
Matahari telah tenggelam sejak empat jam lalu. Nara menjatuhkan punggungnya pada sandaran sofa disamping Mahardika. Laki-laki itu tersenyum manis sambil menyerahkan sebotol air mineral pada Nara. Dialihkannya perhatian yang sedari tadi terfokus pada Ipadnya ke gadis yang sedang mencoba memejamkan matanya sambil duduk. Terlihat kelelahan di wajah cantik yang sempurna itu.
“Capek Na?” tanya laki-laki yang sampai malam ini masih mengenakan outfit yang dipakainya tadi pagi. Hanya topi yang tak lagi dia kenakan. Sementara Nara masih mengenakan wardrobe pemotretan yang baru berakhir beberapa menit yang lalu. Mereka sedang berada di restoran rooftop di Jakarta Selatan. Dari tempat mereka duduk, sejauh mata memandanng tampak kerlip lampu-lampu di ibukota dari kejauhan. Sangat indah untuk dinikmati sambil menyantap mnakan malam. Namun bagi dua manusia ini, pemandangan kota Jakarta tak lagi menarik. Mereka membayangkan Kasur empuk dirumah jauh lebih menarik setelah seharian bergelut dengan pekerjaan portfolio yang harus selesai mala mini.
“Bang, untuk foto SMA dan SMPsudah masuk ke folder ya. Juga foto foto jaman kuliah,” kata Andre, fotographer andalan Mahardika.
“Zet, foto dari Andre sudah masuk tuh, bisa kamu garap sekarang untuk FB dan Istagram? Malam ini semua harus set ya,” teriak Mahardika pada laki-laki bertampang preman dan bertato yang duduk tak jauh dari kami. Dia langsung Kembali ke laptopnya sambil mengacungkan jarinya.
“Yoga, masukan data dan susun informasi di internet dan google setelah Zet selesa,” kata Mahardika lagi. Kini giliran laki-laki mungil berwajah cantik yang duduk disamping Zet mengacungkan jempolnya.
“Oh ya, Andre, kirim foto hari ini ke saya secepatnya ya. Untuk yang harus diretouch besok tidak apa-apa. Saya buutuh 25 foto untuk portfolio Nara yang harus saya serahkan besok jam 11. Malam ini Agus dan Shely harus menyelesaikan.Dimana mereka?” tanya Mahardika sambil mengedarkan pandangannya.
“lagi pacaran di tangga bang,” teriak Gun botak sambil nyengir. Kepala botaknya langsung dapat keplakan keras dari si Dul yang sedang menggulung kabel.
“Apaan sih dul? Emang bener mereka lagi indehoi di tangga. Emang harus bilang apa?” kata Gun kesal.
“Ya emang benar sih, tapi nggak perlu juga laporan ke abang kali. Lihat nggak sih abang sudah pusing dan lelah. Mending kamu panggil saja mereka. Bilang kalau dicari Abang. Atau kamu yang gulung kabel aku cari mereka. Dari pada kamu Cuma duduk bengong,” kata si Dul sambil terus menggulung kabel. Gun berdiri sambil mengusap kepala botaknya yang tadi kena pukulan, sambil menggerutu. Mahardika menengok kesebelahnya saat mendengar tawa kecil tertahan dari Nara. Dilihatnya gadis itu menutup mulutnya menahan tawa melihat tingkah si Dul dan Si Gun yang saling mengejek tanpa suara, namun tetap bekerja.
“Kirain kamu tidur Nar. Kamu tidak mau makan dulu? Kamu belum makan kan? Mau aku pesankan apa?” kata Mahardika. Nara hanya menggeleng malas. Saat ini yang dia inginkan hanyalah merebahkan badannya dikasur nyaman miliknya dan tidur sampai pagi.
__ADS_1
“Tsk… tidak boleh. Kamu harus makan. Tidak boleh langsung tidur. Dan lagi kita harus cek hasil fotomu. Jika ada yang kurang, kamu masih harus melakukan pemotretan lagi. Malam ini kisah hidup Nara harus lengkap dan masuk ke Sosial Media dan Portofolio,” kata Mahardika sambil mengambil buku menu. “Ardian, tolong pesankan steak dan jeruk hangat untuk Nara dan Burger steak dengan bir untukku,” kata Mahardika kepada asistennya. Nara hanya tersenyum pasrah jika Mahardika sudah pada mode berkuasanya. Jika dia membantah, Mahardika akan mengingatkan tentang kontrak yang sudah ditandatanganinya. Kontrak yang mengharuskan Nara untuk mengikuti apapun yang dikatakan Mahardika, selama Nada’s Project berlangsung.
Nara kembali menutup matanya. Hari ini dia sangat lelah. Ratusan foto dibuatnya bersama dengan 3 fotografer berbeda. Tim Fotografer yang dipimpin Andre itu membuat foto perjalanan hidup Nara dari usia
12 tahun sampai sekarang.
