Nada Nara

Nada Nara
Bab 40. Memulai J Project


__ADS_3

Dear kesayangan,


Sekali lagi aku mohon maaf jika dalam dua minggu ini  cerita Nada Nara tidak lancar. Itu karena aku  lagi dijalan nggak dapat sinyal, trus lanjut tepat. Sakit tidak bisa berpikir apalagi ngetik.


Meski sekarang aku belum bener bener sehat, diusahakan untuk terus update ya. Jangan lupa kasih semangat aku dengan jejak dari kalian, entah vote, senyuman, hadiah, komen bahkan kritik. Karena semua itu adalah tanda Cinta.


No bullies, no judgment spread love then hate.


Banyak Cinta buat kalian


SKS



Saat ini aku membaca email dari Jerry, bersama Shasa. Cukup panjang seperti sebuah cerpen outonote  dari seorang laki-laki.Sebuah email, yang lebih mirip sebagai catatan pribadi seorang Jerry.  Aku tidak menyangka dengan isi e-mail ini. Selain Jerry memang benar-benar bisa mengungkapkan perasaannya dalam bentuk tulisan yang menarik, catatan ini sedikit membuatku merasa bersalah karena sempat tidak mau mendengarkannya. Aku menolak mendengarkan laki-laki itu saat ingin memberikan penjelasan secara langsung.


Dalam email itu, Jerry menceritakan bahwa sejak awal, dia memang mencintai Maria. Hal ini pernah diakatakan kepada Gerald. Sayangnya laki-laki yang dia anggap sahabat sejak kecil itu malah mengadukan kepada Mamanya. Jerry sendiri sudah lama tahu jika Gerald adalah salah satu brondong Mamanya. Bahkan Jerry mengatakan bahwa papa Gerald adalah kekasih papanya. Sebuah kenyataan yang membuat jiwa Jerry tertekan sejak lama. Kondisi keluarga yang tidak sehat ini membuat Jerry sangat frustasi.  Banyak hal yang menurut Jerry tidak benar, namun dia tidak biila bilang apa-apa. Apalagi sahabat sejak kecilnya, Gerald, sejak SMP menjadi sangat dekat dengan ibunya. Beberapa kali Jerry SMP melihat temannya itu keluar dari kamar sang Mama  di pagi hari, sebelum Jerry bangun.  Melihat Gerald masuk kamar, Jerry yang pura-pura tidur awalnya ingin bertanya/ Namun dia membatalkan saat mendengar monolog Gerald tentang ibunya yang menjijikan bagi dia, tentang uang dan kenikmatan yang diberikan ibunya pada Gerald.


Sejak saat itu, Jerry  merasa ibunya sangat memanjakan Gerald. Sedangkan Papa Geraldpun makin sering tidur di paviliun rumah mereka. Bisa dikatakan, kedua manusia ini mulai pindah ke rumah Jerry sejak dia SMP dan merebut perhatian kedua orang tuanya. Tapi Jerry bisa apa? Dia hanya anak manja yang hanya bisa menghabiskan uang kedua orang tuanya. Saat dia menyinggung tentang Gerald ke Mamanya, hanya bentakan dan tamparan serta ancaman untuk memotong uang jajan yang dia dapat. Bahkan kemudian  Gerald menjadi pengawas Jerry kiriman mamanya. Apapun yang dilakukan Jerry harus dengan persetujuan mamanya melalui Gerald. Termasuk hubungan asmaranya. Papanya sebenarnya cukup baik. Sayang sang papa terlalu sibuk dengan bisnisnya atau Papa Gerald. Jika Jerry ingin bermanja dengan sang papa di paviliun, Papa Gerald akan mengusirnya dengan alasan Jerry akan mengganggu konsentrasi sang Papa. Laki-laki itu kadang mengancam nya dengan mencium, meremas bagian bagian tertentu ditubuhnya bahkan pernah menggigit bibirnya sampai berdarah. Pernah dia mengadu pada sang Papa namun hanya disambut dengan tawa tergelak dan usapan dikepala Jerry. Setlah itu Papa menyuruhnya pulang ke rumah utama mengatakan akan menghukup Papa Gerald. Saat Jerry mengintip hukuman apa yang diberikan papanya, Jerry langsung lari ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh makanm siangnya.  Papa Gerald melakukan apa yang Gerald lakukan ke mamanya. Persis seperti adegan menjijikan di film-film BF yang ditunjukan Gerald.


