Nada Nara

Nada Nara
Bab 93 Makan Malam (Bagian 1)


__ADS_3

Suasana di restoran papan atas yang ada di bilangan Jakarta pusat itu tampak ramai. Seperti biasa, restoran yang sedang viral ini memang selalu penuh. Untuk bisa makan disana, harus melakukan reservasi terlebih dahulu. Namun hal itu bukan halangan bagi Juli dan Pradipta untuk bisa makan disana bersama keluarganya, keluarga Pradipta. Dengan mudah mereka bisa mendapatkan meja untuk keluarganya. Karena Juli dan Pradipta harus melakukan fitting baju pernikahan, keduanya tidak bisa datang bersama. Kini Bapak Hengky, istrinya dan kedua adik Pradipta, Prita dan Pipit, sedang duduk di meja besar. Ada dua kursi disana yang tampak kosong, kursi Pradipta dan Juli. Ibu hengky dan kedua putrinya sedang sibuk membicarakan calon istri Pradipta dan pesta pernikahan mereka.


“Juli dan Kakak mereka sudah diparkiran” ucap Prita setelah melihat pesan yang datang ke smartphone nya.


“Benarkah” ucap ibu Pradipta, sambil membetulkan dandanannya agak berantakan.


“Keinginanmu tersampaikan kan bu. Kau ingin makan steak dan menonton opera dengan menantu perempuanmu.Sepertinya kamu senang dengan menantu perempuan yang kau banggakan?” kata Pipit tanpa menghentikan mulutnya yang mengunyah kue yang ada dihadapannya. Ada nada sinis yang menggoda ibunya. Namun bu Henky tidak peduli. Dia tampak sangat bahagia. Dia seperti perempuan yang baru saja menemukan


berlian.


“Jangan sinis begitu. Siapapun pasti ingin memiliki menantu yang bisa dibanggakan.  Ibu juga ingin bisa ikut membanggakan menantu ibu di kalangan ibu-ibu arisan,” kata ibuHenky. Dia menyuapkan sesendok besar kue yang ada  dihadapnnya.

__ADS_1


“Penyiar televisi, artis, Mantan Miss  kecantikan sebentar lagi menjadi menantuku. Apa aku tidak boleh membanggakannya. Kalau urusan makan enak, Kan selama ini yang membayar semuanya adalah Pradipta, anak ibu, abang kalian. Apakah salah jika ibu yang susah payah  menjaga Pradipta, dan sekarang ibu menerima bayaran atas apa yang ibu lakukan untuk nya kan,” kata ibu dengan santai.


“Lagian ya, jika mereka menikah Dan Juli hamil, anaknya pasti cantik dan mempesona.  Dengan begitu, anak anak Pradipta akan luar biasa menakjupkan, genius dan mereka akan bekerja keras untuk menghidupi kita dan memberikan apa yang  kita ingnkah sampai kita tua nanti.  Sekarang kita menikmati uang anak laki  Anak Pradipta akan mengisi uang itu akan ’ kata ibu.


“Selain wajah cantik, penampilan Juli selalu luar biasa. Jika aku pergi dengan Juli. Kita akan menjadi VIP di mana-mana termasuk di departement store.” Kata Ibu Henky lagi. “ Nah kalian berdua juga kan akan menjadi sorotan jika dekat dengan kakak iparmu itu.” Kata ibu yang disambut anggukan dari Prita dan Pipit. Mereka berdua tersenyum, setuju dengan pendapat ibunya.


“Hal yang tidak pernah kita dapatkan dari Nada, istri tua kakakmu. Jauh. Penampilannya memalukan, Dan bentuk badannya itu lho, kayak gajah obesitas,” kata bu Henky mencibir. Prita dan Pipit ikutan menimpali kata kata ibunya dan tertawa. Pak Henky mendengar apa yang dikatakan istrinya menjadi marah.


“Itu bukan menghina, aku hanya mengatakan yang sebenarnya sayang,” jawab  istrinya dengan manja.


“Jika pun semua kata katamu ing kebenaran, simpanlah yang buruk buruknya. Bicara lah dengan baik.” Kata pak

__ADS_1


Henky.


“Apa? Bagian  Nada yang mana yang baik ayah?” tanya sang istri sambil cemberut.


“Banyak kan. Nada pandai memainkan piano,” kata pak Henky hati hati.


“Ya Nada memang jago main piano,” kata Pipit. “Tapi karena badannya yang super gajah itu, dia sulit melakukan performance.” Kata Pipit. "Karena badannya yang sebesar gajah itulah yang membuat orang malas melihat dia tampil Mana ada yang mau menonton wanita sebesar gajah duduk di depan piano."


Ketiga wanita yang sedang asyik menggibah itu tertawa terbahak bahak mengingat kejadian saat Nada memainkan piano beberapa waktu lalu untuk pertunjukan amal. Entah apa yang terjadi, tiba tiba kursi yang didudukinya patah dengan suara gedubrak yang sangat  keras. Meskipun begitu, Nada tidak berhenti bermain. Dia meneruskan permainannya setelah jeda sejenak untuk bangkit dari puing kursinya.


“Aku benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tertawa terbahak-bahak saat itu. Kukira aku akan mati tertawa. Kalau aku jadi dia, aku akan berhenti bermain dan pulang kerumah. Itu sangat memalukan. Dan dia masih terus bertahan untuk bermain piano lho,” kata Pipit

__ADS_1


“Hei, kalian ini benar-benar jahat ya. Dia berusaha agar lagunya tidak hancur, kenapa kalian menertawakan rasa tanggung awabnya?” ayah Pradipa membela Nada


__ADS_2