
POV NARA
“Saya mengerjakan ini sejak lama. Awalnya ini adalah project untuk skripsi saya, meskipun pada akhirnya tidak saya lanjutkan dan saya memilih untuk membuat skripsi tentang komunikasi corporate. Namun kemudian Saya merasa project ini cukup bagus dalam bisnis dan bermanfaat bagi orang banyak, dan saya melanjutkannya. Tidak mudah memang. Apalagi saya harus banyak bekerja di berbagai project dan juga menyelesaikan kuliah. Saya
beruntung kenal dengan Mr. Franco , bos saya di LC. Seslamat malam Mr Franco,” kata Pradipta yang memberikan salam salut pada pemilik LC yang baru saja tiba. Franco hanya tertawa sambil mengangkat gelasnya. Pradipta pernah bilang kalau dia mengatakan aku adalah pemilik ide-ide briliant yang dipresentasikannya. Jadi Mr. Franco dan teman teman Pradipta pasti tahu tentang aku dan kebohongannya.
“Seperti saya katakan tadi, saya beruntung kenal dengan Mr. Franco dan bekerja di LC, sehingga saya berhasil mengembangkan konsep ini. Tidak mudah dan cukup melelahkan menyelesaikan, bisa dikatakan menghabiskan banyak dana, waktu dan keringat. Tapi semua tidak sia-sia dan hasilnya dengan bangga saya persembahkan kepada Anda semua,” kata Pradipta. Apa? Bahkan dia tidak menyebut namaku? Dan sepertinya Mr. Franco dan teman-temannya setuju dengan apa yang dikatakan Pradipta. Apa selama ini Pradipta membohongi semua orang dengan mengakui karyaku sebagai karya karyanya? Ataukah ini hanya bagian dari politik bisnis mereka?
“Wah terimakasih sekali atas perhatiannya. Wanita secantik Anda, bisa memberikan pertanyaan cerdas dan membuktikan bahwa Anda sudah melakukan riset sebelum bertanya. Sayang sumber Anda salah mbak,” kata
Pradipta setelah menerima sebuah kertas yang tampaknya berit=si pertanyaan dari seorang reporter televisi yang cantik. Benar! Itu benar mbak!. Ingin aku berteriak membenarkan. Namun remasan lembut Adrian di pundakku menyadarkanku. Adrian berbisik mengingatkanku bahwa saat ini Nada sudah meninggal. Kami masih memiliki misi yang tidak boleh digagalkan hanya karena emosi. Yeah, Adrian benar. Aku harus menahan diri. Aku segera menatap reporter wanita tadi untuk melihat reaksinya. Meskipun manis, jawaban Pradipta cukup menohok. Namun wanita itu tampak tersenyum tenang tidak terpengaruh. Dia hanya berteriak “Lalu yang benar seperti apa?”
“Oke sebenarnya sesi tanya jawab tidak diadakan. Namun karena takut semua penasaran, saya hanya menjawab satu ini ya,” kata Pradipta sambil menarik nafas. Dia melirik pada Juli yang memberikan gelengan kepala.
“Hadirin sekalian, Mbak Ester, betul ya mbak namanya mbak Ester?” tanya Pradipta yang dijawab dengan anggukan.
“Mbak Ester tadi menanyakan pada saya bahwa ide dan gagasan project ini adalah milik orang lain yang saya ambil begitu saja. Atau dengan kata lain, sumber Mbak Ester mengatakan bahwa saya mengakui pekerjaan orang lain dan menjadikan sebagai project saya,” kata Pradipta sambil tersenyum.
“Saya patah hati Mbak, sedihnya saya,” kata Pradipta memasangn muka sedih dan memegang dadanya
“Oke, seperti saya katakan tadi, project ini saya kerjakan sejak saya masih kuliah. Sudah lama sekali. Saya ada coretan awal dari project ini jika ingin dibuktikan. Ada didalam laptop saya ini, yang metadatanya bisa dibuktikan. Saya mengerjakan project ini dengan sungguh-sungguh dan banyak pengorbanan. Tetapi jika ada yang bisa membuktikan bahwa project ini adalah miliknya, saat ini juga saya akan menyerahkan jabatan saya padanya. Tapi
__ADS_1
jika tidak bisa membuktikan maka saya bisa menuntut siapapun Anda dengan pasal pencemaran nama baik,” kata Pradipta dengan serius.