Sejak SMP, Gerald memang sudah tidak asing dengan *** dan obat. Dialah yang memperkenalkan hal tersebut pada Jerry. Namun Jerry tidak sanggup jika hal itu dilakukan oleh orang orang yang dia sayangi. Tetapi pengaruh orang yang dianggapnya satu-satunya sahabat itu sangat besar. Setelah menjelang akhir SMA dia juga mulai melakukannya atas paksaan Gerald.  Perempuan-perempuan yang dia tiduri sebenarnya disediakan oleh Gerald


atas perintah Mamanya. Jika Jerry tidak mau, maka Jerry akan kehilangan segala dukungan materi yang diberikan orang tuanya. Jika ancaman itu tidak berhasil, maka mereka akan membuat Jerry mabuk lalu meberi obat perangsang. Setelah melakukannya, laki-laki tampan ini akan mengurung diri dikamar karena menyesali perbuatannya. Beberapa kali Jerry ingin bertanggung jawab pada perempuan-poerempuan yang sudah diridurinya Bersama Gerald. Namun Mama dan Gerald mengancam akan menghancurkan perempuan itu dan keluarganya jika Jerry bertindak. Termasuk juga pada Maria yang telah membuat Jerry jatuh cinta.


Dalam catatannya, Jerry mengatakan bahwa menghancurkan kepalanya sendiripun belum cukup sebagai hukuman atas apa yang dilakukannya pada Maria dan kedua anaknya. Jadi dia tidak akan ragu maupun menyesal melakukannya. Jerry merasa dirinya terlalu hina dan tidak pantas menjadi pendamping Maria apalagi ayah anak-anaknya yang luar biasa. Dia menganggap Janu lebih pantas menjadi ayah kedua anaknya, meski Jerry juga tahu hubungan Janu dngan Shasa. “Menjadi anak seorang gay seperti Janu, jauh lebih baik dari pada menjadi bagian keluargaku.” Tulis Jerry.  Bahkan dia minta aku tidak tersinggung saat dia menyebutku gay. Lah, kenapa harus tersinggung saat dia mengatakan sebuah kenyataan, jawabku. Argh, kenapa aku malah bicara dengan laptop sih?

__ADS_1


Karena merasa Juli dan Agusta akan tumbuh lebih baik jika bersamaku, dibanding dengan keluarganya, maka Jerry memutuskan untuk memberitahu semua rencana jahat mamanya padaku. Menurutnya, dengan aku tahu rencana Mamanya, aku bisa segera pergi dan menyelamatkan anak-anak. Itulah mengapa dia merencanakan untuk menjebak Mama dan antek-anteknya, istilah Jerry, dan ingin aku merekamnya sebgai bukti ke polisi. Ya Jerry ingin aku melaporkan dirinya dan keluarganya, meski dia sudah mati. Menurut Jerry, dia tidak peduli dengan nama baiknya. Toh hasil akhirnya akan sama, tidak aka nada yang mengunjungi makamnya nanti. Wah, tentu saja tidak akan ada, jenasah Jerry dikremasi dan dibuang kelaut oleh keluarganya.  Shasa yang dari tadi mendengar aku komen sambal membaca e-mail Jerry menciumku gemas sambal tersenyum.


“Baby, kamu lucu banget sih. Kalau sampai Jerry jawab gimana ?” godanya.


“Oh no!” kataku sambal memutar bola mataku disambut ketawa ngakak Shasa.


“Oke let’s be serious. Ini nerasa perusahaan keluarga Jerry. Bagus banget karena Papa Jerry memang pengusaha Tangguh yang cerdas. Ini laporan usaha butuk dan restoran Mama Jerry. Ini Laporan law firm milik Papa Gerald. Ini adalah  kondisi keuangan Jade dan keluarganya, cukup tangguh didunia bisnis tapi mudah dihacurkan secara reputasi. Dan ini laporan usaha Gerald yang dipegang oleh temannya. Aku rasa aku bisa Kerjasama dengan temannya yang juga anak buah kita yang baru bergabung. Dia juga sudah gerah bekerja sendirian mengembangkan usaha sendiri, sementara Gerald hanya main-main,” kata Shasa. Wono data ini sangat valid dan legkap. Aku segera berselancar  berdasarkan data-data yang ada di informasi yang diberikan Shasa. Semua terlihat Tangguh namun hanya dilapisan luar. Setelah layer pertama tembus semua akan mudah dimasuki dan dihancurkan. Aku langsung nyengir lebar. Shasa menggusak rambutku dengan gemas.


