
Hai,
sekali lagi aku mau minta maaf karena akhir-akhir ini kesehatanku dan kesibukanku membuat aku tidak mungkin melakukan update rutin setiap hari di waktu yang sama seperti dulu. Namun, membaca komentar kalian, membuatku selalu semangat dan berusaha untuk menuliskan kisah Nada dengan baik. Ya, meskipun hasilnya tidak sebaik yang aku inginkan. Maaf jika banyak kesalahan dan typo.
Nanti menjelang akhir ceria aku akan mereview ulang cerita ini dari part 1, dan memperbaiki semuanya.
Banyak cinta buat kalian
SK Sari
POV Nara
“Itu berarti, kamu pun tidak ada dihati Juli. Lalu jika Juli patah hati dan dipaksa oleh Cintaku,rasanya tidak mungkin. Apakah mungkin dia itu melupakan mantannya, melupakan patah hatinya yang katanya sangat parah dan membuatnya rapuh itu dalam hitungan hari. Bukannya hanya beberapa hari dia di Singapura, sampai akhirnya mereka pacaran dan bahkan tunangan,” kataku lagi. Aku mecoba membuka mata M tentang sikap buruk Juli. Aku benar-benar gemas karena M tetap membela Juli dengan mengatakan bahwa Pradipta hanya pelarian. Bagiku, dari semua cerita M kemarin dan pagi ini, Juli bukan wanita yang baik dan pantas untuk laki-laki sebaik dan sehebat M. Aku tahu Julilah yang mengejar Pradipta dan menggodanya. Dan semua itu secara langsung diakui oleh Juli saat pertemuan pertama yang memalukan itu.
“M, kamu terlalu dibutakan oleh rasa cintamu pada Juli. Bahkan menurutku Juli tidak pernah mencintaimu. Dia hanya memanfaatkanmu untuk melindunginya dari cowok-cowok yang menggodanya,’ kataku dengan nada yang sedikit tinggi. M tampak mengerutkan dahinya. Mungkin dia mendengar nada suaraku yang mencerminkan emosiku. Tapi sepertinya aku tidak terlalu peduli sekarang. Aku memandang M yang terdiam dan berpikir. Mungkin dia terkejut. Ya aku tahu, dia kaget dengan nada suaraku. Semoga dia tidak salah paham karenanya. Semoga dia tidak mengaggap aku cemburu dan suka sama dia. Perempuan yang punya suami tidak boleh mengharapkan laki-laki lain bukan? Apalagi sampai cemburu. Aku hanya ingin dia berpikir ulang tentang cintanya pada Juli. Aku ingin dia melihat kembali perasaannya dan hubungannya dengan Juli, melalui semua cerita. Aku yang tidak ada disana dan hanya mendengar cerita M saja langsung tahu ada yang salah dengan hubungan mereka berdua. Aku tidak suka mendengar kenyataan dia dipermainkan oleh Juli. Apalagi dia selalu menyalahkan Pradipta dalam hubungan
perselingkuhan ini. Pradipta salah karena selingkuh dariku? Iya, dia salah Tetapi dalam hubungannya dengan Juli, aku masih yakin kalau suamiku itu digoda oleh Juli.
“Apapun yang terjadi antara aku dengan Juli sebelumnya itu tidak lagi penting. Karena sekarang ini, Juli bersama dengan Pradipta bahkan akan menikah dengan suamimu itu. Jadi tidak penting lagi. Sadarlah Nara. Kamu yakin akan kembali pada laki-laki bejat yang sudah mengkianatimu dengan ratusan wanita? Bahkan laki-laki itu ingin membunuhmu! “ kata-kata M yang diucapkan dengan nada tinggi mengagetkanku. Dia terlihat sangat emosi. Rupanya dia tidak terima atas ucapanku kepada Juli. Secinta itu dia pada perempuan yang menghancurkan rumah
tanggaku?
“Dia suamiku M. Dia cintaku. Cinta pertamaku. Bagaimanapun, hanya dia yang mau mencintai dan menghargaiku saat aku begitu besar dan bahkan orang lain enggan melihatku,” kataku membela Pradipta.