Apa?! Jawaban yang luar biasa tidak masuk akal. Bahkan dia tidak tahu apa-apa tentang project ini. Aku yang mengerjakan semuanya. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang Pradipta katakan. Dan aku lebih tidak percaya lagi melihat laptop kesayanganku ada ditangan Pradipta. Ingin rasanya aku melompat ke panggung dan mengambil laptop hadiah dari papa itu . Aku merindukan laptopku. Disana banyak karyaku dan segala cerita tentang aku dan papa. Laptop itu adalah tempat pelarian yang diberikan Papa. Seandainya aku bisa menjadi Nada dan Nada belum dianggap mati, aku pasti sudah lari keatas sana dan merebuat semua yang menjadi milikku. Aku marah dan aku kesal. Menyesal aku tadi sudah terhanyut hanya karena tawa dan sentuhan menjijikan itu. Menyesal aku menggagalkan misi hanya karena emosi dan rasa yang palsu.
Tepuk tangan bergemuruh menyambut jawaban Pradipta, membuatku semakin marah. Semua hanya kata-kata yang diucapkan Pradipta dan Juli, tidak lagi penting bagiku. Ocehan dua orang pengkianat yang tidak tahu diri. Aku sangat marah. Mungkin sekarang mukaku sangat merah. Aku berusaha menunduk untuk menyembunyikan mukaku yang belum bisa tersenyum. Aku kepalkan kedua tanganku untuk menyalurkan ras tidak nyaman ini. Aku membutuhkan waktu sejenak untuk bisa pura-pura baik kembali. Aku segera menyembunyikan diriku dimeja minuman yang paling sudut. Aku tau ada Adrian yang mengikutiku dan berusaha menyembunyikanku dibalik punggungnya.
“Nara,” kudengar suara lebut M lembut. Mendengar suaranya membuatku hangat dan tenang. Aku tahu sekarang kalau Aku butuh M. Segera kuangkat kepalaku mencari keberadaannya. Seperti mengerti apa yang kubutuhkan, Adrian segera bergeser dan menunjukan posisi M. Ah, itu dia, laki-laki yang selalu bisa menenangkanku. Tanpa aku sadari aku mulutku membentuk lengkungan keatas begitu netraku menemukannya. Meski masih ada kecewa dan marahku pada Pradipta tadi, namun melihat sosok M aku menjadi tenang. Pikiranku menjadi jernih dan tahu apa yang harus aku lakukan. Melihat M disana dan Juli diatas panggung tampak mesra dengan Pradipta kembali membuatku khawatir. Aku tahu M pasti cemburu dan sakit hati.
“M? kamu baik-baik saja?” tanyaku, yang benar-benar tidak tenang karena khawatir keadaannya. Ternyata kekhawatiranku akan M lebih besar dibanding marahku pada Pradipta dan Juli.
“Aku baik baik saja. Tadi aku diam dan meninggalkanmu sebentar, karena ada yang harus aku kerjakan,” kata M. Oh, itu alasan dia dari tadi diam tak bersuara. Rupanya dia sedang bekerja dan bukannya marah pada Juli. Tapi benarkah?
“Hei, kenapa kamu terdengar sangat mengkhawatirkanku? “ tanya M dengan nada usil seperti biasa. Wuaa, senangnya aku kalau dia sudah bisa bercanda seperti ini. Meskipun aku juga tidak yakin apakah yang dikatakan M benar atau dia hanya menutupinya dariku.
“Ya, aku kan tahu kamu begitu mencintai Juli. Pasti sangat menyakitkan mendengar orang yang kamu cintai melakukan hal itu dengan mudahnya bersama laki-laki lain,” kataku masih berusaha serius.
“Begitukah? Jadi kamu kenapa-kenapa saat mendengar apa yang dilakukan Pradipta?” tanya M. Lah, kenapa jadi aku dan Pradipta?Kan dari tadi aku mengkhawatirkan Dia.
“Kok jadi aku sih M? Kita kan sedang membahas tentang kamu,” protesku sebal. Aku benar-benar tidak ingin membahas apa yang terjadi pada Pradipta tadi. Tidak ada gunanya kan. Dan lagi aku sedang mengkhawatirkan M sekarang. Apa dia tidak mengerti?