“Jadi, apa rencanamu?” kata Shasa.


“Menurutmu, perlukah kita melibatkan polisi?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya. Shasa terdiam sejenak.


“Tergantung kamu hon. Kalau kamu memang mau mereka masuk penjara ya, mau nggak mau harus melibatkan polisi. Meskipun aku jujur tidak nyaman berurusan dengan polisi,” jawab Shasa lembut. “Tetapi kalau tujuanmu menghukum mereka, kita bisa melakukan sendiri dengan lebih baik tanpa bantuan polisi, hon.” kata Shasa dengan seringai licik. Aku berpikir dengan hati-hati. Akan banyak darah dan sakit nantinya. Akan banyak nama yang dipertaruhkan. Apalagi ini menyangkut keluarga sebesar keluarga pengusaha popular seperti papanya Jery. Mau tidak mau,jika masalah ini sampai di polisi dan disidangkan, pasti akan viral. Banyak nama yang akan disebut, termasuk aku, Juli dan Agusta, bahkan mungkin nama Shasa yang harusnya tidak diketahui orang akan muncul Hal ini pasti akan membahayakan Shasa, Juli dan Agusta.


“No, jangan dilupakan. Apapun yang terjadi, kamu tidak akan damai selama Juli dan Agusta masih hidup. Keluarga gila itu tidak akan membiarkan kamu dan anak-anak hidup tenang lalu mengancam mereka,” kata Shasa. Ah, laki-laki tampan ini memang canayangku. Dia selalu tahu apa yang aku pikirkan tanpa mengatakannya.


“Lalu, aku harus bagaimana? Melaporkan mereka ke polisi dengan semua bukti ini, akan mudah menyeret mereka ke penjara. Tetapi juga akan berakibat buruk padamu hon. Aku tidak mau itu,” kataku kawatir. Shasa tersenyum. Ada kilat bahagia dimatanya yang membuatku terpana.


“Aih, bahagianya dikawatirin sama kamu,” katanya sambal memelukku.


“Tsk, apaan sih? Nggak nyambung tauk!” kataku kesal.  Shasa tertawa lebar.


“Oke, bagaimana kalau kita jalankan rencanamu?” kata Shasa. Rencanaku? Rencana yang mana?


“Argh, kamu  malah lupa ya dengan

__ADS_1


rencana bliyanmu sendiri. Padahal kamu sangat sexy  saat berubah menjadi Devil Angel, hon,” kata Shasa tertawa. Devil Angel? Oh iya, yang waktu itu melintas dipikiranku dan kubisikan untuk menyelamatkan Gerald dan dua orang jahat dari amukan Shasa. OK! Seperti nya menyenangkan. Aku menyeringai lebar, mengerti apa yang dimaksud laki-laki ini. Setelah mengedipkan sebelah mata, aku segera kembali berkutat dengan laptopku.


Data dari Shasa dan Jerry termasuk beberapa video kiriman Jeri serta Video hasil sadapan para informan aku kumpulkan, aku masukan kedalam folder khusus dan kuberi judul J Project.  Aku kemudian membuat kalender timeline project dan mengetik bagan balas dendam termasuk timeline, orang yang dituju dan apa yang dilakukan sedetil mungkin.  Inilah yang selalu aku lakukan dari dulu sampai aku mati. Bahkan car aini yang aku ajarkan pada Agusta dan Mahardika nantinya.  Shasa memandangku dengan tatapan cinta dan bangga. Kuberikan senyuman manis padanya yang dari tadi hanya duduk menyesap minumannya sambal memandangiku bekerja. Sesekali anak buahnya datang memberi laporan yang membuatnya berkutat dengan I Pad ditangannya, menangani pekerjaan. Sisanya? Duduk manis menemaniku, atau tepatnya memandangiku.


Malam telah berganti pagi. Tanpa terasa sudah berjam jam aku berkutat dengan diagram, program dan data J project. Akhirnya semua selesai dan siap dijalankan. Aku bernafas lega. Aku luruskan badanku sejenak. Kupejamkan mataku sambal bersandar di sofa. Sebuah tangan kokoh memijat pundakku dan sebuah bibir yang


sangat kukenal mengecupku.


