
Kata-kata pak Henky yang tidak menyukai ada perempuan mengunjungi laki laki selarut ini, membuat Juli tidak enak. Namun dia juga ingin berbicara dengan tunangan itu. Banyak yang harus mereka bahas sehubungan dengan persiapan pernikahan yang sebentar lagi. Juli sendiri sadar dengan perubahan Pradipta kepadanya. Dan Julipun sadar sepenuhnya kalau pikiran Pradipta masih pada Nara dan kencan mereka di Taman. Dia sadar kalau dia harus menemukan cara agar Pradipta tetap menjadi miliknya.
“Nak Juli, udah sana, nunggu di kamar Pradipta aja. Biarkan Pradipta mandi dulu ya.” Kata bu Henky yang sepertinya mendukung Juli agar menginap di kamar Pradipta. Namun Juli sadar itu tidak baik untuk hubungannya dangn ayah Pradipta.
Pradipta sendiri, setelah mendengar kata-kata ayah ibunya, menoleh kebelakang dengan enggan. Diulurkan tangannya pada Juli yang sudah melangkah lebih dekat dengan dirinya. Juli menyambut uluran tangan Pradipta dengan gembira. Mereka menuju kamar Pradipta tanpa kata.
“Duduklah, aku mandi dulu ya. Nanti kita bicara,” kata Pradipta, setelah sampai di kamar.
__ADS_1
“Oke sayang,”jawab Juli tersenyum. Pradipta segera mengambil bajunya dan mandi.
Beberapa saat kemudian, Pradipta keluar kamarmandi dengan penampilan santai. Rambutnya masih sedikit basah. Dia memandang Juli dan mengernyit.
“Ada apa malam-malam kemari? Tidak kasih tahu aku lagi,” tanya Pradipta
“Maksudku, untuk apa malam-malam begini datang bertamu ke rumah laki-laki. Tidak takut jadi omongan dan viral?”
__ADS_1
“Memangnya kenapa? Kamu tunanganku. Dan lagi aku kem,ari untuk memberika tiklet teater koma. Aku tahu ayah dan ibu adalah fans berat teater koma. Sementara aku terlalu sibuk untuk bisa menghadiri undangan tersebut,” jawab Juli sambil memandang wajah tunangannya. Saat itu Juli langsung menyadari bahwa menegur Pradipta dan membicarakan pertemuan Pradipta dan Nara adalah hal yang buruk. Dia memilih untuk tidak membahasnya sama sekali. Juli langsung mengambi sebuah kotak berbahan beludru warna hitam, dari dalam tasnya.
“Sayang, aku tadi ditelpon oleh Maria. Cincin pernikahan kita bisa selesai lebih awal dari yang diperkirakan. Cincin ini diantar ke kantorku. Makanya aku kemari. Dan juga ingin
bertemu dengan mu..” kata Juli sambil tersenyum manis. Pradipta mendengarnya hanya tersenyum.
“Oh ya sudah sekarang bagaimana? Mau aku antar pulang atau mau menginap?” Tanya Pradipta.
__ADS_1
“Pradipta, ini sudah malam. Jangan lupa pagar di kunci ya kalau Juli pulang,” terdengar suapa pak Henky diikuti suara omelan bu Henky pada pak Henky. Juli tahu bahwa kalimat pak Henky tadi adalah teguran halus padanya. Juli tidak ingin membuat masalah dengan orang-orang yang ingin dia jadikan sekutu saat Pradipta bertingkah aner-aneh. Itulah mengapa, Juli memutuskan untuk pulang. Dia berdiri dan berpamitan pada Pradipta. Pradipta tersenyum lebah dan mengangguk. Dengan langkah ringan dia mengantarkan Juli ke mobil untuk pulang. Setelah mobil wanita yang juga tunangannya itu tak terl;ihat, Pradipta kembali mengunci pintu pagar dan melangkah masuk ke kamarnya dengan masih sneyum senyum. Rumahnya sudah remang-remang. Dua saudara perempuan dan orang tuanya sudah masuk kamar. Pradipta pun memutuskan untuk segera masuk kamar dan merebahkan diri dikasur empuk dan nyaman miliknya. Pradipta mulai masuk ke alam khayalannya. Dia masih terus tersenyum. Apa yang terjadi di taman tadi begitu membahagiakan. Bahkan kata kata Juli tentang cincin pernikahan tidak terlalu diperhatikannya. Pradipta memutuskan untuk memejamkan mata dan berharap bisa memimpikan wanita cantik yang tadi menghabiskan sore bersamanya.