah duduk, lelah kembali melandaku. Tanpa kusadari, aku langsung tertidur, sampai seseorang membangunkanku.


Saat membuka mata, aku melihat Mangn Udin membangunkanku bersama seorang perempuan tua yang bertubuh


mirip denganku. Mang Udin mengatakan bahwa kami sudah sampai di rumahnya. Dia memperkenalkan perempuan itu sebagai ibunya dan memintaku turun. Aku menyalami Emak, begitu mang Udin memanggilnya, dan mencium tangannya. Emak mengelus lembut kepalaku memberikan rasa nyaman. Emak menyuruhku untuk mandi dan makan. Emak meminjamkan sebuah daster yang sudah lusuh. Kuyakin adalah miliknya, namun aku tak peduli. Aku memang membutuhkan baju bersih saat ini, bukan bagu bagus. Setelah makan, emak menyuruhku beristirahat di kamar, yang kata emak itu kamar Mang Udin. Sementara mang Udin tidur beralaskan gelaran kasur di ruang tengah.


Dihari ketiga, aku memutuskan untuk pulang kerumah, dengan diantar Mang Udin.. Saat ini, baju dan celana panjangku sudah tidak layak pakai karena kecelakaan kemarin. Hanya cardiganku yang tersisa. Aku meminjam baju Emak. Ternyata Emak memberikan baju terbaiknya padaku, namun itupun terlihat sanngat tua dan lusuh. Tidak apa apa kan, yang penting pakaian itu bisa melindungi tubuhku dengan baik.


Saat memeriksa baju yang kupakai, kutemukan uang limaratus ribu di kantong celanakuku. Karena Mang Udin bersedia mengantarku sampai rumah seperti permintaan emak, aku hanya menyimpan seratus ribu untuk pegangan.  Kuberikan padanya dua lembar serratus ribuan yang ada di kantung celanaku. Dan dua lembar


aku berikan pada Emak. Awalnya emak menolak, tapi aku memaksa. Bagaimapun aku berhutang banyak pada Emak dan Mang Udin, uang yang aku berikan pun belum cukup. Aku berjanji suatu saat jika aku berhasil selamat, aku akan kembali kesini dan membalas budi baik mereka.


Setelah sampai diujung jalan menuju rumahku, kulihat bendera kuning bertuliskan namaku. Berdasarkan pengalaman kecelakaan yang membuat sahabatku meninggal menggantikanku, aku semakin sadar akan bahaya yang mengancamku.Itulah mengapa aku minta turun di ujung jalan. Aku mengenakan daster lusuh milik Emah, masker dan kerudunng hijab.  Kuminta Mang Udin bertanya memastikan bendera kuning tersebut. Orang yang ditanya, yang kutahu bernama pak Idrus menjelaskan jika yang meninggal adalah Nada. Mang Udinpun berinisiatif


tempatku terakhir berdiri memandangi Juli yang sangat akrab dengan Ibu mertua dan kedua adik iparku. Hatiku terasa perih. Apalagi beberapa tetangga yang keluar dari rumahku, menggunjing dan mencemooh kematianku akibat bunuh diri.  Ingin rasanya aku berteriak, aku masih disini ! Namun aku sadar, kalau aku sekarang muncul, maka satu kampung ini akan geger. Bagaimana tidak, mereka baru saja menguburkan jenasahku dan aku muncul lagi dengan baju lusuh seperti ini.


Setelah tenang, aku memutuskan untuk pulang kerumah dari pintu belakang. Diam diam aku menyelinap masuk rumah menuju halaman belakang yang selalu sepi. Kulihat disana, Ibu beserta ketika anaknya sedang duduk di gazebo sambil minum the dan makan kue. Kamu bertanya mengapa aku berhenti dan bersembunyi? Menurutmu, apakah aku harus mengucapkan salam, lalu memeluk mertua, suami dan adi-adik iparku, saat aku mendengar namaku disebut dengan tawa terbahak? Tidak akan.