__ADS_1
“Ya karena dia ingin merebut hartamu. Didepanmu dia manis, dibelakangmu dia merendahkanmu. Bahkan dia meniduri banyak wanita di belakangmu. Kenapa selalu membelanya dan ingin kembali padanya. Dia ingin membunuhmu Nara!” katanya masih dengan emosi. Aku masih tidak terima dia menuduh Pradipta. Menurutku Julilah dalang semua bencana ini.
“Bukan Pradipta yang ingin membunuhku M. Tapi Juli!” kataku.
“Juli gadis yang baik. Dia tidak mungkin mencelakaimu Nara! Dia tidak akan tega,” M masih terus membela perempuan pelakor yang licik itu. Apakah dia tidak bisa melihat bagaimana liciknya perempuan yang besar bersamanya itu?
“Tidak akan tega? Gadis baik? Bahkan saat aku bicara baik baik padanya untuk melepaskan suamiku, dia bisa pura pura sakit dan menjebakku serta mengancamku untuk dilaporkan ke polisi. Itu bukan gadis baik-baik!" kataku mencoba membuka pikiran M dengan fakta. Argh! Emosiku makin memuncak membuat dadaku sesak dan mukaku panas. Sepertinya aku butuh minuman dingin untuk meredakan semua emosi yang membakar ini. Aku memutuskan untuk meninggalkan M dan mengambil segelas air es di kulkas dan meminumnya. Aku menarik nafas dalam dan mencoba meredakan emosiku. Pelan tapi pasti, aku mulai tenang. Sepertinya Pradipta dan Juli memang sama sama salah dan sama-sama bajingan. Jadi buat apa aku ngotot membela salah satu dari mereka. Sekarang yang penting adal;ah mendapatkan kembali suamiku, melalui Nada’s Project. Setelah tenang aku kembali menuju meja dimana M masih duduk memandangi
kopinya.
“Nara, sebaiknya kita tidak usah mendebatkan apa yang sudah terjadi. Tapi kita harus fokus untuk kedepannya. Mari kita fokus dengan Nada’s project. Apa kamu masih mau melanjutkannya?” tanya M setelah aku kembali duduk dihapannya. Aku menangkap nada khawatir dari suaranya. Mungkin Dia khawatir aku akan mundur dari project yang sudah setengah jalan ini, akibat pertengkaran tadi. Mundur? Tentu saja tidak. Sudah terlalu banyak yang kami pertaruhkan selama ini. Dari sisi materi yang dikeluarkan oleh M maupun fisik dan emosional yang aku korbankan. Rasa sakit dan penderitaan yang kualami bukan hal yang mudah untuk direlakan begitu saja.
“Tentu M, aku tidak akan mau berhenti setelah semua yang aku lalui selama ini. Mari kita selesaikan,” jawabku mantap. Pembicaraan kami terhenti karena smartphone M berbunyi.
“Oke, waspada terus Lex, ikuti Dia. Sepertinya sekarang makin menari saja,” kata M sambil mengubah mode smartphonenya ke bluetooth. Setelah itu dia mengutak atik smarthphonennya sambil tetap mendengarkan orang yang bicara di telpon.
“Oke, jadi dia memang sudah menjadi tangan kanan CEO Lion Communications. Dan tujuannya memindahkan kantor pusat ke Jakarta untuk menguasai Dirgantara Corporation? Oke, nanti kita bicara lagi. Walaupun sebenarnya saya tidak berminat dengan DC namun wasiat Papa tetap harus dilaksanakan,” kata M sambil melirikku. Aku
berpikir keras mendengar pembicaraan M. Lion Communications adalah perusahaan tempat suamiku bekerja. Saat ini aku tahu dia memiliki jabatan penting di perusahaan itu. Apakah M sedang membicarakan suamiku? DC? Dirgantara Corporation? Sepertinya aku pernah dengar. Saat aku mengerjakan salah satu project terakhir Pradipta, ada beberapa data yang ada sangkut pautnya dengan DC. Apakah perusahaan yang sama? Apa hubu ngannya dengan M? Argh! Sudahlah, aku tidak mau ambil pusing dengan urusan M. Lebih baik aku konsentrasi dengan misiku mendapatkan Pradipta.
“Nara, maaf terputus. Sampai dimana kita tadi?” kata M setelah dia kembali duduk didepanku.
“Ada masalah dengan perusahaanmu? “ tanyaku basa basi.
