Nada Nara

Nada Nara
Bab 59. Melihatnya Terluka (bagian 3)


__ADS_3

POV Mahardika.


Nara melangkah dengan anggun, tenang dan percaya diri. Dia sangat sadar jika dirinya menjadi pusat perhatian. Dengan gaya yang elegan wanita itu menyapa beberapa orang penting yang dia kenal. Namun dia juga memberikan senyumnya yang menawan kepada para pelayan katering dan staf tidak penting LC yang pernah dia temui, seperti wanita penjaga resepsioneis, petugas administrasi dan beberapa orang lainnya yang hari itu hadir sebagai bagian dari panitia. Nara berhasil menampilkan seorang wanita sempurna. Wanita yang cantik, pintar, ramah dan sexy juga baik hati. Tidak hern  jika tatapan kagum kini berpusat padanya. Menyadari hal ini, Pradipta mengerutkan keningnya dan kembali mengalihkan fokus dari lawan bicaranya ke wanita yang menjadi pusat perhatian.


Untuk kedua kalinya, pandangan Pradipta kembali terpaku pada Nara. Aku sangat tahu, dari wajahnya mengatakan bahwa Nara mengingatkan Pradipta pada sesuatu dibawah alam sadarnya. Namun tampaknya dia juga bingung, apa yang dia ingat. Aneh? Tidak sama sekali. Semua manusia pernah mengalami hal ini baik secara sadar maupun tidak. Mengingat sesuatu, tapi tidak tahu apa.


Aku tetap mengamati mereka dari jarak aman. Saat mata mereka bertemu, aku tahu dari bahasa wajah dan tubuh, Pradipta mengingat mata itu, tapi tidak mengenalinya. Jantungku berdegup kencang, menunggu apa yang akan dilakukan Pradipta. Apakah dia akan mengenali Nara sebagai Nada?


Aku yakin sekali saat itu, Pradipta sedang terpaku menatap wajah Nara. Bukan terpaku karena kecantikan dan sexy tubuh Nara, seperti mata para  bandot yang ingin kucungkil itu. Keterpakuan Pradipta berbeda. Antara terpesona ada  bagian dari wanita itu yang mengingatkan Pradipta pada sesuatu yang dia sendiri tidak tahu apa. Saat mata mereka bertemu, Pradipta merasa sangat mengenal mata itu. Tapi dia tidak tahu siapa. Matanya seperti terpaku tanpa bisa melepaskan diri dari pesonanya. Sebuah pesona yang sekaligus membuatnya ngeri dan ketakutan serta


rasa bersalah. Reaksi Pradipta ini sangat terbaca jelas oleh Mahardika dan Adrian.


Sedangkan Nara? Wanita cantik itupun terpaku tanpa bisa bergerak. Aku melihatnya terluka sekaligus mendamba. Sebuah reaksi yang ternyata membuat jantungku berdenyut nyeri. Aku masih melihat kilat rindu mendamba wanita itu kepada suami yang telah menghancurkannya bahkan ingin menghilangkan nyawanya.

__ADS_1


“Boss, wake up! Jangan mengikuti marahmu. Dia bukan mendambakan cinta laki-laki itu. Dia hanya terhanyut pada masa lalunya. Rasa sakit dan luka lebih dirasakannya. Lihatlah Dia terlihat sangat terluka. Dia membutuhkanmu boss!” suara Adrian menyadarkanku. Ya Adrian dan aku adalah murid dari guru yang sama. Dalam banyak hal kami memiliki kemampuan yang sama. Pikiran dan kemampuan kami bagai saudara kembar.  Aku menang karena aku


tidak melibatkan rasa dan asamara saat belajar. Hanya itu kelebihanku. Oh iya, yang pasti aku lebih tampan darinya, he… he… he…


“Percuma lebih tampan boss. Tetap saja jomblo. Punya kekasih tidak diakui, saat mencinta tidak dimengerti,” kata


Adrian terkikik.


“Stop membaca wajah dan pikiranku setan! Lebih baik perhatikan Nara dan orang-orang disekitarnya. Saat ini kita tidak bisa melakukannya. Kita melihatnya terluka, tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Nara harus bisa mengatasi sendiri saat ini,” kataku sambil melotot kearah Adrian.