Saat masuk, belum sempat mengucap salam, aku  mendengar hinaan dari mulut Pradipta dan keluarganya. Mereka juga bicara tentang keberuntungan mereka atas kematian Nada. Setelah kudengarkan baik-baik dari tempat persembunyianku, mereka sedang berbahagia mendapatkan harta Hermawan. Pradipta juga mengatakan kalau dia bahagia akhirnya bisa segera menikahi Juli setelah Nada mati, tanpa harus kehilangam harta Hermawan. Pipit mengusulkan agar Pradipta segera menikahi Juli. Namun usul ini tidak disetujui Prita.


“Jangan mas, jangan menikah sekarang. Tunggu beberapa bulan sampai orang lupa dengan Nada. Masalahnya, kan Nada kita bilang mati bunuh diri gara-gara stress terlalu gemuk dan buruk rupa. Kita juga bilang Nada depresi akibat video viral dengan Juli. Bisa bisa nanti orang curiga. Kak Juli lagi yang dapat imbasnya dan disalahkan orang. Lebih baik sabar sebentar untuk hasil terbaik. Toh semua warisan Nada sudah ada dikita. Nanti kita cari semua surat surat nya dan segera balik namakan ke mas Pradipta. Jangan sampai istri Hermawan itu mengambilnya,” kata Prita yang disambut anggukan dari yang lain. Wah jahat sekali mereka. Aku benar-benar telah tertipu oleh mereka selama delapan tahun ini.

__ADS_1


Setelah itu, mereka berempat masih terus membicarakan dan menghina Nada yang gemuk dan buruk rupa. Menurut mereka, dari pada mengotori pemandangan dan terus menjadi beban, mati adalah pilihan terbaik yang pernah Nada buat.  Saat itu pandangan mata Nada jatuh ke Pradipta yang sedikit memucat dengan omongan Prita. Namun wajahnya segera kembali datar.


Aku mendengar semua itu dari persembunyianku. Badanku gemetar dan keringat dingin. Bukan, bukan karena lapar atau sakit, tapi karena marah. Ternyata aku dan keluargaku begitu mudah dibodohi oleh mereka. Rasanya hanya Papa yang sadar jika mereka bukan orang baik. Aku ingat pesan Papa untuk menyimpan surat-surat aset-aset kami dengan baik. Papa berpesan untuk tidak membaliknamakan dan mempercayakannya pada siapapun termasuk Pradipta. Untungnya, meski sedikit tidak suka dan harus menghadapi Pradipta yang tersinggung, aku menuruti kata-kata papa. Kini aku harus masuk kekamarku dan menyelamatkan surat-surat aset kami. Segera aku


meninggalkan mereka dan menyelinap masuk. Setelah mengambil semua perhiasan dan uangku serta semua surat aset Hermawan, aku pergi dari rumah peninggalan Papa. Biarlah aku relakan rumah ini sementara, Namun aku tidak rela jika nantinya justru pelakor sialan itu yang menikmati hasil kerja keras papa.


Aku kembali menyelinap keluar lewat jalan masukku tadi. Pradipta dan keluargany sudah tidak Nampak disana. Mungkin sedang di depan menyambut tamu. Aku berhasil keluar. Untuk terakhir kalinya aku ingin memandangi kediaman Hermawan, tempat aku dibesarkan. Aku memandangi rumahku, dari pos satpam tempatku berlidung kemarin. Saat itu aku lihat dua perempuan yang sangat aku kenal dan aku sayangi keluar dari rumah sambil menagis. Mama tampak lemah di tuntun oleh Sandra. Mama tampak sangat sedih dan terpukul. Ya, siapa yang tidak terpukul dan sedih jika dikatakan anaknya bunuh diri dan meninggal dengan cara mengenaskan, terbakar hidup-hidup.


