Nada Nara

Nada Nara
BAB 114 Aku yang Khawatir


__ADS_3

POV Mahardika


Saat melihat Nara berkencan dengan Pradipta, aku merasa aneh. Ada rasa tidak suka dihatiku. Aku juga merasa sakit saat melihat Juli bersedih melihat kenyataan, Pradipta yang juga tunangannya, selingkuh. Ada rasa marah dihatiku menyaksikan kejadian itu. Namun aku sadar kalau situasi ini juga aku yang merencanakannya. Tanpa campur tanganku, hal ini tidak akan terjadiDan lagi, ini untuk mencapai tujuanku sejak awal. Ada dua project hidupku yang kupertaruhkan disini. Aku harus fokus pada tujuan. Bukan pada orang-orang yang terlibat didalamnya. Jadi aku tidak boleh terbawa oleh perasaanku sendiri. Apalagi perasaan yang tidak aku pahami.


Sesuai dugaanku, reaksi Juli cukup tenang menghadapi Pradipta. Aku melihat dia sangat marah dan kecewa namun berhasil mengendalikan diri. Dia hanya diam dan pergi untuk kembali menyusun siasat untuk mengalahkan Nara. Seperginya Julia, rasa sakit melihat dia marah masih mendominasiku . Kedua sahabatku paham dengan apa yang aku pikir dan rasakan. Mereka mendiamkanku dan mengambil alih peranku. Bahkan saat Pradipta pulang mengantar Nara, merekalah yang mengatur semuanya.  Namun setelah sampai rumah, keduanya menyadarkanku akan pentingnya menahan diri dan bertindak profesional. Dan lagi menurut kedua sahabatku itu, Nara lebih membutuhkanku sekarang ini. Itulah mengapa, aku segera mencari Nara di kamar saat kedua sahabatku sudah pulang.


“Nara, kamu sudah tidur? “ kuketuk kamar Nara pelan. Meskipun lampu masih menyala, aku berjaga-jaga siapa tahu Nara sudah tidur. Kudengar suara bergemerisik didalam. Lega rasnya ternyata Nara masih bangun.


“Belum M, apakah kamu butuh sesuatu?” tanyanya pada ku. Kukatakan padanya kalau aku ingin masuk ke kamar dan sedikit berbincang dengannya. Diapun mengijinkanku masuk untuk sedikit berbincang.


“Aku boleh masuk?” tanyaku dengan pelan. Bagaimanapuaku harus menenangkan Nara yang tampak resah

__ADS_1


“Masuklah, tidak dikunci kok,” katanya. Kulihat dia duduk ditempat tidur. Aku segera masuk dan duduk disampingnya. “Hai, kamu baik baik saja?”  Nara hanya mengangguk menjawab pertanyaanku. Dia dengan wajah menggemaskan, memainkan kukunya, dia menanyakan apakah aku sudah selesai dengan pekerjaanku. Mukanya merah dan nafasnya sedikit tidak teratur. Apakah dia sakit? Apakah dia benar-benar terganggu dengan kehadiran Juli ? Kuakui aku sangat khawatir sekarang ini.


“Sudah. Hanya melakukan beberapa evaluasi dan mempersiapkan koordinasi untuk besok,” jawabku sambil terus memperhatikan wanita cantik dihadapanku ini. Dia tampak sedikit salah tingkah.


“Oh, kenapa kamu kesini? Kan ada Henry dan Adrian?” tanyanya masih dengan kesibukannya memainkan kuku. Namun perlahan kulihat nafasnyapun mulai tenang.


“Jangan kuatir. Mereka sudah pulang. Sebenarnya mereka tadi ingin pamit pulang padamu, tapi  kami pikir kamu sudah tidur karena kelelahan berkencan,” kataku mencoba mencairkan suasana dengan cara menggoda nara. Nara menyambut candaanku dengan senyum malu-malu.


“Dia seharusnya berkata kenapa kami bersama atau apa dia selingkuh. Tetapi kenapa dia malah diam dan mengabaikan kami. Dia tidak mau melabrak kami, atau sekedar bertanya pada Pradipta apa yanng dilakukan di taman bersama wanita lain?” Nara terus berceloteh dengan nada heran. Aku hanya diam memperhatikan dan mendengarkannya. Kekhawatiranku masih ada meski berkurang. Kuambil tangan Nara dan kegenggam jari jemari mungil itu ditanganku. Aku mencoba memberikan kehangatan  danketenangan pada Nara. Aku tahu saat ini dia merasa insecure. Dia membandingkan dirinya sendiri dengan Juli.


“Juli sangat cerdas dan penuh perhitungan. Menurutku, kini bahkan Juli sudah berjalan satu langkah didepanmu,” aku mencoba membuat Nara memandang masalah ini dari kepala Juli. Tidak mudah memahami jalan pikiran Juli memang, tetapi

__ADS_1


“Maksudmu?” tanyanya padaku dengan heran.


“Langkah Juli sangat tepat. Dia sadar jika Pradipta tidak tahu kalau Juli tahu, apa yang dilakukan Pradipta dibelakangnya. Jika Juli melabrakmu di depan  Pradipta, Juli masih belum yakin kalau tunangannya akan membelanya. Bisa jadi jika Juli menyerangmu, maka Pradipta akan membantunya. Semuanya masih kabur bagi Juli. Namun aku tahu, Juli melihat Pradipta tergila-gila padamu. Aku yakin Juli berpikir bahwa melabrak kalian tadi, malah akan membuatnya kehilangan Pradipta. Dengan dia pura-pura  tidak tahu, maka dia akan bisa tetap berada di dekat Pradipta,” kataku mencoba menerangkan apa yang ada dipikiran Juli. Akusangat mengenal wanita yang menghabiskan masa kecil nya bersamaku. Aku berasumsi? Mungkin namun asumsiku tidak asal-asalan.


“Jadi maksudnya, Juli tidak ingin membuat masalah dengan Pradipta?” tanyanya kembali dengan muka serius.


“Yup. Tapi sekarang, mungkin Juli sudah melakukan sesuatu untuk mempertahankan Pradipta sebagai tunangannya. Bagaimanapun dia dari tadi ada di kediaman Hermawan dan bertemu dengan keluarga Pradipta sejak dia keluar dari taman. Lalu sekarang dia juga berdua dengan Pradipta dan bersamanya,” tambahku.


“Lalu? Apa hubungannya?” tanya Nara mencoba mendapatkan jawaban atas keheranannya.


“Kalau dia ngamuk, suasana jadi tidak enak dan dia tidak bisa tinggal lebih lama untuk bisa menguasai Pradipta dan menghapus jejakmu di pikiran Pradipta,” terangku. Nara memandangku dengan wajah serius. Dia memikirkan kata-kata yang aku ucapkan. Namun sebenarnya hal ini tidak terlalu penting. Nara harus istirahat agar besok bisa fresh kembali. Aku kemudian meminta Nara untuk segera tidur. Aku merapikan bantal yang akan menjadi bantal tidur Nara. Aku membereskan tempat tidur sedikit hingga membuat Nara berbaring dengan nyaman. Aku memastikan dia tidur dengan nyaman dan kemudian menyelimutinya. Aku kecup keningnya ringan, sambil mengucapkan selamat tidur.  Kumatikan lampu ruangan sambil sekali lagi memastikan Nara sudah nyaman. Kulangkahkan kakiku keluar kamar sambil menahan dag-dig dan rasa aneh yang kumiliki sekarang.

__ADS_1


__ADS_2