
wuahh seneng banget hari ini bisa update dua kali. Semoga kalian juga senang.
Biar aku semangat, gimana kalau kalian vote, meninggalkan jejak pesan, atau hadiah.
Atau kita baca bareng bareng sambil gelar tikar, minum kopi dan nyemil pisang goren.
Banyak Cinta untuk kalian
SK Sari
Nada’s Project sudah berjalan setengah jalan. Kini misi lapangan dimulai. Sebelum masuk ke medan perang, tentu harus dibuat strategi yang metang untuk memenangkan perang. Itulah keahlian Papa Janu yang diturunkan pada Mahardika. Ahli strategi. Mahardika telah merencanakan apa yang harus dilakukan. Meskipun kendalanya adalah kepolosan dan ketidak tegaan Nara, namun Mahardika yakin rencananya akan berhasil. Disinilah Mahardika berperan meyakinkan Nara akan tugasnya. Ya, untuk langkah pertama ini, Mahardika dan Nara berbagi tugas. Mahardika bertugas menjadi manager Nara dan mengatur agar Nara bisa menjadi model utama di LC. Dengan demikian Nara bisa dekat dengan Pradipta, seperti juga Juli. Tugas Mahardika juga untuk konsentrasi mengawasi pergerakan Pradipta dan Juli.
Mahardika juga harus memastikan data dan identitas Nara yang diambil dari seorang gadis yatim piatu, tidak terbongkar. Mahardika sudah membuatkan Nada identitas baru dengan nama Nara Mahardika. Semua data ini juga sudah dimasukan kedalam Catatan Sipil Jakarta Pusat, data sekolah Nara dari SD sampai kuliah, dan Google.
Nara tercatat sebagai seorang gadis yatim piatu di Yayasan Bunda Kasih di daerah Senen. Papanya sudah ninggal dan Mamanya tidak tahu ada dimana, keluarganya tidak ada yang tahu. Saat papanya meninggal, Nara dititipkan oleh tetangganya ke panti asuhan.
“Kasihan sekali ya Nara ini. M, apakah Nara yang sebenarnya pernah ada?” tanya Nara pada Mahardika yang langsung merespon dengan kernyitan di dahinya. Mahardika tampaknya tidak ingin menjawab pertanyaan Nara, hanya mengedikan bahu. Nara pun paham jika pertanyaannya dianggap tidak penting. Dia kembali mempelajari data Nara untuk dia kembangkan nantinya. Sisa biodata, agar tidak menyulitkan Nara, Mahardika meminta Nara
menggunakan cerita aslinya sebagai Nada, termasuk jenjang pendidikan dan ulang tahunnya. Jika nanti ada yang mencari nama Nara, maka cerita gadis yatim piatu bernama Nara Mahardika ini yang akan muncul. Tim IT Mahardika bahkan Mahardika sendiri yang memastikan data-data I I terlihat asli.
Lain Mahardika lain pula Nara. Gadis itu menjadi pemeran utama drama misi kali ini. Dialah yang harus menggoda dan membuat Pradipta jatuh cinta lalu melepaskan Juli, sebelum menikahinya. Nara sendiri cukup yakin, dengan penampilannya sekarang ini, dia akan bisa mengalihkan perhatian Pradipta dari Juli. Nara yakin jika dirinya lebih cantik dari Juli. Banyak orang memuji kecantikannya. Dia sudah membuktikan hal itu. Dia yakin, mahakarya Mahardika tidak sia-sia.
__ADS_1
Namun begitu, Nara masih kurang percaya diri untuk menjadi Nada dalam chasing yang berbeda, seperti kata Mahardika. Nara tidak yakin dirinya mampu menjadi wanita penggoda seperti Juli. Nara tidak yakin apakah dirinya sanggup tidak menjadi bucin saat bertemu Pradipta. Nara tidak yakin dia tidak akan terjebak pada pesona Pradipta.
Nara masih belum yakin apakah dirinya bisa bersandiwara pura-pura tidak mengenal laki-laki yang sudah bersamanya sejak dia balita itu. Sedangkan dia sadar sepenuhnya, salah langkah sedikit saja, maka semuanya akan gagal. Nara tidak tahu apa yang akan terjadi, jika dia ketahuan oleh Pradipta dan Juli nanti. Bukankah kemarin, keduanya tega meledakan mobilnya? Mata Nara berkaca-kaca mengingat semua itu. Dan hal ini tidak luput dari pandangan Mahardika.
