
Kami sudah pulang ke Indonesia. Aku dan Mahardika sudah berada di negeri tercinta seperti yang beberapa bulan ini aku impikan. Kami pulang setelah perjuangan panjang di negeri gingseng. Akan tetapi kepulangan kami, bukan berarti perjuangan usai. Kami masih harus terus berjuang menyelesaikan Nada’s Project dengan tantangan yang berbeda.
Setelah beristirahat selama 3 hari, semua akan kembali dimulai. Mahardika bilang dia ingin berdiskusi denganku tentang fase ketiga project ini. Kami akan membicarakan Nada’s Project dan kelanjutannya. Sejak awal kami memang sepakat untuk selalu mendiskusikan sedetail mungkin sebelum mulai.
Pagi ini, aku bangun dengan sedikit kawatir. Aku tidak tahu seperti apa aku akan menjalani fase ini. Tapi seperti janjiku, aku harus tetap mengerjakan tugasku. Aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu aku segera ke dapur untuk menyiapkan sarapan kami berdua. Kulihat Mahardika sudah menunggu di meja makan bersama i-pad kesayangannya. Dia sudah tampak rapi dengan pakaian olah raga dan celana pendek. Tampan dan menyenangkan seperti biasa.
Meski hari masih sangat pagi, laki-laki yang sangat menyukai bekerja itu sudah memulai aktifitasnya. Kami berdua memang sama dalam hal ini. Kami tipe morning person. Bagi kami berdua, bangun pagi adalah semacam keharusan. Memulai pagi dengan berbagai kegiatan juga sudah menjadi kebiasaan kami. Meski hari masih sangat pagi, kami berdua sudah berada didapur ini dengan kesibukan masing-masing. Kuhidangkan omelet keju, potongan
daging asap dan sayuran. Aku menambahkan roti gandum untuk Mahardika. Sementara itu untuk minumnya aku membuat juicebuah naga. Setelah semua siap, aku duduk di meja dan memulai sarapan. Begitu juga dengan Mahardika. Dia meletakan I-padnya dan memulai sarapannya dengan cepat. Saat aku hendak bangkit membereskan piring kotor, Mahardika memintaku untuk duduk. Dia menumpuk semua piring kotor dan mendorongnya kepinggir.
“Nara, duduklah dulu,” katanya sambil melap mulutnya. Pandanganku terpaku memandang laki-laki didepanku. Dia terlihat tampan dan segar. Eh, apa yang kamu pikirkan Nara?
“Aku mau kita bicara sebentar. Biarkan saja piring-piring kotor ini dimeja,” tambahnya memutus pikiranku yang memalukan tentangnya.
“Ok,” jawabku pendek menutupi kegugupanku. Sejak pulang dari Korea, aku memang sering gugup tanpa alasan didepan Mahardika.
“Nara, Mulai hari ini aku ingin kamu berpikir bahwa Nada sudah tidak ada. Mulai sekarang, Kamu adalah Nara. Kamu harus mengubah gaya hidupmu, pola hidupmu dan pola pikirmu. Karena kamu bukan Nada lagi,” kata
Mahardika.
“Iya, Aku tahu. Dan aku sudah memulainya sebenarnya,” jawabku. Ya aku sudah mensugestikan diriku, kalau aku Nara yang cantik dan sempurna. “Aku tahu aku bukan Nada yang dulu.”
“Kalau memang kamu tahu, lalu kenapa kemarin insecure? Ingat Nara, kamu adalah perempuan tercanti se
__ADS_1
Asia. Semua yang ada padamu nyaris sempurna. Meskipun kamu tidak memakai pakaian semahal perempuan lain, tapi kamu harus yakin bahwa kamu setara dengan mereka. Bahkan dengan otak dan attitude yang kamu miliki, kamu lebih baik dari mereka, siapapun itu,” kata Mahardika memandangku iba. Pandangan yang tidak pernah aku sukai sejak dulu. Masih ingat kan saat kukatakan kalau aku lebih suka dibully dengan kata-kata atau tamparam dari pada mendapat tatapan iba dari orang-orang yang merasa kasihan padaku.
“Sok tahu. Siapa yang insecure. Kemarin aku hanya kaget saja bertemu dengan mereka lagi. Tidak ada hubungannya dengan tampilanku sebagai Nara dan insecure,” kataku mencoba mengelak. Aku tahu, Mahardika memang ahli membaca pikiranku. Akan tetapi aku juga tidak mau mengakui begitu saja kesalahanku. Mahardika mencibir mendengar kata kataku.