Untuk membuat album kehidupan Nara, Mahardika menghadirkan 2 tim MUA yang bekerja dengannya seharian. Pagi tadi Nara berubah menjadi gadis SMP usia 12 tahunan, kemudian berubah lagi menjadi gadis SMA gadis kuliahan dan kemudian menjadi model dengan versi Nara yang sekarang. Untung bentuk dan ukuran Nara cukup proposional dan bisa mewakili gadis dari usia belasam sampai puluhan. Dari anak-anak sampai dewasa. Hal ini memudahkan tim MUA, Fotografer dan desain untuk bisa menampilka n Nara dalam rentang waktu sepuluh tahun lebih. Memudahkan namun bukan berarti tanpa kesulitan. Banyak yang dipertaruhkan membuat semua menjadi lelah. Untungnya, semua kru, Mahardika dan Nara bisa tetap bekerja dalam jalur profesional dan memiliki kesabaran tinggi, hingga pekerjaan yang seharusnya makan waktu beberapa hari itu bisa mereka kerjakan dalam waktu kurang dari 24 jam.
“Abang, foto foto yang terpilih sudah masuk ke folder Nad droject berdasarkan usia ya bang. Tolong segera di periksa untuk bisa segera dimasukan ke multi media dan sosial media,” kata Andre saat Mahardika dan Nara sedang menghabiskan makan malamnya.
“Untuk Sosial media dan web sudah siap bang, hanya tinggal memasukan gambar dan foto caption. Kami juga sudah melihat hasil fotonya dan sepertinya dummy draft sosial media, website dan multimedia tidak masalah
“Oke Andre, thanks. Beri aku waktu 10 menit untuk makan ya setelah itu akan aku periksa. Zet, Yoga, Agus dan Shelly, coba kamu cek lagi website Nara dan portofolio online dia ya. Jangan lupa periksa security hole nya. Sepertinya tadi Adrian menemukan sesuatu. Kalian koordinasi dengannya. Pokoknya jangan ada celah sedikitpun. Ingat timeline yang ditampilkan pada metro data dari foto dan pembuatan postingan kalian,” kata Mahardika sambil
menghabiskan makanannya dengan cepat.
“Ardian, jangan lupa pastikan anak-anak untuk makan malam lebih dahulu,” tambah Mahardika. nNara memperhatikan semua itu dengan takjub. Dia bisa melihat bagaimana Mahardika dan anak buahnya bekerja. Mereka bisa bekerja sama dengan baik dan rapih dan cepat. Benar-benar profesional dan sangat luar biasa. Mahardika sendiri sebagai orang tertinggi juga turun tangan dan bekerja, tidak beda dengan anak buahnya. Semua anak buahnya tampak sangat menghormati laki-laki itu. Tim Mahardika terlihat Profesional, pekerja keras, dan kompeten.
“Nara, kamu mau lihat dulu hasil fotonya sebelum dirilis? Jika ada yang kamu tidak suka, bisa kamu katakan dan kita take out,” kata Mahardika yang sudah ada disebelahku dengan senyum dan tatapan lembutnya. Nara mengerjap pelan dan tertular senyum Mahardika. Pemandangan yang cukup indah dan menggemaskan bagi Mahardika, membuat laki-laki harus menahan diri untuk tidak menghujani wajah Nara dengan ciuman.
__ADS_1
“Tidak usah M, cukup kamu saja yang melihatnya dan memilih. Selain kamu lebih jago dan paham tentang photo, juga karena aku tidak mau melelahkan semua kruhanya karena aku yang melihat,” kata Nara sambil tersenyum. Mahardika sendiri langsung memeriksa foto hasil tim fotographer dengan cermat, cepat dan teratur. Sesekali keningnya berkerut saat harus membandingkan beberapa foto.
“Oke done, tingal kita lihat pendapat dari timmu ya gus. Periksa sekarang yang sudah aku pilih. Kalau sudah oke, tim pemotretan boleh beres beres,” kata Mahardika. Nara yang baru saja menyelesaikan makanannya sedikit
lega mendengar kata-kata Mahardika.
“Sepertinya tidak perlu pemotretan tambahan untuk malam ini. Kamu masih perlu tim MUA, Nara?” tanya Mahardika pada Nara, yang disambut gelengan kepala gadis cantik itu.
“Tidak usah M, aku bisa beres-beres dan membersikan diri sendiri nanti dia rumah. Jangan kuatir.
“Bang, sudah oke ! Kami langsung selesaikan semua dan publish atau masih mau abang check sebelum publish?teriak Agus yang duduk di sofa yang berseberangan dengan posisi duduk Nara dan Mahardika.
“Aku pantau dari sini si gus, tapi sebelum di publish aku ingin lihat terlebih dahulu,” kata Mahardika kepada tim desain
“Nara, kamu lelah sekali ya? Atau kamu mau pulang lebih dulu? Tapi bareng Ardian ya,” kata Mahardika sambil mengusap lembut tangan Nara yang sudah kembali pada posisi duduk nyatai tadi. ‘
“Jangan khawatirkan aku, M, aku akan menunggumu sampai selesai,” kata Nara sambil tersenyum. “Tapi bisakan aku mendapatka foto hasil hari ini?”
“Bisa Nara. Kalau memang kamu mau menunggu sebaiknya kamu rebahan saja di sofa ujung Nanti kalau sudah selesai aku bangunkan,” kata Mahardika dengan penuh perhatian. Nara pun mengikti perintah Mahardika dengan merebahkan diri di sofa besar, lalu memejamkan matanya. Sayup sayup dia masih mendengar suara Mahardika
__ADS_1
dengan anak buahnya.