“Wajah papanmu pun lebih hebat dariku jika tidak melibatkan Nyonya Nara bos,” kata Adrian lagi. ARGHH! Hentikan! Aku kembali melotot dan mengarahkan pandanganku pada pasangan target kami. Aku melihat Juli menyentuh tangan Pradipta, berusaha mengembalikan fokus tunangannya itu pada pembicaraan mereka. Wajah


kebingungan Pradipta menandakan bahwa  dia tidak mengerti apa yang dibicarakan dua orang didepannya. Juli

__ADS_1


sepertinya tahu hal itu dan berusaha menutupi ketidak sopanan Pradipta dengan mengulang pertanyaan. Juli menanyakan pendapatnya tentang sesuatu, dan meminta persetujuannya. Pradipta tambak sedikit gugup dengan pandangan dari laki-laki didepannya. Aku mengenal laki-laki itu. Dia adalah orang India pemiliki perusahaan film yang lumayan terkenal. Baik sebagai produser, pengusaha maupun sebagai hidung belang yang sudah menjelajah dan menikmati tubuh artis artis karbitan yang ingin cepat naik daun. Bahkan beberapa kali terbentik berita, artis kawakan dengan akting mumpuni dia coret hanya karena tidak mau melayani  nafsu behatnya.


“Ini, Tuan Arya ingin LC production mendukung film terbaru yang akan dia produksi. Sedangkan aku akan menjadi salah satu pemeran utamanya. Dia mengatakan ingin mengajukan proposal ke dirimu sayang, sekaligus meminta ijin untuk memasangku di filmnya itu. Aku tadi bilang, tentu saja boleh, ya kan sayang?” kata Juli ringan namun didalamnya mengandung tekanan agar Pradipta menyetujuinya.  Wow, gadisku ini ingin memainkan kartunya untuk membantu laki-laki hidung belang itu, melawan tunangannya? Luar biasa kan permainan mereka. Pradipta bukan laki-laki yang bisa ditekan dan disetir oleh siapapun termasuk Juli. Aku tahu itu. Jika dia semudah itu dikendalikan Juli, Pradipta tidak akan berada disisi penting Franco dengan segala ambisinya. Dia tidak mungkin menduduki posisinya yang cukup dipandang baik didunia atas maupun dunia bawah.


“Oh itu. Coba saja masukan proposalnya,Tuan. Nanti akan kami proses. Kalau memang layak, kenapa tidak. Untuk urusan Juli, tidak perlu ijin dari saya, Tuan. Jika Juli dan manajemennya setuju, tentu saya setuju. Saya akan selalu mendukung karir dan pekerjaannya,” kata Pradipta sambil tersenyum mesra pada Juli. Ah, dia bermain cantik, rupanya. Tidak menerima, namun juga tidak menolaknya. Tangannya memeluk pinggang Juli namun matanya masih mencari sosok wanita yang tadi sempat membuatnya terhenyak dan penasaran.


Aku tahu jika Pradipta dan Franco akan tertarik pada Nara. Namun reaksi mereka masih tidak bisa aku tebak sepenuhnya. Selama ini Pradipta dan Franco belum pernah mengejar perempuan. Perempuanlah yang mendatangi dan menyerahkan diri pada mereka berdua. Seperti juga Nada yang tergila-gila padanya hingga menyerahkan semua harta bahkan nyawanya jika dia minta, ataupun Juli yang langsung melemparkan dirinya ke ranjang Pradipta tanpa butuh  waktu lama, hanya dalm hitungan hari dia berhasil meniduri gadis itu dan memonopolinya untuk dirinya sendiri. Memang, Pradipta bukan yang pertama, namun orang yang menjadi saingannya itu sudah membusuk di neraka, sebelum Pradipta sempat mengucapkan terimakasih. Karena dia, Juli ada di apartemennya dan berhasil dia santap dan manfaatkan. Tentu kalian tahu, siapa yang membuat laki-laki yang membuat Juli patah hati itu menghilang kan?


Kali ini Juli adalah aset untuk bisa menduduki posisi penting di pemerintahan. Selama ini status Pradipta memang masih abu-abu. Dia tidak pernah memberikan konfirmasi apapun tentang kehidupan pribadi dan status pernikahannya. Kabar dia sudah menikah dan istrinya meninggal tidak pernah bertahan lebih dari beberapa jam saja. Setelah itu, semua kembali menjadikan Pradipta sebagai most wanted single man Asia. Untuk menduduki posisi penting di Indonesia, dia harus memiliki pendamping. Juli adalah orang yang tepat mendampinginya. Selain cerdas, dan cantik, Juli juga populer dan memiliki massa yang bisa dia manfaatkan untuk mengangkat namanya. Aku sangat paham dengan pemikirannya itu. Dan aku sangat tidak rela jika Pradipta menjadikan adikku yang cantik itu sebagai alatnya.


“Jadi sekarang kamu sadar kalau kamu hanya menganggapnya sebagai adik yang harus kamu manja dan jaga kan boss?” kembali laki-laki sok tahu itu bicara di telingaku. Kulihat dia sedang mendampingi Nara yang sedang berbincang dengan beberapa agen model.


“Jangan sok tahu dan tidak usah menebak hati orang lain. Kamu snediri memangya sudah tahu tentang cinta? Diamlah dan lakukan tugasmu,” kataku kesal.

__ADS_1


***


__ADS_2