“Lalu, kalau tidak merasa insecure, kenapa kamu menangis? Kenapa membandingkan penampilanmu dengan penampilan gadis lain? Bahkan sampai penampilanku yang kamu anggap pendampingmu, kamu membandingkan dengan laki-laki yang kamu anggap pendamping dia?” kata Mahardika. Perkataan yang membuatku tercengang. Hah! Kok, dia bisa tahu? Kok, dia bisa membaca semua pikiranku semalam? Atau aku tanpa sadar mengatakan apa yang ada dipikiranku?
“Ya, tahulah aku, Tidak usah berpikir macam-macam Nara. Cobalah untuk fokus pada dirimu sendiri terlebih dahulu. Setelah itu, kita baru fokus pada project kita,” kata Mahardika tertawa, mentertawakan apa yang ada dipikiranku. Aku hanya bisa cemberut mendengar kata-katanya.
Laki-laki itu menyeruput kopi didepannya sambil membuka I-pad nya. Setelah itu dia memandangku sejenak sambil berpikir. Beberapa kali mulutnya terbuka seperti mau mengatakan sesuatu tetapi dibatalkan. Aku yakin ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Aku pikir ini pasti tentang Fase ketiga dan dia takut aku akan terganggu, marah atau
menangis.
“Kenapa M? katakan saja apa yang ingin kamu katakana. Tidak perlu ragu. Aku rasa sekarang ini tidak ada lagi yang bisa membuatku menangis karena kesakitan. Hal yang paling menyebalkan saat ini adalah larangan makan darimu,” kataku bercanda.
“Maksudnya?” tanyaku. Aku benar-benar tidak mengerti, jadi lebih baik aku tanyakan langsung.
“Smartphonemu mana Nara? Aku bisa pinjam sebentar?” tanya Mahardika. Meski perkataannya membingungkanku dan tidak berhubungan dengan permintaannya, aku ikuti kata-katanya. Aku segera memberikan apa yang diminta. Dia menerima gawaiku lalu mengutak-atik smartphoneku yang memang tidak aku kunci. Bagiku tidak ada yang harus kurahasiakan atau aku kawatirkan dia tahu isi smartphoneku. Alat yang harusnya menjadi alat komunikasi itu, lebih berfungsi sebagai perpustakaan bagiku dibanding sebagai alat komunikasi. Setelah menunggu beberapa saat, Mahardika mengembalikan gawaiku.
“Nara, aku rasa istirahat tiga hari ini sudah mengembalikan energy kita. Ini smartphonemu dan pelajarilah apa yang baru saja aku masukan kesana. Urgent!” katanya. Aku menerima smartphone itu sambil memperhatikan bibir sexy Mahardika yang sedang berbicara.
“Mulai hari ini, sudah cukup bersenang-senangnya. Aku sudah membuatkan program harian bagimu disana. Kamu hanya boleh makan apa yang disebutkan di layar kamu. Diluar itu tidak boleh kamu makan. Setiap kali berbunyi, kamu harus cek, apa yang harus kamu lakukan. Karena dirumah ini tidak ada gym yang memadai, setiap pagi kita akan ke gym diujung jalan untuk memenuhi programmu. Sisanya bisa kamu lakukan disini,” Mahardika menerangkan aplikasi apa yang baru saja dia pasang di smartphoneku. Aku mengalihkan pikiranku yang mulai aneh. Kuperhatikan pdf yang baru saja dia unduh kesana. Kemudian aku lihat dua aplikasi yang baru dia
pasang.
__ADS_1
Arghh, ini sebenarnya lebih tidak nyaman disbanding rangkaian operasi kemarin. Bayangkan, dalam sehari, aku hanya boleh makan makanan tertentu. Itupun ditimbang berapa banyak karbohidratya, berapa banyak proteinnya dan sebagainya. Sedangkan aku sangat menikmati makan. Akan tetapi, aku adalah Nada, wanita kuat yang tidak menyerah karena hal seperti ini. Aku adalah Nada yang bisa mengubah takdirku, menjadi lebih baik dari mereka. Balas dendam yang terbaik adalah menunjukkan bahwa kita bisa menjadi lebih baik dari mereka bukan?
Selain agenda makan yang harus ditaati ada jadwal latihan fisik lengkap dengan tabel kalori yang harus dibakar setiap harinya. Hidupku sebagai Nara terprogram setiap harinya. Dari bangun tidur aku harus minum air putih, latihan diatas treadmill, sarapan. Latihan jeda sejenak aku gunakan untuk membereskan rumah dan cucian. Seperti
aku katakan dulu, rumah ini kecil dan penghuninya hanya dua orang. Tidak perlu banyak waktu dan tenaga bagi Nada untuk mengerjakan semua ini, meski sudah berubah menjadi Nara.