“Done?” tanya Shasa yang kujawab dengan anggukan. Aku memberikan laptopku kepadanya. Dia membaca   dengan cepat hasil kerjaku semalam dan mengangguk. Diacungkannya jempol kepadaku dan menghilang ke dapur, membiarkanku memejamkan mata sejenak. Tak lama Shasa muncul dengan satu nampan sarapan berisi Syrniki, kesukaan Shasa. Syrniki adalah pancake keju yang sering dinikmati ketika sarapan. Syir sendiri merupakan kata dari Rusia, yang berarti keju. Makanan ini sangat baik untuk dijadikan sarapan karena mengandung kalsium yang tinggi. Shasa ternyata juga menyiapkan Kasha kesukaanku. Makanan ini diperkenalkan Shasa sejak kami dekat. Merupakan hidangan khas Rusia berisi berbagai macam jenis biji-bijian yang dijadikan sebagai simbol kekayaan dan kesejahteraan negara Rusia. Tidak lupa segelas susu untukku dan kopi pahit untuknya. Kami kemudian sarapan dengan tenang. Setelah itu Shasa memintaku untuk tidur dan beristirahat. Sebelum aku protes, Shasa sudah menarikku ke kamar dan mengatakan bahwa J Project akan dilaksanakan setelah aku cukup tidur.


Seharian aku tidur dengan lelap. Aku terbangun saat matahari mulai tergelincir menuju peraduan. Aku segera mandi dan berganti pakaian, kemudian menuju kamar anak-anak yang kurindukan. Aku memang selalu merindukan mereka. Selama berada di villa perlindungan, anak anak diasuh oleh babysitter terlatih yang juga memiliki kemampuan beladiri yang tidak diragukan. Namun jika sedang berada dirumah, aku tidak mau menggunakan baby sitter tetap. Aku ingin merawat dan membesarkan si kembar dengan tanganku sendiri. Meski awalnya keberatan,


akhirnya Shasa mengalah dan membiarkanku melakukan apa yang kumau.


Setelah puas bermain dengan bayi bayi menggemaskan, aku berjalan menuju ruang kerja Shasa. Namun saat melewati ruang televisi, kulihat Shasa sedang berbicara serius dengan anak buahnya. Mukanya terlihat memerah geram. Aku segera mendekatinya dan mengelus tangannya pelan. Shasa langsung menoleh dan tersenyum. Sementara itu anak buah Shasa yang tadi bicara serius memberikan salam padaku yang kubalas dengan senyum.


“Janu, apakah ada barang-barang berhargamu di rumah Maria?” tanya Shasa.


“Barang berharga? Kurasa tidak. Hanya beberapa bajuku yang masih ada disana. Sisanya ada di ruko. Paling hanya barang berharga Ibu dan Maria yang belum sempat aku bereskan, itupun tidak banyak. Kamu kan tahu, Ibu dan Maria tidak suka menggunakan perhiasan,” kataku heran. “Memangnya ada apa? Rumah kemasukan maling atau perampok?” aku bertanya dengan heran, mengatakan dugaanku. Namun kalau hanya dirampok orang, kurasa laki-laki didepanku ini tidak akan semarah itu. Apalagi setahuku, rumah Maria dijaga oleh paling tidak dua orang penjaga tangguh. Apapun yang diambil perampok dari rumah itu, bisa dipastikan tidak berharga dimata Shasa, mampu dia beli sepuluh kali lipatnya.


“Lebih parah sih hon,” kata Shasa.


“Maksudnya?” tanyaku khawatir.


“Rumah Maria habis terbakar tanpa sisa. Kita kehilangan orang kita yang menjaga disana, empat orang.  Semua ikut terbakar. Namun dugaanku, mereka memang sudah dibunuh sebelum dibakar. Aku tidak tahu pasti apakah mereka sudah memberikan informasi tentang lokasi kita saat ini sebelum mati, tapi aku tidak mau mengambil resiko. Saat ini juga kamu dan anak-anak harus peindak lokasi. Disini dan BIG house tidak aman buat kalian,” kata Shasa dengan tenang. Aku tahu, dibalik ketenangan laki-laki ini ada kemarahan besar.

__ADS_1


__ADS_2