“Maafkan aku ma, aku pasti akan kembali dan menjelaskan semua, suatu saat nanti. Aku akan datang padamu jika sudah saatnya,” gumamku. Tadi aku hampir saja kalah dengan inginku. Aku ingin berlari mengejar mama dan ikut masuk ke mobilnya. Namun aku sadar bahwa aku harus melakukan sesuatu lebih dulu sebelum aku kembali ke keluargaku dan keluarga Pradipta. Aku hanya memiliki beberapa bulan untuk bisa kembali merebut cinta Pradipta, memeluk mama dan mencari orang yang ingin mencelakaiku. Entah mengapa aku merasa Juli dan pradipta terlibat disana.


Aku harus berubah terlebih dahulu, berjuang menjadi kurus dan menjadi sosok perempuan yang bisa membuat seorang Pradipta jatuh cinta. Aku harus mengubah total penampilanku, menjadi lebih baik dari Juli. Aku harus memenangkan hati Pradipta jika aku ingin kembali ke rumah itu. Aku harus membalas dendamku dengan berubah menjadi cantik.


Aku kembali teringa pada program makeover yang pernah kuikuti namun kuputuskan berhenti untuk menjaga nama baik Pradipta dan keluarganya. Aku akan kembali mengambil kesempatan itu apapun resikonya. Aku tahu itu tidak akan mudah. Bahkan untuk meyakinkan produser yang pernah kukecewakan dengan mundur secara dadakan dan


sepihak, pasti akan super sulit. Namun aku harus berusaha dan haru bisa. Kuambil kartu nama yang dulu pernah diberikan padaku. Kubalik kartu nama itu dan disana terdapat sebuah alamat yang kudapatkan saat aku masih menjadi peserta Makeover. Saat itu aku diminta menemui sang produser dirumahnya untuk mendiskusikan  mundurnya aku dari acara tersebut. Namun aku tidak pernah datang, memilih untuk pulang ke Bandung hingga harus terkena musibah kecelakaan.


Aku tahu, produser Makeover, yang bernama Mahardika itu mungkin masih tidak suka padaku. Namun aku


harus berusaha menemuinya  dan meminta dia untuk menolongku apapun konsekwensi dan berapapun biaya yang harus kubayar.  Aku yakin, dengan bantuan Mahardika sang ahli makeover, rekonstruksi wajah dan membangun image, aku bisa mengubah total penampilanku. Aku akan bisa melakukan make over demi rencana balas dendamku.


Sampai disebuah rumah tanpa pagar yang berkesan minimalis, aku berhenti. Inilah rumah Mahardika, sesuai dengan alamat yang diberikan.Rumah bernuansa hitam putih itu tampak sederhana, berkesan kuat dan sedikit dingin namun elegan. Sangat Mahardika.


Dengan ragu dia mengetuk rumah itu. Hari sudah larut saat aku sampai di kediaman Mahardika. Sebenarnya, aku sendiri ragu, namun aku juga tidak tahu harus kemana. Uang yang kupunyapun tidak banyak. Aku harus menyimpannya untuk persediaan makan sampai  mendapatkan pekerjaan. Untuk tempat tinggal, aku tidak tahu mau tidur dimana malam ini.

__ADS_1


Kuketuk lagi pintu rumah berwarna hitam itu, namun tidak ada jawaban. Kudengar suara musik cukup keras, aku yakin, ada orang didalam. Kucari bel yang mungkin ada, namun tidak berhasil kutemukan. Hawa makin dinngin dan sedikit seram diluar sini. Maka tanpa aku sadari, aku mulai menggedor pintu itu.


Pintu terbuka sedikit dan melongok sebuah wahaj tampan disana. Aku mengenalinya. Dia Mahardika, Mahardika sang ahli makeover, rekonstruksi wajah dan membangun image, pemilik PH pemilik acara Makeover, sekaligus produser acara tersebut. Dari reaksinya, Mahardika tahu siapa aku.


__ADS_2