“Nara, kenapa menangis? “ tanya Mahardika. Nara langsung sadar dan mengusap kasar airmatanya. Dia tidak ingin terlihat lemah didepan Mahardika. Dia harus kuat untuk memperjuangkan cinta dan mimpinya. Memperjuangkan janjinya kepada ayah yang sangat dia cintai.
“ehmm, nggak papa, ini ada debu masuk,” kata Nara sedikit gugup namun berusaha terlihat tenang.
“Bener?” tanya Mahardika sambil memandang lekat.
“He… he… he… gimana aktingku? Sudah bagus belum tadi? Sudah terlihat sedih, lemah dan menye-menye belum?” kata Nara sambil nyengir lebar. Ya ini cara terakir menutupi luka hatinya agar tidak terlihat. Lagipula, bukankah mulai sekarang dia harus belajar akting menjadi pria penggoda? Meskipun dia belum melihat seluruh drama Korea, sinetron dan youtube yang disarankan Mahardika.
***
mengernyitkan dahinya dan memandang Mahardika, seolah melyangkan banyak pertanyaan. Mahardika hanya tersenyum dan melahap sarapannya dengra terburu buru.
“Nara, hari ini aku mau ke LC untuk meeting dengan pihak manajemen artis. Kamu setelah dari gym, mandi dan siap siap ya,” kata Mahardika disela-sela makan.
“Siap-siap? Kemana? Mau apa?” kata Nara keheranan.
“Hari ini kita akan membuat portofolio kamu. Jadi setelah dari LC aku akan mengambil beberapa baju untuk keperluan kamu. Nanti akan ada MUA datang bersama Adrian untuk kamu. Oh iya, sepertinya beberapa barang pribadi kita di ruang tamu harus dipindahkan, karena nanti pemotretannya akan kita lakukan disana. Malam baru kita akan melakukan pemotretan di rooftop. Kamu tidak apa-apa kan hari ini sibuk sampai malam?” tanya Mahardika sambil memandang Nara. “Atau kamu mau kita buat dua hari? Aku sih berpikir jadikan sehari karena capeknya sekalian.”
“Nggak apa apa M. sehari aja. Setelah ini aku akan bersihkan rumah baru ke Gym. Biar kalau pemotretan semua sudah rapi,” kata Nara. Mahardika menghentikan makannya dan berkerbyit.
__ADS_1
“Ah iya aku lupa. Atau aku panggilkan orang ya buat beres beres rumah?” kata Mahardika.
“Tidak usah. Aku saja. Kan nggak banyak juga. Nggak akan cape. Oh iya, nanti tim nya berapa orang M? biar aku siapkan makanan untuk makan siang dan makan malam,” kata Nara.
“Tidak usah Nara. Nanti kamu capek. Kan kamu mau pemotretan. Harus tampak segar,” kata Mahardika sedikit tegas.
“Ya ampun M, masak dan bersih-bersih kan memang pekerjaanku. Nggak akan ngaruh sama mukaku. Lagian kalau beli kan mahal. Uang lagi-uang lagi,” kata Nara
“Nara, cobalah menurut. Jangan aneh aneh ya. Sudah kamu setelah ini istirahat sampai MUA datang. Nanti aku suruh Adrian mencari orang buat beresin rumah. Untuk makan siang kita beli gofood aja. Sedangkan makan malanya kita di Rooftop. Kan kita akan pemotretan disana,” kata Mahardika.
“Jangan panggil orang untuk bersih-bersih. Aku mau lakukan itu sendiri,” kata Nara cemberut. Dia tidak suka dianggap lemah oleh Mahardika.
“Untuk makan siang, oke nanti kita pesan saja, del?” tambah Nara sambil memberikan jari kelingkingnya. Mahardika bingung melihat Nara mengulurkan tangannya dengan jari keluar.
“Ahhh, dasar tua… tidak gaul… ini maksudnya janji… M” kata Nara kesal sambil memandangi kelingkingnya. Tak lama Mahardika mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Nara lalu tersenyum. Senyum yang mampu menular pada Nara.
“Ya sudah baiklah, kamu pagi ini bersih bersih. Tetapi jangan terlalu capek. Nanti bisa juga kru membantu membereskan,” kata Mahardika sambil berdiri dari duduknya.
“Ok boss!” kata Nara sambil meletakan telapak tangannya di kening, seperti tentara menghormat.
“Oh iya, kalau kamu lelah, tidak usah ke gym hari ini,” pesan Mahardika sambil mengacak rambut Nara, lalu pergi. Sementara Nara langsung membereskan meja makan dan membersihkan rumah, bersiap untuk
pemotretan.
__ADS_1