Sekitar pukul 9 pagi, Mahardika akan mengajakku untuk ke gym. Dibawah Personal Trainer khusus, aku melakukan banyak latihan. Mulai latihan beban selama 20-30 menit, latihan yang memanfaatkan bobot tubuh, seperti push-up, squat, dan lunge, latihan dengan menggunakan resistance ban dan sebagainya. Setelah itu kamu akan pulang dan makan siang. Biasanya Mahardika akan bekerja entah di ruang kerjanya atau keluar. Aku memiliki waktu luang sampai pukul 3 untuk kembali ke treadmill, yoga atau pilates. Untuk latihan sore, biasanya terserah padaku. Kadang jika Mahardika dirumah, dia juga membantuku.
Jangan kamu pikir aku selalu ceria dan bersemangat. Ada saat dimana aku ingin menyerah. Ada saat aku ingin berhenti dan membiarkan hidupku berjalan biasa saja, seperti orang biasa. Bahkan aku pernah merasakan tubuhku kaku tak bisa kugerakkan sama sekali. Bukan, bukan karena sakit. Hanya tidak bisa aku gerakan. Tubuhku seperti punya kemauan sendiri yang tidak bisa kuatur. Bahkan untuk menggerakan otot bibirku untuk bicara sangat sulit. Saat serangan pertama terjadi, aku sedang di dapur. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Hanya bisa menangis dalam hati. Untunglah saat itu Mahardika masuk ke dapur hendak membuat kopi nya. Dia melihatku terduduk kaku dilantai, segera menghampiriku.
“Nara! Kamu kenapa?” tanya Mahardika sambil memegang dan menggoyangkan bahuku. Ingin aku menjawab, namun aku tak bisa. Mahardika meraih daguku dan memaksaku memandang matanya.
“Kenapa?” Aku tidak tahu! Aku tidak bisa bergerak! Aku takut M! semua itu aku teriakkan dari hatiku lalu pikiranku. Berharap Mahardika bisa mendengar dan menterjemahkannya seperti biasa. Dia menarik nafas dalam, memelukku dengan erat. Setelah itu dia menggendongku ke sofa di ruang tengah. Mahardika duduk di sofa besar dengan aku di pangkuannya, dalam pelukannya. Disandarkannya kepalaku didadanya yang bidang. Perlahan aroma tubuh tanpa parfumnya yang sudah mulai kukenal dengan baik, membuatku tenang.
“Nara, tenang, rileks. Tarik nafas, buang. Semangat Nara. Kamu Nara, Kamu cantik, Kamu seksi, Kamu baik-baik saja,” bisik Mahardika ditelingaku. Suara lembutnya yang tenang mulai mengalir dari telinga masuk ke dada dan seluruh pembuluh darah yang tadinya kurasakan membeku. Saat itu juga aku tahu aku akan baik-baik saja. Saat itu
juga aku mulai tenang. Aku mencoba pasrah dalam rengkuhan M. Kusandarkan kepalaku didadanya, sekaligus
menyandarkan semua kelelahanku padanya. Meski aku juga tahu kalau dia juga lelah.
Aku tahu, Mahardika juga lelah, setelah lebih dari enam bulan menjalankan Nada’s Project, dan masih terus menjalankan usahanya. Aku tahu merubah gajah bengkak menjadi merak yang mengambangkan sayap dengan indah ini butuh pikiran dan kerja kerasnya. Aku hanya menjalani dan merasakan sakit. Dia lelah menciptakan seorang, Dia lelah mencari dan memastikan orang-orang yang terbaik mewujudkan Nara, Dia lelah, juga kantongnya, karena biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Bahkan seluruh perhiasan dan surat berharga yang aku bawa saat itu tidak berarti apa-apa disbanding pengeluaran project. Dia pasti lelah merawatku. Dan Dia juga pasti lelah mendengar keluh kesahku dan mendampingiku. Namun aku bisa apa? Aku memang sangat membutuhkan seorang Mahardika. Tidak ada yang bisa menghiburku. Aku tidak bisa memberikannya cuti menjagaku, karena memang tidak ada yang bisa dan mau menggantikannya. Aku berhutang budi dan nyawa pada laki-laki yang kuanggap sebagai dewa penolongku ini. Dan suatu saat, nyawaku pun akan kuberikan kepadanya jika dia memintanya, itu janjiku. Perlahan tapi pasti, aku merasa semakin lelah dan mengantuk. Hingga gelap menelanku dengan penuh kedamaian.
***
__ADS_1