
POV Mahardika
Nada’s project sejak awal bertujuan untuk menggagalkan pernikahan Pradiprta dan Juli. Namun
tujuan bagi masing masing dari kami berbeda. Bagi Nara, project ini adalah
untuk mengembalikan kedudukannya di kediaman Hermawan dan disisi Pradipta.
Namun bagiku, project ini adalah project menghancurkan dan membalas dendam masa
lalu. Sekaligus sebagai usahaku untuk mendapatkan kembali cinta pertama. Paling
tidak itulah anggapanku, Juli adalah cinta pertama dan selamanya. Meskipun
begitu, saat ini pernyataan Nara yang tak ingin menghancurkan Pradipta dan
bahkan ingin kembali menjadi istri laki-laki bajingan itu, membuatku marah “Dengan
semua kelebihanmu ini, kamu mau kembali pada mereka? Dengan semua yang kamu miliki saat ini,
kenapa harus kembali pada Laki laki bajingan itu?”
Aku tahu bahwa sampai sekarang, Nara tidak pernah benar-benar menganggap Pradipta bukanlah
orang yang berada dibalik kecelakaan yang hampir membunuhnya. Dia selalu
menganggap orang lain yang bertanggung jawab pada kecelakaan itu.
“M, aku pernah memiliki sumpah dihadapan Tuhan. Sumpah menjadikannya sebagai satu-satunya pria
yang akan menua bersamaku. Apalagi, jika aku kembali pada suamiku, Juli akan sendirian. Kamu bisa
bersamanya kembali. Dengan begitu kedua masalah selesai,” jawab Nara membuatku
makin jengkel. Untung saat itu smartphoneku berbunyi. Kulihat ada pesan
__ADS_1
dari Agusta kalau dia akan datang bersama Juli. Jika sampai ini terjadi maka
Juli akan bertemu dengan Nara dan ini tidak boleh terjadi.
“Nara,sebaiknya kita segera pergi dari sini,” kataku sambil berjalan menuju kamar
untuk mengambil barangku. Saat aku kembali ke meja makan kulihat Nara masih
belum bergerak.
“Kenapa harus pergi?” kata Nara dengan heran.
“Kita harus pergi dari sini segera karena yang punya rumah akan datang,” kataku dengan
cepat ho ini bukannya rumahmu? Kenapa kita harus pergi? “ kata Nara dengan heran.
“Bukan. Ayo, segera bereskan barangmu dan kita pergi! Tidak usah banyak pertanyaan,” kataku
dengan tegas. Nara memandangku lalu menunduk. Aku tahu dia merasa ketakutan
karena suara kerasku tadi. Namun waktunya tidak lagi banyak. Aku membantu Nara membereskan
ada di markas, kami keluar rumah tanpa berkendaraan. Setelah beberapa saat
berjalan menelusuri jalanan, kami memutuskan duduk di trotoar. Saat itu ada
sebuah motor yang berhenti didepan Nara dan menawarkan untuk mengantarkan
pulang. Namun Nara bersikap acuh tidak peduli. Setelah pengendara motor itu
berlalu, ada beberapa laki-laki bermobil yang mengganggunya. Kembali wanita
cantik didepanku mengacuhkan mereka.
“Nara, kamu bisa melihat kan. Banyak pria yang tertarik padamu. Kamu tidak perlu kembali pada
__ADS_1
laki-laki yang selalu menyakitimu itu.” Kataku sambil membuang pandanganku ke
arah mobil-mobil menjauh. Nara hanya memandangiku dengan matanya yang cantik. Dia
seperti tidak mau bicara padaku dan sedikit marah.
“Kamu marah?”tanyaku. Nara hanya menggeleng dan kembali diam menunduk.
“Oke, terserah Nara. Apapun yang Nara inginkan, jalani saja. Saat ini yang kubutuhkan hanyalah
pernikahan Pradipta dan Juli yang batal.” Kataku akhirnya. Aku tidak tahan
dengan kediaman kita selama ini. Sepertinya aku harus membebaskan Nara. Aku
mencoba untuk mengikuti apa maunya saat ini dan berusaha mengubahnya sedikit
demi sediki.
“Nara, berdiri yuk,” kataku.
“Kenapa” tanaya Nada.
“Katanya kau ingin kembali ke mertua mu” kataku. Aku mengajaknya berjalan menuju kediaman
Hermawan. Nara langsung terkejut memandangku. Aku tahu dia akan mengatakan aku
gila. Sangat tidak mungkin kami sekarang ini kami datang di kediaman Hermawan
dan numpang tidur. Mereka tidak mengenalku sama sekali. Pradipta memamng
mengenal Nara, namun tidak secara terang terangan. Jadi aku tidak heran jika
Nara terkejut dengan kata-kataku,
“Kamu ingin inggal disini kan?” tanyaku sambil memandangnya tajam. Tiba-tiba Nara memelukku
__ADS_1
sambil menangis. Aku memutuskan membawa Nara ke pos ronda tak jauh dari
kediaman Hermmawan.