“No! bukan masalah. Hanya laporan tentang klien dan target saja. Lupakan. Lebih baik kita bicarakan project kita Nara,” kata M dengan tegat. Aku tahu, M memang selalu menghindar pertanyaanku tentang perusahaan dan bisnisnya. Awalnya aku masih sering bertanya tentang bisnis dan perusahaannya. Namun M hanya mau berbagi
__ADS_1
untuk masalah PH saja. lainnya, dia enggan membicarakan. Setelah hampir setahun tinggal bersamanya, aku memutuskan untuk tidak lagi kepo dan ikutcampur bisnisnya. Saat dia meminta saranku, baru aku akan bicara. Seperti sekarang ini, aku memilih untuk tidak membahas telpon bisnisnya. Namun belum sempat kami membicarakan rencana kami, smartphone M kembali berbunyi. M dengan kode tangan, meminta ijin untuk mengangkat telponnya terlebih dahulu, dan aku mepersilahka
“Halo Andri,” M menjawab telponnya dengan mode Bloetooth. “Ya aku sedang dengan Nara, kenapa?” Saat namaku disebut aku langsung mengangkat wajahku. M mengangkat tangannya untuk memberi kode agar aku menunggu.
“Oke, berarti acara satu tahun meninggalnya Nada tidak jadi diperingati atas perintah Pradipta? “ tanya M. Oke berarti Mama dan Sandra yang akan memperingatinya? Kirimkan saja dananya pada Mama Nada atas nama Sahabat Nada dan Makeover,” kata M. Mama? Sandra? Aku rindu pada mereka. mun aku belum bisa menemui mereka. Apakah aku boleh menemui mereka sekarang?
“Kamu ingin menemui Mama kamu? “kata M yang ternyata sudah selesai menerima telpon. Aku menganngguk sambil bertanya “Apa boleh?”
“Boleh tapi itu berarti semua usaha kita sia-sia. Dengan kamu datangi Mama kamu, maka acara peringatan satu tahun meninggalnya Nada akan batal dan media akan tahu tentang kamu. Itu berarti kamu tidak lagi bisa mendekati Pradipta sebagai Nara dan tidak bisa lagi membalas dendam,” kata M sambil menatapku tajam. Wow, apa ini
ancaman? Kenapa aku merasa seperti itu?
“Ini bukan ancaman Nara. Aku hanya memberikan kenyataan yang akan kamu hadapi jika kamu memutuskan untuk menemui mama kamu dan membuka jati dirimu,” kata M. Seperti biasa dia dengan mudah membaca pikiranku.
“Kenapa? Kita bisa meminta mama merahasiakannya kan?” kataku masih berusaha untuk membatanha larangan M, menemui mamaku sendiri.
“Nada sudah cukup populer. Acara peringatan satu tahun kematiannya sudah menjadi bagian dari popularitas acara Makeover. Jadi akan ada media disekitar mamamu.Dan jika kamu muncul, tidak mungkin kan Mama dan Sandra memperingati kematianmu. Kamu kan masih hidup,” kata M mencoba menerangkan alasannya. Masuk akal sih. Aku tahu kalau aku muncul dengan jati diriku sebagai Nada, Mama pasti langsung histeris. Acara peringatan setahun kematianku pasti lanmgsung dibatalkan. Hal itu pasti membuat orang bertanya-tanya. Aku belum bisa muncul dengan jatidiriku saat ini. Dalam hati aku ingin teriak dan meminta maaf pada Mama yang pasti sangat
sedih mendengar berita kematianku.
“Sudahlah Nara. Fokus. Nanti ada waktunya kita akan mengunjungi mama dan menjelaskan semuanya. Untuk saat ini, jangan dahulu untuk muncul,” kata M sambil memegang tanganku lembut.
“Jadi gimana Nara? Masih mau maju terus?” tanya M sambil memandangku lembut. Tangannya svd tetapcenggenggam tanganku. Entah kenapa aku seperti dialiri oleh sesuatu yang hangat dari tangannya, yang membuatku nyaman. Aku kembali membulatkan tekadku dan mitvh konsentrasi pada M.
“Aku siap M, mari kita mulai!” kataku dengan mantap. “Good Girl. Mari kita bicarakan strategi kita untuk menggagalkan pernikahan Pradipta dan mil
__ADS_1