“Nara, tidak apa-apa jika kamu terganggu dengan apa yang dilakukan Pradipta. Sangat wajar karena kamu istrinya. Tetapi bukan berarti juga aku akan terganggu saat ada diposisimu. Aku dan Juli jelas berbeda dengan kamu dan Pradipta. Bagaimanapun kalian sudah menikah. Sedangkan aku dan Juli dibesarkan sebagai kakak-adik. Sebagai kekasih, Juli sudah lama melakukan hal seperti ini. Aku sudah terbiasa, meskipun biasanya tidak sampai sejauh ini,”
__ADS_1
kata M. Tuh kan benar, pasti dia hanya pura-pura baik. Buktinya dia berusaha denial dengan mengatakan panjang kali lebar seperti ini. Pasti dia sedang marah dan kecewa seperti rasaku saat melihat apa yang dilakukan Pradipta dan Juli diapartemen dulu. Saat aku bersembunyi di dalam lemari menyaksikan tontonan gratis yang menghancurkan perasaanku. Ada rasa yang tidak menyenangkan didada ini saat mengingat semua itu. Tapi anehnya aku tidak semarah dulu. Aku tidak lagi sesak seperti dulu. Hanya sedikit tersisa rasa tidak nyaman saat ini. Apakah aku sudah memaafkan Pradipta? Apakah cintaku sedemikian besar hingga aku bisa menerima sikap Pradipta? Bahkan melihat Pradipta bermesraan dengan Juli didepan sana, tidak membuatku marah lagi.
“Nara, sekali lagi aku ingin bertanya. Apakah kamu masih ingin melanjutkan usahamu mendekati Pradipta hari ini atau kita lakukan lagi nanti. Lain kali?” terdengar suara M menanyakan tentang project. Apa maksudnya dengan bertanya seperti itu? Tentu saja project ini masih terus berlanjut. Aku harus mendapatkan semua peninggalan Papa. Aku harus membalas kematian sahabatku, aku harus bisa menunjukan kejahatan mereka dengan mendapatkan Pradipta lebih dulu. Aku harus membuat laki-laki itu mengakui aku ada dan project project itu adalah milikku. Dan yang paling penting, aku harus membahagiakan Mahardika dengan mengembalikan Julinya. Dan lagi, waktu kita tidak banyak. Bahkan tidak sampai 3 bulan mereka sudah akan menikah dan Juli menjadi milik Pradipta. Yah, walaupun pernikahan bukan jaminan untuk memastikan Pradipta tidak akan berpaling pada wanita lain. Aku dan pernikahanku buktinya.
“Ada lain kali ya M? Bukannya pernikahan merekakurang dari tiga bulan lagi? “ kataku pada M.
“Oke, trus maunya kamu bagaimana?” M bertanya padaku. Aku tahu pasti dia mengkhawatirkan dan meragukanku menghadapi Pradipta,setelah aku sempat mematung beberapa saat tadi. Apalagi saat ini Pradipta sedang konsentrasi pada peluncuran projectnya. Sedangkan Juli bisa dipastikan akan ada disamping Pradipta. Bisa dipastikan kemungkinanku untuk menggaet Pradipta pun sangat kecil. Tapi aku pasti bisa. Ini tidak boleh gagal, demi untuk laki-laki sebaik M. aku melakukan ini untuknya.
“Aku ingin hari ini paling tidak bisa berkenalan dengan Pradipta dan bertukar nomor telpon. Akan sulit menjalankan
rencara kita kalau aku dan dia tidak saling berkenalan dan bertukar telpon. Bisa saja aku dapat nomor telpon dari orang lain, namun itu tidak akan membuat Pradipta terkesan. Kamu tahu kan berapa banyak wanita yang mengejar dia dan merelakan tubuhnya hanya untuk bisa dekat dengan Pradipta,” kucoba mengatakan apa yang aku pikirkan.
“Lalu?” tanya M. Laki-laki ini memang teman diskusi yang menyenangkan. Dia selalu mendengarkan apa pendapatku dan mendiskusikan semuanya. Padahal jika dia mau, dia bisa memutuskan sendiri. Otak dan kemampuan strateginya luar biasa.
“Aku harus bisa membuat Pradipta terkesan dan ingin mengenalku. Penasaran padaku. Bukan sebaliknya,” kataku dengan yakin.
“Okay, agree. Tapi bagaimana caranya? Kamu baru berdekatan dan disentuh sedikit saja sudah langsung berubah jadi patung. Atau jangan jangan Pradipta keturunan Medusa ya?’ tanya M masih ingin melawak.
“Hahaha, ada-ada saja kamu M. Maaf ya, tadi aku benar-benar tidak siap mental. Tapi janjji tidak akan terjadi lagi,” kataku meyakinkannya. Yah meskipun aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya mendekati Pradipta. Tetapi paling
tidak aku harus yakin dulu kan?
__ADS_1